Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Semua tahu???


__ADS_3

"Ka....kaliaaannn?????? pekik Davina terkejut begitu masuk kerumah dia mendapati seluruh keluarganya di sana


"Surpriseeeeee......" ucap semuanya serentak sambil meniup terompet


Davina hanya bisa nyengir sementara Tian menggaruk kepalanya yang tak gatal, memasang senyum terpaksa.


Gagal sudah bulan madu penuh kemesraan yang mereka berdua bayangkan dalam khayalan masing-masing.


Rencana tujuan honeymoon mereka mungkin nantinya berubah menjadi rencana berlibur keluarga, sungguh....


Davina kehabisan kata-kata.


Davina awalnya sedikit curiga kado pernikahan kakeknya kenapa harus ke negara tempat asal Angelo, namun Davina menyimpulkan karena mungkin agar Tian mengenal keluarga dan asal keluarga Angelo, namun semua di luar prediksi, sepertinya ini memang rencana Angelo, kakek buyutnya yang memiliki seribu satu macam cara untuk mengerjai siapapun yang ia mau walau ujung-ujungnya ya bakal kena hukum nenek buyutnya.


Namun sifat usil Angelo seolah tak berkurang sedikitpun bahkan seolah makin tua makin menjadi saja.


"Kakek buyut tunggu pembalasanku


kalau kau mengusili suamiku awas saja, biar ku buat kakek buyut di hukum nenek buyut sampai kapok" seringai licik terpasang di wajah cantik Davina.


Angelo menelan Saliva nya dengan sulit.


Namun demi melihat cicitnya hamil, ia harus bertindak cepat sebelum ajal menjemput ia berharap bisa melihat cicitnya mengandung penerus nya.


Mengapa Angelo sangat terobsesi dengan davina??? karena Davina merupakan satu-satu nya keturunannya yang memiliki gen kental perpaduan Kejelian dan kepintaran keluarga benedito serta kecerdikan dan keberanian keluarga Ernest.


Dia pewaris utama keluarga benedito, walau Daffa dan Daffi memiliki potensi, jiwa kepemimpinan Davina lebih kuat.


Daffa dan Daffi juga di beri bagian mereka masing-masing sesuai bidang mereka, namun perusahaan inti tetap milik Davina.


Daffa dan Daffi tak perduli itu, mereka justru mendukung adik mereka, karena mereka sadar jika potensi Davina menjadi seorang pemimpin lebih besar di banding mereka berdua.


Yang terpenting bagi Daffa dan Daffi adalah siapapun pemimpinnya perusahaan bisa membawa keluarga mereka ke puncak.


"Kalian kenapa ada Disni???"


"Kami juga mau berlibur, memang gak boleh ya???" tanya Daffa dan Daffi saling melempar pandang


"Bukan gak boleh hanya saja kenapa harus kesini???" tanya Davina terdengar kurang suka


"Ih suka-suka dong, apa kami harus izin kemana kami pergi??" timpal Daffi dengan senyum meledek


"Aku diajak mommy kak" ucap si kembar sambil menunjuk Ayudia yang nyengir kuda


"Mommy, mommy, mamaaaa...


Kalian makan masih suka tempe mommy, mommy segala.


Kalau makan gak suka nasi sama tempe baru manggil mommy" celetuk Davina pada kedua adik kembarnya yang menggemaskan.


usia mereka bertaut sembilan tahun, kini si kembar berusia tujuh belas tahun jalan delapan belas.


Kecantikan mereka tak kalah dari Davina.


Jika Davina seperti wanita blasteran dengan bola mata biru, sementara kedua adik kembarnya memiliki bola mata coklat dan hitam, dengan rambut hitam panjang.


"Ih kakak gak gaul" ucap Dira si bungsu menjulurkan lidahnya


"Sudahlah aku lelah" ucap Davina mencoba berjalan normal, namun tetap saja alisnya berkerut menahan pedih di bagian intimnya karena ulah Sebastian.


Semua mata seolah tertuju padanya dengan senyum di kulum seolah mereka satu pemikiran


"Tian sudah belah duren!!!!"


Davina yang di lihati olehs seluruh keluarga melotot tak senang


"Kenapa sih pada senyam senyum gak jelas gitu???


Dasar aneh, Aku mau istirahat dulu cape" ucap Davina menyalami seluruh keluarganya lalu menarik tangan Tian naik ke lantai atas dimana kamar Davina berada.

__ADS_1


"Sayang ayo" ajak Davina keceplosan membuat senyum mereka di wajah seluruh keluargany


"Kenapa??? ada yang aneh???"


"Ahhh eng...enggak kok ya kan sayang???" ucap Angelo pada istrinya


"Nanti nenek buyut akan meminta pelayan mengirimkan mu makanan dan minuman, istirahatlah sayang" ucap Ernest bijak


"Kak, kami mau dengar liburan kakak di Thailand, kami kan belum pernah kesana" ucap Dina


"Iya kak, apa cowok-cowok disana cakep?? banyak bule gak?? terus..... Adoh" Dira tak meneruskan ucapannya malah mengaduh akibat Ayudia menjewer kuping Dira dan Dina


"Anak-anak kakak kalian lelah, bahasnya nanti.


ucap Ayudia yang mengerti jika putrinya sedang bad mood karena kedatangan mereka.


Ayudia hanya bisa mengikuti rencana Angelo karena ia jug penasaran apakah honeymoon mereka sukses atau enggak.


namun melihat dari tingkah dan jalan Davina yang berbeda, Ayudia mengerti jika putrinya sudahenjalankan kewajibannya sebagai istri.


menyerahkan mahkota berharganya pada suami sah nya.


Ayudia sangat ketat pada putri maupun putranya.


Walau mungkin bagi sebagian orang kuno dan kaku, namun tidak bagi Ayudia, itu merupakan dasar yang penting yang ia tanam pada semua anak-anaknya sejak kecil.


Kehormatan wanita harus di jaga dan hanya di berikan pada suami sahnya kelak.


Begitu juga ia memberi pengertian pada kedua putranya.


Jika mereka mencintai seorang gadis, maka mereka harus menjaganya dan jangan pernah menodainya.


"Maaaa sakitttt" teriak Dira dan Dina memegangi kuping mereka


"Istirahatlah nak" ucap Ayudia lembut, Davina hanya mengangguk lalu berjalan menuju kamarnya.


Saat menaiki tangga Sebastian yang melihat istrinya kesusahan berjalan langsung membopongnya ala bridal membuat Davina terkejut dan melotot kesal


"Sayang yang patuh lah, atau kita berdua jatuh dari tangga ini.


Lagi pula jalanmu terlihat aneh, maaf ya" ucap Tian tulus membuat Davina melunak


"Kau ...


kau harus melayaniku sebagai balasannya" ucap Davina dengan wajah merona


"Aku siap siang malam sayang, mau gaya apa aku siap"


"Kau mas...


dasar pria mesum, aku hanya minta kau menjadi pelayan pribadiku" ucap Davina membuat senyum di wajah Tian memudar sedikit


"Apapun untuk istriku yang cantik" ucap Tian.


Jika kata itu di ucapkan orang lain, mungkin Davina tak akan sebahagia ini.


Pasalnya kalimat itu terlontar dari bibir pria yang sangat ia cintai.


Jujur saja ia juga mencintai Marcel, namun rasanya berbeda, dengan Tian ia merasa jatuh cinta dan jatuh cinta lagi berkali-kali.


Namun itu dulu, saat Marcel mengkhianatinya, ia membenci pria itu, bahkan perasaan cinta itu sudah habis terbakar tak tersisa.


Ditambah selama ini ia tak pernah memperbolehkan anak buahnya menyelidiki Marcel karena cintanya, Davina tahu Marcel tak setia setahun belakangan, namun Davina meyakinkan dirinya bahwa Marcel akan berubah, sampai sehari sebelum pernikahan, namun ternyata......


Davina sangat bersyukur ia tak jadi menikah dengan Marcel, bisa di bayangkan bagaimana rumah tangga mereka nanti jika kesetiaan dan kejujuran saja tak Marcel miliki.


Kini Davina bahagia bahkan sangat bahagia bisa bersama pria yang selama ini ia kagumi dan cintai dalam diam.


"Sayang apa mau mandi?? hamba mandikan ya???" goda Tian membuat Davina terkekeh

__ADS_1


"Kok manggilnya sayang, aku kan Tian putri" ucap Davina bersedekap dada


"Baiklah Tian Putri ku, hamba bawa yang mulia mandi" ucap Tian lalu membawa Davina ke kamar mandi, ia membuka pakaian Davina satu persatu dengan gaya yang membuat Davina tertawa.


Namun begitu selesai, Sebastian malah membeku tak bergerak dengan mata yang tak berkedip


Davina tersenyum lalu menarik Tian dan menciumnya.


Kali ini ia yang berinisiatif


"Mandilah bersamaku" bisik Davina lirih


Keduanya malah bukan mandi malah melakukan penyatuan beberapa kali hingg akhirnya Davina lemas dan hanya bersandar di bath tube menikmati berendam di air hangat


Suara ketukan mengejutkan mereka, Sebastian buru-buru memakai kimono mandinya lalu bergegas membukakan pintu kamarnya


Di depannya berdiri Ernest dengan nampan berisi aneka cemilan dan sebuah kotak dan dua gelas juice jeruk


"Sayang kemana Davina???"


"Anu... itu nek sedang mandi" ucap Tian malu


sementara Ernest tersenyum penuh arti


"Nenek tahu kalian lelah, istirahatlah.


biar nanti makan siang dan malam pelayan yang antar.


Ini obat untuk istrimu.


Perlakukan lembut ya sayang, karena ini hak yang baru untuk istrimu" ucap Ernest lalu menyodorkan nampannya yang diterima Tian dan pergi


Sebastian masih menatap kepergian Ernest dengan bingung,


"Apa nenek buyut tahu apa yang kali lakukan???" gumam Tian lirih


"Sayang siapa??? kok bengong?" tanya Davina memeluk Tian dari belakang


"Nenek buyut, ayo makan" ucap Tian lalu meletakkan nampan di meja.


"Jangan di makan dulu" ucap Davina lalu mengeluarkan sesuatu dari cincinnya


Ia hanya mengantisipasi jika kakek buyut maupun nenek buyutnya mau mengusili nya


"Apa kau mencurigai mereka mengerjai kita??" tanya Tian mengerutkan keningnya


"Hanya antisipasi, kau tahu sendiri keluargaku keluarga yang sedikit unik" ucap Davina santai lalu menjenguk juice nya


"Oh ya nenek buyut memberiku ini, aku belum membukanya" ucap Tian dengan wajah merona mengingat perkataan Ernest


"Kenapa wajahmu??" tanya Davina membuka kotak tersebut dan alisnya berkerut.


di bawahnya ada catatan cara pemakaian


"Astaghfirullah, sayang, apa aku kelihatan....


maksudku...."


Sebastian mengangguk


"Apa kau mengerti maksudku???" lagi-lagi mengangguk


"Apa ...."


"Jalanmu aneh" ucap Tian langsung membuat Davina menutup mulutnya lalu menutup wajahnya yang merona merah


"Aaaarrrgghhh aku malu, jadi mereka semua tahu???" lagi-lagi Tian mengangguk


"Mas apa kau sekarang berubah jadi burung perkutut yang hanya bisa mengangguk??? aku gak mau keluar kamar dulu!!!" ucap Davina berjalan kekasih dan menutupi wajahnya dengan bantal membuat Tian nyengir bingung harus berkata apa

__ADS_1


pasalnya ia juga malu.


__ADS_2