Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Rahasia Sang Pelayan


__ADS_3

Gabby bisa melihat wajah kesal Nicholas, namun pelayan itu tak berdaya. walaupun begitu pelayan tua itu menyunggingkan senyum penuh kepalsuan.


Gabby bisa melihat dimata pria tua itu, ada kebencian yang dalam pada Elly.


Sepertinya pengkhianatan pria itu memiliki motif, bukan hanya karena Dona, tapi ada hal yang tak sesederhana terlihat.


masalah pria itu berhubungan dengan Dona mungkin hanya bonus dari perjanjian kerjasama mereka.


Hubungan saling menguntungkan.


Gabby merasa sangat jijik mengingat adegan semalam. dan Ia yakin pria itu habis mengulangnya lagi pagi ini, terlihat jelas bekas lipstik dan kiss Mark di leher pelayan tua itu.


Gabby mengangguk lalu menyusul istrinya yang sudah berjalan terlebih dahulu dari dirinya


"Baik nona muda" ucap Nicholas namun Elly sudah berjalan menjauh sebelum kepala pelayan itu menyelesaikan kalimatnya.


"Sepertinya aku harus meminta bantuan Shandy untuk menyelidikinya, aku ingin tahu apa yang melatar belakangi perbuatan pria tua itu.


Sebagai kepala pelayan , Nicholas pasti sudah bekerja selama puluh-puluh tahun, harusnya ia adalah orang yang paling setia di sisi tuanya, karena sudah hidup berdampingan sejak lama, namun.....


Kebencian yang terpancar di mata pria itu sangat mendalam."Gumam Gabriel termenung


"Sayang, kita sudah sampai di depan kamar papa, ayo kita temui papa" ucap Elly membuat Gabriel tersadar dari lamunannya.


melihat wajah ceria Elly, Gabby merasa bahagia.


"Aku tak akan membiarkan siapapun membuatmu terluka lagi sayang, aku tak ingin senyum indah itu hilang dari wajahmu.


Aku akan melindunginya, walau nyawa taruhannya" ucap Gabby berjalan bergandengan tangan masuk ke dalam kamar Bernard.


"Apa kau kesal Nick??" tanya seorang wanita dengan suara menggoda


Dona tahu-tahu sudah berdiri di belakang Nicholas hanya menggunakan kimono tidur untuk menutupi tubuh nya tanpa pakaian dalam.


Nichola mendengus kesal.


Wanita di belakangan itu seperti siluman saja, tiba-tiba muncul dan tak tahu malu hanya memakai kimono tidur yang tipis membuat lekuk tubuhnya terbayang


"Apa kau ingin menggodaku untuk memuaskan mu???


atau kau ingin pria bodoh itu datang?"


"Come on Nicholas, kau mengambil jatah lebih banyak dari Denis, jangan merajuk.


aku lebih suka bermain denganmu.


kau begitu perkasa dan... ahhh


apa kita bisa mengulang kembali??" goda Dona menjilati bibirnya sendiri sambil meremas dua bukit kembar miliknya.


"Kendalikan dirimu.


Atau kita bisa hancur.


Aku akan membuat perhitungan denganmu setelah menyelesaikan tugasku.


akan ku buat kau tak bisa bangun dari kasur" ucap Nicholas menatap buas tubuh Dona


"Aku nantikan Nicholas. sebagian tubuhku sudah merindukanmu lagi" ucap Dona berbisik sambil menjilat kuping Bernard.


kembali Bernard mundur untuk menjaga jarak.


"Apa kau masih kesal dengan Elliana???"


"Sangat, gadis itu sangat menyebalkan, persis seperti mamanya" gumam Nicholas mengepalkan tangan kanannya


"Nicholas sayang, sepertinya rencana kita harus segera di lakukan, jangan menunda lagi.


Obat itu sepertinya sudah bekerja dengan baik.


Pria tua itu sudah tak mampu bangkit dari tempat tidurnya, tandanya reaksi obatnya bekerja dengan baik.

__ADS_1


Dengar Nick, aku tak ingin di sentuh lagi oleh pria sakit-sakitan itu, aku jijik" ucap Dona menempelkan tubuhnya di punggung Nicholas


Nicholas mundur dua langkah, kini mansion ini kedatangan tiga orang asing, ia takut mereka melihat kelakuannya dan Dona


"Nyonya muda, jaga sikap anda" ucap Nicholas membuat Dona tertawa terkekeh


"Dengar pria perkasa ku.


jalankan segera rencananya, aku tak mau menunggu terlalu lama lagi.


Tambahkan dosisnya ,kirim Bernard menemui raja neraka"


"Akan ku lakukan segera"


"Ah satu lagi, bereskan gadis itu jika menganggu rencana kita" ucap Dona lalu berjalan melenggak-lenggok kembali ke kamarnya


"Jangan lupa Nicholas, lakukan yang bersih, jangan meninggalkan bukti apapun, jika harus membereskan gadis nakal itu buatan sealami mungkin"ucap Dona lalu menutup pintu kamarnya.


Di dalam kamar Dona tiba-tiba teringat dengan Gabriel.


"Ah sial pria itu sangat sexy, sayang sekali ia bersama Elly.


mengapa tubuhku rasanya panas mengingat pergulatan nya dengan Elly, ah **** aku terangs*ang" maki Dona kemudian membuka kimono nya, naik ke tempat tidur dan mulai melakukan pelampiasan sendiri hingga pada akhirnya ****** ***** keluar.


tubuh Dona menegang dengan nafas turun naik.


"Aku harus merasakan pria itu, harus.


aku muak harus dengan pria tua itu, jika bukan karena ingin mendapat sekutu dari dalam, aku tak sudi tubuh molek ku di jamah olehnya, ya walau di bandingkan Denis senjata pria tua itu lebih besar, kekal dan bisa memuaskan ku, tapi aku ingin pria berotot seperti kekasih Elly" ucap Dona lalu mengangkat interkom, meminta seseorang merapihkan kamar nya dan membawakannya makan.


Ia ingin berendam di dalam bath tube lalu setelah itu tidur.


Sementara Di Kamar Bernard


"Pagi Papa sayang" sapa Elly berlari kecil menghampiri papanya. Gabby tersenyum melihatnya, istrinya terlihat menggemaskan. ternyata Elly yang galak, ketus dan mandiri memiliki sisi manjanya dengan papanya. ia terlihat seperti gadis kecil yang manja pada papanya


"Putri kesayangan papa, kau terlihat angkat cantik pagi ini"


"Papa, apa sebelumnya aku tak cantik??" ucap Elly memanyunkan bibirnya kesal


Bernard pernah khawatir putrinya akan sulit move on, karena kepergian Elly tempo hari di sebabkan karena hubungan cintanya dengan Ferdian berakhir.


Pria yang ia pacari lebih dari lima tahun sejak ia masih sekolah hingga selesai.


Namun Elly mengatakan jika ingin mandiri dan berdiri sendiri dengan kemampuannya tanpa campur tangan Bernard, Bernard hanya bisa menuruti keinginan putrinya, ia tak bisa melarangnya, Bernard hanya tahu jika Elly butuh menenangkan diri untuk mengobati lukanya.


"Bagaimana kondisi papa Lilly?" tanya Elly pada saudarinya


"Kondisi Tuan Sudja lebih baik nona" ucap Lilly sopan.Elly langsung tersadar jika di dalam ruangan tersebut ada orang Denis, perawat bernama Patricia


"Pat tolong buatkan juice mangga, tadi papaku mengatakan ingin juice mangga" ucap Elly tiba-tiba


"Baik nona, akan saya minta pelayan membawakan"


"Pat, kau perawat papa, apakah hal sekecil ini kau harus meminta orang lain melakukan???"


"Elly papa...."


"Pa, cukup bersikap baik.


Pat hanya perawat seperti halnya lilit tapi ia lebih terlihat seperti seorang bodyguard daripada pelayan.


Apa seperti itu kerjamu???


Aku akan meminta paman Denis untuk memecatmu!!!!"


"Maaf nona, saya akan kerjakan.


permisi" ucap Patricia terlihat tak senang, ia langsung berjalan cepat keluar dari ruangan tersebut


Lilly langsung memberi kode pada Daffi untuk meretas kamera di ruangan tersebut dan menantang kan keadaan di dalam ruangan dari screen sebelumnya yang di ukang-ulang, seolah ornag yang di dalam ruangan hanya duduk diam tanpa melakukan hal yang aneh

__ADS_1


"Pa, Lilly sebenarnya adalah saudariku"


"Bagaimana mungkin???" pekik Bernard menatap tak percaya


"Papa sudah menemui Lilly dua hari yang lalu, dia lah yang datang lebih awal dan bukan aku" ucap Elly membuat Bernard menatap Lilly dengan air mata menetes.


"Kamu sudah melakukan test DNA pada kita bertiga, dan hasilnya sembilan puluh sembilan akurat.


Lilly adalah anak yang di bawa asisten mama saat melarikan diri dari pembunuhan saat aku masih baru lahir.


Bernard mengangguk dan menghapus air matanya, mata nya berbinar senang.


Ia memiliki seorang putri lain, ya putrinya yang ia kira sudah mati.


Gadis itu kini di dekatnya.


Bernard jadi teringat saat ia bersalaman dengan Lilly, tangan gadis itu sangat kasar, tangan seorang yang melewati kerasnya hidup, bahkan tangannya saja tak sekadar milik Lilly.


Bernard merasa bersalah tak berusaha mencari putrinya itu.


"Maafkan papa, papa tak tahu kamu masih hidup.


Papa akan menyayangimu dan melindunginya mulai sekarang hingga papa menutup mata" ucap Bernard memeluk Lilly, putrinya yang hilang.


keduanya melepaskan kerinduan. Elly ikut memeluk Lilly dan papanya.


kini mereka bertiga kembali berkumpul, tak ada yang lebih membahagiakan dari pada keluarga.


"Papa gak perlu minta maaf, ini semua bukan salah papa. ini alasan ornag yang memiliki hati dengki.


Kita harus membalaskan ini semua pa.


Dan sakit yang papa derita adalah ulah Denis" ucap Lilly


Apaaaaa??? apa kau bisa mempertanggung jawabkan perkataan mu nak???" tanya Bernard berharap itu tak benar.


"Kami bisa pa, karena itu lah perjumpaan kami bermula. jika bukan karena Bert mungkin takbir kelam keluarga kita tak akan terungkap.


Bert berkorban banyak, ia mengumpulkan bukti sampai Denis mencelakainya.


beruntung bos dari saudariku yang menyelamatkan Lilly dan mencari kebenaran"


"Aku berutang banyak pada Bert, anak malang itu ...


papa menyayangi Bert sepeti papa menyayangi kamu Elly. Papa akan mengucapkan terima kasih langsung pada bos mu nanti"


"Aku akan mempertemukan ya dengan papa jika saatnya tepat nanti"


"Kondisi papa yang menurun karena Denis menaruh sebuah senyawa yang menjadi racun,


papa di racun dengan perlahan semua dalam rencana Denis" ucap Lilly


" Lilly yang ahli racun sudah membuat penawarnya dan mengeluarkan sebagain racun nya.


Tapi bukan berati tubuh papa sudah bersih dari racun" tambah Elly


"Tenang saja, aku akan membuat penawar yang bisa memulihkan stamina papa sekaligus mendetok racun itu dengan bantuan akupuntur yang ku pelajari, racunnya akan secara bertahap hilang"


"Terima kasih anakku, papa bangga dengan kalian.


kalian putri papa yang cerdas dan luar biasa" kembali ketiganya berpelukan.


"Denis sialan, anak kurang ajar.


kebaikan di balas kejahatan, sungguh papa menyesal mempercayainya" geram Bernard merasa terpukul.


putra angkat yang ia didik sejak kecil menusuknya dari belakang


"Bajingan, papa ingin membunuhnya" teriak Bernard murka


"Tenang pa, kita sendang mengumpulkan bukti.

__ADS_1


yang lebih penting adalah membuat mereka lengah, menyusup ke dalam rencana mereka untuk kemudian menghancurkannya" ucap Lilly dengan wajah penuh kemarahan.


"Papa setuju, papa akan mengikuti rencana kalian berdua."


__ADS_2