
Davina dan Agatha sedang berdiri memperhatikan Ernest sedang meramu jamu herbal untuk mereka pelajari.
Davina sedikit aneh saja, nenek buyut ya itu orang spanyol tapi tahu racikan tradisional warisan leluhur
yang mungkin sudah terlupakan oleh generasi sekarang karena di makan usia.
Entah kapan Ernest meminta asisten rumah tangganya untuk membeli semua keperluan, yang jelas ada beberapa herbal yang pertama kali ia liat
"Nenek buyut, darimana kau mempelajarinya???" tanya Davina akhirnya angkat bicara
"Dari leluhur kita. Beliau berguru langsung pada seorang berasa dari Indonesia yang kebetulan adalah asisten rumah tangga keluarga kita" ucap Ernest mengerti rasa ingin tahu Davina.
"Sirih ini buat apa??"
"Buah nyirih hahaha"ucap Davina asal membuat Ernest menggeleng pelan
"cepat garang kunyit nya, biar minyak yang terkandung dalam sirih tersebut keluar dan bau nya hilang sekalian satu ruas jahe itu untuk aroma" perintah Ernest pada Davina dan Agatha
"Sudah lalu haluskan" ucap Ernest setelah keduanya selesai mengarang kunyit dan jahe
Davina mengangguk lalu ingin mengambil blender
"Siapa suruh pakai blender, ckckck anak muda sekarang, pakai alat itu buat menghaluskan" ucap Ernest membuat Agatha dan Davina melongo.
Mereka harus menghaluskan manual dengan lumpang. ya alat yang terbuat dari batu dengan penumbuknya yang terbuat dari batu pula, tapi ada juga yang terbuat dari kayu.
Davina dan Agatha saling pandang
"Tante cantik tolong tumbuk ya??" ucap Davin tersenyum namun menekankan perintah samar
"Owh keponakan ku sayang, tanganku kebas, maklum sudah tua" ucap Agatha dengan senyum selebar mungkin
"Astaga Tante kan masih muda bagaimana bisa kebas, atau tulang Tante sudah keropos semua karena makan jorok"
"Enak saja, aku pencinta makanan enak" bantah Agatha tak terima junk food yang ia makan kerap di Katai makanan jorok oleh Davina
"Kalian berdua.....
sudah nenek duga" ucap Ernest menggelengkan kepala, mbok inem dan mbak parmi saling pandang dan tersenyum. Mbak Parmi lalu berjalan ke sudut dapur dan tak lama kemudian membawa sebuah lumpang lainnya, sepertinya memang sudah di persiapkan oleh Ernest
"Ini mbak, jangan bertengkar ya?? yang akur" goda mbak Parmi membuat Ernest dan mbok Inem tertawa tertahan.
Kedua wajah wanita cantik itu pucat sekaligus kesal
mereka meremehkan kecerdikan seorang Ernest
"Nenek buyut, kau...."
"Kalian tak menyangka kan???
anak nakal cepat jangan malas-malasan.
Kalian mau pintar mengendalikan laki-laki atau tidak??" tanya Ernest tak perduli protes kedua wanita cantik tersebut. Keduanya mulai menumbuk setelah melepaskan cincin berlian mereka, mbok inem dan Mbak Parmi hanya menonton seperti perintah nyonya tua.
"Mbok Inem dan mbak Parmi perhatikan juga, ini rahasia biar tetap lengket kata prangko sama suami" ucap Ernst membuat wajah tua mbok Inem merona merah karena malu
Sementara Mbak parmi yang usianya lebih muda dari mbok Inem hanya bisa tersenyum malu-malu
"Mbok Parmi kan mau nikah tahun depan," ucap Davina memberi informasi
"Aku sudah tahu, konsentrasi saja dengan pekerjaanmu" ucap Ernest membuat tawa Agatha pecah
"Mamam" ucap Agatha senang
__ADS_1
"Kau juga, jangan tengok kanan kiri, lihat kunyit nya berantakan"
"Syukurin" ucap Davina tanpa suara
"Setelah halus masukkan jahe lalu bubuk majakani aduk hingga rata" perintah Ernest seperti seorang guru galak yang langsung membuat murid didiknya patuh.
"Sisihkan, remas asam Jawa dengan air hangat, biarkan hitam. lalu di tempat lain remas daun sirih.
Sudah semua siapkan kuali tembikar, masak air lalu masukkan semua bahan ke dalam nya tambahkan gula aren, sejumput garam dan jangan lupa akar pinang dan masak dengan api kecil hingga air menyusut setengahnya. setelah itu matikan api, saring dan siap di konsumsi
(BTW banyak yang nanya kemaren resep nya hahaha
hayo praktekan sendiri, ini resep rapet wangi.
ingat khusus yang sudah punya pasangan ya, kalau belum nikah dulu sana 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
"don't try it before marriage hahahaha ")
Setelah dua jam bergelut dengan ramuan keduanya duduk terkulai sambil melihat kedua tangan mereka yang memerah
"Oleskan ini" ucap Ernest menyodorkan cup mini
"Apa ini nenek buyut??" tanya Davina mencium krim di dalamnya lebih tepatnya cairan kental beraroma melati samar, ringan tapi wangi.
Saat di pelukan, Davina langsung melotot, itu terasa dingin dan lembut.
Bahkan panas akibat kulitnya bergesekan1 dengan alu yang terbuat dari batu langsung hilang, meninggalkan kesan dingin di tangannya
"Itu resep ku yang lain, cream pelembab alami" ucap Ernest penuh kebanggaan
"Kenapa kau nyengir gitu?? mau juga resepnya??? huh anak muda sekarang tidak kreatif.
Cari sendiri resep mu" ucap Ernest berjalan menjauh
"Aku punya bayi gurita yang merajuk karena aku sibuk mengajari kalian jamu itu.
Ambil Korean itu dan pelajari.
Orang tak akan pintar jika terus di suapi, sekali-kali belajarnya menyuapi dirimu sendiri" ucap Ernest tersenyum lembut
"Nenek buyut I Love You" teriak Davina.
Ia suka gaya nenek buyutnya dalam bertindak.
"Kau sudah tahu cara buatnya??" tanya Agatha penasaran
"Aku?? belum" ucap davina santai
"Kalau belum mengapa senyummu lebar sekali, lihat tangan kita kuning begini, apa perlu kita rendam dengan cairan pemutih pakaian??" tanya Agtha menatap sebal pada kedua tangannya
"Jika kau mau tanganmu hancur silahkan. Aku tidak kan melakukan apapun, karena kuning ini hanya akan bertahan dia hari dan hilang seiring waktu
mengenai cream ini, aku akan teliti dan sepertinya akan aku komersil kan, tentu saja setelah mendapatkan izin dari nenek buyut" ucap Davina tersenyum lebar, ia seperti melihat pundi-pundi uang di depan matanya.
"Apa perlu juga kita mencoba memproduksi jamu ini secara masal??" tanya Agatha menunjuk jamu di cangkir mereka
"Aku perlu meneliti juga sebelum ku putuskan.
Biar team ahli kita yang mengerjakan"
"Aku setuju" ucap Agatha
Lalu bagaimana rencananya, sudah matang???
__ADS_1
ingat keselamatan Cleo prioritas kita.
Jika situasi tidak kondusif maka biarkan saja wanita itu lepas asal Cleo selamat" ucap Davina menekankan kalimatnya
"Aku mengerti, kau jangan khawatir
Aku sendiri yang akan di dekat Cleo" ucap Agatha yang tahu kekhawatiran Davina
"Bukan Lily??"
"Lily tetap di team inti, tapi aku tak mau keponakanku terluka" ucap Agatha membuat Davina terharu
"Tante i ove you" ucap Davina langsung memeluk Agatha dan menciuminya
"Davina, astaghfirullah....
aku buat jamu ini bukan buat Deket sama kamu...
hussss sana jauh-jauh, aku masih normal" ucap Agatha kesal
Sementara mbok Inem dan mbak Parmi tertawa terkekeh melihat kelakuan kedua wanita itu.
"Mbok inem tuluuung, mbak Parmi Tulunggggg" teriak Agatha berlari menghindar, mereka seperti dua anak kecil, dua orang wanita dewasa yang lupa usia.
Alih-alih membantu kedua asisten itu malah sibuk membereskan dapur yang berantakan karena ulah dua wanita itu.
"Ish Tante Agatha dan mama seperti anak kecil saja" ucap Cleo membuat keduanya berhenti berlari dengan nafas ngos-ngosan
Davina dan Agatha saling pandang dan mengendap-endap mendekati Cleo
"Kalian apa yang mau kalian lakukan???
Mundurrrr" teriak Cleo merasa firasat buruk.
Davina dan Agatha langsung memeluk Cleo dan menciuminya
"Papa tolooong, aku di perkosa" teriak Cleo nyaring melengking dengan suara cemprengnya sehingga sebastian yang sedang santai membaca buku di ruang keluarga langsung berlari ke arah suara Cleo dan menggeleng pelan melihat istri dan kakak iparnya sedang menggelitik dan menciumi Cleo
"Kalian bikin kaget saja" ucap Tian membuat ketiganya tak bergerak
"Pa, tolong" ucap Cleo dengan wajah memelas
"Papa mau ke ruang kerja, kalian teruskan saja" ucap Tian lalu melangkah menuju ruang kerja tak perduli tatapan meminta tolong Cleo
"Papa kejaaaaammmm, awas aja Cleo benci papa teriak Cleo mengancam
"Anak kecil, papamu sudah pergi hehehe" ucap Agatha seperti nenek sihir dengan rambut acak-acakan
"Papa tolong, dua nenek sihir mau rebus aku" teriak Cleo histeris
Agatha dan Davina saling pandang dan tertawa.
Ya rambut keduanya acak-acakan lebih mirip orang hilang akal karena Cleo yang meronta dan membuat rambut mereka berantakan.
"Untung suamiku gak disini, bisa dikira aku orang gelo" ucap Agatha merapihkan rambutnya
"Aku mau mandi dulu, kau teruskan bermain dengan Cleo"
"Aku mau mandi juga, pinjam bajumu" ucap Agatha mendahului Davina
"Woi tuan rumahnya gue" teriak Davina sewot karena Agatha nyatanya tak perduli dan langsung masuk ke kamar utama karena tahu Tian tidak di kamar utama.
"Dasar dua mak-mak aneh" cibir Cleo lalu masuk ke dalam kamar nya sendiri
__ADS_1