Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Macan Betina sebenarnya


__ADS_3

Davina terbangun satu jam setelah keberangkatan Sebastian, ia terkejut begitu melihat jam di kamarnya sudah menunjukkan. pukul sebelas siang yang artinya ia sudah ketiduran selama satu jam setelah pergulatan panas mereka.


Davina langsung loncat dari tempat tidur, ia berlari ke kamar mandi, mandi dan segera berpakaian.


Ia hanya menyisir rambutnya lalu mengikatnya kuncir kuda, setelah itu ia langsung menyambar tas nya dan turun ke lantai bawah


Davina khawatir Cleo akan ngambek karena dirinya sudah ingkar janji.


Ini molor tiga jam dari waktu yang ia katakan.


Sesampainya di lantai bawah, ia di sambut mbok Inem yang membawa nampan berisi sarapan paginya


"Mba Davina, mas Tian meminta saya menyiapkan sarapan untuk mba" ucap Mbok inem


"Ah mbok maaf aku buru-buru, Cleo sendirian di rumah sakit " ucap Davina hanya meneguk juice alpukat yang mbok Inem bawa


"Tapi mba....."


"Maaf mbok, aku buru-buru.


Aku jalan dulu mbok" ucap Davina bergegas mengambil kunci mobil dan langsung cabut menuju rumah sakit


"Itu, anu....


Ah sudah lah" ucap mbok Inem menatap dengan tersenyum-senyum sendiri.


"Ah dasar pengantin baru, apa mas Tian tidak bisa menyembunyikan stempel nya di tempat yang tersembunyi??" gumam mbok Inem


"Owalah mba Davina gak pake make up aja udah cantik bener, emang kalau orang cantik bangun tidur aja tetap cantik Tanpa dempul.


beda sama kita ya mbok, bangun tidur sama melek sama-sama kucel" ucap mbak Parmi asisten pembantu yang berusia lebih muda


"Hahaha iya, wong kita cuma kacung dan punya gen yang jelek hahahaha" tawa mbok Inem dan mbak Parmi pecah menertawakan diri mereka sendiri


"Semoga mereka cepat di karuniai anak" ucap mbok Inem bergumam


"Amiiiiiinnnnnn"


"Tapi denger-denger nyonya Marsya kembali mbok" ucap Parmi membuat wajah mbok inem yang senang berubah kecut


"Semoga wanita itu tak merusak kebahagiaan mas Tian dan Davina"


"Iya mbok, saya kan waktu itu baru kerja sebulan di sini waktu mas Tian dan nyonya Marsha baru menikah. Saya sudah menduga dia bukan wanita baik-baik" ucap mbak Parmi mengenang masa lalu


"Dia bukan nyonya rumah ini lagi Parmi.


Dia cuma mantan nyonya rumah, jadi kita gak perlu segan pada wanita itu.


Lagi pula wanita itu membuat aku muak.


Dia gak pantas jadi seorang ibu.


Ibu mana yang tega meninggalkan anaknya saat Bru berusia sebulan???


Hewan saja sayang pada anaknya, tapi dia lebih hina dari binatang" ucap mbok Parmi berapi-api


"Iya, maafkan saya mbok"


"Bukan salah kamu kok Parmi, hanya saja saya baru bernafas lega melihat mas Tian akhirnya bisa tersenyum lagi setelah sekian lama terlihat muram dan menutup diri"


"Kita harus membantu mempertahankan keluarga baru mas Tian mbok" ucap Parmi


"Pasti, itu pasti" ucap mbok Inem yang di angguki oleh


Parmi

__ADS_1


Sementara di jalan Raya


Davina langsung ngebut menuju lokasi, namun sebelumnya ia sudah menghubungi anak buahnya untuk membeli beberapa cemilan untuk Cleo.


Sesampainya di depan lobby rumah sakit Davina langsung turun, ia di sambut salah seorang anak buahnya, Davina menyerahkan kunci mobilnya untuk di parkiran.


di depannya sudah berdiri dua orang salah artinya adalah kepala dokter di rumah sakit miliknya dokter Meti


"Siang Bu" sapa Meti yang merupakan kepala dokter di rumah sakit milik Davina


"Siang Meti, bagaimana perkembangan anak saya?"


"Dokter Sean sudah melakukan kunjungan tadi pagi, beliau mencari ibu.


Sepertinya ada yang ingin dokter Sean katakan langsung apa anda. Kondisi Cleo berangsur membaik,


Mungkin sebulan Cleo akan bisa berjalan normal " ucap dokter Meti melaporkan. Mereka berbincang sambil berjalan masuk ke dalam rumah sakit.


"Baik" ucap Davina santai.


Kali ini ia memakai celana panjang berwarna abu dengan blues berwarna putih berkerah v, menampilkan tulang dadanya yang sexy.


Davina lebih mirip seorang foto model dengan tinggi semampai dan wajah terpahat cantik alami.


Ia tak terlihat seperti seorang bisnis women, karena guanya yang santai dan sederhana


"Kalau begitu dokter bisa kembali bertugas, terima kasih infonya dokter Meti.


Maaf merepotkan" ucap Davina berhenti sejenak


"Bukan masalah, itu sudah kewajiban saya" ucap dokter Meti sungkan


"Baik, nanti saya akan menemui dokter Sean.


Sekali lagi terima kasih dokter Meti." ucap Davina


"Baik bu, pemrisi ucap dokter Meti menunduk sopan lalu melangkahkan kaki namun tiba-tiba ia berhenti


"Bu Davina,......"


"Ya??????" tanya Davina yang melihat senyum penuh arti tersungging di bibir dokter senior itu


"Apa anda ....


Lupakan, permisi" ucap Meti merasa tak pantas mengatakan hal tersebut,, itu tak etis.


Walau Davina sangat menghormatinya, namun bagaimanapun Davin adalah atasan sekaligus pemilik rumah sakit ini.


"Ya.." ucap Davina bingung, ia menggaruk kepala ny yang tak gatal.


"Lily apa pesanan saya sudah siap??" tanya Davina beralih menatap Lily anak buahnya yang i tugaskan di rumah alit tersebut


"Sudah siap semua Bu, Ini pesanan Ibu" ucap Lily sopan menyodorkan dua paper bag ke arah Davina


"Terima kasih banyak Lily"


"Tidak masalah Bu" ucap Lilly tersenyum lebar.


Mereka lalu meneruskan jalan mereka menuju ruang perawatan Cleo.


"Ah Lily apa putriku marah karena aku belum datang-datang????" tanya Davina menoleh ke arah Lilly yang berada di belakangnya


"Nona tadi ngambek dan menoleh makan. dia terus menanyai ibu"


"Aduh, dia pasti marah sama aku"ucap Davina seolah berbicara pada dirinya sendiri

__ADS_1


"Iya Bu"


"Tuh kan, untung aku udah bawa bahan sogokan bir anak itu gak ngambek xixixi" ucap Davina terkekeh sendiri


"Sepertinya ibu akan tetap kena ambekan nona" ucap Lilly membuat langkah Davina terhenti


"Kenapa? aduh aku harus bilang apa ya???"


"Bilang saja kalau...


Kalau sedang buat adik untuk non Cleo" ucap Lilly ragu-ragu lalu tersenyum sendiri


"Kau... mau ku pindahkan ke Papua????" ancam Davina melotot membuat senyum Lily hilang


"Maa..maaf Bu" Davina melihat anak polos itu berwajah pucat.


Lily adalah rekrutan davina yang memiliki potensi, karena itulah Davina mendidiknya sendiri menjadi team elite di bawah pengawasan Agatha.


Anak itu yatim piatu yang di asuh oleh angel Devil sejak kecil. Usia Davina dan Lily hanya dua tahun saja, lebih tua Lilly, namun Lilly berbeda dari anggota yang lainnya, ia memanggil Davina ibu, alih-alih bos seperti yang lain


"Aku hanya bercanda Lily, apa yang terjadi lagi saat aku tak ada???"


"Itu ibu nya ibu datang dengan ke dua adik ibu" ucap Lily


"Apa??? mama dan adikku???" aduh mati aku" teriak Davina berjalan setengah berlari menuju ruangan Cleo.


Ia bisa di cincang abis oleh mamanya jika ketahuan menelantarkan Cleo, apa ini termasuk menelantarkan Cleo???


Dia mungkin seorang kepala perusahaan, kepala rumah sakit, kepala organisasi, namun di depan mamanya dia bukan siapa-siapa.


"Anu Bu, itu anu...." ucap lily menunjuk ke arah leher Davina,


"Nanti saja, aku sedang di ujung hukuman pancung" ucap Davina tak menghiraukan ucapan Lilly


Setelah berjalan tengah berlari lima belas menit, akhirnya Davina sampai di depan kamar perawatan anaknya, Davina terlihat sedang mengatur nafasnya yang ngos-ngosan, ia menyesal memakai high heel sehingga sulit berlari di dalam rumah sakit.


Setelah merapihkan dirinya dan mengambil nafas panjang, Davina mengetuk pintu dan masuk


Terlihat semua orang menatap ke arahnya


"Assalamu'alaikum" ucap Davina nyengir kuda


"Wa'alaikum salam"


"Eh ada mama..." ucap Davina berusaha tersenyum, ia merinding melihat mata mamanya yang melotot tajam


"Mama kemana aja sih?? aku kan kelaparan karena mama gak datang-datang" ucap Cleo dengan tatapan sedih


"Aduh nih anak kutil, sengaja apa ya tahu kalau mamaku sedang mau meledak marah, malah nambahin bensin, dasar anak kutil" gumam Davina menatap Cleo yang tersenyum penuh kemenangan


"Maaf sayang, mama tadi ada meeting dadakan" ucap Davina berjalan kearah Ayudia mencium punggung tangan mamanya lalu cipika, cipiki"


"Sayang, Oma mau ngomong sama mama mu dulu ya? kamu mun sama aunty dulu ya" ucap Ayudia berjalan keluar ruangan tersebut


Davina menatap kedua adik kembarnya meminta pertolongan


"Semangat" ucap keduanya membuat Davina ingin sekali meremas kedua adiknya


"Mama kau kejam, apa papa tahu kau mengabaikan ku????" tanya Cleo masih dengan wajah sedih


"Anak kutil, aku begini karena papamu, kalau papamu gak buas, aku gak akan kelelahan" gumam Davina hanya bisa menyimpan dalam hati, enggak mungkin kan dia memberitahu alasan sebenarnya pada Cleo


"Mama menemui Oma mu dulu ya" ucap Davina tak mau mamanya menunggu lama di luar


"Ya Allah lindungi hamba dari macan betina ini" doa Davina begitu mendekati mamanya

__ADS_1


__ADS_2