Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Ratu Racun Mengamuk


__ADS_3

Lilly merobohkan Denis dan seroang pria di dekatnya.


"**** kemana Dona???"


"Dia berlari ke dalam, kau anggap Dona dan aku yang bereskan ini semua" ucap Daffa.


Karena posisi mereka tak menguntungkan, Daffa mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. sebuah miniatur tawon terbuat dari besi.


lalu menekan arlojinya.


semua remote control digital terwujud.


tawon mini itu terbang.


ia mengoperasikan sebuah robot tawon yang di lengkapi oleh senjata rahasia.


seperti tawon pada umumnya, di pantat tawon tersebut ada racun yang bahkan bisa merobohkan seekor gajah hingga kaku tak bisa bergerak.


Daffa dengan lintah menerbangkan robot mini itu, menghindar dari hujan peluru panas.


hingga ia berputar dan mencari timing yang pas saat musuh lengah dan


Cleeeebbbb


Seorang pria yang di duga bersama Miller.


Kini tinggal Denis yang terus mengumpat dan membrondong senjata ke arah persembunyian Denis dan Shandy.


Cleeeebbbb


Robot tawon berhasil.menancapkan bokongnya di hidung Denis.


seketika hidung Denis bengkak besar dan ia kaku.


hanya suara makian yang masih terdengar dari mulutnya.


sementara tubuhnya tak biasa ia gerakan.


"Bagaimana???"


"Mantab, aku harus meminta Davina membeli beberapa dari mu.


Ini lebih keren saat urgent" ucap Shandy mengacungi jempol ke arah Daffi.


"Akan ku pikirkan saat aku mau menjualnya nanti.


saat ini, robot-robot ini hanya milik Daff tec solution"


"Dasar kedengkut" ejek Shandy lalu keduanya tertawa, entah apa yang lucu menurut mereka.


Lilly hanya menggeleng melihat kelakuan dua pria aneh didepannya.


Sementara sebelah tangannya sedang menarik seorang wanita yang tak lain adalah Dona.


Namun rambut wanita itu terlihat sangat berantakan, entah apa yang Lilly lakukan padanya.


Sepertinya Lilly memilih tak menggunakan racun, ia mematahkan tangan Dona yang terlihat agak bengkok


"Kau???...."


"Ini tak sebanding dengan apa yang sudah ia lakukan pada keluargaku.


aku ingin sekali merusak wajah menjijikan wanita ini" ucap Lilly menendang Dona


"Sebaiknya loe amanin deh si Dona, mokad dia di tangan si ratu racun" bisik Shandy pada Daffa


"Sis, ayo kita bawa dua orang ini, sisanya biarkan team militer yang mengurus


"Biar gue yang urus si ular beracun itu"


"Udah nanti kalau dia kiot kena semprot sama mak-mak galak di balik layar sana" ucap Daffa mengingatkan.


siapa lagi jika bukan Davina.

__ADS_1


Davina yang mendengar itu langsung kesal dan mengomel


"kakak gak ada akhlak, siapa yang galak??? aku enggak ya" ucap Davina tak terima


"Enggak salah lagi" sahut semua orang serentak membuat Davina tersendak


"Bonus kalian di potong.


sial bos sendiri kalian bully" ucap Davina melempar ear phone nya


masih terdengar tawa mereka semua puas sudah berhasil mengerjai Davina.


"Sialan lepaskan aku" teriak Denis dan juga tiga pria yang tadi sedang berbincang


"Boleh gak gue bungkam mereka??" tanya Lilly dengan wajah penuh harap dan tersenyum.


Daffa dan Shandy justru merinding melihat Lilly sepeti itu.


mereka yakin ke empatnya pasti akan jadi bahan pelampiasan kekesalan Lilly.


"Lilly jangan aneh-aneh" ucap Davina memperingatkan


"Tenang sis, sedikit racun tak akan membuat mereka mati.


keempat pria di depan Lilly menyeringai ngeri


mereka kini baru menyadari.


lebih baik sedari tadi mereka diam saja.


wanita berparas ayu itu kini membuka wig nya dan wajah Lilly yang asli sudah terlihat jelas.


Denis melotot tak percaya, begitu juga Dona.


"Elly???"


"Kalian mengenaliku???


Sayangnya aku tidak sebaik Elly.


ya, itung-itung sedikit rasa yang adik dan papaku rasakan" ucap Lilly mengedipkan sebelah matanya


Lilly menendang Denis dengan kekuatan penuh, Shandy yang memegangi Denis saja sampai terpental


Kreeeekkk,


Tulang kaki Denis patah.


Dona gemetaran ketakutan, ia masih merasakan sakit di pergelangan tangannya yang patah.


membayangkan bagian tubuh lainya patah, Dona mulai menangis memohon pada Lilly


"Elly, ah bukan nona, maaf kan saya.


Saya hanya mengikuti perintah Denis.


Dia otak nya pembuat rencana,dan...


pria itu ya dia... dia adalah eksekutornya.


Denis sialan, bukan kah dia anak buah mu yang kau suruh...."


Bughhh


"Hhueeekkk" Dona muntah darah karena di tendang Lilly hingga membentur meja kaca di belakangnya.


Kiki punggungnya terasa sakit yang teramat menyiksa.


Beberapa pecahan kaca menancap di punggung Dona.


kemudian ia pingsan


"Sudah puas??? sampai dia mati jika kau menuruti emosimu, kau tak akan puas Sis" ucap Daffa meminta Bruno membantunya mengangkat Dona

__ADS_1


"Dia..... ****** itu sudah menghancurkan keluargaku" ucap Lilly penuh kebencian


"Jika dia mati kau di penjara.


Apakah setimpal???


Tangan dan punggungnya cidera parah, ini sudah cukup sis. Percaya padaku.


jangan membuat kesalahan" ucap Daffa lirih menatap Lilly.


Lilly langsung jatuh terduduk dengan mata berlinang air mata. semua orang mengerti kondisi Lilly oleh karena itu saat Lilly menghajar Denis dan Dona tak ada yang melerai.


Daffa memeriksa luka Dona.


bukan ia membela Dona, hanya saja mereka di negara orang, dan akan berat hukuman Lilly jika main hakim sendiri. luka yang Dona dapat akan di kategorikan proses penangkapan.


tapi jika berlebihan, polisi akan curiga.


Daffa menghentikan pendarahan.


tak lam beberapa speed mendekat, Davina, rose dan jendral militer datang.


mereka tersenyum puas melihat bahwa misi mereka berhasil dengan sempurna.


"Hallo apa kabar tuan Miler.


sepertinya anda akan menjalani pengadilan militer yang membuat anda di copot dari jabatan anda" ucap sang jendral membuat semua orang menatap Miller.


sementara Miller terdengar mengigit giginya kencang.


Ia menyesal membantu Denis jika akhirnya masa depan,jantan dan keluarganya di pertaruhkan!!!


Jika saja ia tak membantu, mungkin ia tak terjamah oleh siapapun karena Miller tak pernah turun tangan langsung


"Sial kau" ucap Miller menendang Denis penuh kemarahan.


"Bawa tuan Miller ke tempat yang nyaman" ucap jenderal dengan senyum mengejek


"Dia?????"


"Seorang atasan yang semena-mena dan tahun ini sedang di proses menjadi menteri pertahanan.


beruntung kejadian ini terungkap.


aku pastikan karir nya hancur dan ia akan di adili dan di copot dari jabatannya" ucap sang jendral tersenyum puas


"Apa anda punya dendam pribadi???" tanya Davina penasaran


"Sepuluh tahun lalu, seornag perwira di bawah asuhan ku terbunuh. namun setelah oleh tempat kejadian perkara, perwira itu di nyatakan bunuh diri


padahal tepat malam sebelum kejadian perwira itu menelpon ku, mengatakan rahasia tentang Miller dan akan menemui ku keesokan harinya.


namun bukan orang yang ku temui malah berita kematiannya yang menyambut ku dan tuduhan jika aku pembunuhnya.


Aku menjadi terdakwa, namun pada akhirnya aku di bebaskan karena tidak terbukti.


bekas kejadian itu membuat anak dan istriku hilang, mereka mengancam menggunakan anak dan istriku, hingga kini aku tak tahu keberadaan mereka"


"Apa anda butuh bantuan ku.


aku punya lebih dari cukup mencari informasi itu" ucap Davina merasa prihatin


"Jika anda tak keberatan nona Davina, please"


"Baiklah, tapi tak gratis kau harus mentraktir ku makan wafel"


"Haha deal" ucap jendral tua itu berkaca-kaca.


Pandangan mereka teralih pada Dona dan Denis yang kondisinya menyedihkan, babak belur.


Davina menatap Lilly sambil menaikan sebelah alisnya


"Sis???"

__ADS_1


"Hany asedikit pelajaran" ucap Lilly menggaruk kepalanya.


Sementara Rose langsung mengobati luka Dona, ia menjahit punggung Dona yang terkena pecahan kaca dengan luka menganga lebar.


__ADS_2