Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Pembalasan Davina


__ADS_3

Baru saja Davina sembuh dan memikirkan akan mengajak suaminya berkeliling Spanyol, kini ia harus kembali berbaring, kali ini ia sungguh tak bisa bergerak karena ulah Tian.


mereka menghabiskan malam hingga pagi hari dan setelah solat Tian kembali menuntaskan hasratnya.


Obat yang di berikan pada Tian lebih kuat di bandingkan yang dulu di berikan pada kakek dan papanya.


Davina berjanji akan membalas keusilan Angelo.


Ia menyesal melepaskan pengawasan dari apa yang di konsumsi oleh suaminya.


Keduanya akhirnya tumbang dan tertidur sampai tengah hari saat matahari sudah tinggi.


Davina membuka matanya dan melihat sebuah tangan melingkar posesif di atas tubuhnya.


Hembusan nafas beraturan menerpa wajah Davina.


Davina memandang wajah damai suaminya saat tidur.


Pria ini terlihat sangat tampan.


Alis yang tebal di lengkapi dengan dua pasang buku mata yang panjang. Rahang yang kokoh dan...


Bibir yang sedikit penuh dengan dagu yang belah membuat ketampanan Tian sulit untuk di lupakan Davina.


Davina membelai wajah Tian dan mengecup hidung mancung suaminya. Pria ini sempurna di mata Davina.


"Sayang jangan membangunkan macan yang sedang tidur, apa kau belum puas???" tanya Tian dengan udara parau khas orang bangun tidur, namun terdengar sexy bagi Davina


"Kau ingin membunuhku??? apa kau manusia???


kita sudah melakukannya sepanjang malam hingga tadi pagi" gerutu Davina memanyunkan bibirnya


"Aku tahu, maaf sayang kamu pasti sakit lagi ya??"


"Sedikit" ucap Davina memalingkan wajahnya malu


"Sedikit banyak sama sakitnya, apa kita mulai babak ke tiga nya???" goda Tian membuka matanya


"Kau...


Jika kau melakukanya lagi, aku janji kau akan puasa selama dua bulan" ancam Davina membuat Tian terkekeh


"Aku tak akan melakukanya sayang, tapi bantu aku menyalurkannya, obat sialan ini masih bekerja padaku" ucap Tian melirik ke area bawahnya


Davina melotot terkejut, ia sampai mundur dengan cepat takut suaminya langsung menyergapnya


"Aku tak akan melakukanya lagi, tapi aku butuh di salurkan, sial" maki Tian lirih.


Sebatsian langsung mengangkat istrinya membuat Davina memukul dada bidang Tian


"Mas, aku cidera lagi karena ulahnya, dan ancaman ku tidak main-main"


"Aku tahu, bantu aku saja ok, aku janji tak akan melakukanya lagi" ucap Tian dengan wajah sedih


Akhirnya mereka mandi bersama, Tian menyalurkan hasratnya di bantu Davina hingga satu jam mereka di dalam kamar mandi.


"Hatcim"


"Aku flu karena mu mas" ucap Davina kesal


"Maaf sayang,.ini bukan salahku, tapi kau marahi saja kakek buyutnya yang membuat kita begini" ucap Tian dengan wajah bersalah

__ADS_1


"Lupakan, tolong bawakan aku teh hangat saja, aku nyeri untuk berjalan"


Sebastian dengan telaten mengoleskan obat di area vital Davina lalu memakaikan pakaian Davina.


Davina hanya bisa menahan malu, walau ia dan Tian sudah menikah, namun mereka baru saja menikah, ini terasa sangat memalukan.


Sebastian turun ke lantai bawah membuatkan teh hangat untuk istrinya, namun ternyata di bawah sudah ada Ayu dan Ernest yang sedang berbincang.


"Sayang, kemana Davina?" tanya Ernest dengan senyum penuh arti


"Davina sedang demam nenek buyut, ma"


"Apa cicit ku demam???, pelayan buatkan soup ayam rempah, bawakan ke kamar nya nanti.


Ayo kita melihat Davina" ajak Ernest


Sebastian menggaruk kepalanya, untuk pakaian Davina sudah ganti, sprei juga sudah di rapihkan, namun....


Aroma kamar itu masih pekat dengan aroma ....


"Sial semoga Davina menyemprotkan pengharum ruangan" gumam Tian lirih


"Tuan muda ada yang bisa kamu bantu?" tanya seorang kepala pelayan


"Ah tolong buatkan empat teh hangat dan bawa ke kamarku, terima kasih" ucap Tian lalu berjalan menyusul mama mertuanya dan nenek buyut ya


"Astaga nona muda sangat beruntung menikah dengan pria yang sopan dan sangat tampan" pekik seorang pelayan yang tak berkedip melihat Tian


"Iya pria itu sangat tampan, sangat cocok dengan nona muda kita" timpal rekannya


"Apa kalian mau di pecat oleh Tian besar??? kembali bekerja" perintah kepala pelayan membuat kedua pelayan itu langsung bubar


"Semoga keluarga ini bahagia terus sepeti ini setelah prahara panjang, kasian tuan besar kini hanya memiliki tuan Andres seorang.


Davina sludha menduga jika mama nya akan datang ke kamar begitu suaminya mengatakan ia diam, namun kini ia melihat Ernest juga datang


"Sayang kamu kata Tian Flu??? susah minum obat belum??" Tanya Ayudia memegang kening putrinya.


"Kalian itu pengantin baru, harus bisa jaga kondisi" ucap Ernest penuh arti, Davina merengut kesal


"Sudah, mama akan meminta pelayan membawakan mu makanan" ucap Ayu langsung bangkit


"Ma, biar aku saja" ucap Tian tak enak hati Ayudia turun tangan sendiri


"Tak perlu,.lihat lingkaran hitam di bawah matamu.


Kamu juga pasti kelelahan menjaga Davina.


Dia kalau sakit manja" ucap Ayudia tersenyum.


Sebastian hanya bisa diam, tak mungkin kan ia mengatakan jika mereka berdua kelelahan akibat obat yang di berikan kakek buyut.


Davina hanya diam dan menatap Ernest penuh arti


.


"Sepertinya ada yang ingin kamu katakan sayang??"


"Melihat dari sikap nenek buyut sepertinya obat itu rencana nenek buyut" ucap Davina bersedekap dada


"Sayang, gak sopan bicara seperti itu pada beliau" tegur Tian pada istrinya.

__ADS_1


"Hahaha tak apa anak muda. Cicitku ini membawa gen keluargaku, kecerdikannya memang keluarga ku" ucap Ernest membuat Tian bingung, ia mencoba mencerna kalimat nenek tua di depannya


.


"Nenek buyut, kau tahu aku paling benci di kerjai, dan kalian sudah membuat aku dan suamiku semalaman bekerja keras hingga aku sakit"


"Hahaha maaf cicit ku sayang, kaki sesepuh ini hanya puny satu impian sebelum tuhan menyabut nyawa kali


Kami ingin melihat mu mempunyai anak.


setelah itu jika Tuhan memanggil kami, tak ada penyesalan" ucap Ernest lembut, ada nada penuh harap di sana


"Nek, tapi kami baru saja menikah, lagi pula nenek akan sehat terus sampai aku punya anak" ucap Davina memeluk Ernest erat


"Hahaha cicit ku tersayang, maafkan nenek dan kakek buyutnya ya" ucap Ernst mengelus puncak kepala cicitnya.


"Aku gak kan memaafkan sebelum aku membalas dendam


Nenek buyut harus menemaniku tidur di kamar ini" ucap Davina merengut


"Sayang, nak Tian mau di kemana kan???"


" Dia tidur di kamar ini juga, hanya nanti ku minta pelayan membawakan single bed yang di letakkan dia di sebelah tempat tidur ku"


"Sayang???....." Tian memprotes tak setuju, bagaimana ia bisa tidur jika ada Ernest DNA yang paling menyebalkan adalah ia tidak bisa memeluk istrinya., namun Davina menatapnya tajam tanda tidak mau di ganggu.


Hal yang paling tidak bisa di ganggu bagi Angelo adalah saat tidur. ia harus melihat istrinya, karena itu Ernest selalu ia bawa kemanapun ia pergi.


Namun malam ini terpaksa Angelo tidur sendiri, itu hukuman dari Davina karena berani mengerjainya


Hari berganti malam, nampak sesosok pria baya berdiri didepan pintu kamar Davina, siapa lagi jika bukan Angelo.


Davina sudah meminta suaminya untuk mengunci pintu kamar mereka, karena bisa di pastikan kakek tua itu akan kelabakan dan tidak bisa tidur dan tebakan Davina benar.


"Ernest, aku mengantuk.


Keluarlah kembali ke kamar" ucap Angelo lirih berfikir jika Davina sludha tidur, tanpa kakek tua itu ketahui, Ernest dan Davina masih asik menonton acara televisi


"Kakek apa yang kau lakukan di depan kamar Davina??? Apa kakek mah mengintip mereka???" tanya Ayudia yang keluar dari kamarnya


"Bu..bukan, aku hanya memanggil nenekmu"


"Ternyata kakek mesum mengintip pengantin baru" ucap Arjuna makin memperkeruh keadaan


"Cucu kurang ajar, sejak kapan aku jadi penjahat kelamin???"


"Jawabannya kakek sendiri yang tahu ya kan yank??" tanya Arjuna pada istrinya


"Iya, eh enggak, kamu mengatai kakek ku???" ucap Ayudia balik kesal pada suaminya


"Bukan yank, kan kakek di depan kamar Davina malam-malam, mengendap-endap bukanya mencurigakan???" ucap Arjuna


"Sekarang mending kakek istirahat, apa kakek gak malu jika cicit kakek yang lain melihat??? Sungguh contoh yang buruk.


Semoga kedua anak perjakaku tidak menuruni sifat kakek buyutnya" ucap Ayudia membuat Angelo tak bisa berkata apa-apa, sementara Arjuna senyum-Senyum sendiri.


Ia senang Angelo kena smash oleh cucunya.


Sore tadi Sebastian sudah mengatakan alasan Davina sakit dan itu semua ulah kakek tua ini.


Arjuna ikut senang melihat Angelo sengsara

__ADS_1


"Kakek, celamat tidul cendilian" ucap Arjuna dengan bahasa anak kecil terkekeh mengikuti Ayudia ke dapur


"Cucu laknut" gerutu Angelo tak berani berteriak, pasalnya Ayudia akan lebih marah nanti.


__ADS_2