
sudah lima kali Agatha menguap saat meeting bulanan mereka, Davina sengaja datang untuk memantau perkembangan perusahaan sekaligus mematangkan rencana mereka agar tak ada kesalahan sekecil apapun.
"meeting hari ini selesai, jangan lupa kalian perhatikan yang saya harus bawahi, kedepannya saya tak mau lagi mendengar adanya kesalahan seperti itu" ucap Davina berwibawa, menutup meeting bulanan global
"Baik bos" jawab semua karyawan serentak, meeting berakhir.
Davina bangkit diikuti Agatha meninggalkan ruang meeting, baru disusul satu persatu karyawannya.
Davina duduk di sofa kesayangan nya sambil menyeruput ice lemon tea, sehabis memikirkan yang rumit rasanya segar sekali meminum lemon tea.
Namun lagi dan lagi ia melihat Agatha menguap, aura positif yang sedang Davina bangun buyar, ia jadi kesal
"Apa kau semalam menjadi satpam???
Tutup mulutmu saat menguap, seperti buaya lapar saja" ucap Davina kesal
"Apa buaya lapar seperti itu?? apa kau pernah melihatnya?" tanya Agatha polos
"Buka google" ucap Davina kesal
"Mau buat apa??"
"Buat searching kenapa orang mendadak bodoh" ucap davina kesal bukan main.
Sementara Lily tertawa tertahan.
Ia sudah di tarik kembali dari rumah sakit kini bekerja dengan Davina sebagai asisten pribadinya.
"Lily kenapa loe ketawa, sial gue gak ngerti" bisik Agatha lirih
"*Bos lagi ngomongin or kak" ucap Lily setengah berbisik
"Whaaatttt*????"
"Kenapa loe teriak-teriak dasar error" ucap Davina melotot ke arah Agatha
"Gak kenapa-nap sih, ucap Agatha sambil mengusap lehernya yang hari ini memakai pakaian dengan leher tinggi
"Astaghfirullah tanteeeeeee" teriak Davina terkejut
"Hehehe" tawa Agatha seperti orang bodoh
"Lily tolong tinggalkan kami"perintah Davina, Lily langsung meninggalkan ruangan tersebut dengan raut wajah bingung
"Apa mereka akan bertengkar ya??" gumam Lilly menoleh kearah kedua bos nya itu
Tapi di luar dugaan, berselang sepuluh menit terdengar tawa kencang keduanya, entah apa yang mereka bicarakan, dasar bos aneh.
"Apa seperti itu kelakuan orang kaya???? sulit di mengerti" gumam Lily sambil memakan cemilannya di balik meja kerja nya
Sementara di dalam ruang kerja Davina
"Beneran??? astaga kalian tidak tahu malu" ucap Davina terkekeh dengan wajah merah malu sendiri
"Beneran, dia sampai nagih beberapa kali.
Aku ikuti nasihat nenek buyut, kau harus mencobanya"
"Enggak, aku gak mau"
"Astaga itu buat kau juga" ucap Agatha tak mengerti kenapa Davina tak mau mengikuti arahan Ernest
"Kau gila, yang ada aku bisa tak bisa jalan kalau mengikuti saran nenek buyut.
__ADS_1
Tak perlu seperti itu saja aku sudah kewalahan" gerutu Davina
"Apa Tian perkasa??"
"Kau ngomong apa? memalukan" ucap Davina membuang muka malu
"Hahaha dari wajahmu aku tahu, kalian kejar setoran kan??? ya aku jadi sangsi jika kau itu amnesia" ucap Agtha cekikikan
"Bosan hidup, aku memang amnesia"
"Lalu kok bisa...." ucap Agatha tersenyum jahil dengan jari tangan di rapatkan lalu ia adu kanan kiri
"Dia suamiku ok??? sudah kewajiban ku"
"Tapi kau suka kan??" goda Agatha makin jahil
"Ya, ya puas???"
"Hahaha, cepat buatkan aku keponakan lagi, ingat kembar empat"
"Kau pikir aku kucing punya anak sekali empat, kenapa kau saja yang tidak kejar setoran??? Zidan sudah besar waktunya kau punya anak lagi" jawab Davina sewot
"Kalian kan keluarga kembar, aku juga ingin tapi dua saja", ucap Agatha memegang perutnya yang masih rata
"Ehmmm apa om Willy ganas??" tanya Davina
"Emmm, sampai begadang aku semalaman"
"Owh jadi itu alasan kenapa kau nguap terus macam buaya lapar ya???" Agatha hanya nyengir kuda yang menandakan ucapan Davina benar adanya.
"Apa jamu itu berkhasiat??"
"Banget, coba sana, nanti beritahu aku hasilnya" goda Agatha Yangs emang melihat wajah merona malu-malu Davina.
"Bagaimana persiapannya???"
"Suamiku??? ah baiklah" ucap Davina, lirikan Agatha mengisyaratkan sesuatu, namun Davina tak menangkap itu.
Agatha hanya tak ingin mengatakan sesuatu saat ini karena belum pasti apa yang ia peroleh info valid atau bukan
"Baiklah aku mau pulang, Cleo menantuku di rumah"
"Cleo atau papanya???"
"Cleo, aku pulang" ucap Davina tak mau mendengar ucapan Agatha
"Jangan lupa minum jamu nya dan praktekan"
"aku pulang" ucap dvIna menutup pintu ruangannya sambil ngedumel.
Lily hanya diam mengikuti Davina sampai lobby kantor
"Kau handle seperti biasa, besok aku percayakan keselamatan putriku padamu"
"Aku siap mempertaruhkan nyawaku untuk Bu Davina dan kelurga" ucap Lilly penuh keyakinan
"Lily bukan kah sudah ku katakan jangan memanggilku ibu, aku belum tua.
panggil aku kakak saja" ucap Davina kesal karena lagi DNA lagi Lilly memanggilnya seperti wanita tua saja
"Ba..baik Miss " ucap Lilly membuat Davina menggeleng
"Terserah kau saja" ucap Davina langsung masuk mobil dan melakukan kendaraannya pulang ke rumah.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Davina langsung mandi dan duduk di balkon kamarnya karena Sebastian belum pulang kantor, sementara Cleo sedang di rumah orangtua Davina karena Arjuna menjemputnya.
Davina memandang cangkir berisi jamu yang ia buat beberapa hari lalu dengan dengan Agatha, ia tertawa kecil memikirkan cerita Agatha, Ada rasa penasaran juga keengganan secara bersamaan
"Assalamu'alaikum sayang aku pulang" teriak Sebastian memasuki kamar mereka
"Wa'alaikum salam" balas Davina mencium punggung tangan suaminya
"Mas mandi dulu sana, biar aku siapkan pakaiannya"
"Sayang bisa tolong buatkan aku es tea, badanku rasanya lelah"
"Siap bos"
Setengah jam kemudian Sebastian sudah selesai mandi dan berpakaian, ia menghampiri istrinya yang sedang duduk santai di balkon
"Tumben bengong di sini, eh minuman apa nih?? kunyit asam ya?" tanya sebastian langsung meraih cangkir dari rapet Davina dan meneguknya.
Tentu saja Davina sangat terkejut hingga matanya melotot, sepersekian detik kemudian Davina langsung merebut jamu dari tangan Tian dan meneguknya habis karena gugup.
Bagaimana bisa Tian minum jamu sari rapet, apa berbahaya baginya?????
"Bodoh kenapa juga gak langsung aku singkirkan, terminum Tian kan, gimana nih???"
"Ih pelit bener di habiskan , aku kan Bru satu teguk.
Yank perasaanku jamunya kok rasanya aneh sedikit ya ada bau-bau aneh, seperti yang bisa nenek-nenek pakai " ucap sebastian langsung berlari ke wastafel dan berkumur
"Tentu saja ini obat rapet mas, apa yang mau kamu rapatkan?" ucap Davina tertawa dalam hati
"Kamu kenapa cengar-cengir gitu??, aku merasa janggal deh" ucap Tian dengan mata menyelidik
"Perasaan kamu aja, udah ah aku mau santai" ucap Davina mengalihkan pembicaraan
"Sayang, kamu mengapa pakaianmu terbuka begitu" ucap Tian lalu tiba-tiba membopong istrinya dan meletakkannya di kasur, pakaian Davina justru tersingkap tinggi membuat Sebastian malah di bakar gairah, ia langsung ******* bibir istrinya
"Sayang sebentar lagi makan malam"
"Aku ingin memakan kamu saja" ucap Tian parau, mereka akhirnya melakukan olah raga sore hari, namun Tian beberapa kali memuji ada yang berbeda dan terasa lebih nikmat sehingga mereka melakukan lagi dan lagi hingga Davina kelelahan dan mereka melewatkan malam malam mereka.
Keesokan paginya , tidak bisa di katakan pagi juga karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan.
Davina tak mampu turun dari kasur, seluruh persendian tubuhnya serasa lepas.
Sebastian akhirnya tertidur saat jam menunjukkan pukul dua dini.
Lingkar hitam menghias wajah Davina, ia kurang tidur dan kelelahan. Tapi hari ini adalah eksekusi rencana mereka. Davina meminta di buatkan teh hangat lalu sarapan yang kesiangan bersama Tian, sementara Cleo langsung ke lokasi dengan Agatha.
Ponsel Davina bergetar, panggilan dari Agatha
"Astaga davinaaaaa, kenapa belum muncul juga???" teriak Agatha dari ujung telepon membuat mata mengantuk Davina lngsung hilang
"On the way" ucap Davina langsung menutup panggilan, ia tak mau mendengar ocehan Agatha.
"Mas kita sarapan di mobil, mereka sudah di lokasi" ucap Davina menarik Tian yang sedang asik memakan sandwich nya,
"Aku lapar"
"Salah sendiri kau membuat kita bergadang" ucap Davin sewot
"Ah sayang, aku merasa ada yang sedikit berbeda di sana. Apa....."
"Habiskan makananmu" ucap Davina menjejalkan sandwich ke mulut Tian.
__ADS_1
Mood nya rusak pagi ini.
Ini semua gara-gara Agatha!!!!!