
"Maaf OS, kami sedikit sulit mempercayaimu.
istriku sudah menganggap Lily sebagai saudarinya.
Lilly hanya punya istriku serta ibu panti asuhan sebagai keluarganya"
"Maksudmu???
"Lilly adalah yatim piatu.
Istriku menjemputnya dari panti asuhan tempat ia tinggal, panti asuhan itu dulu pernah menolongku saat aku gamang dan tersesat arah
Lilly dan Davina tumbuh bersama, namun karena Lilly merasa terlalu banyak berhutang budi saat kuliah ia memilih tinggal sendiri tak di kediaman keluarga istriku.
Namun tetap saja keluarga istriku yang membiayai Lilly hingga ia menempuh perguruan tinggi.
Selepas mendapat gelarnya Lilly memilih mengikuti pelatihan khusus dan masuk ke dalam anggota elite organisasi istriku"terang Tian
"Intinya aku tak mau kau mempermainkan Lilly, aku tak akan tinggal diam, aku tak memandang kau sahabat suamiku lagi jika kau berani macan-macam" ucap Davina serius
Oscar menghela nafas, ia mengerti dan sangat mengerti mengapa semua orang tak mempercayainya.
"Gue mengerti kalian tak bisa mempercayainya, tapi gue sungguh menyukai Lilly, hanya dia yang membuat jantung gue berdegup kencang, hanya dia yang membuat gue terlihat bodoh.
gue ingin mengejarnya, gue ingin dia jadi ibu anak-anak gue"
"Os, loe lagi gak becanda kan??" tanya Gabriel tak yakin
" Gue sangat yakin dengan ucapan gue.
Gue udah jatuh cinta sama wanita galak itu" ucap OS dengan senyum mengembang membayangkan wajah Lilly yang marah, Sebastian dan Davina saling pandang, keduanya hanya bisa menghela nafas.
Mereka hanya ingin memberitahu Oscar sekaligus memperingatinya.
Tapi melihat sorot mata Oscar, mereka sedikit percaya Oscar bersungguh-sungguh
"Baiklah, jika kau sampai menyakiti dan mempermainkan Lilly, aku sendiri yang akan menghajar mu sampai kau tak bisa bangun!!" ucap Davina serius
"Aku terima" ucap Oscar tak kalah serius
"Eh ada apa nih serius banget???" tanya Panji yang sudah selesai mandi
"Oscar mau ngejar Lilly"
"Serius???? ya gue doain loe tetap hidup sampai bisa dapat si Doi" ucap Panji tersenyum penuh arti
"Maksud loe apa ji???" tanya Gabriel tak mengerti
Panji lalu membisikkan sesuatu pada Gabby, terlihat pemuda itu mengangguk dan tercengang lalu tertawa
"Kalian lagi ngomong apa??" tanya Oscar
"Rahasia" ucap Panji dan Gabriel bersamaan
"Ma, aku lapar" Cleo datang sambil mengelus perutnya
"Baiklah ayo kita makan" ucap Davina menggandeng Cleo, mereka semua duduk di kursi makan, karena apartemen Gabriel hanya memiliki empat kursi, akhirnya mereka menambah kursi bar sehingga kini mereka duduk mengelilingi meja makan.
Di atas semeja makan sudah terhidang berbagai masakan, namun ada satu yang spesial, ayam opor.
__ADS_1
Aroma ayam oper memenuhi ruangan
"Om Panji, itu ayam opor mama buat khusus buat om" ucap Cleo menunjuk opor ayam di meja makan
"Kakak ipar aku tahu walau kau galak dan suka menindas ku kau kakak ipar yang terbaik" ucap Panji memberi dua jempol ke arah Davina
"Sudah makan saja,"ucap Davina datar, walau ia kadang keras pada Panji, namun Davina merasa bersyukur Panji berada di sisi Sebastian
"Huh" Sebastian mengejar nafas
"Kenapa loe bro, iri ya??" ledek Oscar membuat Tian hanya menatap malas
"Maaf bro, ayam opor ini khusus buat gue, karena kakak ipar sayang sama gue" ucap Panji memanas-manasi Tian
"Sudah makan semuanya" ucap Davina yang tersenyum melirik ke arah Tian yang cemberut.
Tian iri pada Panji, padahal capcay dan ayam Kalasan adalah makanan favorit Tian, namun pria itu masih saja iri, dasar pria...
Setelah selesai makan, Tian dan keluarganya pamit pulang, begitu juga Oscar.
Sementara Gabbriel memilih untuk tidur lebih awal karena besok ia mengambil penerbangan pagi menuju negaranya tanpa Oscar.
Keesokan harinya Sebastian, Panji dan Oscar mengantar Gabriel ke bandara, mereka berpelukan tanda perpisahan.
Setelah Gabby masuk ke dalam bandara, mereka bubar menuju tujuan masing-masing.
Oscar memilih mengikuti Sebastian dan Panji ke kantor mereka, sementara Davina menuju kantornya sendiri.
Oscar sedang berada di kantor Panji, kini Sebastian sedang mengerjakan pekerjaannya sampai suara dering ponselnya mengagetkannya
"Hallo Assalamu'alaikum om, apa kabar???"
"Alhamdulillah baik om, dia juga baik. Iya gak masalah om, saya tidak merasa keberatan sama sekali.
"Iya om, insha Allah dia bisa om, apa???
Baik om kirim saja CV ny sebagai formalitas
"baik om, tentu saja, tunggu kabar baiknya om."
"Wa'alaikum salam" ucap Sebastian mengakhiri panggilannya
Wajah sebastian terlihat tersenyum cerah, entah siapa yang menghubunginya, sangat misterius.
Sebastian mengangkat gagang telepon interkom nya dan mengubungi sekretarisnya
"Susan, minta bagian HRD menghadap saya ya, terima kasih" perintah Tian pada sekretaris nya
Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya masuk, Tian langsung mempersilahkan wanita itu duduk
"Tante Olga Tian mau minta tolong"
"Tian, kita di kantor" ucap wanita paruh baya itu
"Tante seperti sama siapa saja, Tante orang kepercayaan papa dan aku sudah mengenal Tante sejak lama"
"Hahaha anak nakal, apa yang kamu butuhkan?" tanya Olga tersenyum hangat
"Tan, besok ada seorang gadis yang akan melamar pekerjaan, Tante proses hanya formalitas saja, pastikan dia di terima, dan tempatkan dia sebagai sekertaris Panji, tari Mila dan tempatkan di ruang kerja Oscar. Jika Panji protes katakan saja Mila di butuhkan karena Oscar akan berkantor di perusahaan kita"
__ADS_1
"Baik bos kecil" ucap Olga mengacungkan jempol
"Terima kasih Tante sayang" ucap Tian tersenyum lebar
"Anak nakal, cepat cari penggantimu, aku sudah tua dan waktunya pensiun.
Janjiku pada papamu sudah terlaksana, kau sudah menjadi pemimpin yang hebat jadi tugasku selesai"
"Tante...."
"Jangan merengek aku tak akan bergeming dengan keputusanku, aku ingin menghabiskan masa tuaku" ucap Olga menatap lurus ke depan
"Baiklah, Tian gak akan menahan Tante lagi, tapi Cleo pasti akan mencari Oma nya" ucap Tian.
Cleo memang memanggil Olga Oma, Olga pula yang merawat Cleo semasa Tian terpuruk bersama dengan mantan mertua Tian.
Karena itu kedekatan Cleo pada wanita itu luar biasa.
Sayangnya Olga tak memiliki anak, suaminya meninggal dunia saat ia masih berusia empat puluh lima dan Olga Tak pernah berpikiran menikah lagi.
"Apa papa tahu Tante mau mengundurkan diri??"
"Baskoro??? tentu saja pria tua itu tahu," ucap Olga terkekeh sendiri, Olga wanita lembut dan penyayang, sisa-sisa kecantikannya masih terlihat di usianya yang senja
"Tante, kenapa Tante dan papa tidak menikah aja??" tanya Tian membuat Olga tertawa terkekeh
"Bocah nakal, papamu dan aku sahabat, mana mungkin menikah"
"Sahabat juga bisa menikah, aku hanya bisa berharap kalian bisa menghabiskan masa tua bersama dan bisa saling bercerita"
"Tante mu yang menolak papa" sebuah suara mengagetkan Tian dan Olga.
rupanya Baskoro berdiri di depan pintu dengan tongkatnya
Hai reader semua
Author secara khusus ingin menyampaikan pernyataan ini karena membaca beberapa coment yang menurut author harus di luruskan ya
Perlu di ketahui adalah karakter Panji adalah pria yang menentang tradisi kabur dari rumah karena di jodohkan, Panji anak yang urakan dan keras kepala, di temukan oleh Sebastian , melalui tangan dingin Tian Panji kembali berjalan di jalan yang benar setelah terlontar lantung di jalan tanpa tujuan.
Walau begitu sifat nya tak berubah.
Panji masih seperti dulu, pemuda ceria yang suka humor, jail, nyeleneh, urakan, cuek, ceroboh, jorok dan suka bicara blak-blakan sehingga kadang membuat orang gemas dan selalu ingin mengerjainya, karena Panji juga suka mengerjai mereka.
Nah untuk chapter sebelumnya banyak yang protes Panji terlalu di bully, garing dan lain-lain.
Author menulis juga berdasarkan pengalaman, pengamatan( baik melihat secara langsung, mendengar, atau ikut nimbrung di dalamnya)
Setiap lingkungan pasti berbeda pergaulan, tapi percayalah obrolan Panji dkk merupakan hal yang biasa terjadi di lingkungan anak muda sekarang saat mereka sedang nongkrong bareng.
jadi maaf jika author menyinggung beberapa reader.
Tolong jangan bawa ke hati apa yang author tulis ini karena sejatinya ini adalah novel.
tokoh dalam novel ini fiktif belaka,
jadi mohon pengertiannya ya
terima kasih untuk masukan kalian tanpa mengurangi rasa hormat author.
__ADS_1
salam
Pooh