
Setelah pamit , Shandy dan Bert keluar dari perusahaan Davina, Shandy akan mengantar Bert sampai apartemennya.
Namun selama perjalanan Bert terlihat banyak diam. menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong
"Bert are you ok?"
"Ya.." ucap Bert singkat
"Dengar Bert jika kau butuh sesuatu kau bisa menghubungiku.
Aku tahu ini sulit mengingat ini pertama kalinya kau ke negara ini.
Jika mengenai Lilly aku bisa menjamin Lilly orang Indonesia, dia yatim piatu yang di adopsi dari panti tempat dulu Sebastian pernah di tolong."
"Benarkah?? tapi aku merasa...."
"Bagiamana jika kau memberikan sedikit info padaku, aku akan mencari tahu dimana Elliana berada"
"Serius??? apa tak merepotkan mu??" tanya Bert langsung semangat
"Tidak, santai saja.
Serahkan data Elliana, aku akan meminta orang ku mencarinya"
"Thanks Shandy, aku tak tahu harus berkata apa"
"Gampang, santai saja.
Sudah sampai.
Selamat beristirahat, sampai bertemu nanti malam" ucap Shandy membukakan pintu untuk Bert
"Anu...
Shandy bisakah kau minta Davina juga datang??" tanya Bert ragu
"Davina??, Aku mengerti Bert"ucap Shandy kemudian.
Bert mengangguk sopan lalu masuk ke dalam hotel.
Shandy sudah melihat banyak orang selama hidupnya sebagai seorang bodyguard, ia bisa menilai jika Bert wanita yang baik.
"Sepertinya Bert menyembunyikan sesuatu.
Ia meminta Davina ikut??? pasti alasan di balik perkataan Bert.
Apa ini berkaitan dengan Miss Dona???
sejauh info yang ku terima, Dona adalah wanita yang pernah dekat dengan Sebastian.
Baiklah, kita lihat apa yang akan terjadi nanti" ucap Shandy tersenyum penuh arti.
Tak lama kemudian ponsel nya berbunyi.
Notifikasi pesan singkat dari Bert.
Data tentang sahabatnya bernama Elliana.
Seperti perkataan Bert Elliana mirip dengan Lilly, hanya warna kulit saja yang membedakan.
Shandy langsung mengirim data Elliana pada Daffi
namun juga ia mengirim data tersebut pada organisasi Milik Davina juga
Ia perlu data yang cepat dan akurat, tak perduli dari mana asal info tersebut.
Ponsel Shandy bergetar, panggilan musik dari Daffi
Shandy tersenyum lebar.
"Hallo sepupuku" sapa Shandy riang
"Nikahi dulu Tante Sania baru kau menganggap ku sepupu.
Data apa itu yang kau kirim?? apa kau mau selingkuh dengan Lilly??"
"Lihat baik-baik, nama wanita itu bukan Lilly" ucap Shandy
"Elliana?? siapa dia? selingkuhan mu???
__ADS_1
"Anak kecil main tebak saja.
Dengar, aku minta tolong padamu cari keberadaan gadis ini dan...
Apa kau yakin dia mirip dengan Lilly???"
"Sangat, jika Lilly merawat diri dan ...."
"Langsung pada intinya" ucap Shandy
"Aku akan mengirim sebuah penemuan baruku.
identifikasi wajah. aku bisa melihat mereka mirip.
Apa perlu kita menggali latar belakang Lilly lebih dalam???"
"Tepat, tak ada salahnya bukan?????"
"Okey, siap.
bayarannya??" tanya Daffi
",Aku traktir makan, bagaimana???"
"Deaaalll" ucap Daffi senang
"Hei sepupu, traktir aku juga" ucap Daffa menyerobot ponsel Daffi
"Kau bayar sendiri, tak masuk hitungan" ucap Shandy telak membuat Daffi tertawa terbahak-bahak
"Hahaha sokoooorrrr"
"Sudah aku mau menjemput Sania, jangan lupa info yang ku minta" ucap Shandy mengakhiri panggilan teleponnya sebelum Daffi menjawab.
Shandy sudah mempersiapkan ruangan untuk acara nanti malam.
Ia sengaja meminta Sebastian membawa Davina, demi keharmonisan rumah tangga calon adik iparnya itu.
Walau terkesan tak masuk akal, namun wanita sangat tak menyukai suaminya berdekatan dengan mantannya sekalipun hubungan pekerjaan.
Demi menghindari salah paham akhirnya Sebastian Setuju dengan usulan Shandy.
Anehnya Dona dan Denis belum berganti pakaian, mereka masih memakai pakaian yang sama seperti saat mereka meeting siang tadi.
Shandy menatap kedua nya dan berpikir keras.
Siang tadi ia menemukan Bert di jalan yang sepertinya di turunkan oleh Denis di jalan
Lalu Denis pergi dengan Dona.
Ada hubungan apa antara Denis dan Dona???
Bukankah Dona adalah istri pemilik perusahaan tempat Denis bekerja dengan kata lain Dona istri dari Bernard.
"Menarik" ucap Shandy tersenyum licik.
"Itu Tian datang" ucap Oscar bangkit menyambut sahabatnya.
Senyum Dona langsung merekah, namun beberapa saat kemudian senyumnya sirna di ganti dengan tatapan tajam menusuk.
Ia terlihat sekali tak menyukai kedatangan seseorang yang bersama Tian
"Maaf semuanya aku terlambat.
Aku harus membawa istriku di setiap perjamuan dengan klien
Maaf atas ketidaknyamanannya" ucap Sebastian
"Hallo aku Davina, istri Sebastian" ucap Davina berjabat tangan
"Hai kak Davina" sapa Bert lega, Dona melirik ke arah Bert yang membuat Bert langsung menunduk.
Sementra Denis tak berkedip menatap Davina.
Ingin sekali Sebastian mencolok mata Denis karena memandang istrinya seperti itu, tapi Tian tahan.
"Hallo saya Denis" ucap Denis tersenyum lebar
"Hallo Denis, senang berkenalan dengan mu, maaf kedatangan saya menganggu kesenangan kalian" ucap Davina memakai bahasa Jerman dengan fasih
__ADS_1
"Ku orang Jerman??" tebak Denis
"Bukan, aku orang Indonesia" ucap Davina tersenyum tak tertarik memulai obrolan dengan Denis
Ia tahu Denis terpana olehnya, namun ia tak mau membuat Sebatsian cemburu.
Baginya hanya Tian pria yang paling tampan di dunia ini"
"Maaf saya kira anda warga pendatang" ucap Denis dengan senyum menggoda
"Dia keturunan Spanyol, wajar saja memiliki wajah cantik dan anggun" ucap Oscar menyela, Davina melirik ke arah Oscar memberi tanda untuk Oscar diam. Sontak Oscar langsung menutup rapat mulutnya, karena bukan hanya Davina yang melirik kerahnya, tapi Sebastian dan Shandy juga.
"Sayang, aku ke toilet dulu ya" ucap Davina
"Iya sayang, kamu mau makan apa?" tanya Sebastian lembut membuat Dona meremas gaunnya kesal dan cemburu
"Pilihkan untukku, aku akan memakan apapun yang kamu pesan" ucap Davina sengaja memanas-manasi Dona.
Sore tadi Shandy mengirimkan sesuatu yang membuat Davina jadi ikut.
bahkan Davina kini berpenampilan sempurna, membuat ia menjadi pusat perhatian baik pria maupun wanita, sementara Sebastian ketar ketir di buatnya karena cemburu.
Dona memandang iri pada Davina, ia tak suka jika ada orang lain yang menjadi pusat perhatian selain dirinya.
"Aku pamit juga ke toilet" ucap Dona bangkit dan langsung meninggalkan meja.
Sebastian , Shandy dan Oscar saling pandang
"Tenang, Davina bisa diandalkan" ucap Shandy yang tahu kemampuan Davina, walau begitu Sebastian khawatir
Sementara di toilet wanita
Davina baru keluar dari dalam kamar kecil, sejak kehamilannya ia sering bolak balik kamar mandi untuk buang air kecil, namun Davina tak keberatan, ia menikmati kehamilannya dan berjanji akan menjaganya dengan baik.
Davina menaikan sebelah alisnya melihat Dona yang berpura-pura sedang mencuci tangannya, seolah ia habis dari dalam kamar kecil, Davina tidak bodoh untuk di bohongi.
"Dasar wanita gatel, kau pikir aku wanita bodoh yang mudah kau kelabui dengan wajah palsu mu itu, kita lihat apa yang mau kau lakukan" ucap Davina tersenyum licik.
"Hai Dona kan? buang air kecil juga?" tanya Davina berbasa basi
"Iya, kamu beruntung ya bisa menikahi Tian" ucap Dona
"Ya, aku wanita paling beruntung, dan Tian juga pria paling beruntung mendapatkan ku" ucap Davina sengaja memanas-manasi Dona, terlihat sekilas kilatan kebencian muncul di mata Dona
"Hahahaha iya, aku iri.
mungkin jika dulu aku menikahi Tian, aku pasti wanita paling bahagia di muka bumi ini" ucap Dona memancing keingintahuan Davina
"Mungkin saja, apa kalian sudah saling kenal?"
"Aku...ah lupakan itu masa lalu" ucap Dona tersenyum kikuk, padahal dalam hatinya ingin agar Davina mencecarnya dengan keingintahuannya
"Jangan bilang kamu mantan suamiku" ucap Davina sengaja masuk dalam permainan Dona
"Jadi gak enak, kami dulu sepasang kekasih delapan tahun aku berada di sisi Sebastian." ucap Dona berbinar-binar.
Ya walau begitu Davina juga sedikit merasa cemburu, delapan tahu artinya sejak Tian di tinggal Marsha.
"Bisa-bisanya mas Tian dekat dekat ulat bulu berkepala serigala ini ih" gumam Davina dalam hati.
"Karena aku wanita yang beruntung menikah dengan Tian, aku tak pernah mempermasalahkan masa lalu as Tian, siapapun yang ada dalam kehidupan di masa lalu kami, akan tetap menjadi masa lalu kami.
Sekarang kami hanya fokus pada rumah tangga kami dan calon anak dalam kandunganku" ucap Davina menekankan jika Dona hanya masa lalu Tian dan akan selamanya menjadi masa lalu.
Kini Davina lah wanita disisi Tian, begitulah yang ingin di tekankan oleh Davina.
Dona merasa darahnya mendidih, ia tak menyangka wanita muda di depannya pintar mengolah kata.
Kemarin dia tak berhasil menyingkirkan wanita ini, bukan berarti tak bisa!!!
"Kau benar sis" ucap Dona lalu berjalan pergi dengan emosi meluap di dalam hatinya.
Namun senyum jahat terukir di bibir wanita itu
"Kita lihat saja, apa yang akan kau alami setelah ini" ucap Dona tersenyum lebar
Bughhh
"Aaaaaewww" sebuah teriakan berasal dari dalam toilet.
__ADS_1
Dona melirik dan tersenyum makin lebar