
Davina sedang menikmati ice cream sambil melihat orang yang berlaku lalang di depan mereka.
Hari ini merupakan hari terakhir mereka di negara itu, Davina ingin berwisata kuliner dan memakan semua makanan yang di ju di sana.
Tak lupa ia juga harus membeli beberapa oleh-oleh untuk kelurganya, tak terkecuali anak tirinya.
Davina sampai pegal berjalan keluar masuk toko demi mencari pakaian yang cocok untuk Cleo.
Davina juga membeli pakaian yang seragam.
Davina membayangkan memakai pakaian yang sama dengan suami dan putri tirinya.
Sejak kejadian kemarin, Davina kini memperhatikan penampilannya, kini memakai pakaian yang lumayan sopan, Davina tak mau lagi di kerjai Tian dengan dalih hukuman.
Padahal ia tahu benar Itu hanya alasan mengada-ada Tian.
Suaminya itu seperti tak ada lelahnya untuk olah raga yang satu itu, dan tenaganya seakan tak pernah habis saat Davina saja ingin mengibarkan bendera putih tanda menyerah.
Sementara tangan kiri Davina memegang ice cream, tangan kanannya memegang hot dog
"Mas mau gak???" tanya Davina yang mulutnya belepotan mayonaise
"Enggak, mas pecinta makanan sehat" ucap Tian menyindir istrinya, namun Davina tak perduli dan hanya mengangkat bahunya cuek.
kembali fokus menikmati makanannya
"Jadi habis dari sini kit kemana sayang???" tanya Tian yang sudah kelelahan karena mengikuti istrinya keluar masuk toko souvenir
"Ya masih cari oleh-oleh lah.
Nih ya, buat Agatha sama anaknya belum.
Terus buat om Willy, terus buat keluarga om William, terus......"
"Apa kamu mau borong segitu banyak sayang???
Tanya Sebastian melongo
Ia memang pernah mendengar jika kekuatan seorang pria akan di uji saat kekasihnya berbelanja, dan kini Tian mengalaminya.
Jika pria akan melihat sekali dan memutuskan membeli atau tidak, namun wanita akan melihat-lihat dulu berkeliling dan pada akhirnya akan mengambil barang pertama yang ia lihat tadi, lalu buat apa kalau dia sudah suka tapi masih mencari barang yang lainnya.
Pemikiran wanita tak sesimpel itu, bahkan hanya beda beberapa rupiah mereka akan memilih yang lebih murah๐ ๐
"Kenapa sih pelit bener.
Aku pakai uang ku aja lah" gerutu Davina cemberut
Ia sudah menolak uang Tian, namun suaminya itu memaksa dan kini....
Sebastian memprotesnya, apa coba maksudnya
"Sayang, bukan begitu.
Mas bukan tak rela kau pergunakan uang mas untuk membeli oleh-oleh.
Maksud mas tuh kalau sudah Nemu satu barang, sekalian aja beli di toko yang sama, maksudnya di pukul rata saja sayang" ucap Tian berharap istrinya mengerti
"Ih mas aneh, kalau begitu aku ke toko kosmetik kan, beli lipstik untuk Agatha masa harus di pukul rata???
gak lucu kan mama pake warna pink, atau nenek pake lipstik pink.
Terus ya,masa iya om Willy aku belikan lipstik juga???
Dia normal mas bukan manusia dua alam.
__ADS_1
Eh ngomong-ngomong manusia dua alam Eike inget Munir, untung deng mas gak sengaja bahas itu.
Aku mau beli oleh-oleh untuk Munir ah" ucap Davina yang sudah selesai makan.
Mengelap mulutnya dengan tisu dan berjalan menuju sebuah toko yang terlihat unique.
"Sayang Munir itu siapa???
aku gak suka ya kamu berhubungan dekat dengan pria ketika kita sudah menikah" protes Sebastian mensejajarkan langkahnya dengan Davina.
bukan menjawab Davina menatap Tian dengan alis yang naik sebelah lalu tertawa terbahak-bahak
"Mas, mas, kamu tuh ya
Aku telanjang depan Munir aja gak mungkin dia nepsong, karena apa???
karena Munir ga normal, alias dua alam.
Masih gak ngerti juga????" tanya Davina yang di balas gelengan kepala Tian
"Munir itu manusia tulang lunak, alias setengah dewa sayang" Namun Tian masih tidak mengerti dengan mimik muka bingung dengan ucapan istrinya
"Astaga, mas tau AC DC, nah Munir jenis manusia yang di tusuk mau, nusuk bisa, u know sekarang???"
Tian justru nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal
"Susah deh ngomong sama kaum old, " gumam Davina lirih
"Apa kamu bilang???" tanya Tian
"Ah enggak ngomong apa-apa kok.
aku cuma bilang mas gak gaul.
Munir itu lekong, alias kaum melambai, paham???" tanya Davina
"Mas aja yang gak pernah bergaul"
"Tapi tetap ya Munir itu laku-laki, jangan dekat-dekat"
"Mas ..
Jika kau lihat orangnya, kau gak akan pernah cemburu sama dia deh, ya udah mas mau ikut aku cari-cari apa mau duduk aja??"
"Mas tunggu di sana aja ya???" ucap Tian menunjuk sofa yang berada di ruangan tersebut
"Oke deh, jangan nakal ya" ucap Davina mengedipkan sebelah matanya dengan senyum lebar penuh arti
Sepeninggalan Davina, Sebastian merasa merinding sendiri, ia melihat banyak wanita yang ia nilai pria alias lady boy.
walau kecantikan mereka mengalahkan wanita namun naluri Tian mengatakan jika mereka lady boy.
Terlebih di negara ini bukan hal yang aneh jika melihat banyak diantara mereka berseliweran.
Salah satunya malah memepet Tian sejak tadi membuat bulu kuduk Tian meremang.
Ia memakai dalam hati dan menyesal tidak mengikuti istrinya.
Sebastian jadi penasaran sebenernya toko apa yang di datangi oleh istrinya.
Tak lama kemudian Davina muncul dengan satu paper bag berukuran sedang
"Astaga sayang, akhirnya aku selamat" ucap Tian yang berjalan cepat mendekati Davina
"Kenapa sayang?? kok wajah kamu pucat begitu seperti melihat hantu saja?"
__ADS_1
" Ini lebih menyeramkan dari hantu...
Hantu tidak bisa mengigit yang ini ganas" ucap Tian melirik seorang lady boy yang tadi memepetnya
"Hahaha, kau ini ada-ada saja yank"
"Lah bener sayang, aku lebih baik di kerubungi cewe jelek tapi murni wanita.daripada itu abu-abu" ucap sebastian membuat Davina tertawa tergelak
"Kau, suami ketakutan setengah mati kau malah tertawaan, istri durhaka"
"Kau itu lucu sayang.
mereka naksir kamu tuh.
Lagian mereka kan cantik-cantik sayang, aku aja kalah" goda Davina namun sebastian bergidik
"Kau lebih cantik dari mereka dan satu lagi kau wanita tulen" ucap Sebastian menggandeng istrinya
"Mereka juga punya kaya aku kok" goda Davina
"Sayang stop kau membuat perutku mual" ucap Sebastian menutup mulut istrinya sebelum mengatakan hal yang lain.
"Kalau mual muntahin dong hahaha"
"Hueeekkk, puas????? seneng banget suami susah kamu ya, istri kejam" gerutu Tian membuat Davina makin terkekeh
"Kamu tuh kalau merajuk imut bener sih yank, gemes akunya tuh sama kamu" ucap Davina mencubit pipi suaminya
"Jangan memancing, nanti tau akibatnya" ucap Tian menyeringai membuat Davina langsung melepas cubitan tangannya di pipi Tian
"Sayang, toko tadi itu sebenarnya toko apa sih????"
"Owh itu, toko asik" ucap Davina asal
"Toko asik gimana??? aku gak ngerti deh.
Emang kamu beliin si Munir apa sih??
awas ya macem-macem aku gak suka"
"Aku gak macem-macem, cuma satu macam.
Lagian kalo penasaran kamu liat sendiri aja aku beli apa" ucap Davina menahan senyum
kilatan kelicikan terlihat di matanya, namun sayangnya Sebastian kurang jam terbang sehingga ia tak tahu keusilan Davina.
"Tinggal bilang aja susah bener sih." gerutu Tian membuka paper bag yang disodorkan Davina.
Sebastian memasukan tangannya ke dalam paper bag, alisnya berkerut seperti sedang berpikir.
Lalu ia melongok ke dalam paper bag, matanya membulat sempurna melihat benda yang ia pegang keluar dari paper bag
"Astaghfirullah, sayaaaaaaaanggggg" pekik sebastian dengan wajah pucat pasi
"Hahahhaa" Davina tertawa sampai memegangi perutnya yang keram.
Ia.menertawakan suaminya yang shock begitu melihat sebuah replika p*n*s yang ia pegang
"Kau....
buat apa kau membeli itu sayang???menjijikan.
Apa punyaku kurang?????
Apa kau tidak kapok ku hukum hah??"
__ADS_1
"Itu buat murni alias Munir nanti setibanya aku di tanah air aku kenalkan kamu sama bestie ku yang satu itu"
"Enggak butuh dan gak mau" ucap Tian ngambek.