
Seharian Davina tak turun kasur, rasanya sangat sakit membuatnya enggan kemana-mana jika tidak terpaksa.
"Sayang, kenapa kamu meringis begitu?? apa masih sakit??" tanya Tian khawatir melihat wajah pucat istrinya.
Tian jadi merasa bersalah pada Davina
"Iya" ucap Davina masih dengan wajah merona merah, ia tak berani menatap Tian karena malu.
Davina siang tadi meminta Tian mengganti sprei mereka karena ada noda darah.
Namun Tian ingin menyimpannya membuat Davina kesal setengah mati.
Akhirnya Tian ingin menyerahkan pada laundry, tapi Davina melarang, ia teramat malu, dan berusaha bangkit untuk mencuci sprei tersebut.
Akhirnya Tian mengalah.
Demi istrinya ia rela mencuci sprei tersebut di bath tube menggunakan sabun mandi.
Terdengar suara gedebak gedebuk di dalam sana membuat Davina tersenyum namun juga kasian pada suaminya
Tapi apa boleh buat, ia terlalu malu jika orang tahu.
Satu jam kemudian Tian keluar dengan handuk melingkar di pinggangnya, dadanya yang bidang terekspos sempurna membuat Davina langsung tersipu malu
"Sayang kenapa wajahmu?? apa kau terpesona padaku??"
"Dalam mimpimu" ucap Davina melemparkan bantal ke arah Tian yang dengan sigap di tangkap Tian
"Jangan memandangku seperti itu sayang,, kau menggodaku" goda Tian mengedipkan sebelah matanya
"Pikiranmu kotor"
"Aku hanya berfikiran begitu padamu, jadi spesial hari ini, aku tak akan memakai bajuku demi memuaskan matamu" goda Tian makin keterlaluan
Davina melotot kesal, ia kehilangan kata-kata, bagaimana suaminya yang dulu terkenal kalem dan sopan jadi begitu ...
begitu mesum dan menyebalkan.
Atau memang Tian seperti itu dan Davina tak pernah tahu??? entahlah, namun Davina menduga om nya memang mesum parah
"Tutupi tubuh kerempeng mu, merusak mata" Dengus Davina yang di balas tawa terkekeh Tian
Sebastian malah tersenyum licik lalu duduk di tepi ranjang membuat Davina menggeser tubuhnya dengan susah payah
"Mau apa kamu mas???"
"Mau membuktikan, aku kerempeng atau berotot" ucap Tian dengan senyum jahil
"Mas kau menyebalkan, sana pakai pakaianmu atau kau masuk angin" teriak Davina membuang pandanganya ke tempat lain
"Jangan malu-malu begitu, aku sudah melihat kamu polos seperti bayi baru lahir, kau sudah melihatku dengan kondisi yang sama, jadi kenapa masih malu sayang hmmm???
"Mas, tunggu saja saat aku sehat, ku beri kau" ancam Davina dongkol tingkat kemesum-an Tian sudah membuatnya jengah
"Mau beri jatah??? kenapa nunggu sehat?
Aku kuat kok sekarang"
"Massssss" Davina rasanya ingin memukul kepala Tian dengan palu Godam sampai pria itu sadar, sayangnya ia tak bisa lakukan.
__ADS_1
beruntung mereka melakukan malam pertama di negeri orang, bisa di bayangkan jika mereka melakukanya di rumah dan keluarganya datang, Davina bisa menduga jika ia akan menjadi bahan ejekan mama dan papanya, terutama kedua buyutnya yang makin tua makin jadi itu.
buktinya sempat-sempatnya mereka menukar travel bag Davina dengan pakaian super sexy dan beberapa pakaian tidur Davina berubah menjadi pakaian kurang bahan bahkan beberapa malah menjadi pakaian yang dipakai atau gak tetap saja tembus pandang.
Davina menduga ini kerjaan nenek buyutnya, namun melihat situasi kemarin ia menduga ini kerjaan kakek tua itu.
Tian tersenyum lebar malah membuat Davina merinding, ia mendekati istrinya dan menarik tangan Davina ke dadanya
"Gak usah malu sayang, aku milikmu," ucap Tian tak tahu malu, dengan gemas Davina mencubit suaminya membuat Tian meringis kesakitan
"Mau lagi di cubit hah, sini.
Mas mau aku tendang bokongnya apa??"
"Aku rela demi kamu sayang"
"Mas, kau menyebalkan" ucap Davina melempar selimut yang sejak tadi menutupi tubuhnya tanpa sadar
"Sekarang kau berniat menggodaku sayang???
percayalah, imanku mungkin ku tapi amin ku tidak.
Jangan menggodaku, aku takut tak kuat menahannya" ucap Tian dengan suara parau dengan mata yang menatap tak berkedip ke arah Davina.
Davina menutupi tubuhnya dengan bantal membuat Sebastian tertawa geli
"Mas kembalikan selimutku"
"Bukankah kau yang melemparnya karena ingin menggodaku??
Kau sangat sexy sayang" ucap Tian membuat Davina beringsut ngeri.
"Aku menggoda mu saja sayang," ucap Tian mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang
"Kau suami yang menyebalkan" sungut Davina memukul dada bidang istrinya.
Davina menyingkap selimutnya ia bergeser pelan-pelan
"Mau kemana?"
"Aku mau buang air kecil mas" ucap Davina, tahu-tahu Tian membopong istrinya, Davina sangat terkejut,
"Massss"
"Aku akan mengantarmu ke kamar mandi"
"Aku tidak lumpuh, aku bisa berjalan" protes Davina cemberut
"Diam dan menurut lah sayang, aku tak akan mengintip karena aku sudah melihat semua" ucap Tian mengedipkan sebelah matanya
"Awww, awww sayang ampun" ucap Tian berteriak pura-pura kesakitan karena Davina menghujaninya dengan cubitan
"Kau, kau suami yang sangat mesum" ucap Davina membanting pintu kamar mandi begitu Tian keluar dari sana
Tian tergelak tertawa sementara di alam kamar mandi terdengar makian Davina
"Ckckck dia sungguh galak, dasar kucing kecil" ucap Tian terkekeh sendiri.
Tian bersandar di depan pintu, ia bisa mendengar istrinya yang mengomel di dalam sana.
__ADS_1
Tian tak marah justru ia merasa senang, Omelan Davina seperti nyanyian merdu untuknya
Ia ingin mendengar hal seperti ini tiap hari.
Tian tak henti-hentinya bersyukur pada sang Khalik karena sudah mempersatukan dirinya dengan Davina dengan cara yang tak terduga dan terbayangkan oleh siapapun.
Cinta yang ia pendam selama ini, doa yang selama ini ia panjatkan ternyata Allah kabulkan.
Tian sellau memohon Davina di persatuan dengan pria yang sangat mencintainya dan bisa melindunginya, dan ternyata Allah memilihnya.
Cekreeeekkk...
Pintu toilet terbuka, Davina sudah selesai mandi,
Aroma lavender yang menenangkan menyeruak menusuk Indra penciuman Tian
"Sayang kok mandi sendiri???"
"Aku bukan anak kecil" ucap Davina berusaha melewati suaminya yang tinggi menjulang
"Kau bukan anak kecil, tapi kau istri kecilku" ucap Tian tiba-tiba mengangkat tubuh mungil Davina
"Mas, aku tidak lumpuh, kalau kau menggendongku terus aku akan malas berjalan"
"Aku tak keberatan" ucap Tian dengan senyum tersungging
"Tapi aku yang keberatan.
kalau ku tahu kau menyebalkan aku tak mau menikah...."
Cup, sebuah kecupan membungkam bibir Davina, ia tak bisa meneruksan kalimatnya
"Jangan teruskan sayang, sebuah keajaiban aku bisa menikahi wanita yang ku cintai selama ini" ucap Tian lirih
"Se...sejak kapan???
"A...apa???" Tian gelagapan sendiri, ia tanpa sadar membuka aibnya sendiri. Sebastian kini memakai dalam hati kenapa mulutnya lancar sekali membuka aibnya sendiri, ia keceplosan bicara.
Kini ia bingung harus mengatakan apa.
Gak mungkin kan dia mengatakan jika sudah mencintai Davina sejak kecil
Bisa-bisa ia di kira pedofil oleh Davina.
Tian memutar otaknya berpikir alasan yang tepat, Davina orang yang sangat teliti, jika perkataanya mencurigakan, Davina akan mencari tahu lebih jauh dan ia akan tambah malu pada istrinya itu
"Sejak kapan kamu menyukaiku??? apakah itulah sebabnya ada fotoku di laptop Mu???
Apa kau menyukaiku sejak lama???" tanya Davina beruntun
"Ah itu.., itu..,"
"Astaga dia tahu gue jadikan wallpaper foto dia, untuk dia gak buka folder gue, bisa kacau kalau dia tahu gue koleksi foto dia sejak dulu...
Tian berpikir, ayo berfikir" gumam Tian dalam hati
"Om sejak kapan??? gitu aja lama bener jawabnya" cecar Davina.
"Anu.... itu....
__ADS_1