Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Keputusan Panji


__ADS_3

"Coba mama lihat, ya Allah kamu kurang gizi, pasti kamu susah makan ya?" tanya Catherine membuat Davina dan Tian tersedak.


Ibunda Panji tak tahu saja jika anaknya makan dua kali lipat dari porsi orang pada umumnya, hanya saja badannya tak mau gemuk juga.


Catherine juga tak tahu jika Panji bekerja pada Tian, sebab suaminya merahasiakannya.


Jika saja Catherine tahu Panji bekerja dengan Tian, sudah dipastikan ia akan membujuk Tian untuk meminta Panji di tempatkan dia anak perusahaan yang berada di kota tersebut.


"Eyang putri, anu ..."


"Apa sayang??" tanya Catherine lembut.


Ia sangat menyukai gadis kecil ini, apalagi ia sangat mengidam-idamkan cucu, sayang sekali Panji tak menikah cepat malah justru memutuskan pertunangan dengan Sekar.


Walau Catherine kesal, tapi ia tak mau memaksakan putranya, ia selalu memberi kebebasan pada anak-anaknya menentukan kemauan mereka asal bertanggung jawab dengan pilihan mereka.


"Om Panji bukan kurang gizi, tapi cacingan.


Om Panji kalau makan dua piring, kadang makanan aku aja di rebut om Panji" ucap Cleo cemberut


Catherine tertawa, sementara Davina dan Tian terkejut bukan main, putrinya terllau jujur dan ...


"Maafkan anak kami Tante" ucap Davina tersenyum canggung


"Tak apa, tak apa"


"Cucuku benar, anakmu cacingan" ucap Cokro namun Catherine hanya menatap suaminya kesal, bagaimana suaminya tak merindukan putra mereka???


Apa dia lupa punya seorang putra?


"Sudah Bun ayo masuk, nanti kan kita ke tempat Se.... eh" Celine melirik kakaknya karena ibundanya melotot ke arahnya


"Ayah apa kabar???"


"Apa kau masih ingat aku ayahmu??"


"Tentu saja, darahmu mengalir dalam tubuhku yang tampan ini" ucap Panji sambil menyibak rambutnya


"Hahaha tampan?" Cleo tertawa geli sekali sampai memegangi perutnya


"Bocah rese" ucap Panji melotot, tak tahukan setan kecil ini jika ia sedang merayu singa jantan di depannya ini


"Cleo" ucap Tian menggeleng meminta putrinya berhenti tertawa


"Om Panji alay pa, Masa ada orang ganteng yang ngaku, aneh hahaha" tawa Cleo terdengar lagi


"Anak kecil saja tahu, asar bocah tengik mengaku tampan, kau tahu aku saat ini sangat murka.


Kau membuat aku kehilangan calon menantu terbaik" ucap Cokro dengan tatapan tajam menusuk


"Astaga aku lupa, bunda aku pamit mandi, ayah aku pamit mandi, dan kau...


Aku akan meminta penjelasan mu nanti" ucap Panji lalu lari menuju kamar lamanya


"Bocah edan, bagaimana tak sopan begitu sama orang tua???" gerutu Cokro yang memang ketat dalam sopan santun


"Hahaha maaf kan sikap Panji ya nak Tian, Davina"


"Gak apa-apa Tante" ucap Davina dan Tian serentak, mereka melanjutkan perbincangan mereka,


Setengah jam kemudian Panji keluar dengan pakaian rapih, bahkan ia memakai kemeja.


"Kak mau kemana?" tanya Celine mendekati kakaknya

__ADS_1


"Mau bawa calon kakak ipar buat kamu" ucap Panji mencolek hidung mancung adiknya


"Owh jadi kakak nolak kak Sekar beneran udah punya pacar??? Kakak gak tahu sih seberat apa jadi kakak Sekar, mencintai orang yang Tan pernah mencintai, sakit kak, sakit" ucap Celine memukul dadanya sendiri dengan ekspresi putus asa


"Anak kecil tahu apa, kakak jalan dulu" ucap Panji mengacak-acak rambut adiknya


"Mau kemana kamu?? baru sampai sudah mau pergi?"


"Aku ada perlu yah"


"Kau anak gak berbakti.


belum juga sadar kesalahanmu apa???


kalau begitu gak usah pulang sekalian, pintu rumahku tertutup untuk mu. Aku malu punya anak laki-laki yang tak bisa menghargai orang lain" ucap Cokro marah, akhirnya keluar juga marahnya setelah sejak tadi ia tahan.


Panji bukan bersimpuh DNA meminta maaf malah mau pergi saat baru saja tiba tiga puluh menit lalu.


Cokro sampai lupa jika saat ini ia sedang ada tamu.


Emosinya meluap


"Ayah malu Panji, apa di pikiranmu masih ada kami orangtuamu?? apa kau tidak memikirkan ibunda mu, beliau baru saja seminggu yang lalu operasi, apa kamu tahu?????


Siapa yang membujuknya kalau bukan sekar, calon menantu yang kamu tolak.


Siapa yang menghibur kamu kalau bukan sekar?"


"Ayah, Panji minta maaf, tapi ada yang lebih penting saat ini. Panji gak mau telat. Assalamu'alaikum" ucap Panji tegas


"Panji.... huhuhu"


"Ibunda maafkan Panji sudah menyusahkan bunda, tapi Panji pergi untuk menjemput calon menantu bunda" ucap Panji mencium punggung tangan bundanya, sementara Cokro menghela nafas dan pergi dengan marah menuju ruang kerjanya


"loe mau kemana lagi sih ji? gak kasian apa sama bunda dan ayah loe?"


"Kakak ipar..."


"Loe bukan adik ipar gue kalau loe pergi sekarang" ancam Davina


"Tapi ..."


"Aku pamit" ucap Panji langsung pergi


"Aku akan ikuti Panji, kamu jangan emosi juga, sekarang lebih baik tenangkan Tante Catrine


Tian menyusul Panji, ia juga kesal dengan sahabatnya itu, sampai dibuat ia menarik kerah baju Panji dari belakang, karena tubuh Panji yang kurus membuatnya seperti anak kucing yang diangkat


"Jelasin"


"Gue harus secepatnya pergi, acara Sekar satu jam lagi, sebelum semua terlambat"


"Maksud loe, loe mau ke rumah Sekar?


Ji biar Sekar bahagia dengan orang lain, loe juga kan gak cinta dia" ucap Tian kesal


"Gue gak mau kehilangan dia bro, gue...


Yang jelas dia cuma milik gue"


"Egois loe ji, loe gak cinta tapi.."


"Kayanya gue udah jatuh cinta sama gadis desa itu" ucap Panji lirih membuat cengkraman tangan Tian lepas

__ADS_1


"Serius???" Panji mengangguk mantab, tiba-tiba Tian tertawa dan menepuk punggung Panji


"Loe tunggu disini" gue ikut" ucap Sebastian berlari masuk, ia ingin memberitahu istri dan ibunda Panji jika mereka pergi ke kediaman Sekar,


Tak lama kemudian Tian keluar, ia langsung menarik Panji menuju mobil Panji


"Gue yang setir, loe duduk manis" ucap Tian


"Thanks bro" ucap Panji


"Santai, gue cuma bisa bantu sampai sini, selebihnya urusan loe sama tuhan.


Apa Sekar mau Nerima loe apa malah ngusir loe, itu urusan loe, Berjuang" ucap Tian menepuk bahu sahabatnya


"Tak butuh waktu lama, Saat mereka sampai suasana kediaman Sekar sudah ramai.


Tian mengangguk memberi semangat sahabatnya.


Panji segera turun, ia melihat Sekar berdiri dan di depannya seorang pemuda sedang membuka kotak perhiasan, Panji segera berlari


"Pernikahan ini tidak boleh terjadi" teriak Panji membuat semua mata menoleh kearahnya


"Mas pan ..Panji???" ucap Sekar lirih dengan bibir bergetar


"Siapa kamu merusak acara pertunangan Anakku??" bentak seorang pria tinggi besar dengan rahang kokoh walau di usia senjanya


"Pertunangan??" tanya Panji lirih


"Ya pertunangan, siapa yang bilang pernikahan?" tanya seorang wanita paruh baya yang ia kenal tadi pagi


"Tante Laras? Tante saya...."


"Apa kamu mau Sekar bahagia atau...."


"Saya sudah merenungi semua Tan, dan saya menyadari sesuatu bahwa saya....."


"Mama, siapa pemuda edan ini, bukanya di usir Mala kamu ajak bicara.


Pak Bambang tolong seret orang ini keluar" perintah pria itu murka


"Siapa yang mau menyeret putraku???" tanya seorang pria tak kalah berwibawa


"Cokro, buat apa kamu datang ke acara putriku??? mau mempermalukan putriku???" tanya pria itu sinis.


Gara-gara Panji hubungan persahabatan mereka rusak


"Putraku mau menikahi anakmu" ucap Cokro membuat Panji dan Sekar terkejut


"Hei berandal tua, mau sampai kapan kau bodoh, cepat !!!!" ucap Cokro kesal.


Saat diberitahu oleh istrinya, Cokro langsung mengerti sikap Panji, walau tak sopan, tapi ini masa depan putranya dan juga masa depan persahabatannya dengan orangtua sekar.


"Sekar, maafkan aku.


Aku sudah melukaimu lagi dan lagi, aku sudah membuatmu kecewa dan menangis berulang kali, tapi


Aku menyadari sesuatu.


Aku tak bisa hidup tanpamu, aku....."


Panji terlihat merona merah, apakah harus ia mengatakan mencintai Sekar di depan banyak orang begini???


"Cepet om bilang, nanti Tante Sekar keburu di godol cowok yang lebih ganteng dan keren dari om" teriak Cleo membuat Panji tersendak.

__ADS_1


Setan kecil ini selalu merusak suasana!!!!


__ADS_2