
Satu bulan sudah berlalu, usia kandungan Davina memasuki bulan ke tiga kehamilannya.
Walau masih belum terlihat Sebastian sudah sangat protektif pada istinya, ia melarang Davina pergi ke kantor setiap hari, bahkan Sebastian juga hanya beberapa hari masuk kantor, selebihnya ia memilih bekerja dari rumah sambil mengawasi istrinya
Sebastian sendiri yang menyiapkan susu dan mengontrol makan Davina agar bayi dalam kandungan Davina sehat.
Walau Davina keberatan pada awalnya, tapi ia berusaha mengerti dan memahami suaminya.
Keguguran yang pernah ia alami membuat Sebastian shock, walau Davina masih belum mengingat dengan jelas kejadian tersebut, ia cukup bersyukur ingatannya tak kembali, bisa di bayangkan jika saat ini ingatannya kembali ia akan sangat tertekan dan di hantui rasa was-was
Perusahaan Sebastian pun makin maju, banyak investor asing yang tertarik dengan konsep yang di terapkan perusahaan Tian.
Selain itu Tian merambah juga ke beberapa bidang, walau begitu ia tak melupakan perusahaan inti yang ia bangun dengan jerih payahnya sendiri, perusahaan yang bergerak di bidang industri hiburan, terutama musik.
Bahkan banyak artis baik yang sudah punya anak maupun yang berpotensi berada di bawah naungan perusahaan milik Sebastian.
Siang ini Sebastian kedatangan seorang investor besar asing yang tertarik menanamkan modalnya di bisnis perhotelan miliknya.
Semua orang sudah mempersiapkan diri, Tan terkecuali Sebastian dan Oscar sebagai rekannya dalam bisnis ini.
"Pak, klien kita sudah tiba" ucap Lia sekertaris pengganti Susan yang sedang cuti hamil
"Baik terima kasih Lia.
Oh ya apa pak Oscar sudah sampai?"
"Sudah pak, beliau akan sampai di ruang meeting lima menit lagi" ucap Lia
"Baik, terima kasih" ucap Tian
Sebastian memeriksa kembali proposal kerjasamanya, kali ini klien besar yang akan datang, ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan.
Sebastian berjalan keluar kantornya di ikuti Lia dan Shandy. Shandy di minta Davina untuk menggantikan Panji sementara urusan perusahaannya di handle Lilly dan Agatha.
Di kejauhan ia melihat Oscar yang sedang berjalan menuju ruang rapat.
"Udah siap bro?" tanya Tian
"Beres" ucap Oscar percaya diri.
mereka beriringan masuk ke dalam ruang rapat.
Namun saat Sebastian menatap klien nya, senyum Tian langsung lenyap, bola mata Tian membulat sempurna. Ia terkejut.
Sebastian hanya berdiri mematung di tempatnya sampai Oscar yang mengekor di belakang Tian menabrak tubuh sahabatnya tersebut
"Kenapa berhenti gak bilang-bilang sih?" gerutu Oscar namun beberapa saat kemudian ia terdiam , menatap wajah tegang Sebastian
Oscar mengikuti arah pandang Tian dan juga sedikit terkejut
"Hello Don" sapa Oscar mencairkan suasana
"Hallo OS, apa kabar?" Sapa Dona, keduanya cipika cipiki
"Baik, kau sendiri apa kabar??? kayanya makin sukses nih?" ucap Oscar sambil melirik ke arah Tian, berharap Tian bisa menguasai perasaanya dan bersikap profesional.
__ADS_1
Siapapun Dona di masa lalu, itu harus mereka singkirkan sejenak dan fokus pada tujuan awal pertemuan karena Dona adalah klien mereka.
"Ah kau bisa saja OS, kau juga makin tampan"
"Eit itu pujian atau mengejek???" goda Oscar yang memang terkenal luwes saat berbicara dengan lawan jenis.
"Serius, lebih dewasa" ucap Dona sambil tersenyum lebar, matanya melirik pada sebastian yang berusaha tersenyum
"Hallo Dona pa kabar?" sapa Tian pada akhirnya
"Baik mas, kau terlihat gemukan.
Bahagia ya?" ucap Dona dengan nada seperti orang cemburu. Siapa yang tak tahu Dona, bahkan satu perusahaan tahu Dona, wanita yang awalnya di gadang-gadang akan menikah dengan Sebastian,
wanita yang selalu ada di samping Sebastian setelah Sebastian menduda, namun Dona menghilang dan tak lama Tian terlihat menggandeng wanita lain yang tak lain adalah Davina.
Kesalahan Tian adalah pernikahan mereka belum di publikasikan sehingga tak banyak yang tahu jika Sebastian sudah menikah dengan Davina.
Hanya para petinggi perusahaan yang tahu status pernikahan Sebastian.
" Alhamdulillah, bisa di katakan begitu Don.
Oh ya kok kita jadi reuni, maaf saya gak sopan " ucap Sebastian
"ITS ok, namanya teman lama, wajar saja" ucap assiten pribadi mister Bernard , Denis berusaha tersenyum
"Sepertinya sudah saling kenal, tapi lebih baik kita berkenalan lagi gak ada salahnya.
Saya Shandy asisten pribadi Pak Sebastian, beliau adalah pak Sebastian, dan di sampingnya pak Oscar, sementara gadis imut yang berkacamata itu bernama Lia"
" Kita pernah bicara via phone, nam saya Denis, saya datang sebagai perwakilan Tian Bernard karena beliau berhalangan dan wanita cantik ini kalian sudah kenal semua, dan itu sekertaris saya Bert" ucap Denis memperkenalkan diri
"Karena kita sudah berkenalan mari kita ke inti pertemuan ini" ucap Shandy langsung melakukan presentasi di depan klien mereka.
Beberapa kali Dona terlihat melirik ke arah Sebastian,. sementara Sebastian hanya fokus mendengarkan pemaparan Shandy.
Sementara Denis terlihat menatap dengan tak suka.
Tujuan mereka ke perusahaan ini adalah bekerja sama sesuai instruksi direktur utama, namun entah mengapa Dona malah mengusulkan pada pria tua itu untuk ikut sebagai perwakilan resmi perusahaan mereka.
Walau Denis ingin menolak, ia tak bisa.
"Jadi seperti itu konsep design yang kami usung.
Seperti pembicaraan singkat kita sebelumnya.
Beberapa aspek sudah di perbaiki sesuai dengan permintaan, jika ada bagian yang ingin di rubah atau di tambahkan silahkan kemukakan" ucap Shandy berwibawa.
Sebastian sangat senang melihat kemajuan Shandy, benar kata Davina pria ini sangat pandai, sayang sekali jika hanya sebagai bodyguard.
Selain itu Shandy akan masuk ke dalam keluarga besar mereka Karen akan menikahi Sania, jadi itung-itung sebagai pembelajaran baginya.
Pembicaraan berjalan lancar, hanya beberapa bagian yang di tambahkan, selebihnya sesuai dengan kemauan klien.
presentasi berjalan sukses. perusahaan yang di wakili Dona akan berinvestasi besar di proyek terbaru Sebastian.
__ADS_1
"Jadi, apa kita bisa makan siang atau makan malam sebagai perayaan dari terjalinnya kerjasama kita?" tanya Dona mengusulkan
"Ide bagus, gue setuju" ucap Oscar cepat
Sebenarnya Sebastian mau menolak, tapi karena Oscar main setuju saja, sebagai pemimpin perusahaan tidak sopan jika ia tak hadir dalam perjamuan makan tersebut.
Tian mengutuk Oscar yang berpikiran pendek.
Bukan Sebastian tak mau hubungan kerjasama mereka baik, hanya saja ia kenal baik siapa Dona, wanita itu akan memanfaatkan keadaan dan kesempatan sebaik mungkin.
Bukan Tian tak tahu jika Dona menatapnya terus menerus selama meeting tadi, hanya saja Tian berpura-pura tak melihat demi kebaikan bersama.
Terlebih lagi ia bisa menilai pandangan tak suka rekan kerja Dona pada Tian, itu bisa jadi masalah
Tian tak mau tahu hubungan macam apa yang terjalin antara Denis dan Dona, yang jelas ia tak mau terlibat di dalamnya.
"Baiklah, pilih restorannya, kita makan siang di sana"
"Ah aku ada janji makan siang dengan orang, makan malam boleh??" tanya Dona dengan pandangan memohon
Oscar kali ini menatap Tian menanti jawaban sahabatnya
"Uh baik, pilih di restoran mana"
"Restoran X, aku rindu suasana di sana dan memori....,
Ah maaf jadi teringat masa lalu" ucap Dona melirik kearah Sebatsian yang seolah tak terpengaruh sama sekali, walau dalam hati Tian merasa tak enak
"Baik, aku akan menelpon untuk reservasi tempat"
"Okey sampai bertemu nanti malam" ucap Dona sumringah lalu berpamitan pada Tian dan Oscar
"Saat Dona ingin cipika cipiki, Tian mundur selangkah DNA mengulurkan tangannya berjabat tangan.
"Ah maaf mas, aku lupa" ucap Dona dengan wajah memerah karena malu
Dona lalu pergi di ikuti oleh Denis dan sekertaris mereka, Oscar menatap kepergian mereka tanpa sadar Tian sudah berjalan menuju kantornya di ikuti oleh Shandy dan Lia
"Cari informasi wanita itu"
"Dona maksudmu?" tanya Shandy menaikan sebelah alisnya
"Ya, Dona, tapi aku mohon Davina jangan sampai tahu"
"Apa pernah terjadi sesuatu antara kalian??" tanya Shandy penasaran
"Tidak ada yang terjadi, hanya penyesalan karena tak bisa bersikap tegas.
Aku tak mau sikapku di salah pahami lagi" ucap Tian menghentikan langkahnya menatap Shandy
"Aku mengerti Adik ipar"
"Huh" ucap Tian kesal, ya jika Shandy menikah dengan Sania, Shandy akan menjadi kakak iparnya
Shandy hanya tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Woi Tian, main tinggal aja, dari tadi gue ngomong sendiri kaya orang stres"
"Emang"