Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Godaan Manis


__ADS_3

"Cleo masih kecil, apa kamu harus mengatakan papanya menyukai body mu???"


"Tapi ma...." Davina ingin memprotes namun Ayudia melotot kesal


"Dasar dodol" ucap Daffa tertawa sambil berjalan menjauh di ikuti oleh Daffa.


"Aku belum cukup umur, kak Davina kau merusak kepolosan ku", tambah Zidan lalu berlari mengajar Daffa dan Daffi.


Memang Davina sangat jenius tapi untuk urusan satu itu, dia belum memiliki jam terbang, Marcel adalah pacar pertamanya dan mungkin juga cinta pertamanya.


Selama ini Davina hanya fokus pada pekerjaan dan pendidikannya dan tak memiliki banyak waktu berinteraksi secara resmi dengan lawan jenis.


"Kalian.. awas saja" ucap Davina menggerutu.


"Ingat kamu sekarang adalah seorang ibu, ketika kau memutuskan menikahi Sebastian, maka saat itu juga kau menerima tanggung jawab sebagi ibu sambung bagi putrinya, cleo


Bersikaplah dewasa, baik perilaku maupun tindakanmu. Karena apa yang kau ucapkan dan lakukan akan menjadi contoh bagi putri sambung mu"


ucap Ayudia menasihati putrinya sambil duduk di samping nya.


"Baik ma, akan aku ingat perkataan mama" ucap Davina


"Anak pintar, mama percaya kamu bisa menjadi mama sambung bagi Cleo.


Sayangi Cleo seperti anakmu sendiri.


kamu harus banyak sabar, karena tak mudah baginya untuk bisa menerima kehadiranmu di tengah-tengah dia dan papanya. Apa kau mengerti nak??"


"Iya ma, Davina mengerti, tapi kenapa ya ma mulut Cleo pedes banget???" tanya Davina pada mamanya


"Mulut anak tirinya pedas seperti ibu tirinya. itu karma!!!!" ucap Arjuna yang di balas senyum Ayudia


"Ma, pa, apa kalian senang aku kena karma??"


"Nikmati saja sayang," ucap Arjuna terkekeh.


Ia sangat senang akhirnya apa yang dulu ia rasakan kini Davina rasakan, bagaimana punya anak bermulut sambal.


"Kalian apakah benar orang tuaku?? kejam" gerutu Davina merengut.


Arjuna dan Ayudia hanya bisa tertawa melihat Davina yang cemberut.


Satu jam sudah berlalu, Tian dan Cleo belum juga kembali membuat Davina kesal.


Apakah ia harus menerima semua tamu dan menjawab pertanyaan tamu terus dimana suaminya??


Davina ingin segera resepsi ini selesai.


Akhirnya yang di tunggu tiba, Sebastian dengan canggung kembali duduk di pelaminan, namun Davina sedikit menjauh darinya, ia memilih duduk di tepi pelaminan


"Maaf ya sayang, Cleo tadi mengantuk jadi aku menemani dia sebentar" ucap Sebastian lirih.


Davina hanya berdehem sebagai jawaban.


ia tetap tersenyum menerima tamu yang mengucapkan selamat hingga akhir acara Davina tetap diam.


Ia berpamitan pada kakek dan nenek buyut ya lalu pada kakek dan nenek Ratih setelah itu mama dan papanya.


Davina merasa tubuhnya lelah sekali, ia berjalan menuju kamarnya tanpa menunggu Tian.


"Ma, pa, Tian ke kamar dulu ya"


"Tian, mama dan papa serahkan Davina padamu, kamu harus banyak sabar menghadapi Davina yang belum dewasa. Sayangi dia dan lindungi dia" ucap Ayudia

__ADS_1


"Iya Ma, pa, Tian berjanji.


Tian akan menyayangi Davina dan selalu melindunginya"


"Tian, makasih" ucap Arjuna yang di balas anggukan Ayudia.


Tian hanya mengangguk dan berjalan menyusul istrinya.


"Aku memang menyayanginya dan akan selalu melindunginya tanpa kalian pinta, karena gadis itu sangat berarti di hatiku.


Sayangnya mungkin dia tidak " gumam Tian tersenyum kecut.


Sampai kamar ternyata Davina mengunci Sebastian di luar kamar. Ia sampai setengah jam menunggu namun Davina tak kunjung keluar.


"Sayang, kalau mama dan papa lihat aku masih di luar, apa kata mereka??" ucap Sebastian


lalu pintu di buka dan Davina baru selesai mandi dan masih memakai kimono


Rupanya dia mandi tadi. Sebastian sudah berpikiran Davina marah.


"Kenapa cengar cengir gitu??? emang kamu pikir cakep apa? Jadi masuk gak?? kalau gak di luar aja" ucap Davina langsung melengos masuk kembali ke dalam


Sebastian tertegun sejenak lalu buru-buru masuk


"Gawat rupanya dia marah, "gumam Sebastian lirih


"Ngomong apa om??"


"Ah enggak kok sayang, aku mau mandi dulu" ucap Sebastian kikuk


"Sana, kenapa pake laporan.


Emang mau di mandikan???"


"Dasar orang aneh.


Kok bisa ya aku suka om Tian yang nyebelin gitu.


Baru sehari udah bikin kesel" gerutu Davina sambil mengeringkan rambutnya


Sementara Sebastian merasakan dadanya deg deg an hanya karena ucapan Davina


Ia memukul kepalanya sendiri


"Tian, Tian, pikiran loe ngeres, dia kan cuma bilang mau mandikan, kenapa loe buat jantung gue gak jelas gini??


Astaga gue bukan abege, kenapa jadi kaya abege gini??" gerutu Sebastian langsung membasahi menjernihkan pikiran ya yang kusut di bawah guyuran air shower.


Sebastian keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat Davina memakai pakaian minim


"Om, gak ada baju tidur, adanya baju kekurangan bahan" ucap Davina menunjuk pakaiannya sendiri, sebastian menelan Saliva nya dan kembali masuk ke kamar mandi


"Astaga kalau begini gue bisa masuk angin" ucap sebastian mengguyur kepalang lagi di bawah shower


"Oh dasar orang aneh, di kasih tahu baju aku begini malah kabur.


Ini pasti kerjaan kakek buyut.


Kakek Angelo astaga kakek tua ini...


Apa dia mau gue punya anak cepet-cepet??


dasar udah tua pikirannya mesum" gerutu Davina masuk ke dalam selimut, ia memilih membungkus tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


Gak mungkin ia meminta Agatha mengambilkan baju tidur, bisa-bisa ia jadi bahan ledekan Agatha


"Ah masa gue mesti tidur begini? mana ada om Tian, nanti kalau dia ngiler liat gue gimana???


gue belum siap.


Kakek buyut awas aja pembalasanku.


Tapi ngomong-ngomong kalau gue punya anak, kakek buyut mangg.anak gue apa ya?? cucu, cicit, masa cocot sih??? ah gak banget" gerutu Davina pelan.


Pintu kamar mandi terbuka dan Tian keluar dengan wajah pucat karena kelamaan mandi.


"Om, dingin ya?? cepat pakai baju terus naik , bobo sini" ucap Davina polos


"Sebastian langsung terbayang pakaian davina yang super sexy, jantungnya berdebar cepat.


"Aku, aku ...


Kamu nyaman pakai pakaian itu??" tanya Tian hati-hati


"Enggak, takut om nanti menerkam aku" ucap Davina polos membuat sebastian tertawa


"Aku minta asistenku membawakan pakaian yang nyaman ya" ucap Tian lalu meraih ponselnya dan menelpon asistennya


Tian dengan santai membuka jubah mandinya, menyisakan boxer saja.


Kini terpampang jelas tubuh atletis Tian membuat Davina melotot tak berkedip


"Om sexy" ucapnya tanpa sadar


"Apa sayang??"


"Ah enggak, om tuh pakai baju di kamar mandi sana, mata aku terkontaminasi" ucap Davina pura-pura membuang pandanganya ke arah lain, padahal Sebastian tadi melihat jika Davina melotot tak berkedip memandang tubuhnya


"Emang kenapa?? kamu takut khilaf ya??" goda Sebastian Mendekati Davina masih bertelanjang dada


"Ih pede, aku juga pernah liat kok yang model begini" ucap Davina


Sebastian tersenyum licik, otaknya langsung merancang untuk mengerjai istrinya.


Ia naik ke tempat tidur masih bertelanjang dada


"Om pake baju, malu ih"


"Masih gerah, kalau malu jangan di lihat" goda Sebastian tersenyum penuh arti


Sebastian membuka ponselnya, banyak panggilan masuk dan pesan singkat, alisnya berkerut lama, ia menghela nafas dan memilih mematikan kembali ponselnya


"Siapa?? kok mukanya begitu???" tanya Davina penasaran


"Bukan siapa-siapa" ucap Tian tersenyum


"Sini liat" ucap Davina ingin merebut ponsel Tian, namun Sebastian dengan cepat menghindar, hingga tubuh Davina kembali berada di atasnya, kini kulit mereka bertemu karena pakaian Davina yang minim dan Tian tak berpakaian


"Sayang, cepat bangun jangan diatas tubuhku" ucap sebastian dengan suara parau


"Om badannya keras" ucap Davina malah asik bergerilya di dada Tian membuat nafas Tian memburu.


Mata Sebastian dan Davina bertemu, Tian lalu memajukan wajahnya, ia menunduk ******* bibir ranum Davina


"Om...." ucap Davina lirih


Tok tok tok

__ADS_1


__ADS_2