
Davina merasa sangat geram karena Denis lolos dalam penggerebekan.
Ia sampai menendang kursi didepannya sampai hancur karena membentur dinding.
Sebastian yang melihat istrinya marah terkejut dan buru-buru menghampiri, ia khawatir kandungan Davina akan bermasalah
*Sayang, astaghfirullah, istighfar sayang.
kita semua juga kesal dan marah karena Denis tidak berhasil kita tangkap
Tapi ingat kau sedang hamil" ucap Sebatsian dengan wajah ngeri menatap perut istrinya
"Maaf saya aku khilaf" ucap Davina menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Ia menatap Bert yang mengkerut ketakutan di sebelahnya.
Davina lepas kontrol dan membuat calon kakak iparnya itu ketakutan
"Sorry Bert, ku hanya sedang ngetes, apakah beladiri ku masih ok saat hamil" ucap Davina dengan wajah canggung.
Bert hanya mengangguk dengan bingung.
Ia jelas bisa membedakan yang mana marah dan yang mana sedang melatih kekuatan.
Bert merinding di buatnya.
ternyata calon adik iparnya walau bertubuh mungil kekuatannya tidak bisa di remehkan
"Hahaha iya tak masalah" ucap Bert dengan wajah bingung
"Aku mau mandi mendinginkan kepalaku" ucap Davina ngeloyor pergi tanpa menunggu jawaban, karena ia berkata apa dirinya sendiri
"Sayang , tunggu!!" teriak Sebastian takut Davina berulah lagi, bisa bahaya jika bum satu itu melakukan gerakan ekstrem lagi.
"Ya Tuhan jagalah anak dalam kandungan istriku" gumam Sebastian
"Bert maafkan istriku, emosinya tak stabil karena kehamilannya" ucap Tian pada.Bert
"Tidak masalah"
"Saya tinggal dulu ya" ucap Tian langsung menyusul Davina masuk ke dalam kamar.
Setelah kedua pasutri itu pergi, ponsel Bert berbunyi.
Daffa menelponny
"*Hallo"
"Apa kau sudah makan???" tanya Daffa di ujung
telepon
"Uhmm" saut Bert senang
"Apa kau disana baik-baik saja???" tanya Bert malu-malu
__ADS_1
"Apa kau mengkhawatirkan ku???
"Ya" ucap Bert jujur. Lo
Bert memang sangat mengkhawatirkan pria yang ia cintai itu, terlebih mereka sedang menangkap Denis. Bert tahu dengan jelas siapa Denis.
"Terima kasih kau mengkhawatirkan ku, tapi kekasihmu ini bisa menjaga diri" ucap Daffa membuat Bert merona merah
"Aku percaya, tapi kau tetap hari hati-hati hmmm???"
"Siap , tunggu aku kembali," ucap Daffa lalu mengakhiri panggilan telepon nya.
Bert sangat senang, hatinya berbunga-bunga, walau Daffa tidak romantis, tapi Bert tahu pria itu kesulitan mengungkapkan perasaanya dan ia sudah berusaha.
Bert tidak meminta lebih, itu cukup baginya, karena yang terpenting perasaan mereka.
Bert masih memandangi ponselnya, senyumnya merekah membayangkan wajah Daffa yang tampan
"Apa kau sehat Bert???" tanya Davina sudha Kemabli dengan pakaian santainya, dengan rambut yang di bungkus handuk kecil
"Ahhh, hmm i..iya"
"Siapa yang menelpon??? si pria tembok Cina y???" tanya Davina langsung dudu di sofa di depan Bert sambil menguruskan coklat hangat yang di buat oleh Tian,
"Terima kasih.
Siapa pria tembok Cina???" tanya Bert bingung
"kekasihmu siapa lagi??" ucap Davina santai sementara Bert hanya bisa nyengir.
cuma kaku kaya kanebo kering" ucap Davina lalu cekikikan sendiri.
Senang sekali menjelekkan Daffa pada kekasihnya.
cita-cita Davina tersampaikam.
"Iya dia sedikit kaku, tapi itu tak Maslah"
"Bert ku sarankan kau harus kuat hati, kau tahu kakakku itu menyebalkan" ucap Davinaemgompork
"Sangat menyebalkan dan ketus" ucap Bert ingat saat perjumpaan pertama mereka.
Sikap Daffa sangat dingin dan ketus.
"Nah kau musibahendpaatkan dia Bert.
Aku kasihan padamu"
"Sayang, apa kau mau nanti anak kita kaku seperti om nya??" tanya Sebatsian menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya
"Hahaha, aku cuma.becanda yank, ih Githa aj juga" ucap Davina langsung pura-pura meneguk coklat panasnya
"Bert jangan dengarkan Davina.
Pepet terus Daffa sampai ke pelaminan ya??" ucap Tian memberi semangatembuT Bert merona merah karena malu"
__ADS_1
"Kau pikir angkot main Pepet aja"
"Hahaha, apa ada kabar kemana Denis kabur???" tanya Tian melihat monitor dimana alat Daffa terpasang di mobil Denis
"Keluar kota, letaknya masih belum jelas.
"Apa sudah kau beri tahu Daffa dan team kita???
jangan sampai orang itu kabur
"Sudah" ucap Davina singkat.
Sementara itu di tempat yang berbeda,
Daffa mengikuti arahan Davina , Mereka mengikuti kemana arah mobil Denis pergi.
untungnya Daffa sudah memasang alat pelacak pada mobil Denis, sehingga kemanapun ia pergi, Mereka akan menemukanya, selama lat itu masih di terpasang dan Denis masih di mobil tersebut.
Rupanya Denis melakukan kendaraanya menuju luar kota, sementara Oscar juga sedang mengikuti Dona yang juga menuju ke luar kota, mereka berasumsi jika keduanya akan bertemu di sebuah tempat yang sudah mereka tetapkan.
Davina menduga jika Denis memiliki markas lain di sana, dan benar saja Berto memberitahu jika ada satu markas lagi yang di gunakan Denis untuk meeting rahasia. info tersebut ia perolehd Ari seornag anak buah kepercayaan Denis yang berhasil mereka tangkap.
Berto memasukkan sebuah racun pengakuan sehingga si korban mengakui apa saja yang di tanyakan padanya.
Davina sangat senang ia tak alah menilai Berto, saat semua selesai ia akan memberi jabatan yang Bain untu Berto agar pria itu bisa hidup lebih baik.
Menurut informasi Berto, Denis dan Dona pasti ke markas tersebut, Berto juga tak yakin markas apa, yang jelas anaknbuah Denis mengatakan jika mereka menyebutnya markas militer.
Jika melihat arah perginya Denis, Berto yakin mereka menuju kesana.
Davina langsung memberi komando untuk meringkus Denis dan Dona di sana, mereka tak mau kecolongan lagi.
Sudah saat nya kekejaman Denis dan Dona berakhir.
Lagi pula ia sudah rindu dengan Cleo, putri sambungnya yang sudah mulai merengek karena terlalu lama mereka tinggalkan bersama nenek dan kakek nya
Polisi yang mendapat info keberadaan Denis langsung menuju ke lokasi tersebut.Mereka tak langsung menyerbu begitu mengetahui di mana Denis bersembunyi. Berdasarkan informasi Daffa dan Berto yang mendekati tempat tersebut, mustahil mereka akan menang melihat persenjataan lengkap dan penjagaan ketatnya.
Pihak berwajib dan Daffa serta teamnya memilih berhenti di sebuah tempat, mereka tak dapat maju lagi dan memutuskan menyusun rencana dan menunggu bala bantuan
Denis ternyata membangun markas yang lumayan besar itu dengan penjagaan super ketat.
markas tersebut lebih mirip benteng.
Bruno tak pernah tahu itu, ia merasa kesal karena informasi kurang akurat.
Davina tak bisa menyalahkan Bruno, ia tahu Denis orang yang licik dan cermat, ia hanya akan membagi informasi pada sedikit anak buahnya.
Rupanya Denis memisahkan semua itu dari urusan organisasi inti, ia hanya memberitahukan pada orang yang sudah mengikutinya lama.
Usut punya usut ternyata Denis adalah putra seorang militan perang, pantas saja ia punya Chanel pembelian senjata api dan para pengajar yang melatih anak buahnya secara militer.
Markas itu bisa saja menjadi ancaman stabilitas keamanan negara, sehingga Davina langsung menyusul ke lokasj, ia tak bisa tinggal diam.
Davina juga mengabarkan informasi terbaru pada Senator Nelson.
__ADS_1
Ia meminta pengerahan militer anti *******.