Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Cara Membangunkan Macam


__ADS_3

"Apaaaa???" teriak Tian membuat Davina terbangun.


Ia mengatakan itu bukan untuk Menggagalkan acara Sekar, tapi membuat Panji sadar.


apa Tian salah langkah????


"Kamu apa-apaan sih yank, kesurupan?? laper??? atau Davina menutup tubuhnya dengan selimut berpikir Tian akan melakukan sesuatu padanya


"Begini nih, kalau tidurnya kebanyakan miring, aku kan lagi di telpon Panji"


"Mana aku tahu" jawab Davina sambil mengangkat bahunya cuek lalu kembali tiduran lagi, tapi beberapa detik kemudian ia dengan cepat terduduk kembali


"Apaaaa??? Panji manusia nyebelin itu????, mana, mana sini yank" teriak Davina sambil berusaha merebut ponsel suaminya


"Sayang ingat kamu lagi hamil muda, jangan pecicilan gitu" ucap Tian khawatir akan kandungan istrinya


"Ish mas, sini cepat ponsel kamu, aku mau bicara sama penjol"


"Mau ngapain, dia udah aku marahin tadi" ucap Sebastian berharap amarahnya tidak meluap-luap


"Kamu kan temannya, mana mungkin marahin dia, udah cepetan kasih ke aku" Ucap Davina kesal.


Sementara di ujung telepon Panji terus saja berbicara tanpa tahu orang yang diajak bicara sedang berebut ponsel dengan istrinya


"Gak baik marah sama Panji, nanti kalau...."


"Udah deh sini kasih, Mas mau aku usir dari kamar???" tanya Davina dengan nada datar tapi penuh ancaman


"Iya, tapi janji jangan emosi, itu gak baik buat anak kita"


"Iya, iya bawel bener kamu, sebelas dua belas sama.papa, huh dasar cowok comel* gerutu Davina merampas ponsel suaminya, di ujung telepon Panji sedang memanggil -manggil nama Tian, tentu saja Panji tak tahu jika Tian menyalahkan mode mute di ponselnya


"sebastian Chou, sohib macam apa loe di ajak ngomong diem aja, gue dari tadi ngoceh loe denger gak??? Sue bener gue ngoceh dari tadi kaya tukang obat loe malah kacangin" gerutu Panji di ujung telepon


"Panji ceking, sini loe gue patahin tulang kering loe sama tulang lunak loe" ucap Davina berapi-api


"Alamaaaakk, tolooooong, kakak ipar ampun, jangan kejam-kejam, ini Set kakak ipar, masa tega sama adek mu yang tampan ini????"


"Loe bikin gue dan anak gue kesel tahu" ucap Davina berdalih anak dalam kandungannya juga kesal dengan Panji


"Kakak ipar, tarik nafas, terus buang perlahan, jangan emosi ya??? nanti ponakan gue mirip ....."


"Enggaaaaaaakkk" potong Davina tak ingin mendengar kalimat selanjutnya dari Panji


"Kakak ipar, ini adek mu yang ganteng sedang on the way menyelamatkan Sekar"


"Maksud loe?"


"Panji lagi pulang kampung kakak ipar, ini Panji masih di jalan sendirian makanya nelpon Tian buat nemenin hehehe"


"Dasar sinting, loe kira laki gue chat line, sono telepon Oscar yang jomblo, biar para kaum jomblo berkumpul" cibir Davina masih dongkol


"Eh ngapain loe pulang kampung????"

__ADS_1


"Mau gagalkan pernikahan Sekar, udah dulu ya kakak ipar, bye bye" ucap Panji langsung memutuskan panggilan teleponnya


"Panjiiii, api penjol, jalen, ah nih anak nyebelin banget" teriak Davina kesal karena Panji mengakhiri panggilan teleponnya


"Udah sayang jangan di telepon, dia lagi di jalan bahaya" ucap Tian membuat Davina langsung mengurungkan Niatnya


"Mas, dia mau gagalkan pernikahan, siapa yang mau nikah?????"


"Itu, Sebenarnya aku bilangnya Sekar nikahan yank"


"Bagus" ucap Davina memberi jempol pada suaminya


"Tapi nanti kalau dia rusuh gimana???" tanya Tian tak enak hati pada ayahanda Panji karena membocorkan pertunangan Sekar


"Biar rusuh dan Sekar gak jadi tunangan.


Aku pengen banget ya dia jadi adik iparku, kalau Panji gak mau bir ku kasih sama Daffi"


"Sayang, Sekar bukan barang, dia cinta matinya sama Panji" Davina menghela nafas kesal, ia tak habis pikir dari sudut mana Panji menarik, ya walau wajah Panji tampan tapi pria itu super menyebalkan sejak mereka kenal, jadi ketampanan Panji tak di hitung oleh Davina.


Walau begitu Davina sangat sayang dengan Panji, buktinya walau bibirnya bilang sebal, ia sering menitipkan makanan untuk Panji atau menyuruh Tian menyuruh pria itu kerumah dan memasakkan makanan favorit untuk Panji


Mungkin ini lah yang di katakan tom and Jerry sesungguhnya


"Ah semoga saja Panji sadar dan kembali ke asalnya"


"Panji masih hidup"


"Maksud aku setelan otak nya yank, kembali ke setelan pabrik, belum Soak" ucap Davina cekikikan sendiri, sementra sebastian hanya menggelengkan kepala.


"Bagaimana kalau kita susul Panji??? ah tapi kamu sedang hamil" ucap Tian menepuk dahinya, lupa jika istrinya sedang hamil muda


"Ide bagus, sebentar" ucap Davina langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Agatha


"*Tante sayang, udah bobo ya???


"Uhmmm" Suara Agatha menggumam, sepertinya memang sudah tidur


"Siapkan pesawat pribadiku, aku mau ke Jogja malam ini juga"


"Apaaaaaa????" hei gadis kecil, kau pikir menyiapkan pesawat seperti kau mint permen??


come on keponakan ku yng cantik, ini sudah jam dua dini hari, kau ......." Agatha kehilangan kata-kata


"Aku akan memberikanmu tiket bulan madu pulang pergi plus akomodasi buat Tante ku sayang dan om Willy bulan madu ke dua, bagaimana??? Hem???"


Sunyi diujung telepon, sepertinya Agatha sedang menimbang tawaran Davina.


Ia memang sedang mesra-mesranya dengan Willy, namun kemesraan mereka kadang terganggu oleh Zidan yang seperti tak mau memberi kesempatan mereka berdua, Karena Zidan tak mau mamanya hamil lagi, ia terlalu malu memiliki adik saat usianya sudah menginjak sekolah menengah atas


"Hallo, masih ada orang di sana???" tanya Davina karena kesal Agatha masih diam seperti orang ketiduran


"Deal, pegang ucapan mu, honeymoon PP dan destinasinya sesuai yang gue mau???"

__ADS_1


"Iye ah bawel, lagian gue bosen punya sepupu satu doang , biar Zidan ada saingannya kan seru tuh"


"Akur, loe emang ponakan gue yang paling caem"


"Baru sadar, kemarin kemana aja???" Dengus Davina sebal.


"Satu jam, gak pake lebih, siapkan semua.


Gue mau dalam dua jam ke depan gue udah terbang"


"Ah loe ngeselin bener"


"Jadi...."


"Iyaaaaa, ya Allah gini amat punya bos sekaligus ponakan macam loe, untung cuma satu DNA gue sayang" gerutu Agatha langsung memutuskan panggilan teleponnya*


"Ah nyebelin banget, gue paling benci nelpon di matiin duluan" ucap Davina lalu menghubungi Agatha kembali


"*Apa lagi????" teriak Agatha di ujung telepon


"Bye" ucap Davina memutuskan panggilan teleponnya, Sebastian di buat melongo heran sekaligus merasa aneh dengan tingkah laku istrinya yang tergolong*.....


"Yuhuuuu beres, cepet mas masukin baju-baju aku , sekalian pakaian Cleo.


Aku mau bobo lagi, baby dalam perut aku minta bobo" ucap Davina menarikan selimut dan tidur


"Tian ingin protes, bisa-bisanya istrinya beralasan yang tak masuk akal, dasar Davina, suka-suka dia aja lah, yang penting gak macam-macam.


Sebastian mulai merapihkan pakaian dan memasukkan kedalam koper, begitu juga pakaian Cleo, anak itu terbangun karena merasa terganggu karena Tian menyalahkan lampu kamarnya


"Papa???? Cleo kira maling tapi kok ngambilin pakaian Cleo" ucap Cleo mengucek matanya yang sayu karena mengantuk


"Papa rapihkan pakaian kamu, malam ini kita kerumah eyang Kakung"


"Eyang Kakung???" Cleo berpikir sejenak, kakek Baskoro, kakek Adhi, kakek sepuh Angelo, kakek dari mamanya, tapi ia tak ingat eyang kaku siapa???


"Eyang Kakung , papanya om Panji, yang sering telepon tuh"


"Ah eyang blangkon???" Ayo pa, Cleo mau" ucap gadis kecil itu langsung loncat dari te.pat tidurnya, membantu Sebastian mengemas pakaiannya, ia langsung berpakaian rapih dan. menyeret kopernya keluar kamar.


Sementra sebastian sedang berusaha membangunkan Davina yang tak juga bangun walau sudah Tian goncang-goncang tubuhnya


"Perasaan papa dari kamar Cleo udah empat puluh menit lalu bilang mau bangunin mama, kok belum bangun pa???"


"Mama. mu susah di bangunin"


"Serahin sama Cleo pa" ucap Cleo tersenyum penuh arti


"Ya Allah kecoaaaaa" teriak Cleo nyaring, Davina langsung melek dan beringsut duduk, ia melihat ke kanan ke kiri mencari keberadaan Kecoa, namun bukan kecoa yang dia dapat, tawa renyah Cleo dan Tian yang terdengar


"Hahaha tuh kan bangun pa, jago kan aku" ucap Cleo bangga


"Cleooooo" teriak Davina geram, Cleo segera lari kebelakang papanya

__ADS_1


"Cleo kabur dulu pa, macam papa udah bangun hahahaha" tawa Cleo sambil berlari kecil menyeret travel bag nya


"Kamu macan kecil" Dengus Davina yang mendengar putrinya meledeknya dengan sebutan macan


__ADS_2