Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Sekertaris Baru Untuk Panji


__ADS_3

"Tua Bangka" ucap Olga dengan wajah merona merah


"Tuh Tan, papa mau. Aku mohon Tante mau menjadi mamaku" ucap Tian


"Akan ku pikirkan, aku permisi ke ruangan ku, aku tak mau menggangu kunjungan papamu" ucap Olga bangkit


"Kau bukan menghindari ku kan Ga?" tanya Baskoro lirih


"Kau terlalu banyak berfikir" ucap Olga tak berani menatap Baskoro.


"Tante, kita makan siang bersama ya, aku merindukan kalian, dan aku gak mau di tolak" ucap Tian tersenyum penuh arti.


Ya tak ada salahnya menjadi Mak comblang untuk papanya, Tian melihat Baskoro menua lebih cepat setelah kepergian mama Ratih dan pengkhianatan mamanya.


Setidaknya kini mama dan papa kandungnya menjalani hidup yang baik di penjara, keduanya kini lebih agamis dan bertaubat.


Keesokan harinya


Seperti info yang diterima seorang wanita cantik berwajah ayu datang untuk interview, Olga yang sudah menerima mandat Tian langsung melakukan semua prosedur formalitas dan menempatkan wanita cantik itu sebagai sekertaris Panji.


Panji yang terkejut karena kepindahan sekretarisnya dan di ganti dengan orang baru langsung mendatangi ruangan Tian


"Bos, gak bisa sembarangan ganti sekertaris dong???


Mila sudah bekerja sama gue dah lama, dia yang mengatur semuanya terus tiba-tiba dalam sehari Mila pindah ke ruangan Oscar tanpa persetujuan gue" protes Panji pada Tian yang sedang berbincang projek baru dengan Oscar


"Oscar butuh orang yang bisa handle, nah Mila sudah memiliki jam terbang tinggi, jadi dia yang gue kirim jadi sekertaris Oscar"


"Kenapa gak Susan aja???"


"Susan lagi hamil, mobilitasnya lambat dan bentar lagi dia cuti. loe mau Oscar ngasih kerjaan yang menumpuk sama Susan??" Panji menghela nafas, ia juga tak ingin Susan sekertaris Tian kelelahan, bisa-bisa Panji kena complain kalau Susan kenapa-napa


"Tapi kan..."


"Udah sih nurut aja, lagian sekertaris itu cekatan, kalau gak mana mungkin Olga nerima dia, loe tahu sendiri HRD senior satu itu punya kriteria tinggi" ucap Tian sengaja menjual nama Olga


"Maafin Tian ya Tante, hehehe ini demi membungkam Panji" gumam Sebastian dalam hati


"Kalau mau protes sana ke Olga aja" ucap Tian membuat Panji ragu


"Gue bisa kena semprotan doi, dia galak bener" ucap Panji ciut membuat Tian menepuk bahu Panji


"Udah terima aja, kalau dia gak bisa handle kerjaan loe selama dua bulan masa percobaan, nanti kita ganti" ucap Tian, Tian hanya berharap gadis itu bisa beradaptasi apalagi Panji sedikit galak dan gokil ya campuran yang unik.


Sebastian sedang menggembleng Panji agar memiliki mental kuat, demi masa depan pemuda rantau itu.


"Terserahlah" ucap Panji pasrah lalu pamit kembali ke ruangannya


Setelah memastikan Panji pergi, Oscar angkat bicara


"Jadi itu cewek memang di kirim ke sini???


Cakep gak??"


"Loe bosan hidup??? kalau mau berakhir gak punya dua kelereng coba-coba aja genit sana.


Gue gak mau bantu kalau Davina menghajar loe karena mempermainkan Lilly" ancam Tian membuat Oscar ciut


"Sorry bro, lupa-lupa"


"Ubah kebiasaan loe, kalau loe serius sama Lilly, ingat di otak loe cuma Lilly aja.


Dia gadis yang baik dan cerdas.


Ah satu lagi kalau loe macam-macan sama dia bukan cuma istri gue yang bakal Hajar loe" ucap Tian mengingatkan


"Loe juga mau hajar gue?


"Iya lah, saudari istri gue , saudaraku gue juga.


Yang akan buat perhitungan sama loe bukan gue dan Davina aja tapi Lilly juga.


Dia ahli beladiri dan ahli ramuan serta racun" ucap Arjuna, terlihat Oscar memegang tangannya sendiri

__ADS_1


"Napa mau mundur???


"Dia gadis yang bikin bulu kuduk gue merinding karena takut, tapi buat gue merasa tertantang.


Gue rela mati di racun oleh nya" ucap Oscar dengan senyum lebar


"Dasar gila, keluar sana dari ruangan gue


Lama-lama Deket loe gue bisa stress" usir Tian mendorong Oscar keluar dari ruang kerjanya


"Ada ya orang yang gila kaya Oscar, bukan takut malah tertantang, semoga loe selamat OS" gumam Sebastian lirih.


Sementara di ruangan Panji


Terlihat Panji uring-uringan, ia terus mengomeli sekertaris barunya bernama Sekar


Entah mengapa apa saja yang sekar kerjakan selalu salah di mata Panji membuat gadis cantik itu sampai menangis


Saat Tian memeriksa keadaan di ruangan Panji, tanpa sadar Tian melihat Sekar yang sedang menghapus air matanya keluar dari ruangan Panji


"Sekar?"


"Iiiya??"


"Aku Sebastian" ucap Tian menjulurkan tangannya


"Kak Tian, salam kenal ya" ucapan Sekar yang malu tertangkap sedang menangis


"Kenapa kamu menangis, apa Panji memarahi mu???"


"Ini bukan salah mas Panji, aku saja yang gak becus mengerjakan ini" ucap Sekar menunduk


"Coba aku lihat" Sekar menyerahkan map di tangannya, setelah memeriksa Tian mengangguk-angguk pelan lalu menyerahkannya pada Sekar


"Aku akan meminta sekertaris ku mengajarimu, tapi sebelumnya aku mau tanya padamu.


Apa kau masih mau bertahan?"


"Tentu saja kak, aku belum menyerah" ucap Sekar kembali semangat, Tian tersenyum lembut, Sekar mirip dengan Sania, ia jadi merindukan adik nya tersebut.


"Apa harus seperti itu??? Dimana profesionalisme mu?" tanya Tian mengejutkan Panji


"Bos,..."


Tian langsung duduk di sofa dan memandang Panji yang langsung mendekatinya dan duduk di depannya


"Sekar orang baru, sangat wajar dia membuat kesalahan. Tugasmu sebagai atasan membimbingnya bukan cuma mengatakan salah"


"Maafkan aku"


"Dengan Panji, kita memang sahabat, tapi di kantor kita memiliki kewajiban dan tanggung jawab.


Ingatlah, bisa karena biasa, keterampilan tak datang begitu saja tanpa adanya pengalaman.


Kau juga dulu tak bisa tapi belajar, Tak ada yang tak mungkin jika kau belajar.


Aku menggembleng mu keras karena kau adalah orang kepercayaan ku sekaligus sahabat terbaikku.


Berbeda dengan Oscar dan Gabby, walau kami sahabat tapi kami masih memiliki batasan, terlebih kami memiliki latar belakang dan budaya yang berbeda.


Tapi denganmu kau sudah ku anggap saudaraku.


Aku mau kau sukses bukan hanya sebagai asistenku saja.


Suatu saat kau harus berdiri di atas kakimu sendiri, menjalankan perusahaan dan kita bekerja sama dalam satu atap"


"Bos maafkan gue, gue tahu salah"


"Bagus kalau loe tahu kesalahan loe, gue datang bukan sebagai bos tapi sebagai sahabat.


Tahun depan gue buka cabang, gue mau loe yang urus karena kedepannya gue bakal banyak mengandalkan loe" Panji bangkit lalu memeluk Tian


"Panjiiii, lepasin, gue gak mau di peluk-peluk gini"

__ADS_1


"Bodo amat, gue sayang loe bro" ucap Panji usil sengaja memeluk Tian


"Panji.... dasar gesrek" ucap Tian bangkit sementara Panji tertawa terbahak-bahak.


Bukan Panji namanya jika sikapnya normal


"Gue pinjem Sekar seminggu, sementara itu loe handle semua sendiri, itung-itung ini hukuman buat loe".


"Bos, gak bisa gitu dong, mana bisa gue handle semua"protes Panji, namun Tian hanya mengangkat tangan nya sebelah dan berjalan keluar


"Bos, loe kejam, bossss" Tian tak menggubris panggilan Panji


"Tian, big bro woiiii"


Tian terus pergi diikuti Sekar


"Sekar, jangan pergi" pinta Panji


"Kak, mas Panji manggil" ucap Sekar ragu


"Mau dekat sama Panji apa terus kena omel, kalau kamu mau terus kena omel tetaplah tinggal"


"Aku mu bisa diandalkan" ucap Sekar mempercepat langkahnya menyusul Tian


"Sekarrrrrr, ah ****" maki Panji di belakang mereka


Tian hanya tersenyum kecil dan kembali ke ruangannya setelah meminta Susan mengajari Sekar.


Sementara Tina sekertaris Tian satunya di kirim ke ruangan Panji menghandle kerjaan Sekar sampai pelajaran Sekar selesai.


Saat membuka pintu, Tian terkejut istri dan anaknya ada di alam ruangannya


"Papaaaaaa"


"sayang, kok datang gak kasih kabar???" tanya Tian mengecup pipi Cleo lalu Davina


"Cleo Habis pulang sekolah minta kesini, kita makan bareng ya???" ucap Davina menunjuk meja yang sudah tersedia makanan bento yang Davina beli saat menuju ke kantor suaminya


"loh itu satu kok gak di buka??" tanya Tian melihat satu bento yang masih utuh diatas meja


"Itu buat om penjol eh Panji.


ma, Cleo anter dulu ya??"


"Cie baikan ya sama om Panji??" goda Tian


"Enggak, habis om Panji genit sama Cleo, tapi om Panji bantuin Cleo kemarin saat pelajaran menggambar" ucap Cleo malu-malu


"Ceritanya itu buat sogokan ya?" goda Tian pada putrinya


"Bukan sogokan ih papa, ini sebagai rasa terima kasih" ucap Cleo protes


"Kok ada dua??",


"Satunya buat Sekar pa, dimana dia? gimana apa mereka akur?"


"Kacau, Panji mengacaukannya, sebentar aku suruh Sekar masuk. Biar dia yang antar makanan itu, gak apa-apa kan sayang?" tanya Tian pada Cleo.


Terlihat Cleo diam sejenak lalu mengangguk


Davina sudah menjelaskan siapa Sekar, sehingga Cleo tahu.


Sekar masuk ke dalam ruangan dengan kikuk


"Sekar sini, kenalkan ini istri dan anak saya"


"Sekar"


"Davina, dan ini putriku Cleo" ucap Davina dan Cleo menjulurkan tangan mereka berkenalan.


"Sekar ini makan siang kamu, istri saya bawakan.


Dan juga buat Panji, kamu tolong antar ya?"

__ADS_1


"Aku... nanti...."


"Enggak akan, sudah antar sana" ucap Tian , walau ragu akhirnya Sekar mengambil paperbag berisi dua bento lalu pamit keluar


__ADS_2