
Davina hanya bisa menghela nafas karena sejak tadi Sebastian ngambek dan tidak mau bicara.
Pasalnya oleh-oleh yang sudah ia persiapkan dengan penuh semangat di larang dan Tian memintanya untuk membuang barang tersebut, jika Tian tahu harga barang tersebut, tentu Tian akan tambah marah.
Davina memilih menyimpannya sehingga Tian marah dan tidak mau bicara sampai Davina membuang benda tersebut
"Sayang, udahan dong marahnya.
Gantengnya hilang tahu" goda Davina
"Biar tingkat kegantengan ku ga akan berkurang walau aku sedang kesal" ucap Sebastian penuh percaya diri
Jika tidak sedang ngambek, Davina pasti sudah memprotes ucapan suaminya.
Namun karena ingin mengambil hati Tian Davina hanya bisa menyanjung, menjilat kalau perlu.
Ternyata di diamkan itu sangat gak enak.
"Iya, iya kamu emang ganteng.
Kalau gak ganteng mana mau aku sama kamu"ucap Davina memeluk suaminya dari samping
Sebastian tersenyum lebar di puji istrinya.
"Nah gitu dong, kan ganteng, nanti kalau kamu ngambek terus cepet tuir loh.
UPS emang udah tuir sih xixiixi" ucap Davina lirih di akhir kalimat.
Namun sebastian masih bisa mendengar dengan jelas apa ucapan istrinya.
Ia di Katai tua???
Yang benar saja, biar dia tua tapi dia duda keren yang membuat banyak wanita tergoda dan jatuh cinta padanya.
Apa Davina tidak tahu itu????
"Jadi...
Aku sudah tua ya sayang????" sindir Tian melirik istrinya yang terlihat salah tingkah
"Ih siapa yang bilang kamu udah tua sih??
Kamu itu usil, ya usil, kamu salah denger kali"
"Walau aku sudah tua, kupingku masih berfungsi dengan baik ya. Aku saja masih bisa mendengar rintihan mu semalam" ucap Tian dengan wajah menggoda
"Mas, kau mesum
Mau puasa sebulan apa???" ancam Davina kesal Karen sekarang tingkat kemesum-an Tian makin tidak bisa dia tolerir
"Ih sayang, aku kan cuma becanda, ayo katanya masih mau cari barang.
Tapi ingat jangan beli yang aneh-aneh lagi.
Aku masih bergidik melihat oleh-olehnya buat siapa tuh mu...mu..."
"Munir sayang"
"Iya lah itu, kasih oleh-oleh yang normal, awas saja kalau aneh-aneh lagi.
Aku pastikan bulan madu kita hanya di kamar" ucap Tian sedikit mengancam membuat davina memanyunkan bibirnya
"Huh padahal aku sudah menyiapkan hadiah buat kamu juga, tapi karena kamu memarahiku, aku enggan jadinya" ucap Davina bersedekap dada.
Di toko tadi ia memang membeli sesuatu, baju dinas.
Beberapa modelnya sangat unik sehingga Davina membelinya.
"Aku tidak butuh barang seperti itu" ucap Tian membuang muka membuat Davina gemas.
Ia lalu membuka paper bag satunya lagi dan menyodorkan ke Tian.
"Yakin gak mau???" Tanya Davina menaik turunkan alisnya
"Sayang, aku akan marah kalau kamu macam-macam" ucap Tian beringsut duduk menepi dekat pintu mobil
__ADS_1
"Bukannya di buka, liat dulu dong" ucap Davina kesal juga tapi geli melihat suaminya yang mimik mukanya ngeri.
Davina tetap menyodorkan paper bag itu, dengan ragu Tian menerima dan memeriksa isi di dalam paper bag itu, alisnya berkerut.
Ia lalu mengeluarkan nya dan tersenyum lebar.
Davina buru-buru menyambar dan memasukannya lagi.
Wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus karena malu
"Kita pulang yu sayang" ajak Tian dengan senyum menggoda
"Gak mau"
"Mas udah gak sabar mau lihat kamu pakai" ucap Tian menelan Saliva nya dengan sulit.
Pikirannya melayang membayangkan Davina dalam balutan pakaian itu.
"Aku menyesal memperlihatkan padamu.
Jadilah anak manis dan turuti kemauanku, maka aku akan mempertimbangkannya" ucap Davina sengaja mengerjai suaminya.
Tian hanya mengangguk pasrah, demi, demi...
Davina tertawa dalam hati, lalu mereka keluar dari mobil dan mulai berkeliling mencari apa saja yang Davina mau.
Davina berpindah dari stand makanan satu ke stand makanan lain, ia lapar mata.
Sementara Tian seperti anak ayam yang mengikuti induknya.
Sebastian dengan patuh mengekor istrinya tanpa berani membantah.
"Awas saja kamu kucing kecil, aku banyak mengalah hari ini, tapi tunggu pembalasanku" seringai Tian dalam hati.
Kaki sudah tidak bisa kompromi.
Ia merasa mereka seperti bukan bulan madu, tapi menemani bocah berkeliling, nasib!!!.
Tian makin menderita dengan tangan kanan kiri penuh belanjaan, sementra Davina dengan riang berjalan ke sana kemari, hanya berhenti membeli makanan lalu memakannya sebentar untuk kemudian berpindah ke stand makanan lainnya, Sebastian jadi korban Davina.
"Sayang, aku gak sanggup lagi.
Gantung saja aku dipohon toge.
Kaki, perut dan tubuhku lelah.
Apa kau pakai batu baterai, tidak ada lelahnya" gerutu Tian dengan wajah memelas membuat Davina kasihan.
"Baiklah, ayo kita pulang" ajak Davina berjalan melewati suaminya
"Sayang, aku kebelet pipis" ucap Tian mensejajarkan langkahnya
"Gak bisa di tahan gitu???"
"Udah di ujung yank, kalau dedek sakit kamu yang susah nanti" ucap Tian sekenanya
"Di iket aja sih nanti di rumah baru pipis" Dengus Davina kes karena omongan suaminya
"Es Mambo kali di iket, udah nih pegangin, aku gak tahan" ucap Tian menyerahkan semua belanjaan Davina lalu berjalan setengah berlari ke toilet.
Davina menggerutu karena belanjaannya berantakan, beberapa paper bag bahkan jatuh
"Mas Tian, ih nyebelin" gerutu Davina memungut belanjaannya.
"Davina?????" sapa seorang wanita seumuran Davina
"Hei shiren, apa kabar???" tanya Davina yang mengenali wanita yang menyapa di depannya
"Hai Dav"
"Hai loli" sapa Davina pada wanita di samping Shiren
"Loe ngapain di sini??? berlibur???
Oh iya kok gue liat pacar loe sama cewe lain sih???" tanya Loli membuat shiren menyikut temannya dengan bola mata melotot.
__ADS_1
Kabar Davina gagal menikah dengan Marcel memang sudah menyebar.
"Iya???
Biarin aja, seorang pelakor dan seorang penghianat pasangan cocok" ucap Davina santai
"Benar Davina, gue bersyukur loe gak jadi nikah sama tuh buaya lapuk" ucap Shiren yang lumayan akrab sewaktu di kampus dulu
"Iya Shi, gue bersyukur di balik musibah ada hikmah"
"By the way, selamat ya sayang, maaf gue gak bisa hadir karena ada pembukaan hotel di negara ini"
"Iya gak apa-apa kok Shiren"
"Gue denger loe nikah sama duda ya???
Lepas dari perjaka dapat duda, malang bener nasib loe" sindir Loli sinis.
Davina dan shiren menatap tajam Loli, mereka berdua tahu jika Loli selalu iri dengan Davina.
Entah apa kesalahan Davina, sejak Kuliah Loli selalu saja mencari kesalahan Davina.
"Loe keterlaluan banget sih Loli" Dengus Shiren kesal, jika bukan karena orangtua mereka bersahabat dan kedekatan mereka murni bisnis, shiren enggan kenal dengan orang seperti Loli.
"Uhm gak apa Shiren, Loli hanya perhatian aja kok.
Sayangnya gue gak ngerasa sedih menikah dengan duda. Gue bersyukur bisa menikah dengan suami gue ini" ucap Davina menatap penuh cinta Sebastian yang berjalan ke arah mereka
"Udah lah, kita ini teman satu kampus, gan usah bahas yang gak enak. Lebih baik bahas yang asik-asik aja kaya itu tuh.
Cool banget gak sih tuh cowok?? Liat dia senyum kesini" ucap Shiren , Loli lalu menatap ke arah di mana Shiren melihat
"Ini baru cowok, udah tampan, cool, dan matang.
Sayang loe udah nikah ya Davina, harusnya cowok kaya gini yang cocok jadi suami loe" sindir Loli membuat shiren gemas ingin mengelem mulut sampah Loli
"Iya, loe bener Loli. cowok itu keren dan serasi kan Ama gue???" Loli memutar bola matanya malas
Ia merapihkan rambutnya dan memasang senyum lebar menggoda
"Hai"
"Hai juga, kenalan dong" ucap Loli tanpa malu, Tian mengerutkan alisnya melempar pandang pada Davina. Istrinya itu tersenyum sambil mengangguk.
"Tian"
"Loli" ucap Loli sambil mengedipkan sebelah matanya
"Shiren" ucap Shiren malu-malu
"Yang itu gak usah udah punya suami dan punya anak tiri satu juga" celetuk Loli saat Sebastian melempar senyum pada Davina.
"Iya gak perlu, aku duluan ya shiren, Loli
sampai ketemu lagi" ucap Davina cipika cipiki
"Sayang, kita langsung pulang ya" ucap Sebastian membuat shiren dan Loli melongo terkejut
"Iya, aku lelah" ucap Davina menyerahkan paper bag di tangannya, dengan sigap Tian mengambilnya, satu tangannya lagi Menggenggam tangan Davina
" Girls kami duluan ya" ucap Tian sopan
"Dav, dia suami loe???" tanya shiren masih tak percaya
"Iya, kalian kan sudah kenalan, jadi gak perlu aku kenalkan.
Sayang kata loli kita serasi" ucap Davina dengan manja memeluk Tian
Tian tak malu-malu mengecup kening Davina di depan teman nya
"Thanks, ayo sayang" ucap Tian mereka lalu berjalan meninggalkan kedua teman Davina yang masih shock
"Kalau dudanya keren gitu gue gak nolak" ucap Loli dengan muka malu
"Loe sih mulut kadang gak ada saringannya.
__ADS_1
Lain kali jangan sok tahu dengan kehidupan orang"Ucap Shiren berjalan meninggalkan Loli.