
Sinar matahari yang terik tak mengurangi semangat Davina untuk bermain permainan pantai,
Davina sedikit kesal pada suaminya, kini ia berpakaian kaos dan celana training, membuat Davina tak nyaman karena pakaian di tubuhnya terasa berat saat terkena air.
Bukan tak mau Davina memaki pakaian renang atau sejenisnya, namun kemarin saat mereka berbelanja pakaian renang, semua pakaian yang Davina pilih di tolak mentah-mentah dengan alasan seribu satu, namun Davina memiliki akal cerdik.
ia sengaja menurut, namun begitu ia basah kuyup, ia akan ke toilet DNA mengganti pakaian yang sudah ia beli, tepatnya ia beli secara online.
Sebastian memang suaminya tapi ia bukan orang yang tahu aturan, jika seperti ini bukanlah ia justru terlihat kampungan dan norak.
Davina sungguh kesal pada suaminya itu.
Sementra tampilan Davina mengenaskan, Sebastian justru tampil sangat cool membuat banyak wanita yang tak berkedip menatapnya.
Jika mencolok mata orang di perbolehkan, Davina tak tahu berapa banyak mata para wanita yang ia colok.
Davina merasa ini tak adil.
"Sayang kamu mau kemana?" tanya Tian yang melihat istrinya memeras bajunya yang basah kuyup.
Celana training dan kaos lengan panjang, Istrinya terlihat seperti pelajar sekolah menengah pertama yang berolah raga, bedanya a berolah raga di pantai.
Walau terlihat tak cocok, namun itu lebih baik daripada Davina harus menjadi konsumsi mata-mata luar pria yang berada di sepanjang pantai.
"Bukan urusanmu" ucap Davina terus berjalan menuju toilet
"Sayang, kok ketus gitu??emangnya udahan main airnya???"
"Kamu mau aku tenggelam karena keberatan pakaian???? Kau pikir aku badut???" gerutu Davina kesal. Ia memilih tak berbicara dengan Tian sejak mereka keluar dari cottage
"Ih kamu ya lucu, mana ada tenggelam karena keberatan baju"
"Ih kamu lucu mana ada tenggelam karena keberatan baju, Ada lah, buktinya aku!!!!" Dengus Davina sambil mengulang ucapan suaminya sambil manyun-manyun membuat Tian tertawa, namun Davin makin kesal di buatnya
"Jangan ketawa, jelek tahu" ucap Davina langsung masuk ke dalam toilet, Davina bertolak pinggang dan mengomel dalam bahasa spanyol, ia sungguh kesal sampai keubun-ubun dengan suaminya.
Davina sengaja di dalam sambil mengeringkan rambut, satu jam ia belum juga keluar membuat Sebastian khawatir, ponsel Davina berbunyi.
Panggilan masuk dari Sebastian
" Huh rasakan, aku buat kau berkarat di depan toilet karena menungguku.
Siapa suruh bikin mood aku buruk" gumam Davina hanya melirik ke ponselnya tanpa niat untuk mengangkatnya
Empat kali panggilan telepon Sebastian tak diangkat, Davina malah asik memandangi ponselnya sambil memakan keripik yang ia bawa dalam tasnya
__ADS_1
"Kuat berapa lama kamu mas???" cibir Davina membuatkan ponselnya terus berdering dalam mode silent.
sampai lima belas panggilan Davina baru mengangkatny
"Hallo assalamu'alaikum" sapa Davina dengan suara tertahan, seolah-olah ia sedang buang air besar
"Sayang, kenapa lama sekali sih??" tanya Tian khawatir
"Aku lagi pul sayang, "
"Ih jorok, kamu makan apa sih??? aku belikan makan ya sekalian obat sakit perut untuk kamu.
Kamu tunggu di tempat tadi. Aku sudah meminta orang menjaga barang kit di sana
"Iya" ucap davina langsung mematikan ponselnya.
Sepuluh menit kemudian Davina keluar dengan rok panjang dengan belahan tinggi berwarna kuning bermotif bunga dan atasan Sabrina yang sama dengan bawahannya dipadu dengan topi pantai berwarna coklat.
Davina terlihat fresh, cantik dan enerjik.
Ia langsung menjadi pusat perhatian, berjalan santai menuju gazebo yang mereka sewa sebelumnya.
Beberapa pasang mata ria terfokus menatap Davina lekat, bahkan ada yang terang-terangan mengajaknya berkenalan. Davina hany menanggapi sekedar sopan santun, i tak berminat mengenal mereka.
Bagi Davina hanya Tian pria di hatinya.
Namun tidak begitu bagi Tian, melihat istrinya tertawa dan berbincang dengan pria asing, Sebastian dibakar api cemburu.
Ia tak lagi memperdulikan perutnya yang lapar, Tian langsung meletakkan makanan yang ia beli begitu saja, lalu mendekati istrinya, bersikap posesif, langsung melingkarkan tangannya di pinggang langsing istrinya
"Astaghfirullah, sayang, bikin kaget aja" ucap Davina terkejut dengan perlakuan Tian.
Begitu pula lawan bicara Davina mengerut kan alisnya menatap kedatangan Tian
"Hai kenalkan suami Davina" ucap Tian dalam bahasa Inggris
"Oh hei" ucap Pria itu terlihat kikuk
Davina ingin tertawa melihat suaminya yang posesif sekali, namun ia pura-pura tenang walau dalam hati Davina berbunga-bunga, ia tahu Sebastian sedang cemburu.
"Sorry kami harus pergi" ucap Tian langsung menggandeng istrinya tanpa menunggu Pria tersebut menjawab, Davina hany bisa mengucapkan permintaan maaf dan berjalan mengikuti langkah Tian yang lebar
"Sayang, aku tak lihat kau bawa pakaian ini" ucap Tian menatap istrinya, namun sebelum Davina menjawab, Tian lngsung membopong istriny seperti karung beras, ia terlihat tak suka
__ADS_1
"Mas lepasin, ini tempat umum, apa kau tidak tahu malu" teriak Davina dengan wajah merona merah,
Para pengunjung pantai justru memberikan tepuk tangan dan sorak Sorai pada mereka.
Tian mengangkat tangannya sambil tersenyum
Dengan bangganya ia mengatakan jika mereka sepasang pengantin baru sehingga membuat Davina lebih memilih tak meronta dan menyembunyikan wajahnya di bahu suaminya
"Kau memalukan mas"
"Kau membuatku melakukan ini sayang.
Pakaianmu terlalu sexy, dan aku tak suka kakimu yang jenjang di nikmati oleh orang lain.
Apa kau lupa?? kau milikku seutuhnya.
Karena kau sudah menggodaku dengan pakaianmu, maka terima hukuman mu" ucap sebastian langsung membawa Davina ke mobil mereka.
Mobil yang mereka sewa memiliki kaca yang tak terlihat dari luar.
Tian meletakkan istrinya di kursi sebelahnya, lalu ia segera masuk ke dalam mobil,
"Mas apa-apa...." belum sempat Davina memprotes, mulut Tian sudah membungkamnya, ia ******* dengan rakus bibir istrinya, lalu menarik pakaian Davina hingga turun kebawah, menyedot dengan rakus dua gunung kembar Davina membuat Davina terpekik , Davina mengigit bibirnya agar tak mendesah
"Mas kita masih di parkiran, kau jangan gila"
"Kau membuatku gila sayang" ucap Tian kembali ******* bibir istrinya
"Mas, kita di mobil, banyak orang yang lalu lalang" cap Davina lirih, malah terdengar seperti rintihan
"Kaca mobil ini hanya bisa dilihat dari dalam, dari luar orang tak bisa melihat apapun" ucap Tian mengangkat tubuh mungil istrinya lalu memangku nya.Ia dengan leluasa melucuti pakaian Davina.
"Mas pleasee...." ucap Davina parau, bohong jika apa yang di lakukan Tian tidak membuatnya terangsang
"Duduk manis kita kan menyelesaikan di rumah, apa kau mau tetap di pantai??" tanya Tian menggoda.
Davina dengan kesal memukul Tian, dengan pakaian yang sobek???
Tian hanya menyindirnya.
Sesampainya di cottage, Tian membungkus tubuh Davina dengan kemejanya dan membawa istrinya dalam gendongannya, sesampainya di dalam rumah, Tian langsung membuka penutup Davina dan menuntaskan yang tak tertunda.
Seluruh sudut ruangan jadi saksi bisu percintaan mereka.
Davina menyesal sudah membuat Tian cemburu, kini ia berakhir dengan tubuh yang kelelahan akibat hukuman nakal Tian
__ADS_1