
Davina masih kesal karena ulah Cleo rasa kantuknya lenyap. Entah mengapa ia terus merasa mengantuk walau sudah lama tidur dan badannya terasa lelah terus, apa karena faktor kehamilannya??? entahlah, yang jelas Davina menikmati momen kehamilannya yang kedua ini.
Ia berjanji akan menjaga janin dalam kandungannya dengan baik.
Setelah mengganti pakaiannya ia segera berjalan dengan malas menuruni tangga di tuntun oleh Tian
Begitu melihat Cleo sedang asik duduk sambil makan, tiba-tiba kantuk Davina hilang berganti dengan mulut yang berlibur
"Anak nakal, sedang apa kau?"
"Hehehe maaf ma, gak boleh dendam dan marah kasian dedek bayinya* ucap Cleo sambil memasang senyum lebar
"Siapa bilang mama marah??? mama gak mau marah kasian Dede utun di perut mama" ucap Davina tersenyum lalu duduk di samping Cleo.
"Ah mamaku sayang" ucap Cleo memeluk Davina sebentar kemudian kembali melepaskannya, ia sedang asik makan bakso, ya bakso langgannaya yang sengaja di stock Tian jika sewajtu-waktu Cleo ingin makan
"Cleo sayang sama dedek bayi?"
"Ya sayang dong ma" ucap Cleo cepat
Davina tersenyum penuh arti lalu mengambil mangkuk bakso Cleo, ternyata ia sudah memegang sendok, dengan cepat Davina memakannya
"Dede bayi mau bakso" ucap Davina datar sambil memakan baksonya tanpa perduli tatapan terkejut sekaligus kesal Cleo.
Itu bakso stock terakhirnya
"Ma...."
"Katanya sayang, adek bayi pengen bakso" kilah Davinaembuat Tian kehabisan kata-kata, ia bingung harus berkata apa, satu istrinya satu anaknya.
Jika ia membela Cleo bisa di pastikan Davina akan seperti landak berduri yang siap menacapkan durinya jika di sentuh, namun jika ia menegur Cleo bisa di pastikan putrinya akan mengabaikannya dan tak mengajaknya bicara
"Sayang, Cleo, nanti sampai sana kita cari bakso enak ya???" ucap Tian dengan senyum canggung.
Tin langsung menarik mangkok bakso Davina dan memakan bakso terkahir dalam mangkuk tersebut.
Kedua wanita beda generasi itu terkejut bukan main dengan tindakan Tian
"Papaaaaaa......"
"Masssssss" teriak Davina tak kalah kencang
"Cepat peswatnya sudah menunggu" ucap Tian lngsung menarik dua travel bag milik istri dan anaknya sebelum ke dua macan betina itu menerkamnya
Sebastian dusuk di samping supir, sementra Davina dan Cleo duduk di kursi penumpang dengan tangan bersedekap dada dan menatap tajam ke arah Tian
Tian merasa bulukuduknya merinding, mengapa anak DNA istri nya begitu menyeramkan
"Sepertinya papa kelaperan sampai bakso ku PPA makan juga"
"Papamu menyebalkan, bisa-bisanya bakso mama dimakan juga" gerutu Davina masih tak terima
__ADS_1
"Maaf sayang, nanti kita beli di sana ya?"
"Enggak" ucap keduanya kompak lalu membuang muka kearah kaca jendela mobil tak mau saling bicara
Tian hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal
"*Padahal kan niatku biar mereka gak berebut bakso, kenapa jadi pada ngambek??? apa salahku??" gumam Tian dalam hati.
Sampai bandara Agatha sudah menanti, wanita itu hanya mengenakan baju piyama dengan celana panjang dan jaket kupluk serta kacamata hitam, lembut Davina dan Cleo tertawa terpingkal-pingkal*
"Tante genit, apa itu tren fashion terbaru ya????" ledek Cleo sambil menutupi mulutnya tertawa
"Kamu seperti orang-orangab sawah" ucap Davina tertawa
"Ini semua demi kalian, menyebalkan" ucap Agatha
"Cepat masuk, aku mu pulang dan meneruskan tidur, jangan lupa kompensasi dari pekerjaanku pagi ini" ucap Agatha menatap Davina
"Siap, nih buat Tante ku sayang"
"Apa ini??? Aku bukan anak kecil di kasih permen" ucap Agatha kesal
"Keponakan nakal, apa kau tahu tantemu sedang tidur kau kasih pekerjaan??" tanya Willy menjewer kuping Davina dari belakang
"Om, om ampun.
Kok on ada disini sih???"
Davina sampai melongo, begitu dahsyat perubahan Willy, apa dia masih om nya yang sama???
Agatha menatap suaminya dengan berbinar penuh cinta, Davina hanyanbisa tersenyum
"Om ini untukmu, aku sedang mengembangkan produk untuk perokok, di coba ya??" ucap Davina mengedipkan sebelah matanya
"Jadi om bahan eksperimen nih??"
"Bisa di katakan begitu, tapi tenang aman kok, mas Tian udah coba, ayo mas" ucap Davina langsung menarik tangan suaminya dan Cleo,.mereka memasuki pintu masuk bandara
"Tian coba??? sayang apa Tian juga perokok???" tanya Willy bingung.
Seingatnya adiknya bukan perokok, Tian sejak dulu bergaya hidup sehat.
Agatha hanya mengangkat bahunya, ia melirik sekilas kearah permen karet di tangan Willy
"Serak kecil itu ingin aku bekerja lembur untuk urusan lain, dasar keponakan menyebalkan.
Gak mungkin aku bilang...."
"Sayang, kok malah bengong di tanya, udah ayo kita pulang, pakai kupluk mu kembali, ini dingin" ucap Willy menutupi kepala istrinya lalu keduanya bergandengan tangan menuju mobil mereka.
Sementara di tempat berbeda
__ADS_1
Panji merasa bosan diperjalanan, jarak Jakarta ke kota kelahirannya lumayan memakan waktu delapan sampai sembilan jam dengan kecepatan cenderung tinggi.
Ia harus sampai di kota tersebut pagi esok agar ia bisa menggagalkan pernikahan Sekar.
Sementara Davina dan Tian hanya butuh waktu tak sampai satu jam, mereka sudah mendarat dan langsung menuju hotel yang sudah di siapkan oleh Agatha untuk beristirahat.
Sementara di kediaman Willy, terjadi pergulatan panas, ini sudah yang ke tiga kalinya mereka melakukan.
Agatha terlihat kelelahan hingga akhirnya Willy mencapai puncaknya, Agatha langsung tertidur pulas tanpa busana.
"Sial, Davina mengerjai ku, dasar ponakan gak berakhlak" gerutu Willy merasa dengkulnya lemas setelah pelepasan ke tiganya
Malam ini total ia bermain sudah lima kali, yang dua kali sore tadi dan sebelum tidur, namun baru saja mereka beristirahat Davina menelpon.
Akhirnya Willy tumbang dan mendengkur di sebelah istrinya
Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, namun baik yang tua maupun anak kecil belum juga bangun, terdengar suara mendengkur pelan, keluarga kecil itu masih terlelap terbuai mimpi, hingga dering ponsel Tian menyadarkannya dari mimpi indahnya
"Ya Tuhan, kenapa manusia jomblo abadi ini kerjaannya menganggu saja, semoga secepatnya laku, biar tak menggangguku lagi" gerutu Tian mengangkat panggilan telepon Panji
"Pagi ceria sobatku, hehehe"
"Gundul mu yang ceria, karena kau hatiku suram" ucap Tian menggerutu namun Panji malah tertawa senang
"Gak usah malu, gue tahu loe bahagia gue telepon"
"Lalu cuma mau ganggu gue matiin ponselnya" ucap Tian malas, semalaman davina minta di usap-usap punggungnya sehingga Tian baru bisa tidur menjelang pagi,dan kini matanya sepat dan sangat mengantuk.
"Gue cuma mau kabarin kalau gue udah di depan rumah Sekar hahaha, ternyata benar, gue sebelumnya pernah kenal Sekar, dia gadis kecil yang gue tolong dulu dan sewaktu gue pergi dari rumah, gue inget banget klo doi itu jelek, item, gendut lagi, sekarang....
Ah makan apa ya dia bisa cakep gitu???" tanya Panji seolah bertanya apa dirinya sendiri
"Makan kroto sama jangkrik
Penjol,penjol .
Loe kira gue emaknya si Sekar apa????
terus kalau Sekar masih gendut item loe mau???
Sekar secakep itu aja loe anggurin, dasar gak waras" maki Sebastian
"Hahaha ye sensi bener , ah gue tahu itu karena loe puasa kan gak ngairin sawah hahaha
emang loe kira Sekar burung Murai apa makan jangkrik sama kroto" Sebastian langsung memutuskan panggilan teleponnya.
Ia membangunkan putri dan istrinya karena Panji sudah berada di depan kediaman Sekar
Sementra Panji masih tertawa sambil memandang ponselnya
"Gitu aja sensi hahaha" tawa Panji, ia melihat kesibukan di rumah tersebut, Panji langsung turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke halaman kediaman orangtua Sekar yang sudah terpasang tenda dan di hias beraneka bunga segar
__ADS_1