Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Izin


__ADS_3

"Jadi kenapa kalian kesini?" tanya Gabby bingung dengan kedatangan Tian dan keluarga kecilnya


"Panji yang meminta kamu ke apartemen bau ini" ucap Tian memencet hidungnya


"Om jorok ih, apartemennya bau ga wangi, gimana mau ada cewek yang singgah" ucap Cleo mengikuti jejak Davina duduk di sofa


"Memang mau apa singgah?? anak kecil sok tahu" ucap Davina mencubit hidung Cleo.


Anak ini harus diawasi ketat,


"Ya main lah kah mereka pacaran" ucap Cleo santai mengambil toples kripik singkong di atas sofa


"Jangaaaaannnnn" teriak Oscar dan Gabriel serentak membuat Cleo langsung melempar toples plastik tersebut hingga mengenai Panji dan walhasil Panji dihujani kripik singkong, bahkan ada yang nangkring di atas kepalanya


"Bahahahahhahaha" tawa seluruh orang pecah, namun tidak dengan Panji yang bermuka masam


"Cleo kalau mau babang mandi gak juga pake kripik singkong kali" gerutu Panji kesal


"Maaf om panjol, Cleo gak sengaja.


Salahin aja tuh om Oscar sama om Gabriel.


Mereka teriak bikin Cleo kaget aja" ucap Cleo manyun


"Kalian nih apa-apaan sih?? copot jantung di buatnya.


Kasian Panji kan jadinya" omel Davina yang jadi kasian pada Panji karena kena sial. Remahan keripik menghias rambutnya jadi seperti pohon yang dihias saat natal


"Itu lebih baik, ya kan Gab???" ucap Oscar tanpa rasa bersalah


"Sue loe , bener-bener sahabat gak ada akhlak


"Ya lebih baik tuh kripik ke siram ke loe daripada di makan keponakan gue yang cantik, bisa rabies doi" timpal Gabby setuju dengan Oscar


"Maksud kalian apa sih?" tanya Tian bingung


"Jangan dengerin dia bule gila ini "


"Kasih tahu Os" ucap Gabriel menahan tawa


"Jadi itu kripik tadi tumpah, nah Panji mungutin itu kripik di lantai trus dia masukin ke toples, dia makan itu keripik yang jatuh"


"Panji jorok bener loe" teriak Tian


"Ih om pantes aja cacingan" tambah Cleo


namun Davina hanya menggeleng lalu berdiri


"Loe pantes dapetin" ucap Davina menutup kepala Panji dengan toples bekas kripik dengan gemas


Semua orang tertawa puas


"Kakak ipar kau kejam, bisa rusak nih rambut aku"


"Biar, biar rusak sekalian, otak kamu aja dah rusak" ucap Davina kesal


"Sabar sayang, jangan marah-marah, Enggak lucu kan dedek Utun mirip Panji karena kamu sebel sama dia"


"Amit-amit" ucap mereka serentak, sementara Panji

__ADS_1


memanyunkan bibirnya kesal


"Dasar mesum, Dede utun darimana coba??" gerutu Davina dengan wajah merona mera


"Asik Cleo mau punya Ade" teriak Cleo kegirangan.


"Gue sumpahin anak loe mirip gue bro" ucap Panji yang di balas lemparan banyak sopa oleh Tian


"Kalau mirip Panji namanya musibah, ketahuan loe buatnya malam kaya Mak bapaknya Panji makanya gelap" cerocos Oscar membuat semua tertawa


"Gue mau mandi dulu, rese kalian" ucapnya berjalan pergi, namun baru beberapa langkah dia kembali lagi dan mengambil cangkir berisi kopinya


"Sayang di buang" ucapnya menyeruput sambil tak perduli remahan keripik jatuh berserakan seiring langkahnya


"Dasar jorok"


"Panjiiiiiiii, loe gila, berantakan nih" teriak Gabriel yang menyukai kebersihan


"Kampret loe ji" timpal Oscar


"Emang gue pikirin hahahah" Panji segera berjalan cepat menuju kamarnya dan menguncinya sebelum kedua bule gila itu ngamuk


"Dasar Panji,Panji, darimana sih kamu punya teman model gitu yank" ucap Davina menggelengkan kepalanya


"Mungut di jalan" ucap Sebastian asal, ya walau kenyataannya pertemuan mereka memang tak sengaja di jalan


"Pantes...." ucap Cleo manggut-manggut


"Pantes apa sayang??"


"Pantes item dan jorok" ucap Cleo membuat semua orang tertawa terbahak-bahak


"Itu kenyataan kok" timpal Tian namun melihat Davina melotot kearahnya , sebastian menutup rapat mulutnya


"Gak baik begitu sayang, bilang saja om Panji kurang putih" ucap Tian menahan tawa


"Yeeee sama aja" ucap Oscar protes


Panji memang berkulit sawo matang, warna kulit khas orang Asia, namun ia memiliki wajah tampan.


Hanya saja dia tidak mengurus diri dan sedikit tak rapih.


Jika di perhatikan Panji tampan, ya mereka berempat sama-sama tampan dengan ciri khas mereka sendiri-sendiri.


"Jangan ghibahin gue woi" teriak Panji yang bertelanjang dada berdiri di depan kamarnya


"Panjiiiiiiii" teriakan semua orang lalu sambil cengengesan kembali ke dalam kamar nya


"Astaghfirullah, tuh anak otaknya gesrek kayanya" ucap Davina menggeleng pelan


"Gesrek apa sih ma??"


"Gesrek tuh konslet jadi antara otak besar dan kecil gak sinkron" ucap Davina menjelaskan secara ilmiah,


"Balik ke pertanyaan gue, kenapa loe pada kesini??" tanya Gabriel


"Beneran kami disuruh ke sini sama Panji, dia bilang Oscar melakukan sesuatu yang besar" ucap Davina membuat Oscar menunjuk dirinya sendiri lalu matanya menatap ke arah kamar Panji


"Emang loe ngapain OS??" tanya Tian penasaran, begitu juga Davina dan Cleo

__ADS_1


"Gue??? gue gak ngapa-ngapain, Panji kalian percaya, biang rusuh" ucap Oscar menghela nafas


"Oscar gak jadi balik" jawab Gabriel membuat Tian dan Davina saling pandang


"Kenapa???" tanya Tian antusias ingin tahu alasan pria bule itu


"Karena Lilly????" tanya Davina tersenyum


"Masa gak pulang karena Tante Lilly marahi ya?" timpal Cleo asal bunyi,


"Sayang, mama dan papa mau bicara orang dewasa sama om oscar, Mendingan kamu ganggu om Panji aja sana" ucap Davina


"Ih mama, om Panji lagi mandi, masa Cleo ikutan masuk kamar mandi dan gangguin dia???" protes Cleo membuat Davina sadar,


"Astaghfirullah sayang, kau suruh Cleo kesana??"


"Maaf lupa, kamu nonton tv aja ya??" ucap Davina nyengir, dengan malas Cleo bangkit dan berjalan ke arah sofa yang letaknya di tengah ruangan.


Setelah melihat Cleo duduk manis sambil menonton tv, Sebastian langsung angkat bicara


"Jadi..."Oscar menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil nyengir kuda


"Aku ingin mengejar Lilly" ucap Oscar lirih sambil malu-malu


"Tidak" Davina berteriak spontan


"Enggak boleh" ucap Tian menentang


"Kalian.....


Apa perlu berteriak denganku?? aku seperti anak kecil yang berbuat salah aja" gerutu Oscar cemberut


"Ya kau salah"


"Benar kata istriku, kau salah" ucap Tian


"Kau, kalian ...." Oscar menghela nafas berusaha bersabar, bagaimanapun Lilly orang Davina dan izin dari Davina perlu mengingat betapa patuhnya Lilly pada Davina.


"Kau salah karena mengejar Lilly, aku tak mengizinkan" ucap Davina dengan mimik wajah serius


"Sebaiknya lupakan saja keinginanmu dan cari gadis yang lain, asal jangan Lilly aku tak perduli apa yang kau lakukan" ucap Sebastian langsung berubah serius


"Mengapa tak boleh wanita itu, aku menyukainya" ucap Oscar dengan mimik serius


"Karena Lilly bukan wanita yang bis kau permainkan, dia saudariku" ucap Davina menjawab tegas


"Kata siapa aku mau mempermainkan Lilly??"


"Come on OS, kami semua tahu siapa kau.


Benar kata Davina dan Tian, jangan Lilly.


Jangan gadis itu, dia terllau baik untuk kau lukai"


Gabriel ikut memberi pendapatnya, setidaknya hanya beberapa kali bertemu Gabriel bisa menilai bagaimana Lilly sebenarnya.


"Kenapa kalian tak mendengarkan aku dulu baru berbicara, aku jatuh cinta pada Lilly, aku juga tak berniat mempermainkan dia.


Sebagai teman mengapa kalian tidak percaya padaku????" ucap Oscar kesal

__ADS_1


__ADS_2