
"Kok loe bisa tahu sih??? tanya Panji penasaran
"Jadi...."
Drttttt Drtttt Drttt
ponsel Oscar bergetar, Oscar memberi tanda Panji untuk menunggu sebentar, senyum Oscar mengembang, rupanya Gabbriel yang menelponnya, tanpa menunggu lama Oscar langsung mengangkat panggilan tersebut
Keduanya langsung terlibat percakapan, Oscar seperti pria yang di telepon oleh kekasihnya.
Oscar sepenuhnya lupa jika Panji ada di ruangan tersebut, ia asik berbincang sambil tertawa-tawa, entah apa yang mereka bicarakan karena mereka memakai bahasa spanyol.
Panji jadi menyesal ia malas belajar bahasa asing, kini ia tak tahu apa yang Oscar bicarakan dengan Gabby, namun melihat pria itu melirik ke arahnya dan tertawa, Panji kok merasa Oscar sedang membicarakannya, atau ia yang terllau sensitif????
"Aku pergi" ucap Panji bangkit
"Mau kemana??? ga penasaran???" ledek Oscar penuh arti
"Teruskan pembicaraan kalian, cih kalau orang tidak tahu kalian pasti di kira homo" ucap Panji sambil berjalan pergi
Panji tak perduli di belakangnya terdengar tawa keras Oscar.
Kini Panji tak tahu harus kemana, ia memutuskan pulang ke apartemennya.
Namun setibanya di apartemen, Panji justru teringat Sekar, akhirnya ia membasahi otaknya dengan guyuran air shower.
setelah mandi Panji berniat tidur lebih Awal, namun sudah satu jam diatas kasur matanya tidak juga terpejam
Ingatannya melayang ke Sekar.
Mengapa ia harus mengingat sekretarisnya itu??? mengapa???
Karena kesal akhirnya Panji berpakaian lagi dan pergi ke apartemen Oscar
Ia perlu refreshing otak, segelas alkohol sepertinya bukan masalah.
Setelah menempuh perjalanan setengah jam akhirnya Panji samai di apartemen Oscar, i tak perlu mengetuk pintu apartemen itu karena tahu password nya
"Oscaaaaarrrr" teriak Panji yang melihat pria bule itu sedang duduk di ruang tv
"Astagaaaaa, penjollll kampret
Kenapa sih tekan bel gak bisa apa???" teriak Oscar kesal. Sudah dua kali dalam sehari ini ia kena di kerjai oleh Panji
Ngapain gue pake pencet bel, paling kalau loe liat gue yang datang gak bakal di buka juga"
"Hahaha loe bener.
Ngapain loe kesini???
Jangan bilang kalau loe kangen gue?" tanya Oscar cengengesan
"Najis, ngapain kangen terong???
Gue masih waras" Dengus Panji lalu menghempaskan bokongnya di samping Oscar
"Ya siapa tahu setelah di tinggal sama Sekar loe berubah haluan.
Gue yakin matahari loe masih virgin, banyak temen gue yang suka mau gue kenalin loe???"
"Najis, amit-amit" teriak Panji mengetuk tangannya ke meja lalu ke jidatnya, sementara Oscar tertawa terbahak-bahak
"Ya kali aja, gue kan sahabat yang baik"
"Sahabat sesat yang benar" cibir Panji kesal
Oscar terus tertawa hingga menangis, sepertinya ini waktu pembalasannya
"Terus ketawa sampai puas, gue sumpahin kembung loe kebanyakan ketawa"
"Gak nyambung.
jadi loe ngapain kesini???"
__ADS_1
"Gue lagi gabut, nongkrong Yo" ajak Panji
"Males"
"Ya elah nih bocah hibur temen dikit apa????"
"Kalau butuh hiburan ke diskotik sana apa, apa karoke" usul Oscar
"Akur, makanya gue datang ke apartemen loe, gue gak berani sendirian, takut" ucap Panji membuat Oscar ingin mual
"Takut gigi loe kuning, gue juga keracunan karena loe yang ngajak, sok polos loe"
"Jangan bawa-bawa gigi apa? sesama gigi kuning di larang saling mendahului" cibir Panji, Oscar tertawa sambil menggeleng, sahabatnya satu ini memang unik dan menggemaskan seperti balita baru belajar bicara, lucu dan ngeselin.
"Sebentar gue ganti baju dulu"
"Gak usah dandan, loe tetap ganteng" ucap Panji MLS menunggu Oscar, pria itu sedikit agak lama jika berpakaian, maklum Oscar ingin tampil sempurna di mata semua orang khususnya kaum hawa.
"Bingo, loe tahu aja kalau gue ganteng, thanks sob"
"Aku ah, udah cepetan sana ganti baju.
Gak usah genit nanti Lilly tahu mamam loe gak bisa denger sama doi" ucap Panji memperingati
"Sue loe, bikin mood gue buruk aja" gumam Oscar berjalan sambil ngedumel ke kamarnya
Sudah setengah jam Oscar belum juga keluar dari kamarnya membuat Panji kesal bukan main, ia berjalan menuju kamar Oscar dan menggedor
"Woi perawan, lama bener loe dandannya" teriak Panji
"Penjol, ini apartemen bukan hutan, gak sabaran amat sih" gerutu Oscar yang masih memakai kimono mandi
"Eh bule, loe dari tadi ngapain aja belum pake baju???
jangan bilang loe lagi olah raga tangan pake sunlight ya????"
"Bisa kinclong dong Ade gue???" tawa keduanya pecah bersamaan
"perasaan lama-lama bergaul sama loe gue ketularan gila Ji"
"Bukanya emang dari dulu??" udh cepetan sih, gue seret gak pake baju mau loe??" ancam Panji
"Ya, Sono gih keluar, apa loe mah ngukur punya gue???" goda Oscar pura-pura membuka kimono nya
"Bule gilaaaaaa"teriak Panji berlari keruang depan, terdengar Oscar tertawa terbahak-bahak sambil menutup pintu kamarnya.
Sepuluh menit kemudian ia keluar dengan pakaian santai.
"Ayo , let's go babe* ucap Oscar merangkul Panji.
Kedua pria itu langsung keluar dari apartemen lalu menuju sebuah cafe.
Panji awalnya menolak, namun Oscar memperingati Panji jika pria itu barus saja keluar dari rumah sakit karena over dosis alkohol.
Jika Oscar menuruti Panji yang ada ia kena pancung Tian.
Tanp sepengetahuan Panji, Oscar mengirim pesan memberitahukan jika ia dan Panji sedang di cafe langganan mereka.
Sebastian segera menyusul menuju cafe tersebut.
Sesampainya di sana mereka langsung memesan makanan favorit mereka.
"Jadi gimana perasaan loe stelah Sekar pergi???"
"Sekar??? bisa aja.
Lagian dia gak akan pergi.
Gue udah sobek surat pengunduran dirinya" ucap Panji percaya diri
"Hahaha Panji, Panji, dia gak bakal nurut sama loe"
"Dia sekertaris gue, apa loe lupa???"
__ADS_1
"Terus kalau dia sekertaris loe, apa loe punya hak bahan dia tetap di samping loe???
Bukanya loe galak bener ga sama Sekar???
Tian aja bilang loe sering bentan-bentak gadis itu.
Denger ya penjol, kalau gue gak Nasir duluan Ama Lilly, udah gue embat itu Sekar, cantik, lembut.
Idaman pria banget deh" ucap Oscar membayangkan wajah teduh Sekar
"Owh jadi begitu???" tanya seorang wanita dari arah belakang Oscar
"mam*US" ucap Panji tanpa suara dengan senyum penuh kemenangan.
Ia awalnya ingin memberi kejutan Oscar, tapi benar-benar terkejut. Siapa suruh dia memuji wanita lain dan Lilly datang di saat yang tak tepat
"Eh bidadari ku, bukan begitu.
Itu Panji di tinggal Sekar, kamu kan...."
"Dasar Playboy cap ikan asin, cakep tapi bau" ucap Lilly lalu berjalan pergi.
Oscar melotot kearah Panji lalu berjalan mengejar Lilly
"Pepet terus bro, good luck" teriak Panji penuh kemenangan.
setidaknya ia tak sendiri yang kesusahan karena wanita
"Bukanya mikir malah bikin celaka teman" ucap Tian yang melihat kelakuan Panji
*Ye gue kan gak bikin Oscar muji cewek lain" protes Panji
"Ngapain loe ngajak Oscar keluar?"
"Gabut" ucap Panji santai meneguk kopinya
"Gabut karena di tinggal Sekar???"
"Jadi loe tahu juga kalau dia ngajuin resign? tanya Panji langsung duduk tegak
"Tahu lah, Panji, Panji cewe sesempurna itu loe buang, sampah loe pacari" ucap Tian menggelengkan kepala
"Sekar bukan siapa-siapa gue" ucap Panji datar, walau dalam hatinya ia membenarkan ucapan Tian
"Yakin??? bukanya loe punya tunangan???
nah Sekar itu wanita yang ingin di jodohkan sama loe.
Dia jauh-jauh datang cuma mau meluluhkan hati loe, sayang nya loe milih wanita sampah itu...."
"Gue gak milih Mila, gue udah putus sama Mila.
Sebentar, loe bilang tunangan??? Sekar????" tanya Panji terkejut bukan main
"Iya, Sekar, bokap and nyokap loe yang ngirim Sekar kesini, Panji, Panji.
Semoga ini pelajaran berharga buat loe* ucap Tian menepuk bahu Panji kalau berjalan pergi.
Panji masih membeku di tempatnya, mencoba membaca keadaan.
"*Sekar wanita yang mau di jodohkan dengan nya??? tunggu....
Sekar, Sekar, apa dia.....
Gak mungkin!!!" gumam Panji lirih, ia langsung bangkit dan mengejar Tian setelah meletakkan dua lembar uang seratus ribu di mejanya
"Woi, Sebastian Chou, tunggu gueeeee!!!!" teriak Panji menyebut nama panjang Tian sambil berlari.
"Dasar dodol ngapain loe panggil nama orang lengkap bener, gak sekalian alamat dan nomer ponselnya, Dasar cowok aneh" gerutu Tian menunduk malu
"Hahaha" Panji hanya tertawa tak menggubris Omelan Tian.
"Dasar sahabat speleng!!!" gerutu Tian sambil berjalan menuju Parkiran
__ADS_1