
Panji terus mengikuti Sebastian sampai parkiran membuat Sebastian kesal
"Mau apa kau mengekor ku??"
"Ikut" ucap Panji langsung masuk mobil Sebastian begitu kunci terbuka
"Panji, gue mau balik. lagian loe kan kesini gak mungkin jalan kaki. Mau di kemanakan mobil loe???"
"Gue akan suruh anak buah gue ngambil" ucap Panji santai
"Cie yang punya anak buah" ledek Tian menggelengkan kepalanya
"Maksud gue anak buah kita" ralat Panji
"Oh loe gaji mereka" ledek Tian lagu membuat Panji cemberut, memang pelik berbincang dengan Tian.
"Ye, ye, anak buah loe, loe bos nya, loe juga yang gaji mereka, huh.
Salah ngomong dikit ribet bener, emang dasar bos aneh" gerutu Panji membuat Tian tertawa
"Turun sana"
"Gue mau ikut pulang, gue kangen kakak ipar" ucap Panji manja membuat Tian rasanya ingin muntah.
",Denger Ji, kalau loe ikut pulang sama gue, gak yakin loe masih utuh,, terutama junior loe.
Loe tahu gue sebenarnya juga lagi sebel bener sama loe ji.
Sumpah rasanya gue pengen jitak kepala loe sampai petang, biar otak loe gak konslet lagi
cuma gue takut loe gila kalau di getok terlalu kencang, masalahnya otak loe udah kurang sekilo"
"Emang kakak ipar kenapa marah sama gue?"tanya Panji dengan wajah Tan berdosa
"Penjoooolll, loe udah nyakitin Sekar, udah tahu Davina sayang bener sama Sekar dan udah dianggap saudarinya, dia marah besar sama loe pengen motong cumi-cumi loe buat di rica-rica" ucap Tian serius
"Gokil bini loe sadis bener"
"Kalau loe mau coba???" tanya Tian menaikan sebelah alisnya
"Gue gak merasa ...."
"Salah???" tanya Tian sinis
"Salah nya adalah Sekar mencintai pria bodoh seperti loe dan rela menentang pemutusan pertunangan nya dengan loe, dia memohon sama bokap loe untuk meluluhkan hati loe jadi dia jauh-jauh datang ke kota ini demi loe. Tapi setelah loe udah tahu Mila kaya apa, tetap aja loe masih sama dia, malah membiayai nyokap nya Mila. Oke buat kemanusiaan tapi loe gak harus langsung kan???????apa loe pikir kamu semua gak tahu???".
Karena perbuatan loe memberi harapan lain pada wanita sialan itu" teriak Tian pada akhirnya. Ia tak habis pikir bagaimana sahabatnya itu bisa begitu bodoh.
"Dia kesini demi gue????" gumam Panji membuat Tian makin dongkol
"Terus menurut loe dia kesini buat jadi istri kedua gue???"
"Emang loe berani??" ledek Panji
"Enggak lah, Davina aja udah cukup, sebenarnya loe sadar gak sih loe itu nyebelin banget sumpah"
__ADS_1
"Okey, okey gue salah, maaf"ucap Panji pada akhirnya
"Permintaan maaf loe salah tempat.
Mending loe sekarang turun, walau gue kesel tapi gue juga gak mau istri gue macam-macam sama loe.
Emosi Davina sedang tinggi, dia sedang mengandung anak ketiga gue" ucap Tian terlihat khawatir
"Selamat bro, gue ikut senang. jadi dia udah ingat, maksud gue ingatannya udah kembali???"
"Thanks, tapi dia masih amnesia" ucap Tian lirih
"Masih amnesia tapi bisa bikin..."
"Sana keluar, penasaran aja"cibir Tian
"Sebaiknya loe renungkan baik-baik.
Wanita yang bertahan begitu lama dan datang jauh-jauh untuk memenangkan hati loe apakah patut loe sia-siakan??? Dia wanita yang jarang ada dan bisa menerima semua kekurangan loe, dia wanita sempurna buat loe.
Besok Sekar akan menikah, kalau loe gak mau kehilangan dia sebaiknya loe segera jemput dia" ucap Tian lalu mendorong Panji keluar dari mobilnya lalu melakukan kendaraanya menuju kediaman ya, di sana istri tercintanya sudah menunggu.
Sebastian sangat bahagia saat tak sengaja melihat test pack di kamar mandi yang menunjukkan positif, sementara Davina terguncang dengan berita kehamilannya sendiri, ia menangis dan baru tidur setelah satu jam menangis.
Mau tak mau Sebastian menghubungi Ayudia dan Arjun, keduanya langsung datang karena khawatir sekaligus bahagia dan Oscar menelpon jika ia bersama Panji.
Ayudia dan Arjuna meyakinkan menantu mereka jika ingin keluar mereka akan menjaga Davina selama ia tak ada, kini masalah Panji sudah selesai.
Tergantung Panji mau mengambil kesempatan terakhir atau membuatkannya dan menjadi penyesalan seumur hidup
Sebenarnya Sekar besok bukan menikah tapi bertunangan, namun demi membangkitkan ketakutan di hati Panji, tak ada salahnya Tian berbohong.
Saat sampai rumah terlihat Davina sedang di suapi mamanya, istrinya itu masih sangat manja pada Ayudia, tapi terkadang tegas seperti wanita dewasa.
Maklumi saja, dia masih belum dewasa.
"Haus ayang udah bangun?? lagi makan apa? mas belikan jeruk untuk kamu" ucap Tian mengecup kening istrinya
"Mama masak kan sayur asam, enak deh yank, makan sana"
"Iya nanti aja, ma, p, makasih ya" ucap Tian tulus
"Sana ganti pakaian mu dulu, kamu bau asap rokok" ucap Ayudia menutup hidungnya
Sebastian mengangguk kepala dan masuk ke dalam kamarnya, Taka elang berapa lama ia keluar sudah rapih dengan pakaian santainya
"Mas, kaya mama kamu menemui Panji ya??? mana anak ceking itu, mah aku remas-remas" ucap Davina berapi-api
"Sayang, enggak boleh emosi, gak baik buat dedek bayi nya.
Lagi pula Panji usianya lebih tua jauh dari mu, dia seumuran mas, masa anak ceking?"
"Ih mas maksud aku teman kamu yang nyebelin itu, gara-gara dia kan Sekar sedih dan pulang.
Aku jadi gak punya teman curhat lagi deh" gerutu Davina cemberut
__ADS_1
"Nanti curhatnya sama Agatha aja"
"Gak mau, dia yang ada ngeledek terus" ucap Davina menghela nafas
"Kalau gitu sama Lilly" usul Tian
"Lilly??? ah dia itu cuma iya, iya aja gak asik kalau masalah curhat dia aja gak pengalaman"
"Terus kalau m Sekar???"
"Dia dewasa walau masih kecil" ucap Davina sok tua
"Hahaha sayang, kamu sama Sekar lebih tua Sekar tiga tahun, bagaimana kamu bisa bilang dia anak kecil" ucap Tian tertawa sambil mengacak-acak rambut istrinya yang imut.
"Massss, ih tetap tua aku kan aku udah nikah duluan, Sekar belum" protes Davina tak mau kalah
"Terserah kamu lah, mau aku bukakan jeruk?"
tanya Tian penuh kasih sayang, Davina mengangguk cepat, walau ia masih belum bisa menerima kehadiran anak dalam kandungan nya tapi ucapan mamanya membuatnya tenang.
Ingatannya mungkin hilang, tapi ia seorang istri dan kini mengandung anak pria yang di cintai nya, semua wajar.
Sementara di apartemen Panji
Setelah sampai apartemen Panji terus merenungi perkataan Sebastian, entah mengapa hatinya gelisah.
"Ngapain gue jadi mikirin Sekar, itu bagus kalau dia nikah kan???? kok kenapa gue jadi kaya gak rela ya???" gumam Panji lirih
"Ah sial, kenapa gue gak tenang gini sih??" gerutu Panji berjalan mondar mandir, ia terus teringat wajah Sekar, suara Sekar yang lembut, senyum Sekar yang mempesona, lalu...
Wajah sedih Sekar terbayang, hati Panji terasa tertusuk
"Sekaaaaarrr , Sial apa yang loe perbuat sama gue???" teriak Panji lalu berjalan menuju kamarnya, ia mengambil jaket dan memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper kecil dan bergegas ke parkiran, mengendarai kendaraanya menuju kota kelahiran.
Tak mungkin ia naik pesawat, ini sudah jam satu pagi, ia menyetir seperti orang gila menuju ke kota yang penuh kenangan, kita di mana ia di lahirkan dan di besarkan.
"*Panjiiii ngapain loe nelpon gue jam satu pagi, loe gak ada kerjaan apa??? dasar stress" maki Tian di ujung telepon dengan suara serak khas orang bangun tidur
"Gue izin gak masuk kantor dulu,"
"Ngapain loe bolos hah?? udah dua Minggu lebih loe nggak masuk penjol, siapa yang mau handle kerjaan loe?"
"Ya elah bro, ada Rian asisten gue. lagian kan gue denger ada sekertaris baru mereka berdua lah.
Gue mau menyelamatkan hidup gue"
"Maksud loe apa penjol??"
"Gue lagi di jalan, gue mau menggagalkan pernikahan Sekar" ucap Panji membuat Tian yang mengantuk langsung duduk tegak
"Apaaaa???" teriak Tian membuat Davina terbangun.
Ia mengatakan itu bukan untuk Menggagalkan acara Sekar, tapi membuat Panji sadar.
apa Tian salah langkah????
__ADS_1