
Akhirnya hari dimana mereka pergi bulan madu datang, Cleo di titipkan pada Ayudia sementara kedua orangtuanya bulan madu.
Cleo awalnya ngambek karena merasa di abaikan oleh Tian, namun begitu Ayudia mengatakan bahwa mereka membuat adik Cleo dengan terpaksa memberi izin.
Ia sudah sejak dulu menginginkan adik, namun ia belum sepenuhnya menerima Davina sehingga i sedikit kesal
"Mama genit, aku mengalah kali ini demi adik.
Aku meminjamkan papa untukmu, tapi setelah kembali papa hanya punya aku" ucap Cleo membuat semua orang tertawa geli.
Namun Davina memahami jika ini pertama kalinya papanya jauh darinya bukan untuk urusan bisnis tapi berlibur dengan mama barunya.
"Siap sayang, kamu mau oleh apa??" tanya Davina lembut
"Aku mau adik, bawakan aku adik yang banyak" ucap Cleo membuat semua orang tertawa sementara wajah Davina pias.
Sebastian senyam senyum penuh arti pada istrinya, ingin sekali Davina mencubit pinggang suaminya dengan keras
"Sayang kata siapa mama pergi untuk buat adik??
but adik itu perlu waktu" ucap Davina mencoba menerangkan
""Nenek buyut dan nenek bilang begitu.
Kalau begitu mama genit sama pulangnya lama aja kalau belum jadi dedek mama genit dan papa pulangnya lama aja Samapi jadi dedek" ucap Cleo polos membuat Davina melongo, Davina ingin meluruskan, namun Sebastian keburu angkat bicara
"Tentu dong sayang, papa akan buatkan banyak dedek kecil.untuk teman main Cleo, ya kan sayang" ucap Tian tak tahu malu berbicara seperti itu di depan keluarganya.
Astaga, rasanya Davina ingin menggali lobang dan bersembunyi di dalamnya.
Sebastian tak tahu malu!!!
"Hahaha tolong berikan kami kabar gembira ya nak" ucap Angelo menepuk punggung cicit menantunya
"Siap kakek buyut" ucap Tian membuat Davina merona merah
"Kalian...
disini ada anak kecil.
Apa kalian pikir membuat anak bisa dengan tepung , SIM salabim jadi gitu???" ucap Davina ketua namun hanya di tanggapi tawa semua orang
"Mas ayo jalan, kalau kelamaan diisni aku bisa naik darah" ucap Davina menarik suaminya berpamitan pada seluruh keluarga
Sepanjang perjalanan Davina bersedekap dada tanpa mengatakan apapun, ia masih kesal dengan ucapan keluarganya dan suaminya.
Sebagian hanya tersenyum melihat kelakuan istri tercintanya, sayangnya mereka bukan madu di saat Davina masih mestruasi
"Sayang, kok mukanya di tekuk terus????
senyum dong, kita kan mau have fun di sana"
Davina hanya melirik namun tak menyahut
"Lirikan matamu menarik hati,
dan senyuman mu manis sekali
membuat aku tergila....." ucap Tian sambil berdendang lagu dangdut lawas almarhum Arafiq
"Ih dasar MD" cibir Davina
__ADS_1
"Apa tuh MD???
"Muka dangdut" ucap Davina judes namun Tian justru tertawa
"Gak lucu tahu" cibir davina kesal
"Janga. marah dong, nanti cepat keriput" goda Tian
"Bodo" ucap Davina memilih mengalihkan pandangannya ke luar jendela
"Kata pak ustad"
Iya, iya"ucap Davina langsung memotong ucapan Tian, ia tahu jika membantah suami adalah dosa dan berucap kasar pada suami adalah dosa.
Davina kalah telak
"Kalau begitu senyum dong, istriku kalau senyum tambah cantik"
Davina tak menjawab, ia memamerkan deretan giginya yang putih dengan senyum lebar yang terlihat lebih mirip meringis
"Mengapa kau sangat menggemaskan sekali sayang, jangan menggoda imanku, kita sedang di jalan menuju bandara"
"Siapa yang menggoda mu???
Kau saja yang mesum, di otakmu hanya..."
"Hanya apa ayo???" Tanya Tian menurun naikkan alisnya, ia senang sekali menggoda Davina dan melihatnya ngambek
"Lupakan," ucap Davina pada akhirnya.
Setelah sampai bandara, Sebastian langsung masuk kedalam sambil menggandeng tangan istrinya di sebelah kanan, sementara di sebelah kiri ia menyeret travel bag. Begitu juga Davina
Walau Tina sudah berusia hampir tiga puluh delapan, namun wajahnya tak kalah dengan pemuda usia dua puluhan, masih tampan dan awet muda.
Sementara mobil yang mereka kendarai sudah di bawa oleh anak buah Tian.
Sepanjang perjalanan Davina hanya diam, walau terkadang menyahut, ia hanya berbicara singkat saja.
Perjalanan yang panjang jadi terasa membosankan karena Davina yang dalam mood buruk, maklum ia sedang datang bulan, bisanya wanita yang sedang kedatangan tamu mood nya akan angin-anginan.
"Maafkan aku ya sayang, aku becanda keterlaluan.
Tapi aku beneran berharap kita bisa mempunyai anak suatu saat nanti" ucap Tian
"Mas bikin malu aku di depan semua orang"
"Iya, iya mas salah, jangan ngambek, nanti mas traktir shopping deh sampai puas" ucap Tian merayu istrinya.
Menurut teman-temannya wanita akan lemah jika di tawari shopping, namun Davina berbeda.
Dia tak perlu seorang pria untuk mentraktirnya karena kekayaannya melimpah.
Yang ada dia yang membelikan mereka
"Aku tak mau" ucap Davina cuek
"Ya kalau gitu kamu pilih saja perhiasan yang kamu suka,nanti mas yang bayar"
"Aku gak suka perhiasan mencolok.
Di brankas ku banyak" ucap Davina terkesan sombong, namun begitulah kenyataannya.
__ADS_1
Davina tampil apa adanya bahkan tidak terkesan dia adalah seorang yang kay raya.
Davina terlihat polos dan cantik dengan tampilan natural ala anak kuliahan.
"Uhmm kalau gitu maunya apa???"
"Beliin aku ice cream setelah kita turun nanti, itu cukup" ucap Davina tersenyum manis
Ternyata menyogok Davina semuda itu, Hany dengan ice cream.
Apa dia anak kecil????
"Baiklah, mas belikan sama toko-tokonya ya biar kamu puas"
"Ih, yang ada aku kembung ice cream terus gendut deh, gak mau" ucap Davina membuat Tian tergelak tertawa.
Akhirnya suasana kaku diantara mereka cair.
Davina tak marah lagi, ia juga rugi jik ngambek dan hanya diam, perjalanan panjang membuatnya sangat bosan.
Tujuan pertama mereka masih wilayah Asia, Thailand.
Bulan madu dari kedua orangtua Davina.
Sesampainya mereka di bandara sudah ada orang yang menjemput mereka, mereka di bawa ke sebuah cottage pribadi yang berada di tepi laut,
Davina langsung berbinar senang lihat keindahan hamparan lain yang indah dan tak sabaran menyusuri nya.
begitu meretas turun Davina langsung berlari kecil menuju bibir pantai seperti anak kecil yang mendapat mainan baru, berlari sambil merasakan lembutnya pasir pantai.
Ia memang menyukai pantai, itulah mengapa Ayudia dan Arjuna memilih memberikan tiket bulan madu ke sana.
"Sayang sini" teriak Davina mengajak Tian sambil menariknya, keduanya asik bermain dipinggir pantai.
"Sayang kita ke sebelah sana Yo, tempat umum.
Aku mau makan ice Kelapa muda sambil menikmati sunset" ucap Davina menunjuk area umum yang hanya di batasi oleh pagar kayu yang bisa di buka
"Kamu yakin???" tanya Tian yang di balas anggukan Davina.
"Kalau gitu kita ganti pakaian dulu, masa ke pantai pakaiannya begini?? ini namanya saltum alias salah kostum" ucap Tian melihat pakaian mereka berdua
"Hehehe, iya juga ya, kita kaya mau ke mall aja hehe" ucap Davina terkekeh.
Keduanya lalu berjalan menuju cottage mereka untuk berganti pakaian.
Davina memakai kaos putih di padu dengan celana pendek dan topi besar membuat wajahnya terlihat kecil dan imut.
Sementara Tian memakai celana pendek bahan Atun dan kaos putih couple dengan istrinya
"Sayang kita kaya orang pacaran ya" ucap Davina cengengesan sendiri
" kan kita emang pacaran yank, bedanya pacaran setelah menikah" ucap Tian membuat keduanya tertawa.
Dengan bergandengan tangan keduanya menuju tempat publik, Davina ingin menikmati momen sunset dengan suasana ramai,
Davina sudah duduk mencari spot untuk meniknati sunset sambil menunggu suaminya yang sedang memesan makanan.
Namun sedang asiknya ia memandang berkeliling, ia melihat Tian Yang sedang memesan makanan kecil untuk istrinya.
Sisanya itu terlihat sedang berkenalan dengan segerombolan wanita,
__ADS_1