
"Jadi kecelakaan di toilet itu ulah mu kan???
kau cemburu pada wanita itu dan berniat membuatnya kehilangan janinnya untuk kedua kali" tanya Denis
"well aku tak bisa menyembunyikan apapun darimu"
"Itu ku anggap pujian" ucap Denis menyeringai lebar
"Tapi kecelakaan istri Tian yang pertama bukan tujuan dari rencana kita, dia hanya korban yang tak terduga, dasar Liona bodoh" maki Dona
"Ingat kita tidak bisa bertindak terang-terangan, ini bukan negaraku dan aku hanya membawa anak buahku terbatas.
Jika sesuatu terjadi padamu, aku akan kesulitan" ucap Denis memperingati Dona
"Aku tahu, karena itu aku mengandalkan mu"
"Kau wanita licik dan aku suka, apa aku bisa mendapatkan bagian ku hari ini????"
"Awww Denis, ini masih di parkiran, apa kau sudah sangat....."
Selebihnya suara pria dan wanita yang bertempur.
Davina dengan wajah merah padam langsung mematikan rekaman tersebut dan melirik pada Daffa, kakaknya itu tetap dengan wajahnya yang datar seperti tadi, seolah tak terpengaruh sedikitpun.
"Aku bukan anak kecil, dan lagi aku kakakmu" ucap Daffa seolah mengerti arti pandangan Davina
"Jadi seperti dugaan kita, Dona dalang di balik rencana pembunuhan Cleo!!!!!!" teriak Davina emosi, tak terkecuali Sebatsian yang terlihat shock!!!!
Ia tak pernah menyangka jika wanita yang pernah dekat dengannya merencanakan pembunuhan putrinya.
Sebastian benar-benar terpukul.
Ia juga bersyukur karena tak memilih Dona menjadi ibu sambung bagi Cleo, keraguan terus membayanginya sehingga ia tak pernah bisa menerima cinta Dona, ternyata ini kenyataanya.
Dona wanita iblis berwajah manusia.
Rekaman berikutnya adalah pembicaraan Dona dan Denis yang merencanakan menyingkirkan Bernard
Satu folder ya lagi rencana menyingkirkan Bert,
"Mungkin Bert mendengar itu makanya ia membersihkan bukti memata-matai Dona Dona Denis, tapi sayangnya ia terlambat pergi karena Dona mengirim anak buahnya mengawasi gerak-gerik Bert, dan eksekusi mendadak di lakukan"ucap Daffa berasumsi
"Mengapa kau menyimpulkan seperti itu?"
"Itu mudah, karena aku memeriksa semua barang Bert sudah masuk kopernya, dan celengen ini berada di tumpukan pakaiannya" ucap Daffa menatap celengan di atas meja
"Bert wanita pemberani dan cerdik"
"Kali ini kaus setuju dengan ucapan mu" ucap Daffa
"Huh Tian perfeksionis " cibir Davina yang di balas senyum lebar Daffa
"Kalian Saudara apa? ngumpul gak ngajak" ucap Daffi yang langsung loncat duduk di samping kakak kembarnya
"Ngapain loe kesini?" tanya Daffa sengit
"Ye ketemu saudara sendiri gitu amat"
"Bosen gue loe lagi, loe lagi" ucap Daffa membuat Daffi cemberut
"Hahaha malang bener nasib loe bro" ucap Shandy yang juga datang
"Apa kalian janjian???" tanya Tian senang rumahnya di kunjungi oleh keluarganya
"Enggak" ucap ketiganya serentak
"Aushalah duduk manis semuanya, aku akan meminta asisten rumah tanggaku menyiapkan makan malam untuk kalian" ucap Davina memotong perdebatan mereka
"Yeay makan malam keluarga, apa kita perlu menelpknmmaa dan papa????"tanya Daffi antusias
"Cih bocil" cibir Daffa pada adiknya
"Jika kau menelpon mama, papa, kakek dan nenek apa kau tak telepon juga?? dan ini mendadak kakakku manis. Stock bahan makanan tak cukup.
__ADS_1
Belum lagi yang lain, bagaimana jika di lain hari kita mengadakan gala dinner untuk seluruh keluarga" ucap Davina tersenyum lebar
"Begitu lebih baik, jika kita tak mengundang kakek dan nenek buyut itu tak sopan juga" ucap Daffi nyengir
"Pinter" ejek Daffa membuat Daffi tersenyum bangga, padahal itu ejekan membuat semua orang menahan tawa
"Jadi maksud kedatangan kalian???"
"Tentu saja ingin mengetahui info dan memberi info" ucap Shandy santai langsung mengambil tempat di sebelah Tian
"Susah lama kita gak kumpul bro" ucap Tian pada Shandy
"Next kita atur" saut Shandy
"Apa aku boleh ikut?" tanya Daffi
"Kau mau ikutan kumpul dengan pria STW??? mereka bukan baby sitter yang mengasuh anak kecil" ucap Daffa membuat semua orang tertawa, namun tidak dengan Daffi yang terlihat kesal
"Gak Masalah, loe bisa ikut kok, maksud gue kalian berdua" ucap Shandy
"tidak terima kasih, aku tak mau nongkrong dengan om-om dan di kira jadi sugar baby kalian" ucap Daffa membuat Shandy dan Tian tersendak
Dasar Daffa, seenaknya bicara
"Bener juga ya" saut Daffi membuat Shandy dan Tian melotot
"Hadeh lelaki kalau ngumpul obrolannya memanas, nih minum biar otak dingin" ucap Davina yang datang membawa minuman dingin untuk semua orang
"Kemana keponakan kecilku??" tanya Daffa
"Dia sedang les, mungkin setengah jam lagi juga pulang" saut Tian
"Balik ke pembahasan yuk.
Apa yang kalian temukan??" tanya
"Seperti info yang kami dapat sebelumnya, Lilly dan Elliana memiliki nama ibu yang sama, saat ku menelusuri ternyata bukan hanya nama yang sama, namun orang yang sama.
Tak mungkin wanita itu menikah saat baru melahirkan.
Aku berkolaborasi dengan anak buah Daffa berhasil mendapatkan sample untuk test DNA, agar kita bisa lebih yakin"
"Good job.
Kalian memang saudaraku yang paling bisa diandalkan"
"Tentu saja" ucap Daffa bangga dan Daffi tersenyum lebar di puji saudarinya
"Dan kau Shan???"
"Kabar baik atau buruk???" tanya Shandy
"Kabar baik dulu" ucap Tian tak sabaran
"Kabar baik nya adalah Bert sudah sadar, kabar buruknya adalah.....
Drtttttt Drtttttt Drttttttttt
Ponsel Davina bergetar sebelum Shandy menyelesaikan kalimatnya
Gabriel Calling.......
" *hallo gab?"
"Hallo kakak ipar, gawat....
Elliana menghilang" ucap Gabriel panik
"Shith bagaimana bisa" ucap Sebastian langsung merebut ponsel Davina
"Bagaimana bisa kau hanya menjaga satu wanita tak bisa??"
"Sorry bro, ternyata Elliana ahli menyamar dan bela diri. aku tak menduga ini
__ADS_1
Ia berhasil melumpuhkan anak buahku dengan mudah" ucap Gabriel lirih di akhir kalimat.
Ia malu sekaligus menyesal
"Astaga....
Sepertinya anak buahnya butuh pelatihan keras" ucap Tian makin menekan Gabriel
"Sayang, berikan ponselku"ucap Davina menatap tajam suaminya, ia kesal pada Tian, bukanya mencari solusi malah menyudutkan dan menekan Gabriel.
"Aku...."
"Ponselku" ucap Davina datar. Sebastian langsung menyerahkan ponsel nya kembali pada si empunya ponsel
"Gab dengar, aku tak menyalahkan mu.
Kau pasti juga terkejut, tak ada yang menduga wanita itu pandai bela diri dan menyamar" ucap Davina membuat Gabriel sedikit lega
"Aku sedang dalam perjalanan menuju negaranya"
"Apa itu dari Gabriel????" tanya Shandy yang sejak tadi ingin memberitahu hal yang penting
"Ya"
"Berikan ponselnya sekarang juga padaku, ini penting" ucap Shandy.
Davina hanya bisa menyerahkan ponselnya pada Shandy, ia melihat mimik kekhawatiran di wajah Shandy
"Gab, ini gue Shandy.
Dengan baik-baik apa yang akan gue sampaikan.
Elliana dalam bahaya besar, kali ini bukan lagi dugaan.
Tapi Elliana sudah menjadi target.
Orang yang akan membunuhnya sedang menuju negaramu.
Aku yakin Elliana sedang mencari cara agar keluar dari negaramu, karena kau menyebar anak buahnya di bandara membuat ruang geraknya terbatas"
"Itu benar, Apa ini bukan dugaan lagi???
Jadi benar wanita itu akan di bunuh???" tanya Gabriel tak percaya
"Benar, karena Elliana memegang semua bukti kejahatan seseorang yang merupakan kaki tangan papanya.
Bukan hanya nyawanya yang terancam, tapi nyawa papa dari Elliana juga"
"Baik aku sendiri yang akan turun"
"Terima kasih Gab.
Saat kau mendapatkan Elliana, pastikan dia aman sampai negaranya, aku akan berada di sana segera.
besok aku akan berangkat" ucap Shandy dengan wajah serius
"Baik" ucap Gabbriel lalu panggilan telepon berakhir
"Apa ini berita buruknya????" tanya Davina menatap penuh selidik pada Shandy
"Seperti yang kau dengar.
Bert belum bisa bicara, ia meminta suster memberi kertas dan pulpen, setelah menulis pesan ya ia kembali tak sadarkan diri
Masa kritisnya sudah terlewati.
Mungkin ia pingsan karena rasa sakit dari luka yang di deritanya" ucap Shandy menjelaskan
"Aku akan meminta para dokter melakukan yang terbaik. terutama memberikan obat pereda sakit yang baru ku sempurnakan.
Yang terpenting pindahkan Bert di ruang VVIP khusus keluarga. dan hapus namanya dari data pasien.
Aku khawatir Dona dan Denis akan menyadari Bert masih hidup dan mencoba membunuhnya.
__ADS_1
Dan jangan lupa kerahkan team khusus untu mengamankan lantai itu dan akses menuju ke keruang tersebut" perintah Davina serius
"Baik, "