Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Masalah Baru


__ADS_3

Panji masih ngomel-ngomel sendiri karena di kerjai oleh Tian, terlebih lagi ia kesal karena Tian memakai kimono tidur yang di berikan mantan terindahnya.


Ia saja sayang untuk memakainya tapi Tian?......


Panji segera mengantri pakaiannya dengan celana pendek dan kaos, ia segera menyusul Tian menuju dapur, kebetulan ia juga lapar karena di cafe tadi ia jaim sebab mereka jadi pusat perhatian para perempuan cantik.


Davina mengintip dari balik pintu melihat Panji yang ngomel-ngomel sambil menuruni tangga


"Kenapa tuh anak kadal ngomel-ngomel??


pasti karena mas Tian ganggu dia.


Kasian Panji selalu di tindas mas Tian" ucap Davina menggeleng kepala.


Setelah makan empat potong martabak Davina sangat kenyang, sekarang ia sangat haus.


Tapi kini Tian di dapur, Davina malah melihat suaminya karena masih kesal.


Tapi jika gak ke dapur ia kehausan.


Dengan malas Davina membawa martabak yang Tian bawa keluar dari kamarnya menuju dapur.


Tercium aroma mie rebus yang menggoda Indra penciuman Davina, perutnya entah mengapa perutnya yang tadi terasa penuh kini memanggil minta diisi mie rebus.


"Eh kakak ipar, mau mie rebus juga?" tanya Panji melihat Davina datang


"Nih untuk kamu" ucap Davin menyodorkan martabak telor pada Panji


"Ya Allah emang kakak ipar doang yang super baik, gak Kya itu tuh" ucap Panji memanyunkan mulutnya kea arah Tian


"Sayang kamu mau mie?? aku masukkan ya?? tanya Tian


"Enggak, mau ini aja" ucap Davin mengangkat mie rebus yang masih baru selesai di masak Tian.


Sebastian menatap tak rela mie nya di gondok istrinya


"Aku masakan aja ya???"


"Jadi gak boleh ini???" tanya Davina mendelik ke arah Tian


"Boleh, boleh, apa sih yang gak boleh buat istriku tercinta" ucap Tian merayu


"Huh" Davina memakan mie tanpa perduli tatapan sedih Tian. Mie ini special dia buat dengan banyak topping ia masukkan.


Bakso, beef slice, sosis, telor dan super pedes


Sebastian menelan saliva nya melihat Davina makan dengan lahap mie rebus buatannya.


Ia sangat lapar karena sejak ia keluar tadi, Tian hanya meminum kopi, lambungnya sudah bergejolak perih dan cacing dalam perutnya sudah berdendang ramai.


Sementra Panji tertawa geli melihat ekspresi Tian.


Panji melahap martabak telor dari Davina dengan senyum puas, mungkin ia akan sulit membalas Tian, tapi melalui Davina Tian mendapat pelajaran berharga


"Napa loe senyam-senyum kaya orang gelo??" tanya Tian sewot


"Kenapa marahin Panji?? dia senyum karena martabaknya enak"


"Sini martabak gue" ucap Tian menarik martabak di tangan Panji


"Mau borok sikut apa????? kamu beliin aku gak ikhlas ya????"


"Ikhlas yank, ikhlas" ucap Tian


"Kalau udah di kasih ke aku, terserah aku mau kasihan siapa, kasian Panji kan sekali-kali makan enak" ucap Davina membuat Panji tersendak.

__ADS_1


Tian tertawa terkekeh


"Iya juga sih, ksian Panji gak pernah makan enak" sindir Tian membuat Panji kesal.


Davina membelanya tapi menjatuhkannya di saat bersamaan.


Apa dia terlihat sangat mengenaskan dan tak pernah makan enak sehingga Davina harus berkata begitu?????


"Kakak ipar, aku bukan orang yang sengsara kali kak, aku juga sering makan enak" protes Panji lirih


"Eh maksudnya, usaha makan, jangan hiraukan Tian.


Kasih tahu kalau dia macam-macam sama kamu"


"Siap kakak ipar, love you" ucap Panji membuat Tian melotot dan memiting Panji


"Apa loe lope-lopean sama bini gue???"


"Jiah gitu ja cemburu, gue bilang sayaaaaang kakak ipar yang baik" ucap Panji membuat Tian makin kencang memiting Panji


"Mas Tiaaan, lepasin Panji" ucap Davina bertolak pinggang


"Ya Allah, yang suami kamu mas apa Panji sih sayang???" ucap Tian melepas pitingan nya dengan tidak ikhlas


"Kakak ipar, suamimu mengancam ku" adu Panji memanasi Davina


"Sayang????" cepat sini suapi aku" ucap Davina.


Tian dengan patuh mendekati Davina.


Panji sampai mengabadikan momen tersebut, diam-diam Panji merekam kejadian itu dan mengirimkan pada Gabby dan Oscar


Di apartemen Gabby dan Oscar tertawa terbahak-bahak melihat Sebastian di tindas istrinya dan menjadi anak yang patuh.


Setelah mie rebus Panji matang, ia segera pergi dari dapur, matanya nya perih melihat dua pasutri yang saling suap-suapan, dia jadi iri ingin suap-suapan juga, tapi dengan siapa??????


"Ke kamar , mending gue menyingkir daripada nafsu makan gue ilang"


"Hahaha, bilang kalau iri bos???


Makannya cepet cari cewek yang bener terus nikahin biar bisa suap-suapan ya kan sayang??" tanya Tian menatap penuh cinta pada Davina.


Mulut Davina yang penuh hanya mengangguk setuju dengan ucapan suaminya


"Sayang aku sudah kenyang" ucap Davina menggeleng saat Tian mau menyuapinya lagi


"Udah habis ya kenyang lah" cibir Tian melihat di mangkuknya tingg dua suapan lagi


"Terus???"


"Enggak, enggak, mas mau masak mie lagi" ucap Tian bangkit lalu mulai memakai mie rebus untuknya sendiri.


Davina memangku tangannya di meja makan, tapi lama kelamaan matanya berat dan akhirnya ia tertidur karena kekenyangan.


Saat Tian selesai masak, istrinya sudah pulas tertidur dengan kepala di meja makan, Sebastian tersenyum lebar melihat betapa imutnya istrinya.


Sebastian urung memakan mie nya, ia menggendong istrinya ala bridal menuju kamar mereka.


Aroma vanilla samar tercium di tubuh istrinya membuat Tian ingin menciumnya tapi ia takut Davina mengamuk dan kembali mengusirnya dari kamar.


Tian merebahkan tubuh istrinya di kasur, lalu ia ikut naik dan memeluk Davina hingga akhirnya mereka berdua tertidur.


Adzan subuh berkumandang, Sebastian terbangun, Tian segera membangunkan istri dan anaknya untuk sholat. Walau Cleo masih kecil, Tian membiasakan putrinya untuk bangun subuh dan sholat.


Setelah keduanya bangun, mereka sholat berjamaah.

__ADS_1


Cleo kembali ke kamarnya untuk meneruskan Tidur, begitu juga Davina hendak naik ke atas tempat tidur karena masih mengantuk.


"Sayang, mau kemana???"


"Tidur lagi lah, emang di kasur mah kemana lagi??" ucap Davina lalu memeluk guling ya


"Olah raga yuk??"


"Aku ngantuk sayang"


"Ya udah sayang diem aja nanti juga bangun" ucap Tian langsung menciumi Davina


"Sayang katanya mau olah raga??"


"Ini aku mau olah raga, lagi pemanasan" ucap Tian langsung menyerbu bibir istrinya, Tian sudah menahan sejak semalam, mereka lalu melakukan olah raga ranjang hingga pagi menjelang,


akhirnya mereka tumbang dan terbangun siang, mereka tak mendengar saat Cleo mengetuk pintu kamar mereka hingga akhirnya Cleo sarapan pagi sendiri dengan wajah di tekuk.


Matahari hampir berada tepat di atas kepala saat kedua pasutri baru itu terbangun.


Tian merasa perutnya melintir sakit, ia sampai keringat dingin


"Sayang kamu kenapa??" tanya Davina yang terbangun dan melihat Tian meringis kesakitan


"Maaf aku kambuh yank"


"Kita ke dokter ya???


"Enggak usah,makan terus istirahat juga hilang nanti sakitnya" ucap Tian mencoba menenangkan davina


"Kita ke rumah sakit, tak ada bantahan" ucap Davina segera bergegas ke kamar mandi untuk mandi.


Karena pengalaman Tian suka membuat cap kepemilikan kali ini Davina memperhatikan lehernya, semua aman.


Davina segera membawa suaminya ke rumah alit miliknya.


Setelah di periksa akhirnya Tian di perbolehkan pulang


"Tuh kan apa aku bilang, g perlu di rawat kan??" protes Tian


"Tapi kan aku khawatir yank"


"Iya, iya maaf ya buat kamu khawatir, sekarang kita pulang ya?" ucap Tian tersenyum senang istrinya perhatian, mereka lalu berjalan bergandengan tangan


"Hai mas Tian ya???" sapa seorang wanita yang berpapasan dengan mereka


"Siapa mas??" tanya Davina memicingkan sebelah matanya


Tian terdiam dan berusaha mengingat siapa wanita di depannya


"Aku Melia mas, yang kemarin di cafe kita nongkrong" ucap wanita itu penuh semangat.


Pasalnya Sebastian yang paling cool diantara mereka berempat, Sebastian terlihat berwibawa dan sangat tampan tentunya membuat Melia sulit melupakan wajahnya


"Jadi?????....."


Davina menatap tajam suaminya, rupanya kecurigaannya terbukti


"Mba jangan salah paham" ucap Melia tersenyum lebar namun bagi Davina itu terlihat senyum menggoda suaminya.


Davina segera melepaskan genggaman tangan Tian dan pergi


"Sayang, aku bisa jelaskan"ucap Tian menyusul istrinya,


"Sorry ya mas" teriak Melia, namun Tian hanya menoleh dan mengejar Davina yang menjauh

__ADS_1


"Hadeh baru juga damai, masa iya berantem lagi sih??" gerutu Tian berjalan cepat mendekati istrinya


__ADS_2