
Agatha sudah menunggu hampir dua jam lebih di ruang keluarga, ia sampai pusing mendengar Ernest bercerita. Siapa lagi bahan ceritanya jika bukan suaminya.
Tepatnya bukan pusing karena tak suka, tapi Agatha iri
Bagaiman kakek tua itu sangat mesra pada istrinya, sementara suaminya sendiri seperti kulkas dua pintu, dingin, dan kaku.
"Anak cantik nenek buyut dengar kau juga punya problem dengan si Willy ya, kau mau nenek beri tips agar suami kaku mu itu bertekuk lutut padamu???.
Kita wanita harus sedikit memiliki power, ya walau suami pemimpin dan kita patuh padanya.
Intinya selama tak melawan suami itu sah sah saja, apa kau mau???" tanya Ernest yang bisa melihat ekspresi Agatha senang sekaligus malu.
"Mau nek eh" Agatha malu sendiri karena terlihat antusias dan membuat Ernest tertawa kecil
"Tak perlu sungkan, kau juga cucu ku, sini aku bisikin" ucap Ernest lalu kedua wanita beda generasi itu berbicara sangat pelan, terkadang terdengar tawa kecil Agatha dan anggukan Agatha tanda mengerti dengan apa yang di sampaikan oleh Ernest.
Lalu berganti dengan wajah malu-malu Agatha, lalu terkadang tawa Ernest pecah, membuat Davina yang sedang berjalan ke arah mereka mengerutkan keningnya penasaran
"Sedang apa mereka??? sepertinya membicarakan yang penting, apa? apa mereka sedang membicarakan ku??? apa mereka tahu jika aku dan mas Tian......
Arggghhh ini semua gara-gara mas Tian, aku jadi sulit berjalan seperti ini" gerutu Davina merasa sedikit tak nyaman pada **** *************.
namun ia juga bahagia menjadi wanita seutuhnya.
Davina tak bisa menolak suaminya, ingatannya mungkin saja hilang, tapi statusnya tetap istri Tian yang sah, sehingga ia memiliki kewajiban melayani suaminya.
Lagi pula Davina menikmatinya karena Tian memperlakukannya sangat lembut hingga membuatnya melayang ke langit ke tujuh.
Membayangkan hal itu wajah Davina merona merah,
"Nenek buyut, Tante Agatha sedang apa kalian???" tanya Davina membuat keduanya terkejut, bahkan Agatha saking konsentrasinya mendengar ajaran Ernest sampai terlonjak kaget
"Astaghfirullah davinaaaaa" pekiknya sambil memegangi dadanya
"Ih kaget ya?"
"Enggak cuma mau copot jantungku, ngapain sih mengendap-endap" gerutu Agatha takut Davina mendengar pembicaraan antara Ernest dan dirinya.
Tadi Agatha sedikit curhat tentang rumah tangganya.
Ernest memberikan masukan dan nasihat yang membuat Agatha bersemangat.
Ya terkadang kita perlu mendengarkan nasihat dan masukan dari orang yang lebih berpengalaman dalam rumah tangga seperti nenek buyut.
mereka sudah menikah lebih dari lima puluh tahun, dan rumah tangga mereka hingga kini tetap langgeng, harmonis dan terlihat romantis.
Siapa sih yang tak iri melihat mereka, kita pasti juga akan penasaran apa rahasia mereka?
"Ngapain sih, kaya ngomongin rahasia aja" ucap Davina penuh selidik ke arah keduanya
"Mau tahu aja ya kan nenek buyut?" potong Agatha yang di balas anggukan kecil ernest
"Iya, rahasia dong" timpal Ernest lalu keduanya tertawa membuat Davina memanyunkan bibirnya sebal
__ADS_1
"Nenek buyut, aku cicit mu masa pake rahasia segala???" gerutu Davina kesal
"Kamu tak perlu tahu karena nenek buyut yakin kamu bisa menaklukkan Tian." goda Ernest
"Nenek buyut apa sih" Davina merona merah, ya pertarungan session kedua terjadi karena ulah ornagtua ini.
"Ngomong masalah ini kenapa nenek memberiku obat...."
"Obat???" tanya Agatha menatap Ernest dan Davina.
Davina menutup mulutnya, Tante sekaligus sahabatnya ini bermulut ember, bisa-bisa ia akan di bully karena hal ini
"Bagaimana??? apa suamimu kuat???" goda Ernest yang langsung membuat Agatha bisa menebak kalimat terpotong Davina.
"Jadi apa dia yang menguasai Tian nek??"
"Bisa di katakan dia yang memimpin" ucap Ernest membuat Agatha tertawa lepas
"Auuunggggg, meweeoooong"
" Tanteeeeeee" teriak Davina dengan wajah merah karena malu
"Nenek apa ada yang pernah mengatakan padamu kau menyebalkan" ucap Davina cemberut
"Tapi suka kan??? women on top dong???" goda Agatha membuat Davina menimpuk Agatha dengan banyak kursi. Jika tak ada nenek buyutnya Davina sudah menghajar Agatha. namun Davina tak bisa.
Ernest sangat tidak menyukai anak yang kurang ajar, Agatha dalam urutan keluarga adalah tantenya, sehingga Davina harus menghormati Agatha.
"Nenek aku lelah, nenek membuatku bergadang"
"Bocah nakal, ini tonik untuk mengembalikan tenagamu yang terkuras" ucap Ernest, Davina menatap mata tua itu, nenek buyutnya tak berbohong.
Davina mengambilny dan meneguknya.
Rasanya sedikit aneh, seperti madu yang di campur rempah, namun ia merasa badanya menghangat.
Davina menebak jika dalam racikan tersebut ada gingseng atau jahe nya.
"Enak kan???, nenek buyut akan mengajarkan pada kalian berdua cara membuatnya.
ini ramuan turun temurun keluarga Inez kita" ucap Ernest penuh kebanggaan.
Davina mengangguk, keluarga Inez, keluarga besar dari pihak nenek buyutnya adalah keluarga yang tangguh dan berkuasa, namun di keluarga itu lebih banyak anak wanitanya, dan para wanita keluarga Inez adalah pernah pemimpin dan ilmuwan ternama, sehingga keluarga itu merupakan keluarga terpandang dan terkaya di negara itu setelah keluarga Inez baru keluarga benedito yang merupakan musuh bebuyutan keluarga Inez.
Pernikahan Ernest dan Angelo adalah sesuatu yang menggemparkan walau pada awal di tentang, namun keduanya berhasil menyatukan dua keluarga berkuasa itu.
"Kamu mau nenek buyut" ucap Agatha cepat.
"Baiklah, nenek akan ajarkan.
Tentunya setelah kalian menyelesaikan urusan kalian.
Aku mau memberikan tonik ini pada cicit tampan di ruang kerja dan suamiku tentunya"
__ADS_1
"Siap nenek buyut, terima kasih"
"Sama-sama honey" ucap Ernest bangkit menuju dapur, tak lama ia di dampingi asisten rumah tangga berjalan menuju ruang kerja
"Jadi....."
"Apa kau yakin ingin menggunakan Cleo??" wajah Agatha terlihat tegang
"Anak itu terus memaksa, tapi aku belum mengatakan pada suamiku"
"Sebastian akan menolak" ucap Agatha langsung"
"Tepat seperti pemikiran ku, aku juga sangat tak setuju putriku menjadi pion disini" ucap Davina menggelng pelan
"Jadi ingatan mu sudah kembali???"
"Kembali atau belum tak mengubah fakta bahwa dia putri sambungan ku dan aku menyayanginya" ucap Davina
"Ma, biarkan aku membantumu. Aku bisa jaga diri" ucap Cleo yang berjalan ke arah kedua wanita itu
"Sayang, mama gak setuju, begitu pula papamu"
"Kakek buyut sudah meminta persetujuannya, dan papa setuju dengan pengawalan anak buah kakek buyut" ucap Cleo penuh keyakinan
"Apa kau meminta tolong kakek buyut yang..."
"Itu salah satu cara ma" ucap Cleo membuat Agatha kagum. cara berpikir Cleo terkadang seperti Davina. cerdas!!! ya hanya Angelo yang bisa melakukannya
"Aku minta pengawasan ketat putriku, jika satu helai saja rambutnya lepas, kau dan anak buahnya jangan harap bisa berada di Jakarta lagi" ucap Davina menatap tajam Agatha.
"Aku siap menerimanya, kali ini tak akan gagal meringkus wanita itu dan anak buahnya" ucap Agatha penuh keyakinan.
"Aku percaya padamu"
"Siapapun yang sudah menyakiti keluargaku harus berakhir di neraka.
Terlebih orang itu sudah merenggut hal yang paling berharga dalam hidupku" Davina terlihat sedikit berkaca-kaca membuat Agatha juga bertekad dalam hati membalaskan dendam Davina.
"Kapan kita melakukanya ma???" tanya Cleo antusias
"Sayang, apa kau tidak takut???"
"Enggak, kan aku di kelilingi orang-orang hebat" ucap Cleo membuat Davina DNA agatha tersenyum
"Sejak kapan mulutmu semanis madu hemm??" Davina mengelus lembut puncak kepala Cleo.
"Sayang, mama butuh bantuan mu nanti, ini ...
Kita perlu mama kandungku juga di satu lingkungan yang sama denganmu" ucap Davina ragu
"Serahkan padaku ma, mama Marsha pasti mau menuruti kemauanku" ucap Cleo bersemangat
Masalah menghadirkan Marsha sudah terselesaikan tanpa perlu Tian ikut campur.
__ADS_1