Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Davina Ngambek


__ADS_3

Keempat pria berusia kepala tiga itu hanyut dalam obrolan mereka.


ketiganya asik membahas apa saja yang terlintas di otak mereka.


Terkadang di selingi canda dan tawa, terkadang wajah mereka serius seperti sedang meeting sebuah tender penting saja.


sehingga tanpa terasa mereka sudah terlalu lama berada di cafe tersebut, lebih tepatnya membuat bising dan menggangu pengunjung lain.


sayangnya mereka semua tampan, sehingga tak ada seorangpun yang protes, Justru cafe tersebut beruntung karena berkat mereka cafe tersebut jadi ramai, khususnya ramai kedatangan para wanita yang rata-rata masih abege.


Bahkan ada yang memposting keberadaan ke empat pria tampan tersebut di sosial media.


Walau usia mereka sudah diatas tiga puluh lima tahun, namun wajah mereka berempat masih tergolong awet muda, mereka seperti sekumpulan pemuda berusia dua puluh lima tahun, fresh dan tampan, membuat mereka menjadi pusat perhatian.


Terlebih Oscar dan Gabriel yang notabene nya adalah bule, sangat lancar berbahasa Indonesia dan menebar senyum pada setiap wanita yang memandangnya.


terutama Oscar yang terkenal playboy.


Sejak tadi beberapa wanita yang ikut nongkrong di cafe tersebut mencuri pandang ke arah mereka, bahkan ada juga yang terang-terangan mendatangai meja mereka berkenalan.


Ya, ini bukan hal yang aneh dan tabu lagi, wanita kini banyak berinisiatif untuk berkenalan duluan.


Tian lebih memilih diam, ia sudah menikah dan tak mau ada fair yang bisa membuat rumah tangganya hancur.


Lagi pula di bandingkan para wanita itu, Davina lebih cantik dari mereka.


Mereka asik ngobrol dengan para gadis yang baru mereka kenal, Tian hanya sibuk dengan ponselnya walau terkadang ia membalas pertanyaan mereka dengan singkat, sekedar menghormati.


Ketiga sahabatnya seperti macan lepas kandang, bringas melihat wanita, mereka langsung pedekate dan tebar pesona membuat Tian langsung hilang mood.


Tian melirik jam dipergelangan tangannya, sudah jam delapan malam, rupanya mereka menghabiskan waktu hampir lima jam di cafe tersebut.


Ia melewatkan malam malam , Tian merasa sangat khawatir sekarang


"Guys gue balik dulu ya, kalian lanjut aja"


"Masih siang nih bro, bencong aja belum pada keluar" seloroh Panji yang di balas tawa mereka


"Buat loe aja, gue mau kelonan sama bini gue, bye" ucap Tian mengambil kunci mobilnya


"Mau kemana sih kakak ganteng, yang di rumah gak akan kemana-mana" ucap genit salah seorang wanita yang nimbrung di meja mereka


"Maaf ya mba, istri saya memang gak kemana-mana, tapi sekalinya keluar, mata cowok pada melotot.


Gue cabut dulu guys, have fun" ucap Tian tanpa menunggu jawaban teman-temannya.


Ia langsung berjalan menghampiri meja kasir, membayar semua bill pesanan kawan-kawannya, lalu langsung meninggalkan tempat tersebut.


Perasaanya tak enak, ia merasa Davina marah padanya dan sebagai sogokan Tian mampir membeli martabak telor kesukaan Davina dan Cleo.


kini jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit.


Sebastian melajukan kendaraannya pulang kerumah.


Sementara di kamar Cleo


Davina menatap putri sambungnya yang sudah tertidur pulas, beberapa waktu lalu Cleo yang ngambek terus menanyakan papanya.


Davina jadi menyesal memberi izin suaminya, pasalnya Davina tak menyangka jika Tian akan lupa waktu saat berkumpul dengan kawan-kawannya.


Jam di dinding kamar Cleo juga sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Enam jam sudah suaminya pergi dengan kawan-kawannya dan mengabaikan mereka.


Davina menyelimuti Cleo, mencium kening putrinya lalu dengan perlahan meninggalkan kamar Cleo menuju kamarnya sendiri.


Davina tak bisa tidur, ia sangat mengkhawatirkan suaminya sekaligus kesal menunggu Tian tak kunjung pulang.


Davina berjalan menuju balkon kamarnya, dari atas ia melihat mobil Tian sudah kembali, ia segera masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamar dari dalam.


Lima menit kemudian terdengar suara langkah kaki Tian menaiki tangga, dan tak lama pintu kamar di ketuk

__ADS_1


Tian mengerutkan keningnya mencoba membuka pintu kamar, tapi tak bisa.


Kamar tersebut di kunci oleh Davina


"Sayang, buka pintunya dong, mas pulang nih" ucap Tian setengah berbisik.


Tak ada sautan dari dalam kamar.


Tian kembali mengetuk pintu kamar nya


Tok tok tok


"Istriku sayang, bukain pintu dong " ucap Tian namun masih sama tak ada jawaban


Tian menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Fix istrinya marah.


"Sayang, mas ngaku salah, maafin mas ya sayang, bukain pintu, Mas belikan kamu martabak telor kesukaan kamu nih" ucap Tian merayu Davina


Cekrek


pintu kamar di buka, tapi hany separuh saja, Davina menatap tentengan di tangan Tian


"Maafin mas dong sayang, sebagai permintaan maaf mas belikan martabak nih.


Aku beli di tempat langganan kamu loh" ucap Tian penuh harap


Davina tersenyum dan mengambil martabaknya, ia segera masuk dan


Bugghhhh


pintu kamar kembali di tutup tepat saat Tian ingin masuk, beruntung wajah Tian tidak kena


"Astaghfirullah sayang, main tutup pintu aja, wajah suamimu rusak nanti kamu rugi loh" ucap Tian mengelus dada terkejut


"Biarin aja nanti kalo rusak tinggal operasi plastik aja. Tapi pake plastik ember biar jelek sekalian" ucap Davina yang berbinar menatap martabak kesukaannya di depan mata.


Sogokan boleh di terima, tapi orangnya nanti dulu!!


"Jadi gak ikhlas???" tanya Davina dari dalam kamar


"Ikhlas yank, ikhlas banget malah.


Tapi gak gitu juga masa suaminya di hempaskan di luar makannya di terima?


Aku kan udah minta maaf yank" ucap Tian merajuk


"Malam ini mas tidur di kamar tamu.


Ah enggak, enggak, mas tidur di apartemen sohib ma aja sana"


"Kejam yank, apa kata mereka nanti???"


"Mas mikirin apa kata mereka, tapi gak mikirin anak istri nungguin kamu pulang, jangankan telepon, kasih kabar gak, asik cuci mata ya diluar???"


tanya Davina yang menjulurkan kepalanya dari balik pintu


"Mas masuk ya???"


"Enggak, aku gak mau mas masuk, kalau mau masuk aku tidur di kamar tamu" ucap Davina membuat Tian lemas. Begini nih resiko punya istri.


"Mas di luar juga gak ngapa-ngapin kok sayang"


"Klo berani silahkan, mas punya terong Ku rica-rica" ucap Davina tersenyum jahat membuat sebastian otomatis memegang onderdil Bawahnya


"Astaghfirullah jahat bener kamu yank.


ini aset yank, aset"


"Aku kan penasaran di masak enak gak" ucap Davina menyeringai membuat Tian langsung bergidik ngeri

__ADS_1


"Ya Allah lindungi hamba" ucap Tian mengangkat kedua tangannya dan memilih menyingkir dari depan kamarnya.


"Mas met bobo, muaaach" ucap Davina mengirim kiss jauh ada suaminya


"Dari pada kiss jauh sini yank cium pipi aku sekalian"


"Mau aku goreng apa panggang???"


"Ampuunnnn....." teriak Tian lngsung menuju kamar tamu


"Ya Allah sadis bener punya istri" ucap Tian menggeleng kepala. Ia segera mandi dan mencari pakaian Panji di kamar sebelah nya


"Astaghfirullah, loe ngapain mengacak-acak lemari gue dodol??" mana cuma pake kimono mandi lagi??


Loe mau berbuat asusila sama gue ya???"


"Najis, gue pinjem kaos loe"


"Napa loe mau oke kaos gue?? jangan bilang loe di usir dari kamar?????" God Panji menaik turunkan alisnya


"Diem loe, mana kos loe yang gedean.


Kos loe kecil semua" ucap Tian menunjuk pakaian Panji yang berantakan di kasur


"Sebastian Chou,kampret loe baju gue loe acak-acak.


Mana ada baju gue yang muat sama kingkong kaya loe" ucap Panji memunguti pakaiannya


"Loe aja yang gering, cungkring, cacingan.


Loe tuh makan banyak kemana tuh makanan???


Bukan depan loe beli obat cacing deh ji"


"Mati kipe, loe udah mau pinjem baju masih aja tuh mulut sempet-sempatnya fitnah gue.


Gue bukan cacingan, tapi uleran, puas????" Dengus Panji yang di balas tawa Tian


"Eh ini baju kayanya gede" ucap Tian melihat sebuah piyama tidur berwarna biru muda yang di letakkan Panji di box


"Jangan itu....." teriak Panji, namun ia telat, sebastian sudah mengambilnya dan berjalan dengan cepat ke arah kamar mandi


"Sial, Tian, duda eh laki orang, kenapa loe pakai pakaian pemberian mantan terindah gue???


itu satu-satunya pakaian couple gue sama dia, Tian....


Bukaaaaaa" teriak Panji menggedor pintu kamar mandi, namun Sebastian tak menyahut.


Beberapa saat kemudian setelah Panji lelah Berteriak-teriak akhirnya Tian keluar dengan memakai piyama Bru panji


"Lumayan lah, pinjem dulu ya bro"


"Bodo amat" ucap Panji sewot


"Jangan marah-marah nanti kusut kaya tomat lama di kulkas.


owh ya gue mau masuk mie rebus ah, loe mau kaga??" tanya Tian


"Mau pake telor mata sapi ya, setengah mateng aja , terus ceburin cabe rawit lima.


kuahnya jangan banyak-banyak "


"Udh itu aja???" tanya Tian bersedekap dada mendengar permintaan Panji yang terkesan seperti Tian penjual warkop


"Hehehe satu lagi, kasih sawi "


"Bodo amat" ucap Tian langsung ngeluyur keluar kamar


"Bro serius lah???"


Tian hanya mengangkat sebelah tangannya tanpa menjawab

__ADS_1


"Tian, kampret loe ngerjain gue" ucap Panji memaki.


Terdengar tawa terkekeh Tian sambil menuruni tangga.


__ADS_2