Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Cincin berlian bermata safir


__ADS_3

Akhirnya mereka malam malam di pinggir pantai sambil menikmati semilir angin.davina tak tega juga melihat suaminya kelaparan, lagi pula bukankah mereka sedang honeymoon, jadi tak ada gunanya ngambek.


Momen honeymoon ini harusnya ia gunakan sebagai sarana saling mengenal lebih dalam satu sama lainnya.


"Sayang aku laper" ucap Tian menyusul Davina ke kamar, Tina sengaja memasang wajah paling memelas, bukan hanya karena lapar, tapi juga karena harus membayangkan di malam honeymoon mereka ia harus tidur kedinginan di luar, tanpa selimut hidupnya.


"Biar rasa, siapa suruh tuh mata gak di jaga"


"Sayang aku kan gak meladeni mereka, aku hany sekedar basa basi karena salah satu dari mereka teman kuliahku" Ucap Tian menjelaskan.


"Aku minta maaf deh kalau membuat istriku cemburu"


"Enak aja siapa yang cemburu??? sanggah Davina melotot


"Iya, iya gak cemburu cuma dongkol, jangan salahkan aku jika mereka mendekatiku.


salahkan saja wajahku yang menarik membuat wanita jatuh hati, apa aku harus membungkus wajahku???" ucap Tian dengan tingkat kepedean tinggi.


Namun memang wajah tampan suaminya sangat menggoda, Davina saja tak bisa membohongi hatinya jika ia terpikat wajah tampan itu.


"Kepedean banget sih kamu, ya udah aku bersiap dulu, tapi ingat awas jangan kamu ulangi atau ...." Davina meletakkan tangannya di leher dengan gerakan harizontal


"Si....siap istriku" ucap Tian bisa lega untuk sementara waktu, namun ia takut di kemudian hari ada wanita yang melirik padanya.


Ia harus menghindar, demi nyawanya.


Tian dan Davina berhenti di sebuah restoran dengan nuansa romantis.


Saat di lobby restoran, Tian menutup mata istrinya.


Awalnya Davina ingin menolak, namun akhirnya ia menurut dan penasaran kejutan apa yang akan di berikan suaminya, hatinya berdebar bahagia dan tak sabaran.


Akhirnya mereka berhenti lalu Tian membuka penutup mata istrinya,


Davina terkejut,



Tian tahu seleranya, Davina tidak suka sesuatu yang over, iya lebih suka sesuatu yang simpel tapi berkesan, seperti di dapan mereka saat ini.


Tempat ini sesuai harapan Davina, impian yang selalu ia inginkan saat ia dan suaminya suatu saat candle light dinner.


tempat yang pas untuk menikmati makan malam romantis di temani pemandangan indah dan hembusan angin pantai.


tempat yang bisa memuaskan matanya memandang hamparan luas pantai malam hari


"Apa kamu senang sayang??" tanya Tian tersenyum penuh kemenangan.


Rupanya ia sudah mempersiapkan semuanya begitu ia mendapatkan hadiah honeymoon dari mertuanya.


Ia juga mencari tahu apa yang Davina impikan.


Terbukti mata Davina berbinar penuh semangat melihat terkejutnya


"Sayang kau mempersiapkan semua??" tanya Davina takjub


"Menurutmu????"


"Ah aku menyesal bertanya" ucap Davina memanyunkan bibirnya kesal


"Hahaha, tentu saja sayang, ayo kita kesana" ucap Sebastian , tiba-tiba ia menggendong Davina ala bridal.


Davina terpekik kaget, tangannya otomatis melingkar di leher suaminya, dan wajah mereka bertatapan


"Walau pernikahan kita awalnya tak sengaja, tapi aku ingin pernikahan ini selamanya jika kau mengizinkanku.

__ADS_1


Aku mungkin tak sesuai yang kau mau, tapi aku akan berusaha menjadi imam mu dunia akhirat" ucap Tian lalu mencium bibir Davina lembut.


Davina yang masih terkejut tak membalas ciuman Tian, hatinya menghangat mendengar ucapan Tian.


"Maukah kau menemani lelaki tua ini mengarungi kehidupan baik suka dan duka??" tanya Tian menatap penuh cinta istrinya.


Tatapan yang menurut Davina beda dari biasanya, tatapan ini begitu menggetarkan hatinya


"Aku bersedia" ucap Davina mendekatkan bibirnya dan mencium Tian penuh perasaan.


Davina sudah menetapkan hati akan bersama Tian, saat Tian mengatakan perasaannya, ia jadi tambah yakin bahwa Tian lah pelabuhan terakhir hatinya.


Ciuman keduanya makin dalam dan penuh perasaan, bahkan keduanya memejamkan mata, merasakan sensasi dalam hati mereka yang di mabuk cinta, hingga tak sadar jika di sana ada pelayan , koki dan pianis yang mengiringi langkah mereka dengan musuh merdu nan romantis.


Setelah beberapa saat akhirnya ciuman mereka berhenti, wajah Davina merona merah, ia lupa jika saat ini Tian masih memeluknya


Dengan malu-malu Davina turun dari gendongan Tian dengan wajah bersalah


"Apa kamu keberatan???, tanganmu sakit???"


"aku lelaki kuat sayang, kita akan sering melakukan itu" ucap Tian lirih membuat wajah Davina makin merah seperti kepiting rebus


"Kau mesum" ucap Davina mencubit pinggang suaminya.


Tian sudah memesan hidangan yang di masak langsung oleh chef terbaik di restoran itu, tentu saja yang merupakan favorit davina.


Keduanya menikmati makan malam mereka di iringi musik piano yang membuat suasana makin romantis.


Tian tak bosan-bosannya menatap istrinya yang sangat cantik malam ini dengan balutan gaun putih dan rambutnya yang di gerai alami.


Kecantikan alami Davina membuat Sebastian mabuk kepayang.


"Sayang, malam ini kau cantik sekali" ucap Tian mencium punggung tangan istrinya


"Aku sudah cantik sejak dulu"


"Jatuh cinta padaku???"


"He em" ucap Tian mengangguk pasti


"Sejak dulu???" tanya Davina lagi penasaran.


Namun Tian hanya mengangguk


"Maksudku sejak kapan???"


"Sejak kau membuatku tak bisa berhenti memikirkan mu" ucap Tian dengan senyum lebar


"Tepatnya kapan???"


"Aku lupa sayang, yang jelas kamu bidadari hatiku"


"Mas gombal, pasti bohong" ucap Davina jadi malu sendiri


"Aku tak pernah bohon dengan perasaanku sayang, kau satu-satunya yang aku sayangi"


"Setelah mama Cleo dan Cleo tentunya" ucap Davina membuat air muka Tian berubah sepersekian detik.


Namun ia kembali memasang senyum.


Davina melihat itu.


"Apa kau mencintai wanita itu????" tanya Davina tiba-tiba


"Wanita mana???"

__ADS_1


"Mantan istrimu" ucpa Davina penasaran.


tidak seharusnya ia membahas wnaita lain saat ini.


namun rasa keingintahuannya membuatnya tak bisa di bendung lagi


"Dulu??? atau sekarang??"


"Keduanya" ucap Davina


"Biasakan kita tak merusak suasana sayang???"


"Hubungan di bangun dari rasa percaya.


Aku hanya ingin mempercayai mu.


Bagaimana suamiku dan perasaanya penting untukku.


Bukankah mas yang memutuskan bahwa pernikahan kita untuk selamanya, maka yakinkan aku" ucap Davina dengan wajah serius.


"Aku pernah mencintainya" ucpa sebastian menghela nafas berat, seolah berusaha menyingkirkan rasa sesak di dadanya.


ya Rasa sesak akibat di khianati oleh dua orang yang ia percaya, istri dan sahabatnya sendiri.


Rasa sakitnya amat dalam dan sulit untuk di lupakan.


"Namun rasa cintaku sudah habis saat dia memilih pergi dengan sahabatku, mengingatkan putri kami yang masih kecil" ucap Tian lirih.


Ada kegetiran terdengar di sana


"Aku tak akan meninggalkanmu, kecuali kamu meninggalkanku, tapi itu jika kau punya nyali" ucap Davina memeluk Sebastian dari belakang


"Aku tak akan meninggalkanmu, mungkin cara Allah mempersatukan kita tak biasa tapi aku bersyukur kau memilihku. Izinkan aku mencintai mu dengan segenap hatiku" ucap Tian menoleh dan langsung ******* bibir ranum Davina.


Tian menarik Davina hingga jatuh dalam pangkuannya, tanpa melepas ciuman mereka.


"Aku mencintaimu" ucap Tian di sela ciuman mereka, keduanya hanyut dalam perasaan, Davina sampai meremas rambut suaminya memperdalam ciuman mereka, malam itu dunia serasa milik mereka berdua, keduanya mengabaikan orang-orang yang berada disana.


Mereka meninggalkan tempat itu membiarkan dua insan yang sedang di mabuk asmara meluapkan perasaan mereka.


Tian melepaskan ciumannya, lalu mencium kening Davina lama.


Ia bangkit dan mendudukkan Davina di kursi tempatnya duduk tadi, lalu ia bersimpuh di depan Davina


"Istriku tercinta maukah kau menjadi istri , bidadari surgaku dan ibu dari anak-anakku??? " ucpa Tian sambil menyodorkan sebuah kotak kecil berisi cincin berlian bermata safir yang melambangkan sebuah komitmen, cinta, kesetiaan, dan kejujuran.


"Cincin ini mewakili perasaanku dan simbol cinta kita" ucap Tian menyematkan cincin di jari manis istrinya, sementara cincin nikah mereka di pindah di sebelahnya.


Keduanya berpelukan erat.


"Aku bahagia karena pernikahanku berantakan dan berujung padamu mas" ucap Davina dalam pelukan suaminya.


keduanya lalu berdansa di iringi dentingan piano


Tubuh mereka menempel seolah sulit untuk di pisahkan, namun gerakan Davina tiba-tiba terhenti dan menatap wajah suaminya dengan pipi yang merona


"Mas, ada yang mengganjal di bawah sana" ucap Davina malu


Tian menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil nyengir


"Dia selalu terbangun di dekatmu sayang" bisik Tian membuat Davina makin merona merah


"Kita pulang" ucap Tian langsung membopong istrinya, melewati semua orang.


Untungnya restoran itu di booking oleh Tian jadi hanya mereka berdua tamunya

__ADS_1


Para pelayan membungkuk hormat melepas kepergian dua pasang suami istri yang mabuk kepayang itu.


__ADS_2