Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Terpana


__ADS_3

Gabriel masih senyam-senyum sendiri sambil mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.


Ia bisa melihat dan mendengar percakapan neneknya dan Elliana.


Hatinya entah mengapa sangat semangat Aat Elliana mengakui jika dirinya tampan.


Biasanya Gabby akan tidak perduli, tapi saat ucapan itu keluar dari bibir Elliana itu terasa berbeda


"Tuan muda, apa yang anda lakukan???? apa anda mau menemui nenek anda????" tanya Carmen kencang membuat Gabriel meloncat terkejut dan langsung menempelkan jari telunjuknya didepan mulutnya


"Bibi Carmen sttttt" Gabriel seperti kucing yang tertangkap sedang mencuri ikan, ia gelisah dan panik.


"Anda sedang menguping ya????" ucap Carmen polos, Gabriel menepuk keningnya frustasi.


ia khawatir nenek dan Elliana di dalam sana akan bertanya-tanya apa yang ia lakukan di depan pintu kamar neneknya.


"Ngapain kamu??" tanya Elliana mengerutkan alisnya.


Gabby di buat terkejut kembali karena ia tak melihat Elliana membuka pintu


"Anu, aku hanya lewat" ucap Gabby langsung ambil langkah seribu tanpa menoleh.


sementara Carmen tertawa kecil melihat kegugupan Gabriel.


"Dasar cowok aneh" dengus Elliana


"Nona moda, tadi Tuan muda sedang menguping anda dan Nyonya tua" adu Carmen tersenyum penuh arti, terlihat Elliana masih menatap kepergian Gabriel sampai pemuda itu masuk ke dalam kamarnya


"Bibi Carmen mungkin salah lihat" ucap Elliana


"Beneran non, bahkan Tuan muda tertangkap saya sedang senyum-senyum sendiri" ucap Carmen membuat Elliana terkejut, ia jadi teringat jika ia mengatakan Gabby tampan, apa pria itu mendengar???


"Apa dia mendengar perkataan ku ya dengan nenek tadi??? Aduh malu bener.


Kegeeran dia di bilang tampan, dasar cowok aneh" gumam Elliana dalam hati.


"Nona... apa anda melamun atau...."


"Bibi Carmen terlalu banyak berpikir, aku hanya ingin istirahat" ucap Elliana merasa malu lalu ia berpamitan pada Emilly untuk ke kamarnya


Begitu Elly kembali ke kamarnya, kini tinggal Carmen dan Emilly yang saling pandang sambil tersenyum penuh arti


"Bagaiman menurutmu???"


"Dia gadis yang sangat manis, sedikit ketus dan galak.


Sepertinya karakternya cocok di sandingkan dengan tuan muda" ucap Carmen tersenyum lebar


"Kau sepemikiran denganku, hanya saja aku tak mau memaksa. Elly meminta waktu untuk berfikir, mungkin ia akan menerima tawaran Mika.


Tapi aku tak mau ia menyesal karena tak bahagia.


Kau tahu sendiri cucuku prilakunya menyebalkan" gerutu Emilly membuat Carmen tertawa kecil


"Tuan muda hanya di luar saja, sebenarnya dia pria yang lembut dan perhatian"


"Aku tahu itu Carmen, dia begitu hanya pada satu wanita, wanita pembawa petaka, Liona.


Huh jika ku tahu wanita itu jahat, aku menentang Gabby mengejarnya" gerutu Emilly


"Pengalaman membuat Tuan muda dewasa.


Ia jadi bisa menilai yang mana baik untuknya dan yang mana tidak.


Dalam prosesnya ia mungkin terluka, tapi dari luka itu ia belajar tentang hal yang penting.

__ADS_1


bagaimana memilih wanita yang baik" ucap Carmen membuat Emilly mengangguk


"Carmen kau benar, terima kasih selama ini sudah menjadi tempatku berkeluh kesah.


kau sahabat terbaikku" ucap Emilly Menggenggam tangan Carmen


"Jangan sungkan, sudah kewajiban ku"


"Kau yang sungkan, sudah ku pinta kau tak bekerja dan menikmati hari tua, tapi kau malah terjebak disini bersama nenek-nenek cerewet ini" ucap Emilly


"Hahaha anakku sudah menikah semua dan tinggal di luar kota, aku bisa gila jika di rumah sendirian tanpa melakukan apapun, lebih baik disini, kita gila bersama" ucap Carmen membuat keduanya tertawa.


Persahabatan yang unik antara anak pelayan dan anak majikan. mereka tumbuh bersama dalam satu rumah sejak kecil.


Sementara di kamar Gabriel mondar-mandir.


wajahnya terlihat bahagia, namun beberapa saat kemudian ia terlihat serius


"Dia bilang aku tampan, hahaha baru sadar apa dia??? apa selama ini dia tak memperhatikan aku di tempat kerja????" gumam Gabriel lirih


"Aku harus mencari cara agar Elly bisa kembali kenegaranya.


Malam ini Oscar dan Shandy akan tiba di sana" gumam Gabriel lirih.


Beberapa jam kemudian


Elliana sudah duduk di ruang makan bersama keluarga Gabriel, namun ia belum melihat bos nya tersebut.


Beberapa waktu lalu Sonia mendatangi kamarnya dan menyerahkan beberapa pakaian untuk di pakai oleh Elliana.


Pagi tadi ia dipaksa pergi dengan keadaan berpakaian seadanya.


Elliana kagum bagaimana Sonia bisa memilihkan pakaian yang sesuai ukuranya.


"Cucuku cantik sekali malam ini" puji Emily begitu melihat penampilan Elliana


"Kamu cantik sekali nak" puji Sonia.


Sonia tahu Elliana cantik, namun saat ia sedikit di polea, kecantikannya jadi lebih terlihat.


"Terima kasih nenek, mama Sonia" ucap Elliana malu


"Papa setuju" ucap Tian Lungu ikut mengomentari membuat Elliana malu


"Malam semua,...." sapa Gabriel berjalan mendekat, namun ia terkejut melihat seorang wanita yang bersinar di sana, hingga ia tanpa sadar menabrak kursi


"Awas matamu ke colok" goda Emilly melihat cucu nya terpana dengan kecantikan Elliana


"Maaf aku tadi...."


"Sudahlah, duduk nak sini dekat mama" ucap Sonia menepuk kursi di sebelahnya yang berada diantara Sonia dan Elliana.


Gabriel berdehem sebentar untuk menutupi malu lalu duduk dengan tenang, ia merasa makan malam kali ini terasa lama, ia gugup di samping Elliana.


Hal konyol yang pertama kali ia rasakan.


Bagaimana dia bisa merasa gugup hanya karena makan di samping Elliana???


"Apa besok gue ke dokter ya???


Jantung gue rasanya kaya maraton" gumam Gabriel sibuk dengan pikirannya sendiri.


Ia berusaha menenangkan hatinya sehingga tak memperdulikan suasana yang hangat penuh tawa di meja makan.


Setelah selesai maka semakinn Gabriel langsung pamit lebih dulu meninggalkan meja makan.

__ADS_1


Dua jam kemudian semua orang sudah kembali ke kamar mereka, begitu juga Elliana.


Ia merasa lelah dan mengantuk, baru saja ia merebahkan tubuhnya setelah mengganti pakaian, pintu kamar nya di ketuk seseorang.


ketukan pelan seolah orang yang mengetuk di luar sana tak mau ada yang tahu jika ia mengetuk pintu kamar Elliana.


Elliana melirik jam, baru pukul sebelas malam,


Begitu pintu di buka Elliana terkejut, Gabriel berdiri di sana sambil bersandar pada dinding di belakangnya.


Terlihat sederhana namun mengapa bagi Elliana dia keren??? apa otaknya sudah salah???


"Apa aku boleh masuk???" tanya Gabriel


"Tidak"


"Ini tak nyaman berbicara denganmu di depan pintu begini, kita bisa dilihat orang lain" ucap Gabriel menoleh ke kanan dan ke kiri


"Lalu apa yang salah???


Akan lebih salah jika kita kepergok berada di kamarku hanya berdua. Orang akan berpikir hal yang macam-macam dan namaku buruk"


"Tapi aku tak nyaman"


"Kalau begitu besok saja bicaranya" ucap Elliana hendak menutup pintu namun Gabriel menghalangi dengan kakinya


"Aduuuhhhh" pekik Gabriel yang kesakitan karen kakinya kejepit pintu


"Kau uji nyali???" ucap Elliana ketus, namun Gabriel tak menggubrisnya ia hanya mengurut kakinya yang terasa berdenyut sakit


"Ah, masuklah, kau mengenaskan" ucap Elliana langsung masuk ke dalam kamar, membiarkan pintu terbuka


"Apa ku selalu ketus begitu???" gerutu Gabriel


"Apa aku perlu memasang wajah manis dan bertutur kata lemah lembut menggoda???" cibir Elliana


"Lupakan.


Aku datang kesini hanya ingin bicara" ucap Gabriel dengan wajah serius


Elliana hanya menatapnya datar tanpa mengatakan apapun


"Aku mau bicara kenapa kau diam saja???"


"lalu aku harus teriak girang gitu??? Dasar manusia aneh, kalau mau ngomong ya ngomong aja, aku dengarkan.


Apa kau mau ajak ribut??" ucap Elliana akhirnya kesal juga


"Maaf,,,,,," ucap Gabriel lirih.


Elliana terkejut menatap Gabriel dengan pandangan tak percaya. Bos perfeksionis itu meminta maaf padanya, untuk apa???


Karena membuat Dirinya menjadi tawanan keluarga nya atau????.


Elliana memilih diam dan hanya menatap Gabriel


"Aku akan mencari cara mengirimnya keluar negeri agar bisa menemui papamu.


Malam ini sahabatku sudah sampai di negara mu bersama team nya, mereka langsung menuju kediaman mu"


"Mereka tidak akan bisa menjumpai papaku"


"Percayalah mereka datang bukan dengan tangan kosong tanpa rencana, mereka bisa menemui papamu dengan mudah" ucap Gabriel tersenyum lebar


"Bagaimana bisa????????

__ADS_1


__ADS_2