Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Rahasia Mila


__ADS_3

Panji masih ngedumel di ruangannya, bagaimanapun Mila sudah seperti temannya karena Mila adalah sekertaris yang sangat bisa diandalkan, bahkan saat panji lupa makan Mila yang menghiburnya, saat Panji kena omel, Mila yang menghiburnya, bahkan saat panji dinas luar, Mila terkadang menemaninya.


Hubungan mereka sangat erat dan terlihat seperti kekasih salah Panji mengatakan pada Tian dia hanya menganggap Mila adalah adiknya sekaligus teman, namun Tian bisa melihat pandangan Mila pada Panji berbeda, hanya Panji terlalu cuek dan tak perduli.


Alasan itulah yang membuat Tian memutuskan menempatkan Sekar di samping Panji sebagai sekertaris, itu demi memudahkan rencananya.


Tok tok tok


"Masukk"


"Pa, ini...."


"Mau apa kamu??? nyogok?


jangan pikir aku Mudha di sogok" ucap panci melirik paper bag yang di bawa Sekar.


Ia sangat tahu itu restoran yang biasa ia datangi bersama Tian, ia suka semua masakan di restoran itu, terlebih tepanyaki nya,


"Ini dari pak Sebastian, tepatnya anak pak Sebastian"


"Cleo?? astaga bilang kek dari tadi" ucap Panji langsung merebut paper bag dari tangan Sekar dan tersenyum-senyum sendiri


"Calon istri masa depanku memang perhatian" gumam Panji yang terdengar oleh Sekar


"Calon istri masa depan???" ulang Sekar


"Huh dasar tukang nguping, nunggu apa lagi?" tanya Panji yang bahagia membuka isi dalam paper bag tersebut


"Anu, satunya punya aku" ucap Sekar ragu


"Kau ... Apa perutmu bisa makan seperti ini???


Ah sudahlah ini, kalau kau gak suka kasih aku" ucap Panji dengan tak rela memberikan box bento satunya pada Sekar.


Sekar menerima box itu dan masih diam di tempatnya


"Apa kau minta aku suapi juga????" bentak Panji membuat Sekar gelagapan


"Ah enggak, permisi" ucap Sekar langsung kabur tanpa menunggu lagi


"Huh, cantik tapi Lola, lebih baik Mila dalam bekerja, aku rindu Mila jadinya" gumam Panji.


Sementara di ruangan Tian terlihat sebuah keluarga harmonis sedang menikmati makan siang mereka


"Mas, apa Panji akan makan siang dengan Sekar???" tanya Davina penasaran


"Mustahil, Panji itu lebih menyebalkan dari yang kalian pikir, hanya Mila yang selama ini bertahan dengan Panji, sebelum Mila sudah lebih dari lima orang sekertaris yang hanya bertahan selama seminggu.


Panji bawel dan galak" ucap Tian


"Bukanya mas juga? ledek Davina


"Aku?? sedikit, tapi aku gak sebawel Panji.

__ADS_1


Aku cuma dua kali ganti sekertaris, itupun karena dia resign hamil" ucap Sebastian menolak di samakan dengan Panji dalam hal bawel


"Bawahan bagaimana atasannya" ucap Cleo masih tetap fokus dengan makannya


"Hahaha kau putriku yang pintar, mama setuju, kalau atasannya model kaya papa kamu yang super bawel dan suka minta sesuatu yang mendadak dan gak muak akal" ucap Davina meledek suaminya


"Sayang, apa kau gak koreksi sendiri sebelum...."


"Makana yang banyak sayang, kamu terlihat kurus" ucap Davina menyumpal mulut suaminya dengan sepotong daging. Ia lupa kalau Tian tahu perangainya di kantor


"Kamu....." Tian di bungkam lagi, kali ini Davina menyuapi suaminya dengan sesendok nasi penuh hingga Tian sulit mengunyah


"Aku kok mencium bau-bau...."


"Ah perasaan kamu aja sayang" ucap Davina dan Tian nyengir kuda.


Cleo hanya mengangkat bahunya lalu kembali asik makan.


Akhirnya Sebastian memutuskan pulang lebih Awal, ia kasihan melihat istri dan anaknya yang i suruh menunggu, lagi pula ia pemimpin, pulang cepat tak masalah.


Sepanjang jalan banyak karyawan Tian yang menatap mereka dengan senyum, awalnya mereka mengira Tian akan menikah dengan Dona, tapi ternyata secara tiba-tiba Tian bersama wanita yang lebih cantik dan lebih muda dari Dona, mereka terlihat seperti keluarga bahagia dengan satu anak.


Mereka merasa sedikit kasian pada Dona.


Yang mereka tak tahu adalah Tian dan Davina sudah menikah, karena pernikahan mereka dadakan, tak banyak yang tahu, apalagi staff di perusahaan Sebastian.


Rencananya sebastian akan melakukan resepsi megah untuk mengumumkan pernikahan mereka, namun masalah satu persatu datang silih berganti dan Tian juga belum mendiskusikan masalah ini pada Davina.


Dua Minggu kemudian


Namun walau sudah menyelesaikan pekerjaannya dengan cekatan, Panji masih kerap mengomelinya dan ada saja kesalahan yang di buat-buat


Hingga suatu saat Tian sendiri yang melihatnya, ia merasa kesal sendiri pada Panji,


Anak mengesalkan itu tidak pernah belajar dari kehidupan


Jangan sampai menyesal setelah Sekar pergi nanti.


Sekar terlihat sedang menghapus air matanya


"Apa dia memarahinya lagi??"


"enggak kan, aku hanya kelilipan" ucap wanita cantik itu menutupi


"Kau gak pandai berbohong gadis kecil.


pergi ke toilet dan rapihkan dandanan mu.


Aku menempatkan mu di sisinya bukan untuk bersedih" ucap Tian mengelus puncak kepala Sekar


Gadis itu akhirnya menangis tersedu-sedu.


"Sudah jangan menangis.

__ADS_1


Kau jelek kalau menangis, lebih jelek dari Cleo saat ia menangis" ledek Tian membuat Sekar tertawa kecil


"Nanti malam ke rumah lah, kakak iparnya memasakkan makanan kesukaanmu" ucap Tian membuat Sekar bahagia, jauh dari keluarganya namun akhirnya ia memiliki keluarga baru yang menyayanginya.


"Apa kakak ipar memasak gudeg lagi??"


"Iya kali ini dia berhasil, tidak seperti kolak dengan gula satu kilo" ucap Tian membuat Sekar tertawa terkekeh


"Sudah sana rapihkan make up mu, nanti Panji kabur melihat wajahmu yang berantakan ini" hibur Tian lalu masuk ke ruangan Panji.


Terlihat Panji sedang memeriksa berkas di mejanya


"Mau apa lagi masuk??? kau sungguh tak berguna, bahkan keahlian Mila tak ada setengahnya padamu" teriak Panji tanpa menoleh


"Owh jadi keahlian ku tak ada setengahnya dari Mila??? Dalam hal apa? kerjaan atau ranjang?" tanya Sebastian sinis


"Tian...?"


"Panggil aku pak Sebastian.


Kau bawahan ku" ucap Tian dingin.


Ia harus bersikap tegas agar Panji bisa membedakan masalah pribadi dan pekerjaan.


"Siapa bos" ucap Panji yang melihat mimik serius pada wajah Panji.


Sebastian menyodorkan sebuah map coklat pada Panji


"Apa ini??" Sebastian tak menyahut hanya terus menyodorkan meminta Panji menerimanya.


Walau bingung Panji menerima dan membukanya, di dalamnya ada beberapa lembar foto dan flash disk


Panji mengeluarkan satu persatu, matanya membelalak lebar.


Dalam map tersebut ada foto Mila sekretarisnya dengan seorang pria, selama ini yang Panji tahu Mila single karena itu Mila kerap kali menemani Panji dan waktu ny di habiskan dengan Panji baik di kerjaan maupun di luar pekerjaan.


Panji memegang flash disk di tangannya dan memandang Tian, Tian hanya memberi isyarat Panji membukanya, dengan hati dag Dig dug ia menyalahkan laptop dan membuka isi dalam falsh disk itu, , matanya lebih membelalak lebar, tangannya mengepal kencang


"Sejak kapan kau tahu?" gumam Panji lirih


"Baru beberapa bulan belakangan, istriku yang melakukannya. Kau tahu istriku walau suka membully mu dia perduli padamu" ucap Tian pelan


"Kenapa kau tidak memberitahu kalau Mila seperti...."


"Apa kau akan percaya jika aku memberitahumu???


Come on bro, gue udah kenal loe bertahun-tahun, bukan setahun, dua tahun" cibir Tian yang di setujui Panji, ia memang bukan orang yang mudah percaya jika tak ada bukti konkrit, karena dia pria realistis.


"Owh ya, Jangan tumpahkan kekesalan mu pada Sekar. Jika kau tak mau Sekar berada di sisimu, sebaiknya kau memimpin perusahaan kita di luar kota, kau bebas memilih siapa sekertaris mu"


"Bro...?????" Sebastian mengangkat sebelah tangannya sambil berlalu pergi, ia tak mau mendengar alasan apapun dari Panji yang artinya keberadaan Sekar mutlak.


Mengapa Tian sampai membela sebegitu nya pada Sekar membuat Panji penasaran.

__ADS_1


Tian jarang sekali memperhatikan sampai detail masalah karyawatinya, Namaun Sekar pengecualian.


__ADS_2