
"Om sejak kapan??? gitu aja lama bener jawabnya" cecar Davina.
"Anu.... itu...
Sayang perutku mules sebentar ya" ucap Tian ngeloyor masuk ke kamar mandi membuat Davina makin curiga pada suaminya
"Kok aku mencium bau-bau yang mencurigakan ya???
Om Tian seperti menghindar dari pertanyaan ku.
Apa yang dia sembunyikan sampai kikuk begitu di tanya?
Apa dia sudah menyukaiku sejak dulu???
Foto itu, foto waktu aku pertama masuk sekolah menengah atas, apa sejak saat itu???
Ah iya, laptop, kemana laptop dia??
aku harus mencari tahu sendiri" ucap Davina celingak celinguk mencari keberadaan laptop suaminya, senyum Davina mengembang.
Ia bergegas mendekati laptop yang tergeletak di meja
"Hehehe, apa rahasianya suamiku sayang" ucap Davin dengan senyum licik.
Ia langsung menyalahkan laptop namun rupanya terkunci
"Uhmm, menarik, kita lihat apa keahlianky masih ok atau sudha menurun" gumam Davina lalu mulai mengotak Atik laptop Sebastian.
Klik
"Binggooooo.......
Jangan panggil namaku angel of the death kalau begini saja aku gak mampu" ucap Davina menyombongkan dirinya sendiri
"Eh nanti iankeburu keluar, buat dia mendekam agak lama di dalam ah" ucap davina lirih sambil tersenyum nakal
"Sayang, masih lama gak sih????
Aku penasaran loh" teriak Davina di depan pintu kamar mandi.
Sebastian yang tadinya keluar kembali duduk di atas kloset kembali.
Ia urung keluar kamar mandi, sejak tadi ia cuma duduk dan bengong sendiri seperti orang bodoh
"Ah iya nih, aku mules" ucap Tian dari dalam kamar mandi
"Xixixi diam duduk manis kamu di dalam sana mas, sementara aku mencari rahasia mu" ucap Davina cengengesan
"Aku masuk ya???"
"Jangan sayang, bau di dalam nih" ucap Tian langsung mengunci pintu membuat Davina cekikikan tanp suara
__ADS_1
"*Dasar lugu, bisa aja kena tipu aku." ucap Davina lalu berjalan menuju sofa kembali dan dengan santai menjelajahi semua folder Tian.
Beberapa tentang pekerjaan, namun ia menemukan folder dengan nama love.
Davina penasaran dan membukanya.
Mulut Davina ternganga, di sana hanya ada foto dirinya, semua tentang dirinya sejak ia kecil,
"Astaghfirullah, apa om pedofil???
kok aku merinding dan senang ya???" gumam Davina merasa buku kuduknya merinding namun juga menyunggingkan senyum lebar
"Om menyimpan beberapa fotoku saat berubah dewasa.
Ini saat ulang tahun ke tujuh belas ku,
ini saat aku ulang tahun ke dua puluh.
What ini saat aku bangun tidur, menyebalkan, kenapa dia punya foto ini????
Kenapa dalam laptop nya tak ada foto wanita itu???
Apa karena dia sangat membenci Marsha???"
Ah lebih baik aku copy semua folder tentangku" ucap Davina lalu membuka kalungnya yang ternyata adalah flash disk dan mentransfer nya. setelah itu ia mematikan laptop Tian bertepatan dengan Tian keluar kamar mandi*
"Sa.. sayang kamu ngapain laptop aku??" tanya Tian bergegas mendekati Davina
"Owh, itu kita beli saja satu yang baru untukmu, itu tersimpan banyak hal penting mengenai pekerjaan"
"Lupakan, ngomong-ngomong sejak kapan laptop mas ada foto aku???
Itu foto ketika aku sekolah menengah Atas kan??" Tanya Davina memicingkan matanya
"Aku penggemar beratmu sayang, lupa sejak kapan.
Ayo kita tidur, atau kau mau kita olah raga???" goda Sebastian yang merasa masih mengantuk
"mesum" ucap Davina melempar suaminya dengan bantal sofa.
area intimnya saja masih terasa sakit
"Mas, apa pikiranmu hanya di ranjang saja, aku lapar mas" keluh Davina yang merasakan perutnya berdendang, energinya sudah habis terkuras semalam Samapi pagi karena Tian lagi dan lagi.
"Ya Allah maaf aku lupa, aku juga lapar" ucap Tian menepuk keningnya sendiri
"Dasar suami aneh" ucap Davina cemberut, Tian tertawa dan mengacak-acak rambut istrinya
"Jangan menggodaku sayang"
"Mas, matamu rabun apa??? aku bukan robot, aku perlu makan, dan aku sedang tidak menggoda mu.
__ADS_1
Sepertinya otakmu sudah konslet." Dengus Davina kesal
" Aku juga tak tahu sejak kapan aku seperti ini, ini semua karena kamu sayang"
"Mas bicara sekali lagi, aku masih punya tenaga untuk menendang bokong mu"
"Hahaha, ampun sayang,
aku sudah tahu princess ku lapar.
Aku sudah memesan beberapa makanan, mungkin sebentar lagi sampai, ayo kita keluar" ajak Tian lalu membopong Davina layaknya karung beras
"Sayang, kau menyebalkan,
Aku profesi sebenarnya kuli panggul??? senang sekali mengangkat orang" gerutu Davina memukul bahu suaminya
"Kau sedang sakit karena aku, jadi aku akan menggendongku sampai kau bisa berjalan.
Maaf ya sayang" ucap Tian menurunkan istrinya di meja makan dan mengecupnya
Bel pintu berbunyi, Tian segera berjalan membukakan dan tak lama kemudian dia datang dengan dua paper bag.
Aroma makanan langsung menyeruak begitu Tian membukanya.
"Sayang ini halal??" tanya Davina ragu
"Iya, aku memesan di restoran muslim kok, ayo cepat makan" Tanpa menunggu dua kali Davina langsung memakan makanan yang di pesan Tian, walau rasanya kurang pas di lidah, namun karena lapar keduanya lahap.
Setelah makan Davina memilih duduk di belakang cottage menikmati semilir angin, hingga akhirnya ia tertidur
Tian yang melihat istrinya tidur di ayunan datang membawa selimut kecil.
Ia ikut berbaring di gazebo yang berada di bibir pantai tersebut.
Tanpa terasa hari sudah sore, saat Davina terbangun matahari sudah menyingsing, menyisakan warna jingga nan indah.
"Mas, mas bangun, ini lebih indah dari sunset kemarin" ucap Davina membangunkan Sebastian
Sebastian membuka matanya malas, begitu melihat pemandangan di depannya, ia langsung terbangun
"Indah"
"Iya Subhanallah,"
"Sayang, kamu bisa berjalan ke sana??
Aku mau mengabadikan momen ini" ucap Tian.
Davina mengangguk dan berjalan pelan, ia langsung berpose, sedikit membenarkan rambutnya yang kusut karena bangun tidur
Tian layaknya fotografer terus mengambil foto istrinya dari segala sudut, ia berniat mencetak beberapa dan menaruhnya di ruang kerjanya.
__ADS_1
Walau tanpa make up dan bangun tidur, Davina terlihat cantik.