
Seminggu sudah Davina di rawat, ia sudah tak sabar pulang kerumah orangtuanya, namun Ayudia menjelaskan jika ia sudah menikah dengan Tian maka Davina tidak di perbolehkan pulang ke rumah orangtuanya tanpa Tian dan anaknya, tapi jika berkunjung ayu dan Arjuna mengizinkan.
Namun jika ingin tinggal,pintu keluarga benedito tertutup untuk Davina.
Davina sejak tadi merengut, ia kesal tentang dua hal.
Satu tentang Agatha yang menunggunya sehat baru akan melaporkan penyelidikannya.
Ini semua atas perintah langsung Ayudia dan Arjuna secara pribadi pada Agatha.
Kedua orangtuanya khawatir jika hal itu akan menggangu proses penyembuhan Davina.
Tepatnya mereka takut Davina nekat keluar rumah alit seperti beberapa waktu silam saat ia menghilang telah patah tangan habis duel beladiri.
Dan kedua tentang di mana ia akan tinggal setelah pulang dari rumah sakit.
Davina mengatakan pada kedua orangtuanya jika ia akan tinggal di rumah mereka, tentu saja Arjuna dan Ayudia lngsung menolak mentah-mentah keputusan Davina, bagaimanapun Davina kini sudah menikah dan tempatnya adalah mengikuti Sebastian.
Davina merasa janggal harus tinggal dengan Tian dalam satu atap, terlebih lagi diantara mereka anak Tian yang membuat Davina bingung harus bersikap bagaimana, hatinya mengatakan jika ia menyayangi anak itu, tapi memorinya tak ada anak itu.
Davina takut bersikap yang menyakiti anak itu nantinya.
Saat Davina di rawat , Cleo terus datang menjenguknya, Cleo terus meminta maaf tentang apa yang terjadi sekaligus mengucapkan terima kasih yang tak terhingga karena Davina menyelamatkannya dan mempertaruhkan nyawanya, jika saja Davina tak menolongnya, mungkin saat ini ia hanya tinggal nama.
Cleo tak mengerti mengapa ia dalam beberapa bulan ini terus mengalami musibah seakan itu sesuatu yang di sengaja.
Jika kecelakaan sekali itu namanya murni kecelakaan. Tapi ini dalam dua bulan dua kali kecelakaan???
Apakah tak aneh???
Dan semua itu bertepatan saat mama kandungnya kembali. Cleo jadi berfikir jika Marsha mungkin ada sangkut pautnya dalam hal ini.
Walau Cleo tergolong anak kecil, tapi otaknya cerdas dalam membaca situasi.
Terlebih ia sering membaca cerita bergenre misteri.
"Apa mama Marsha ada sangkut pautnya dengan yang menimpaku ya??? sepertinya terlalu kebetulan sekali aku kecelakaan beberapa hari setelah mama Marsha pulang, lalu mama Marsha mendonorkan darahnya padaku, lalu kecelakaan kedua, mama Marsha juga ada tak jauh dari tempat kejadian, ini bukan sesuatu yang kebetulan kan???
Di samping itu entah mengapa aku tak merasa getaran aneh seperti saat aku dengan mama Davina.
Justru aku merasa tak nyaman.
Tapi aku harus menghormati dan menyayangi mama Marsha karena beliau mamaku.
Hanya saja aku terlalu malu memilikinya, dia sangat berbeda dengan mama Davina, dia iri dengki dan suka menjelek-jelekkan mama Davina.
Apa dia beneran mamaku??
Tapi dia mantan istri papa, kenapa wajahku tidak mirip dengannya ya???" gumam Cleo sibuk dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
Siang ini Marsha bersikeras untuk ikut dengan Cleo ke rumah alit, walau Cleo sudah melarangnya namun Marsha memaksa sehingga ia hanya bisa menuruti saja,
Cleo meminta mama kandungnya untuk menunggu di luar kamar, Cleo sangat tahu jika suasana akan buruk jika Marsha ikut masuk.
dengan Marsha ikut saat Davina pulang saja itu sebuah kesalahan karena terlihat jelas jika papanya terlihat tidak senang saat Cleo datang dengan Marsha.
Marsha yang di minta menunggu di luar layaknya pembantu merasa sangat geram, ia sebenarnya tidak ingin mengasuh Cleo dan mengikuti Cleo sampai rumah alit, namun demi misinya ia harus mengambil hati Cleo.
Cleo memang terlihat menerimanya, baik padanya, perhatian dan menyayangi Marsha, tapi entah mengapa Marsha merasa ada jurang pemisah kasar mata yang terbentang diantara mereka, Marsha menduga itu karena Davina.
Bagus jika Davina berpisah dengan Tian, sehingga ia bisa kembali dan untuk membuat mereka berpisah Marsha harus memercikan bumbu ketidak percayaan, kekecewaan, kesedihan dan cemburu pada Cleo.
"Sayang kami tak bisa menemanimu pulang, tapi besok kami akan mengunjungimu, adik bungsuku sedang sakit demam, tahu sendiri Dina jika sakit rewel sekali" ucap Ayudia yang datang kerumah sakit untuk melihat anaknya pulang kerumah
"Ma, aku mau pulang..."
"Enggak bisa, kamu pulang ke rumah Tian.
Sayang kamu sudah menikah, apa anggapan orang nantinya jika kalian pisah rumah??
Dengan Davina, mama gak mau kamu membatah ucapan orangtua" ucap Ayudia tegas.
Arjuna melihat anaknya terlihat bingung, ia mengelus pundak istrinya menenangkan.
"Sayang kamu bisa menginap di rumah kami tapi dengan suamimu ok??? " ucap Arjuna lembut membuat davina hanya mengangguk pelan.
"Tian, ikut aku" ucap Arjuna lalu berjalan ke arah jendela.
"Aku mohon pengertian kamu. Ingatan Davina belum pulih, bisa kan kalian berbeda kamar sampai Davina yang memutuskan sendiri untuk satu kamar???"
"Itu..."
"Aku mohon, putriku masih gamang dengan musibah yang terjadi. Sulit menerima kenyataan bahwa ia hilang ingatan" ucap Arjuna dengan nada memohon
"Baiklah"
"Terima kasih" ucap Arjuna menepuk bahu Sebastian
"Satu lagi, jauhkan wanita itu dari putriku, aku bisa melihat jika wanita itu sangat membenci putriku.
Jangan sampai kau mengabaikannya atau kau akan menyesal di kemudian hari." ucap Arjuna lalu berjalan meninggalkan Tian
Sebastian melihat Marsha yang berdiri di depan pintu menatap ke dalam ke arah Davina dan keluarganya.
Sebastian merasa kasian juga, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Istrinya lebih penting.
Akhirnya mereka kembali ke kediaman Sebastian, sebelum nya Sebastian meminta Marsha untuk pulang dulu karena dengan alasan Davina sedang butuh istirahat. Sehingga hanya mereka bertiga yang kembali ke rumah tersebut.
Sebastian sudah mempersiapkan kamar di samping kamarnya.
__ADS_1
Saat Davina masuk ke rumah sakit, Sebastian langsung merenovasi kamarnya, ia memindahkan kamar Cleo di kamar tamu yang paling besar yang letaknya dua kamar dari kamarnya.
Kini kamar Davina yang di persiapkan untuk anak mereka nanti di alih fungsikan menjadi kamar Davina sementara.
Untuk Sebastian sudah mengambil alih kamar Cleo dan membiarkan pintu penghubung itu, sehingga ia bisa diam-diam masuk ke kamar Davina nanti.
Dua hari sudah Davina di rumah, setiap malam Sebastian mencuri peluk dan tidur di kamar Davina Davina sudah terlelap tidur dan akan buru-buru bangun saat menjelang sholat subuh.
Sebastian sangat hapal kebiasaan Davina, ia akan tertidur pulas tanpa terbangun hingga waktu sholat subuh.
Davina kini sudah terbangun dan duduk di tempat tidurnya, ia mengendus-endus bantal serta pakaiannya, ia sedang berfikir keras.
"Seingat ku aku gak pakai parfum ini, tapi kok menempel di baju dan bantal ku ya??
Selimutku juga" gumam Davina seperti orang bingung
"Sayang sholat subuh dulu kok malah bengong??" sapa Sebastian dari arah pintu penghubung
"Ah iya" ucap Davina merapihkan rambutnya, suaminya terlihat sangat tampan dan berwibawa dengan pakaian Koko dan sarung.
Sudah dua hari sejak di rumah ini merek sholat berjamaah,
"kok di ajak ngomong malah bengong aja sih sayang???"
"Eh iiiya sebentar" ucap Davina gelagapan, ia langsung menuju kamar mandi dan berwudhu mereka lalu sholat subuh berjamaah
Siang harinya Agatha, Lily dan Shandy datang, ia membawa semua dokumen hasil penyelidikannya
"Apa kerja kalian sudah tak becus??
Aku sedang sakit kalian jadi berleha-leha???
Mendapatkan bukti saja gak bisa??
Apa kalian tak malu menyandang nama Devin angel hah???" bentar Davina menggebrak meja dengan tangan kanannya yang tak cidera.
Cleo yang melihat itu terkejut, ia tak pernah melihat namanya begitu marah.
"Bukan begitu, dia sangat ahli.
Kamu sudah mencoba menciptakan bukti tapi...."
"Cukup, siapkan rencana dan ciptakan bukti itu.
Dia sudah mencelakai putriku dua kali, dan aku juga cidera parah .
Jika tidak di tindak segera, aku khawatir wanita itu makin jadi"
"Kita butuh pancingan agar dia sendiri yang keluar" ucap Agatha mengusulkan
__ADS_1
"Aku gak mau ambil resiko memakai Cleo, pakai Marsha memancing orang itu keluar" ucap Davina lirih memujiku keningnya yang berdenyut.
"Pakai aku, aku bersedia menjadi objek nya" ucapan seorang membuat Davina dan ketiga anak buahnya terkejut dan memandang ke arah suara tersebut