
Operasi masih berlanjut dengan kuret, memastikan kandungan Davina bersih dari sisa keguguran walau sebenarnya usia kandungan yang masih dua bulan tidak perlu, namun demi mengantisipasi hal yang tidak diinginkan mereka memutuskan tetap kuret.
Yang mengkhawatirkan adalah Davina banyak kehilangan darah akibat kecelakaan tersebut.
tulang belakang Davina parah dan ada luka sobek yang lumayan besar di paha kanan Davina akibat terkena benda tajam, entah plat nomor motor atau apa yang jelas benda tersebut menyobek cukup dalam.
Tiga jam berlalu akhirnya operasi tersebut selesai, Davina di dorong menuju ruang perawatan intensif dalam keadaan masih tak sadarkan diri.
Sebastian menatap sedih istrinya yang terbaring tak berdaya di kasur rumah sakit.
Sementara kondisi Cleo tidak mengkhawatirkan, u hanya mengalami luka ringan dan shock karena melihat Davina yang bersimbah darah.
Ia terus menangis dan meminta bertemu dengan Davina.
Marsha yang mendengar Cleo kecelakaan lngsung datang ke rumah sakit bersama kedua orangtuanya.
Dengan demikian Sebastian bisa menitipkan sementara waktu Cleo pada kelurga mantab istrinya sementara waktu.
Satu persatu menjenguk Davina karena Davina masih dalam kondisi kritis, kunjungan di batasi demi kesembuhan Davina.
Arjuna membawa Ayudia pulang, perlu usaha keras membuat mama kandung Davina itu pulang, namun akhirnya Sebastian bisa meyakinkan mama mertuanya agar beristirahat agar mereka bisa bergantian menjaga Davina.
Akhirnya Arjuna, Khadijah dan Adhi pamit pulang, tak ada yang bis mereka lakukan saat ini karena davina masih dalam pengaruh obat bius.
Satu persatu kelurga pamit, Kini tinggal Sebastian dan Willy di ruangan tersebut.
"Kak, pulanglah, kasihan Zidan sendirian di rumah.
Bir aku menjaga Davina"
"Zidan sudah SMA, dia sudah besar tak perlu di temani papa nya.
Aku akan menemanimu disini.
Aku mau membeli kopi dan beberapa makanan ringan, apa kau mau??"
"Aku tidak lapar kak" ucap Tian singkat.
Sejak siang tadi Tian belum memakan atu minum sedikitpun, kecelakaan Davina terjadi saat mereka ingin makan siang membahas pernikahan Shandy.
"Walau kau tak mau, kau butuh makan dan minum untuk tetap what dan menjaga istrimu.
__ADS_1
Jika kau sakit siapa yang mu merawat Davina???
Dia butuh kamu" ucap Willy menggelengkan kepalanya lalu berjalan keluar.
Ia tak harus meminta izin Tian untuk membekukan ya makanan, karena kondisi mental Tian saat ini tertekan.
Sebastian memegang tangan istrinya, mengecupnya berkali-kali, ia sangat takut kehilangan Davina, Sebastian sangat mencintai istrinya.
melihat Davina seperti ini, hati Sebastian hancur, lebih baik ia saja yang merasakan sakit ini, ia tak tega .melihat istrinya yang ceria kini terdiam tak berdaya.
Sebastian berjalan menuju toilet, ia mengambil wudhu dan sholat isya di teruskan dengan membaca al-quran.
tiga jam sudah pasca operasi namun Davina belum juga terjaga, Tian sangat khawatir dan perasaanya sangat kacau saat ini.
Biasanya jika ia merasa tak tenang ia selalu mengambil wudhu dan membaca Al-Qur'an.
Setelah selesai sholat Sebastian melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Willy yang sudah kembali memilih meletakkan makanan dan minuman yang ia beli tadi lalu keluar dari kamar tersebut, Willy tak mau menggangu Tian.
Satu jam sudah Sebastian melantunkan ayat suci Al-Quran seraya berdoa untuk kesembuhan istrinya, air mata membasahi pipinya.
Hingga suara rintihan lirih terdengar dari arah tempat tidur, Sebastian menghentikan bacaannya dan bergegas menghampiri Davina.
Davina terlihat masih memejamkan matanya, alisnya bertaut dan mulutnya terlihat berbicara sesuatu, namun Sebastian tak bisa mendengar karena sangat lirih
"Sayang, kamu akhirnya bangun" ucap Tian bahagia
"Haus...." ucap Davina tanpa suara.
Sebastian segera mengambil segelas air putih di atas nakas dan memasukkan sedotan untuk memudahkan Davina minum
Davina minum dengan cepat, ia terlihat sangat kehausan
"Pelan-pelan saja sayang, masih banyak kok" ucap Tian mencoba tersenyum
Davina hanya diam dan terus minum
"Aku dimana?" tanya Davina lirih, ia terlihat bingung menatap sekeliling
"Kamu kecelakaan sayang, kamu menyelamatkan putri kita, terima kasih dan maaf ya sayang" ucap Tian memeluk Davina, sementara Davina hanya diam saja, beberapa saat kemudian dia mendorong Sebastian menjauh.
__ADS_1
"Sayang???" Sebastian terkejut dengan reaksi Davina.
namun hanya sebentar saja, ia melihat wajah istrinya yang membiru menahan sakit.
Ya tulang belakang Davina mengalami retakan.
Awalnya dokter mengira itu patah, tapi ternyata hanya retak, namun tetap saja efeknya menyakitkan dan Davina tidak bisa bergerak sementara waktu.
"Maafkan aku, aku gak sengaja.
Aku sangat antusias melihatmu bangun.
Aku sangat....
Kau membuatku sangat takut sayang" ucap Tian lirih.
Davina hanya menatap Tian dan alisnya berkerut seakan berfikir.
"Alhamdulilah Davina kamu sudah siuman"
"Om Willy...
om disini juga?"
"Tentu saja Keponakan om yang cantik" ucap Willy mengelus puncak kepala Davina
"Om, bahu aku sakit sekali, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Davina meminta keterangan Willy
"Kamu melindungi Cleo ada seseorang yang ingin menabrak Cleo, kamu memasang badanmu sebagai tameng demi melindungi Cleo" ucap Willy membuat Davina manggut-manggut
"om rasanya sangat sakit sekali" ucap Davina dengan peluh membasahi dahinya.
Tubuh bagian belakangnya seperti di tusuk-tusuk seribu duri hingga tubuhnya bergetar menahan sakit.
sebastian langsung memencet bel panggilan, tak lama dokter dan suster jaga datang, di ikuti kepala dokter dan beberapa dokter ahli.
maklum saja yang kecelakaan merupakan pemilik rumah sakit ini sekaligus kepala rumah sakit tersebut
Tanpa menunggu lama mereka langsung melakukan serangkaian pemeriksaan.
Akhirnya karena Davina sangat kesakitan dokter memberikan obat penenang, tak lama kemudian Davina kembali tertidur
__ADS_1