
"Ma, Mika melakukan itu karena...."
"Katakan!!!!" ucap Emilly penasaran.
perasaanya tak enak melihat raut wajah menantunya yang terlihat sedih dan tertekan.
Emilly sangat tahu jika putranya orang yang rasional, jika kini berbuat yang tak masuk logika pasti putranya memiliki alasan kuat.
"Mika menderita tumor ganas di kepalanya, dia bersikukuh tak mau menjalani operasi karena efek dari operasi tersebut kemungkinan ia akan melupakan sebagian memorinya.
Ia baru akan mau di operasi jika Gabby sudah menikah" ucap Sonia menangis.
Emilly merasa separuh nafasnya di ambil.
Putra satu-satunya sedang sakit, namun ia bertindak bodoh hanya demi memastikan putranya bahagia
Ya memang seperti itulah ornagtua, akan melakukan apapun demi kebahagiaan anaknya, namun mempertaruhkan hidupnya???
itu bodoh!!!!!
"Mengapa kau tak mengatakan padaku??" tanya Emilly dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca mengetahui kondisi anaknya
"Mika melarang ku ma, dia mengancam aku..."
"Dasar anak keras kepala, aku tak menyalahkan mu.
Aku yang akan bicara dengan anak nakal itu" ucap Emilly menepuk punggung menantunya.
Ia tahu Sonia selama jadi istri putranya sudah berjuang keras, sabar dan berusaha menurut
Namun sebagai ornagtua ia juga salah tak menasehati putranya, ia hanya tak ingin ikut campur dalam rumah tangga putranya.
Elliana terdiam, ia menatap kedua wanita di depannya.
Demi memastikan putranya menikah dan ada yang menjaga, tuan Lungu mengorbankan keselamatannya.
Itu terbukti jika mereka sangat menyayangi satu sama lainnya.
Masing-masing ornagtua memiliki cara mereka sendiri dalam menunjukkan kasih sayang, walau terkadang itu sulit di terima oleh anak mereka,
"Apakah ini takdir aneh yang harus ia jalani????Bagaimana jika ia menolak?? apakah ia tak terlalu kejam???
Tapi ia tak mencintai pria itu...
Lalu bagaimana rumahtangganya nanti tanpa cinta??
Bukankah pasangan yang menikah karena cinta saja bisa kandas???
Mengapa Maslah pelik ini harus datang saat ia juga memiliki masalahnya sendiri?
Apa ini takdir???
atau....."
"Elly??? apa kau melamun???" tanya Emilly menyentuh Elliana membuat wanita muda itu kembali dari lamunannya
"Eh maaf nek, Tante" ucap Elliana tersenyum canggung
"Dengan sayang, nenek ada di pihak mu.
Kau tak harus menikahi bocah tengik itu.
Kau akan kembali ke negaramu, yang terpenting adalah nenek akan mengirim pengawal untuk melindunginya sampai tempat tujuan" ucap Emilly berusaha menenangkan Elliana
"Nek, terima kasih, tapi..."
"Tak usah khawatir.
Masalah anakku, aku yang urus.
Di rumah ini tak boleh ada yang mengaku selama aku masih hidup" ucap Emilly dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
Sementara Sonia hanya menunduk dengan air mata menetes di pipinya
"Nak, jangan khawatir.
Mama akan meminta Mika operasi apapun caranya.
Tapi tidak dengan memaksakan kehendak ke orang lain" Sonia menatap mama mertuanya seolah tak yakin
"Percaya padaku, aku punya sesuatu yang membuat Mika menurut. Aku mamanya, jadi jangan khawatir ok??" ucap Emilly lembut
"Terima kasih ma, terima kasih"
"Kembali lah ke kamarmu dan rawat Mika, besok aku yang akan bicara. Saat ini biarkan dia seperti itu" ucap Emilly yang diangguki oleh Sonia.
Wanita itu lalu pamit dan meninggalkan kamar Elliana
"Maaf jadi melihat sisi buruk keluargaku" ucap Emilly
"Nenek tak perlu merasa sungkan, bukankah nenek bilang aku cucu nenek??? Apa nenek lupa??" ucap Elliana cemberut membuat Emilly tertawa senang
"Cucuku yang cantik" ucap Emilly mengecup kening Elliana kembali.
Ini kedua kalinya Elliana di cium keningnya oleh Emilly.
Hatinya terasa hangat dan bahagia.
Ia seolah menemukan sesuatu yang hilang sejak lama.
Keluarga!!!!!!
Walau ia masih memiliki papa, tapi Tuan Bernard sangat sibuk, sejak kematian istrinya beberapa tahun silam, ia lebih memilih mengubur diri dalam pekerjaan seolah lupa jika ia masih memiliki anak.
Papanya terllau mencintai mamanya.
"Nenek aku........" Emilly menatap Elliana dengan alis berkerut
"Ada apa anak manis?" tanya Emilly lembut, mengelus rambut hitam Elliana
"Elly, dengar sayang, rumah tangga itu harus punya pondasi, Kau dan cucuku tak punya itu!!
Jangan sia-siakan hidupmu dalam pernikahan yang membuatmu tertekan hanya demi memenuhi kebahagiaan orang lain.
Terkadang kita perlu egois untuk bahagia" ucap Emilly tegas namun lembut
"Aku tahu nek, aku hanya minta nenek memberiku waktu. "Emilly terdiam tak tahu harus berkata apa.
Elly terlihat serius, dan ia tipe wanita yang keras kepala seperti dirinya.
Jika tidak tak mungkin wanita muda kaya sepertinya mau hidup susah, banting tulang dan tinggal di apartemen kecil dengan pakaian sederhana.
Bukankah semua sudah ia miliki??? apa yang ia cari lagi????
Hanya Elliana yang tahu jawabannya.
"Baiklah, pikirkan perkataan nenek tadi.
Apapun keputusanmu nenek akan dukung.
Tapi ingat sayang, rumah tangga itu perjanjian kita dengan Tuhan, bukan hanya dengan manusia, konsekuensinya berat.
Jangan permainkan itu!!!"
"Elliana mengerti nek"
"Baiklah, wanita tua ini sudah merasa pinggang nya rontok, nenek akan kembali ke kamar" ucap Emilly
"Aku antar ya nek??"
"Kamu yakin???" tanya Emilly yang di balas anggukan mantab Elliana
"Baiklah, cucuku mau mengantarku ke kamar, terima kasih sayang" ucap Emilly lalu di bantu Elliana ia kembali duduk di kursi rodanya dan di dorong keluar kamar.
__ADS_1
"Apa yang nenek lakukan??" tanya Gabriel yang terlihat habis bangun tidur, rambutnya yang biasanya rapih klimis kini terlihat berantakan namun tak mengurangi ketampanannya, bahkan menurut Elliana pria di depannya terlihat sexy.
Elliana lebih menyukai rambut Gabby yang tanpa minyak rambut.
"Mengobrol dengan cucuku yang lain, awas minggir" ucap Emilly sinis
"Nenekku cantik, apa kau sedang merajuk??" tanya Gabby langsung jongkok di depan neneknya dan menggenggam tangan Emilly
"Nenek jangan marah lagi, aku mengaku salah terllau sibuk sampai tak mengunjungi nenek.
Tapi percayalah nenek wanita tercantik yang ada di hatiku" ucap Gabriel mencium punggung tangan Emilly
Elliana melongo, tak percaya bos nya itu bisa bersikap lunak dan manis seperti itu.
Apa ...
Elliana langsung mengubah pikirannya saat kedua mata mereka bertemu dan Gabriel terlihat kembali dingin dan datar
"Dasar manusia patung lilin" gerutu Elliana lirih
"Nenek biar ku antar nenek istirahat ok???" tawar Gabby
"Tidak aku hanya mau dengan Elly, hus hus" usir Emilly membuat Elliana tersenyum lebar dan menjulurkan lidahnya penuh kemenangan
"Pake ilmu apa nih cewek sampai nenek takluk???
Dasar wanita galak dan aneh" gerutu Gabriel melihat neneknya di dorong menjauh darinya
"Nenek aku cucumu, bukan dia" teriak Gabriel namun keduanya malah cekikikan, entah apa yang mereka tertawa kan
"Apa cucuku tampan??" tanya Emilly begitu Elliana membantunya naik ke atas tempat tidur
"Lumayan" ucap Elliana cuek
"Lumayan cakep apa jelek???" cecar Emilly
"Lumayan tampan nek, hanya dia itu seperti manusia lilin, kaku, wajahnya akan terlihat lebih baik jika ia banyak senyum.
Sayangnya urat wajahnya sudah rusak sehingga tak bisa senyum" ucap Elliana membuat Emilly tertawa terkekeh
"Kau benar, dia memang seperti patung lilin" ucap Emilly disela tawanya
"Jadi kalau tersenyum dia tampan??" tanya Emilly melirik kearah pintu kamarnya
"Ya dia tampan" ucap Elliana tanpa sadar, ia langsung merutuki kebodohannya dan tak berani menatap Emilly karena wajahnya yang merona merah
"Hahahaha, semoga orangnya dengar jika di puji"cibir Emilly yang tahu jika cucunya sejak tadi berdiri di depan pintu menguping pembicaraan mereka.
"Nenek aku gak muji dia ya.
Nenek menjebak ku" ucap Elliana dengan wajah merona merah. memeluk manja Emilly
Tanpa Elliana sadari seorang pria tampan yang sedang mereka gunjing kan berdiri di balik pintu mendengar percakapan mereka.
"Bisa manja dan lembut juga si wanita landak ini???
Kirain hatinya sudah mati rasa" ucap Gabriel dengan senyum lebar
Selamat hari Minggu semua
author sengaja upload dua chapter ya
semoga bisa menemani Minggu kalian semua
jangan lupa like and komennya ya.
Menjelang ending akan ada beberapa tokoh tambahan, untuk memuluskan endingnya hehehe
Happy reading
pooh
__ADS_1