Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Nenek Emilly


__ADS_3

Seorang pelayan datang membawakan pakaian ganti untuk Elliana.


Setelah membersihkan diri, pintu kamar nya di ketuk dan masuklah seorang wanita paruh baya dengan seorang wanita tua yang masih terlihat cantik di usia lanjutnya sedang duduk di kursi roda.


walau wanita itu duduk di kursi roda, namun aura penuh wibawa dan anggun terpancar , membuat Elliana terpana.


Sorot matanya yang lembut seolah membuat Elliana ingin memeluknya. wanita itu mengingatkannya pada seseorang yang membesarkannya.


"Gadis cantik, boleh kamu masuk???" tanya wanita itu lembut, sontak Elliana mengangguk dan dengan sopan mempersilakan wanita itu masuk ke dalam kamar


"Duduklah, santai saja tak usah tegang" ucap wanita tua itu tersenyum lebar


Elliana hanya mengangguk sambil tersenyum canggung


"Aku kesini hanya ingin berbincang sedikit, semoga orangtua ini tak mengganggumu gadis manis" ucap wanita itu yang masih melihat ketegangan di wajah Elliana


"Tentu saja tidak nyonya" ucap Elliana kikuk


"Emilly, panggil aku nenek Emilly" ucap wanita tua itu tersenyum lembut.


Ia menatap pelayan wanita yang bersamanya, seolah tahu pelayan itu membantu Emilly bangkit dan berjalan, duduk di samping Elliana


"Aku tahu kamu canggung.


Aku minta maaf atas situasi yang aneh ini dan kelakuan putraku yang keterlaluan.


Ah aku adalah nenek dari Gabriel" ucap Emilly memperkenalkan dirinya


"Salam kenal aku Elliana, Nyonya bisa panggil aku Elly atau Liana" ucap Elliana


"Ternyata kau gadis yang cantik dan berkarakter. pantas saja bocah nakal itu bersikukuh menjodohkan kamu dengan cucuku.


Sayangnya caranya salah" ucap Emilly menghela nafas


Mendengar pujian nenek Emilly wajah Elliana merona merah


"Anda terlalu menilai tinggi.


Aku hanya gadis biasa" ucap Elliana merendah


"Hahaha, dengar gadis kecil.


Kau bisa memanggilku nenek walau kau tak menikahi cucuku.


Sejak dulu aku ingin punya cucu perempuan.


Sayangnya anakku hanya satu dan menantuku memiliki keterbatasan, tak bisa memiliki anak lagi setelah melahirkan Gabriel.


Garis keturunanku kini tergantung pada Gabriel.


namun aku tak memaksa jika ia memilih sendiri selamanya karena kebahagian Gabby kecilku itu cukup buat wanita tua ini" ucap Emilly tersenyum


"Nenek aku...."


"Dengar gadis kecil, aku kesini bukan ingin memaksamu menikahi cucuku.

__ADS_1


aku hanya perlu teman ngobrol


bagi wanita tua ini menghabiskan waktu dengan berbincang lebih menarik" ucap Emilly mengedipkan mengedipkan sebelah matanya


"Kalau begitu jika anda berkenan saya akan menemani" ucap Elliana tersenyum


"Bagus, kau memang gadis yang baik" ucap Emilly menepuk punggung tangan Elliana


"Carmen, tolong bawakan teh dan makanan kecil ke kamar ini.


Aku mau berbicara dengan cucuku" ucap Emilly tersenyum lebar


"Nenek...." tak terasa air mata Elliana menetes. wanita tua ini menganggapnya cucunya padahal mereka baru saja bertemu, ada ketulusan dan kelembutan di wajah tua itu


"Haha mengapa kau menangis, sini biar nenek peluk" ucap Emilly. Elliana langsung memeluk Emilly dan menangis. Suara lembut, wajah penuh cinta dan tatapan lembut, semua mirip dengan mendiang neneknya yang telah wafat tiga tahun lalu.


Sejak saat itu Elliana memilih pergi dari rumah dan mencari kebebasan hingga beberapa bulan lalu ia diminta kembali saat papanya menikah, pernikahan mendadak, ia ingin tak setuju, namun ia tak punya hak melarang, karena toh ia juga tak bisa berada di papanya, Elliana sadar papanya butuh pendamping hidup untuk menemani harinya yang kesepian.


Walau tak setuju dengan wanita itu, Elliana berusaha menerima.


Namun ternyata keputusannya salah, wanita itu bukan hanya tak cocok tapi juga jahat ingin menguasai harta papanya.


Setelah beberapa saat akhirnya Elliana bisa menguasai dirinya.


Emilly mengusap air mata Elliana dengan lembut


"Aku semangat ada gadis kecil yang menangis di pelukanku" ucap Emilly membuat Elliana tersipu malu


"Maaf"ucap Elliana lirih


"Hahaha tidak sayang, aku benar-benar senang.


"Aku malu malah menyusahkan nenek dan membuat pakaian nenek basah karena air mataku"


"Tak apa, kau sangat manis" ucap nenek Emilly mengecup kening Elliana


"Nenek, terima kasih.


Aku jadi merasa memiliki nenek kembali" ucap Elliana memeluk Emilly


"Sudah ku katakan aku nenekmu juga mulai saat ini" ucap Emilly cemberut.


Keduanya langsung akrab, bahkan saat Carmen pelayan disisi nyonya tua datang dan melihat kedekatan keduanya ia tersenyum.


"Silahkan teh dan cemilannya nyonya dan nona muda"


"Terima kasih Carmen" ucap Emilly


"Elliana, beliau Carmen, asistenku sekaligus sahabatku" ucap Emilly memperkenalkan pelayan tua tersebut


"Salam kenal bibi Carmen" sapa Elliana sopan.


Carmen berbinar senang, penilaiannya tidak salah jika wanita muda di depannya adalah wanita baik.


bisa menghargai Carmen yang hanya seorang pelayan, di rumah ini hanya Gabriel, dan nyonya tua yang menganggapnya keluarga tanpa ada batasan, walau tuan Lungu dan istrinya Sonia baik, tapi mereka seolah menjaga jarak.

__ADS_1


"Dengar Carmen, bukankah dia gadis yang sangat manis???" ucap Emilly


"Anda benar Nyonya" sahut Carmen tersenyum


"Kalau begitu saya permisi, ada yang harus saya kerjakan" ucap Carmen mengangguk sopan lalu meninggalkan kamar tersebut dengan. anggun.


Ia menuju dapur untuk mempersiapkan makan siang keluarga tersebut, lebih tepatnya memastikan semua pelayan melakukan tugas yang ia perintahkan atas mandat dari Emilly.


Karen sebenarnya kekuasaan tertinggi di rumah ini adalah di tangan Nyonya tua itu.


Bahkan Lungu senior harus melihat muka nyonya tua jika ingin memutuskan sesuatu


Gabriel memilih tidur, ia meminum obat penenang karena kepalanya yang sakit.


obat dokter yang ia dapatkan di apartemen Elliana kurang efektif untuknya.


Sementara di kamar Elliana terdengar obrolan seru terkadang diselingi tawa kedua wanita beda generasi tersebut.


Sonia yang merasa bersalah berjalan menuju kamar Elliana, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara tawa dari dalam kamar Elliana.


Ia mengetuk pintu kamar Elliana dengan ragu.


pintu terbuka dengan wajah Elliana yang tadinya senyum langsung hilang begitu melihat Sonia


"Tante...." sapa Elliana ragu


"Masuklah, kau menganggu saja" gerutu Emilly dari dalam kamar yang membuat Sonia terkejut


"Mama....." Sapa Sonia begitu masuk ke dalam kamar


"Kenapa?? apa ada yang aneh??" tanya Emilly.


Sonia hanya menggeleng pelan.


"Tentu saja aneh bagaimana mama bisa akrab dengan Elliana???apa yang dilakukan wanita tua ini??" gumam Sonia dalam hati


"Duduklah, kenapa kaya patung begitu" ucap Emilly lagi membuat suasana canggung.


Dengan ragu Sonia duduk di depan Emilly yang memanggil Elliana duduk di sampingnya.


Emilly yang bisanya tegas dan kaku namun di depan Elliana terlihat lembut dan penuh kasih sayang


Sesuatu yang aneh dan langka.


"Apa kau datang hanya untuk diam???"


"Ah Elliana aku mohon maaf atas kelakuan buruk suamiku.


Aku akan merayunya agar melepaskan mu dan membiarkanmu kembali ke negaramu" ucap Sonia lirih.


ia tak bisa menutupi dari mata mertuanya.


"Jelaskan" ucap Emilly memejamkan mata.


Sonia segera menceritakan semuanya, terlihat wajah Emilly yang merah, ia beberapa kali menghela nafas dan memukul pahanya sendiri kesal

__ADS_1


"Nenek, tuan Lungu hanya salah paham" ucap Elliana yang tahu jika Emilly marah


"Ma, Mika melakukan itu karena...."


__ADS_2