
Sementara suasana di dalam cafe
Aaric, Alethea dan Berto/Alan terlihat mulai berbicara dari hati ke hati.
Aaric tahu putranya belum bisa menerima kenyataan jika ia adalah papa nya, Aaric tak keberatan.
Lagi pula ia tak membesarkan dan memberi kasih sayang pada Berto. Wajar jika Berto masih menolak memanggilnya papa.
Thomas akan selalu menjadi papa untuk Berto.
Aaric tak mau membahas masalah lain, ia hanya ingin lebih dekat dengan istri dan anak yang sudah lama hilang itu.
Melihat Berto tumbuh menjadi seorang pria tampan dan membanggakan membuat Aaric menitikkan air mata.
Ia bahagia.
Aaric mencari pendekatan lain.
Davina sudah memberitahu pada Aaric awal mula pertemuan dirinya dan Berto, Dan Aaric sangat berterima kasih pada Davina sekaligus bersyukur.
Jika tak ada Davina entah bagaimana putranya.
tergabung dalam organisasi Denis dan membunuh orang,
Beruntung Davina merekrutnya.
Aaric memulai pembicaraan mereka dari hobby dan keahlian Berto dan berhasil.
keduanya langsung hanyut dalam pembicaraan serius.
Alethea menitikkan air mata.
Ia tak pernah menyangka jika suatu saat ia bisa melihat pemandangan ini, pemandangan yang selama ini hanya ada dalam khayalan Alethea.
Sementara di luar cafe
Davina masih kesal pada Shandy, untuk memperbaiki mood istri tercintanya, Sebatsian sendiri yang membuatkan minuman untuk Davina.
Ia meminta bartender cafe mengajarinya membuat milkshake kesukaan Davina, dengan semangat ia keluar dengan membawa dua gelas milkshake dan juga cake slice, dengan senyum lebar ia menghampiri istrinya
"Sayaaaaang, lihat aku bawa apa????"
"Minuman, terus????"
"Iss gak nanya apa siapa yang buat???" ucap Tian merajuk
"Ya bartender lah, pake nanya, aneh"
"Ini aku buat khusus untuk istri tercintaku" ucap Tian membuat anak buah Davina bersorak ramai
"Diem kalian iri aja" ucap Davina berbunga-bunga
"Emang kamu bisa???" tanya Davina sangsi
"Demi kamu aku akan belajar apapun yang kamu suka" ucap Tian membuat Daffi berlagak mau muntah
"Oh so sweet" timpal Rose
"Terima kasih sayang" ucap Davina tersenyum lebar.
"Ada maunya tuh pasti" teriak Daffi membuat Tian melotot ke arah kakak ipar nya itu
"Sirik aja loe, Sono buatin minuman buat Rose"
__ADS_1
"Yeee, dia yang buatin minuman untuk gue yang ada, ya kan Rose???"
"Huh gak romantis" ucap Rose bangkit lalu menuju pintu samping cafe
"Loe yakin Rose yang buat??" tanya Tian dengan mimik aneh
"Emang kenapa???, dia bisa kok buat minum"
"Bukan masalah bis atau gak, masalahnya minuman itu aman apa gak, loe kan tau...."
"Sial bukan bilang dari tadi" ucap Daffi langsung loncat, Tian cekikikan melihat kakak iparnya yang langsung pergi menyusul Rose
"Kau ngomong apa sayang sama kak Daffi???" tanya Davina yang kebingungan melihat kakaknya berlari
"Rahasia hahhahaa."
"Jadi???? mau main rahasia sama aku???" tanya Davina datar, tapi ada terkandung ancaman di sana
"Daffi meminta Rose membuatkan minum untuknya, Aku hanya menakuti Daffi kalau Rose menaruh racun di minumnya hahaha"
Davina hanya diam tanpa ekspresi menatap suaminya yang bahagia sekali mengerjai kakak nya
"Kau yang akan di racun oleh rose.
Biarkan mereka mengurus hubungan mereka sendiri, kau jangan ganggu.
Lagi pula rose sebenarnya gadis yang baik, hanya saja sedikit usil"
"Sayang, dia bukan sedikit usil, lihat anak buah mu tadi, dia menangis sampai guling-guling begitu" protes Sebastian as melihat korban Rose
"Itu karena dia apes" ucap Davina santai menyeruput Milkshake buatan suaminya
Tiba-tiba Daffa datang dengan mendorong kursi roda dimana Bert duduk dengan manis.
"Loh kak Daffa, katanya kerumah sakit???? kok ke sini? Siapa yang sakit??? kak Bert???" tanya Davina mendekati kakak nya
"Bukan, aku baik-baik saja" ucap Bert lalu matanya menangkap pemandangan tiga orang di dalam cafe,
Daffa menepuk bahu kekasihnya
"Bert sehat kan bro?"
"Sehat kok, " jawab Bert malu-malu
"Tian buat milkshake enak banget, kak Daffa sama kak Bert mau????"
"Mau, Titip Bert, aku perlu bicara dengan adikku.
Ingat jangan meracuni pikiran Bert, aku akan kembali"
"Sayang tunggu disini ya" ucap Daffa lembut, Bert hanya mengangguk setelah Itu Daffa menarik tangan Davina
"Apa sih yang mau kau bicarakan, sepertinya rahasia sekali" ucap Davina kesal karena di tarik Daffa berjalan cepat
"Ini masalah asal usul Bert"
"Come on, keluarga tak keberatan jika dia yatim piatu"
ucap Davina memotong perkataan Daffa
"Aku belum selesai, menyebalkan" Daffa Mala berbicara lalu ia menyodorkan sebuah map coklat ke arah Davina
"Apa ini?????"
__ADS_1
"Buka saja, aku malas berbicara denganmu" gerutu Daffa
"Ih dasar tukang ngambek, untung udah mau laku" ucap Davina cengengesan, sementara Daffa males menanggapi.
Ia hanya memutar bola matanya malas
"Apaaaaa????? serius???????"
"ya iya lah, ternyata dia kakak nya Bertoli
Aku mengirimkan sampel rambut dan sifat gigi nya dan hasilnya mereka sembilan puluh sembilan persen memiliki pertalian saudara" ucap Daffa dengan mimik wajah serius.
Berto memang memilih tinggal dengan Daffa karena mereka sedang merancang peralatan baru, dan Daffa kerap kali memanggil Bertoli sebuah merk dagang minyak zaitun yang biasa mamanya pakai
"iya maksud aku, kenapa kak Daffa sampai punya pikiran Bert adalah anak sang jendral, atau hanya kebtulan saja kak Daffa coba-coba???
"Aku pernah melihat luka bekas tembakan di bahu dan lengan Bert"
"Kalian sudah mandi bersama??? wah gak bener"
"Sembarangan, aku tak sengaja lihat, kau pikir aku pria apa???" gerutu Daffa yang di balas seringai Davina
"Hahaha aku hanya bercanda kak, aku percaya kok.
lalu....????"
"Aku yakin itu luka akibat senjata, saat ku cari tahu Bert bercerita jika paman yang mengasuhnya di panti menemukan ia terkena senjata pemburu, tapi aku tak percaya, aku mengutus orang menyelidiki.
baru kemarin keluar hasilnya dan saat nyonya Alethea mengatakan putrinya meninggal dengan luka tembak, aku langsung merasa Bert mungkin saja anak nya melihat wajah mereka hampir mirip, terutama hidung mereka"
"Apa Bert sudah tahu???" tanya Davina yang di balas anggukan kepala Daffa.
di dalam sana juga ada test DNA Bert dan sang jendral, hasilnya sama Sembilan puluh sembilan persen.
"Nyonya Alethea pasti sangat bahagia saat mengetahui putrinya masih hidup.
dan Bert berhak bahagia setelah sekian lama menderita tak tahu siapa keluarganya."
"Ayo kita bawa Bert menemui mereka kak" Ajak Davina pada kakaknya
Assalamu'alaikum,
hai readerku semua apa kabar????
semoga kalian selalu sehat ya
Author mau minta maaf karena author baru bisa update ya walau sedikit
sulit sekali menulis saat kondisi badan sedang drop.
sudah seminggu author hanya update dari draft yang author simpan sampai habis.
karena sudah seminggu author dikasih nikmat sakit,
jadi mohon pengertiannya ya jika author belum bisa aktif menulis kembali
untuk novel ini tiga chapter lagi kita akan end, author ucapkan terima kasih untuk semua reader yang selalu mendukung baik like, komen maupun yang sudah beri author tip.
semoga kebaikan kalian di balas oleh Allah SWT. Amiiinn
Untuk yang belum dukung mohon bantuannya, karena dukungan anda memotivasi author dalam menghasilkan karya yang lebih baik lagi.
terima kasih
__ADS_1
Pooh