Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Malam Pertama


__ADS_3

Davina menutup matanya bersembunyi di dada bidang suaminya. Ia terlalu malu melihat semua orang saat Tian membopongnya ala bridal sampai parkiran


Ia juga mendengar sorak Sorai para karyawan dan tepuk tangan mereka seperti menonton sebuah pertunjukan seru dimana mereka lah pemerannya.


Davina rasanya ingin sekali menggali lobang dan bersembunyi di sana, ia malu untuk kembali ke tempat itu.


Untungnya itu di negeri orang, jika di negerinya sudah di pastikan mereka akan tertangkap jepretan paparazi dan langsung masuk ke media infotainment.


walau mereka bukan dari kalangan artis namun nama yang di sandang keduanya menjadi berita yang di tunggu.


Terlebih pernikahan keduanya belum sempat di publikasikan, karena waktu menikah hanya rekan kerja dan saudara saja, dan Angelo benedito sendiri yang meminta untuk tidak ada awak media yang meliput dari dekat.


Siapa yang berani menentang konglomerat paling berkuasa itu??? jika berani artinya siap-siap tersingkir dari liat kerjasama kerajaan bisnis benedito corp dan Baskoro corp, dua perusahaan raksasa yang merajai tanah air.


"Mas, turunkan" ucap Davina lirih


"Sabar sayang, sebentar lagi kita sampai mobil.


Aku akan membopongmu saat memasuki cottage juga, biar kau selalu ingat bahwa bahu dan tanganku yang kokoh hanya akan membopongmu menuju kebahagiaan"


"Mas, sejak kapan??" tanya Davina begitu di dudukan di kursi penumpang sebelah supir


"Sejak kapan apanya???"


"Sejak kapan mas jadi berubah alay???" ucap Davina tertawa


"Ini bukan alay sayang, ini romantis"


"Oh begitu??" ucap Davina menahan tawa


"Apa aku gak romantis???" tanya Sebastian bingung


"Romantis sih, tapi ada yang aneh" ucap Davina menatap lurus pada suaminya yang terlihat kikuk


"Aneh apa sih, cuma perasaan kamu aja.


Suami gak mesra salah, suami mesra juga salah"


"Eit mas gak salah sih, tapi ini bukan style kamu banget" ucap Davina membuat Tian nyengir


"Maksudnya gimana nih??


ya kalau kamu gak suka ya kau gak romantis lagi deh" ucap Tian merajuk


"Hahaha, mas, aku suka kamu romantis, tapi aku lebih suka kalau kamu jadi dirimu sendiri.


Kamu punya sisi romantis mu sendiri" ucap Davina membuat Tian bingung, apa istrinya ini terlalu pintar sampai tahu kalau sebagian adalah bukan idenya???


atau mungkin dia paranormal???


Tian menggelengkan kepalanya sambil berpikir


"Mas, are u ok???" tanya Davina melihat suaminya sambil tertawa sendiri.


Tingkah Tian seperti anak kecil yang tertangkap basah dan sedang berpikir dimana letak kekurangannya hingga ketahuan


"Aku tahu beberapa ide mu, termasuk menggendongku, dan cincin ini, terus lokasi makan kita juga ide mu.


Tapi selebihnya adalah ide asistenku yang nyentrik itu" ucap Davina tertawa kecil

__ADS_1


Tian sampai mengerem mendadak karena terkejut, tebakan Davina benar delapan puluh persen, karena ide mencium Davina bukan ide asistennya, tapi inisiatif Tian sendiri yang kecanduan bibir sexy istrinya yang lembut dan kenyal seperti jelly.


"Gak sepenuhnya bener, memang sebagian idenya Panji" ucap Tian nyengir


"Tuh kan bener, kalau kamu mana ada seperti itu"


"Tapi kamu suka kan???" wajah Davina merona merah saat Tian balik bertanya.


"Asal kamu tahu, mencium mu bukan ide Panji, itu murni karena aku kecanduan kamu" ucap Tian langsung ******* bibir Davina.


Davina berusaha mendorong Tian, karena posisi mereka di pinggir jalan raya dan masih ada beberapa orang yang berlalu lalang.


Untungnya tempat itu tak terlalu ramai, namun tetap saja wajah Davina seperti kepiting rebus karena saking malunya.


Karena dekapan Tian kuat akhirnya Davina hanya parah dan menikmati.


"Sepertinya mas akan memberikan Panji bonus karena berhasil membuat candle light dinner yang berkesan untukku"


"Tentu saja, bahkan aku akan mengirim dia keluar kota agar parasit itu tak mengganggu kita" ucap Tian membuat Davina tertawa mendengarnya


"Parasit???"


"Ya Panji sepeti parasit yang menempel, sekarang aku punya kamu, lebih baik aku menempel padamu.


sayang, kamu hanya memikirkan Panji, masa aku aktor utama sekaligus sutradaranya gak dapat imbalan apa-apa???" ucap Sebastian merajuk


"Kau memalukan mas" ucap Davina di balas tawa Tian.


Akhirnya mereka meneruskan perjalanan yang tertunda.


Seperti janji Tian, ia membopong istrinya sampai ke kamar utama dan menurunkan Davina di sana.


Tian langsung mendorong Davina hingga telentang di tempat tidur, lalu ia menindihnya


Tanpa menunggu jawaban Davina Tian dengan rakus ******* bibir Davina


"Sayang aku akan pelan-pelan, apa kamu siap???" Davina hanya diam terbengong


"Kalau kamu belum siap tak apa" ucap Tian yang mengerti kegalauan Davina


"Aku siap" ucpa Davina mencoba tersenyum di tengah kegugupannya


"Akan sakit sedikit,aku akan sangat berhati-hati" ucap Tian lalu mulai melakukan aksinya


"Davina meringis hingga air mata nya menetes.


ia kesakitan.


Tian bisa melihat bercak darah di sprei mereka, Davina masih virgin


keduanya melakukan kewajiban mereka sebagai suami istri untuk pertama kalinya.


"Sayang terimakasih, terima kasih karena telah memberikan yang berharga dalam dirimu" ucap Tian mencium kening Davina.


"Kita mandi ya?" ucap Tian namun Davina menggeleng, ia saja bergerak sedikit terasa nyeri sekali, bagaimana jika.berjalan, ia tak kuat.


"Aku akan memandikanku" ucap Tian langsung membopong Davina tanpa menunggu jawaban istrinya.


Ia memandikan Davina, namun mereka malah melakukan lagi hingga tubuh Davina serasa remuk luluh lantah, Tian membopong Davina setelah membungkus tubuh mulus istrinya dengan handuk, namun begitu sampai kasur Davina langsung tertidur.

__ADS_1


Tian tersenyum menatap Davina.


Kini Davina miliknya seutuhnya, ia berjanji akan membuat Davina bahagia selamanya.


Tian mengeringkan rambut Davina, setelah itu ia ikut masuk ke dalam selimut dan memeluk Davina hingga tertidur.


Baru saja atau jam ia tertidur, ponselnya terus berdering


Tian melirik jam di meja menunjukan pukul dua pagi.


Tian berdecak kesal, siapa kiranya yang menelponnya dini hari begini???


namun karena takut penting akhirnya Tian meraih ponselnya.


PANJI CALLING......


"**** Panji, nih anak kurang kerjaan apa ya nelpon jam segini??" maki Tian, ia meletakkan kembali ponselnya, namun baru lima menit ponsel nya berbunyi lagi


"Panjiiii....


awas aja kalau gak penting, gue pecat Djadi manusia loe" makin Tina begitu telepon dia terima


"Hahaha, kalau gak jadi manusia gue jadi apa bro???


Gimana-gimana??? segel udah kebuka belum???


Apa perlu gue kesana buat kasih tips loe???"


"Mati aja loe"


"Kejam loe , gue kan khawatir sama loe sob" ucap Panji dengan suara penuh perhatian


"Eh kutil, loe tahu jam berapa sekarang, gue baru tidur" ucap Tian kesal


"Jadi loe abis wik wik??"


"Dah ah gue mau tidur" ucap Tian malas menjawab pertanyaan Panji


"Loe udah buka segel trus stempel kepemilikan belum???" jawab Napa gue kan penisiran*"


Klik., Tut Tut Tut


panggilan terputus


Tian memaki pelan karena Panji menelponnya hanya untuk menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu.


Tiba-tiba ponselnya kembali berdering


"Mau apa lagi loe???" bentak Tian emosi dan di ubun-ubun, pasalnya ia sangat lelah dan mengantuk.


dan yang terpenting memeluk Davina dan mencium aroma tubuh istrinya itu sangat menenangkan.


Dan Panji mengganggunya.


"Udah Bu......"


"Udah, enak, loe puas?????"


"Yeeaaaaayyy akhirnya duda karatan ngerasain lagi ngairin sawah" ucap Panji di ujung telepon

__ADS_1


"Panji ada yang pernah kasih tahu loe gak??


besok loe cuti ke psikiater karena loe gila!!!!" maki Tian langsung mengakhiri panggilan ya dan mematikan ponselnya agar tak di ganggu oleh Panji lagi


__ADS_2