Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Dona Murka


__ADS_3

Sebastian hanya menurunkan Davina di salon miliknya sendiri, sementara ia pergi mengurus sesuatu yang sangat penting.


Dona, wanita teman dekatnya yang menyukai Sebastian, namun Sebastian tak pernah memberi harapan lebih


Dona juga pernah datang ke rumahnya dan berusaha mengambil hati Cleo.


Dona tahu jika Sebastian sangat menyayangi Cleo, dan akan melakukan apapun untuk Cleo.


Sayangnya Cleo tak pernah menyukai Dona.


Cleo over protektif pada setiap wanita yang berusaha mendekati papanya, tak terkecuali Davina yang di nilai menggangu dirinya dan papanya.


Namun Davina berbeda di hati Tian.


Ia sudah menaruh rasa suka pada Davina sejak dulu.


itu berawal dari rasa kagum yang berkembang menjadi suka dalam diam.


Namun sayangnya usia mereka terpaut sangat jauh, walau Davina bisa berubah menjadi sosok dewasa namun tetap saja cangkangnya saja , tapi dalamnya masih anak kecil.


Akhirnya Sebastian membuka hati pada Marsha, Namun sayangnya Marsha rupanya hanya mengincar harta Sebastian, begitu Marsha tahu jika Sebastian hanya anak pungut Baksoro ia meninggalkan Sebastian tanpa tahu jika Sebastian mewarisi harta Baksoro berupa perusahaan, Marsha tak perduli pada Cleo yang kala itu baru ia melahirkan dan memilih pergi dengan sahabat Tian sendiri.


Dan Dona adalah sahabat Marsha.


Dona juga yang memotivasi Sebastian dan membantunya melupakan Marsha, membuat Sebastian bangkit dari keterpurukannya setelah di tinggal Marsha.


Rupanya Dona sejak dulu menyukai Sebastian.


Hanya saja Sebastian menyukai Marsha.


Sebastian merasa bersalah karena Dona memilih menunggunya membuka hati dan memilih melajang selama ini.


karena itu Sebastian tak pernah melarang Dona mendekatinya, mencoba menerima Dona, namun nyatanya ia tak bisa.


Dona membuatnya sulit bernafas, Dona membatasi setiap gerak Tian, ia bukan seperti kekasih tapi lebih seperti ibu yang selalu banyak aturan


Karena kini Tian sudah menikah, maka ia harus memperjelas hubungan mereka.


Itu demi kebaikan mereka berdua. Agar Davina tak salah paham dan Dona yang terus berharap cintanya.


Sebastian memasuki sebuah cafe dimana Dona sudah menunggunya. Nampak Dona dengan dress hitam dengan dress Sabrina MIDI tersenyum lebar melihat kedatangan Tian


"Hai Don, sudah lama??" tanya Tian begitu mendekat


"Baru kok sayang" ucap Dona ingin cipika cipiki namun Tian mengelak membuat Dona bingung


"Ada yang salah sayang??? kok kamu seperti menghindari ku???"


"Perasaan kamu saja, sudah pesan minum??" tanya Tian melihat di meja Dona masih kosong


"Sudah aku pesankan kopi kesukaan kamu" ucap Dona melambaikan tangan, tak lama seorang waiters datang membawa dia gelas capuccino latte dan dua piring cake slice


"Don, aku mau memberitahumu sesuatu yang penting" ucap sebastian dengan wajah serius.


Dona dalam hati dag Dig dug.


Ia mengira sebastian akan melamarnya.


Wajah Dona berseri-seri. Sudah sejak lama ia menanti momen ini, ia sudah mengejar sebastian lebih dari empat tahun, namun pria ini sulit sekali di taklukan.


Jika bukan karena Tian adalah pewaris Baskoro corp, Dona tak mau membuang waktunya.


Sayangnya Marsya bodoh membuang pria sesukses Sebastian


Marsya hanya tahu jika sebastian merintis bisnis kecil nya, ia tak tahu jika bisnis kecil itu kini menjadi bisnis besar dan Sebastian menggabungkan perusahaanya dengan perusahaan papanya.


Kini sebastian adalah seorang pengusaha sukses di usianya yang masih tergolong mudah.


Semua keturunan Baksoro memegang perusahaan benefit di kota ini. Ibarat pepatah ini adalah kerajaan mereka dimana sebagian bisnis di kuasai oleh keluarga besar benedito dan Baskoro.


"Katakan sayang, aku mendengarkan" ucap Dona tak sabaran karena sebastian terlihat ragu


"Dona, aku mau mengucapkan terima kasih karena kau banyak membantuku beberapa tahun belakangan ini"


"Sudah sewajarnya aku membantumu, kau pria yang kusuka" ucap Dona lugas.


Ia tipe wanita yang selalu. mengatakan apa adanya.


"Aku menghargai semua bantuan mu.


Menghargainya perasaanmu.

__ADS_1


Tapi aku mohon maaf" ucap Tian membuat senyum di wajah Dona menghilang


"Sayang, kau tahu aku akan setia menantimu.


Kau tahu kan aku sangat mencintaimu.


Aku akan menunggu sampai kau bisa menerimaku" ucap Dona membuat Sebastian merasa bersalah


"Dona dengar, aku sudah mencoba.


Aku berusaha keras untuk menerimamu, tapi tak bisa.


Bukan karena kau tak sempurna. Ka lebih dari sempurna.


Namun perasaan tak bisa di paksakan Dona.


Aku mohon maaf.


Kemarin aku sudah menikah"


"Sayang, kamu lagi gak prank aku kan???


ini, ini gak lucu sumpah" ucap Dona dengan air mata berderai


"Maaf Don, aku gak bercanda.


Aku memang sudah menikah kemarin.


Karena itu ponselku tak aktif.


Aku sangat mencintai istriku, maafkan aku"


"Tian ba"Ingan loe buat gue nunggu lama terus loe buang gue kaya sampah???


Dimana hati nurani loe???" teriak Dina memukul Tian sambil menangis.


Tian hanya membiarkan Dona memukulnya.


Tian sadar jika semua salahnya yang tak tegas pada Dona sehingga wanita itu terus berharap


"Maafkan aku Dona.


Saat mendengar Tian akan jujur pada Dona, Panji langsung menuju lokasi dimana pertemuan sebastian dan Dona.


Panji tahu jika nanti Dona akan mengamuk


"Loe banci Tian, gue benci loe" ucap Dona terus mengamuk


"Don, Dona, tahan emosi loe, loe jadi pusat tontonan orang-orang"


"Diam loe.


Loe tahu juga kan kalau Tian menikah dan loe gak kasih tahu gue"


"Dona, itu dadakan.


Gue juga baru di kasih tahu pas acara" ucap Panji menatap Tian kesal


"Tapi kalian berdua gak kasih kabar gue.


Kalian pikir gue bodoh???


Kalina sama B*jinganya" teriak Dona menatap tajam Panji dan Tian


"Don, Tian menikah karena terpaksa" ucap Panji namun Tian langsung melotot pada Panji


"Gue gak terpaksa.


Gue udah mencintai dia sejak dulu dan di takdir mempersatukan kami" ucap sebastian membuat Panji melongo


"Jadi..."


"iya, gue mencintai dia selama ini.


Jadi gue gak merasa itu terpaksa. justru gue bersyukur" ucap Tian tersenyum teringat wajah cantik Davina


"Sial menang banyak loe bro.


Di paksa kawin tapi ma cewe yang loe suka" ucap Panji menonjok bahu Tian yang cengengesan.


Mereka melupakan keberadaan Dona.

__ADS_1


Dona makin panas mendengar perkataan Tian.Ia maju dan menampar wajah Tian dengan kera


"Dasar B*jingan" ucap Dona lalu meninggalkan cafe tersebut


"Nah Loh lupa gue ada si Dona"


"Kejar gih.


Gue tahu loe naksir doi" ucap Tian membuat Panji terkejut


"Loe tahu gue naksir Dona???" tanya Panji menatap Tian tak percaya


"Iya hidung loe kembang kempis kalo Deket Dona.


Kaya kerbau mau nyeruduk" ucap Tian mengejek


"Kampret, dasar temen laknut.


Kenapa gak loe kasih dari dulu aja??"


"Gue gak tega ma Dona, tapi sikap gue malah membuat semua makin runyam.


Gue gak pernah mencintai dia.


Setiap kami jalan gue selalu bilang gue gak bisa tapi dia maksa terus, jadi ya..."


"Gue tahu sob,


kalau begitu gue kejar ya?"


"Gidah, bawa tisu yang banyak.


Tadi gue liat dia nangis sampai ingusan" ucap Tian terkekeh


" pria gak punya hati loe sob, sue" teriak Panji lalu berlari keluar mengejar Dona.


Saat Panji keluar, sebagian baru sadar jika ia jadi pusat perhatian orang-orang di cafe tersebut yang melihat kejadian beberapa saat lalu


Bahkan Tian baru merasa panas di pipinya akibat tamparan Dona.


"Maaf menggangu kalian semua" ucap Sebastian menangkup telapak tangannya


"kak, kakak.


Ini buat itu" ucap seorang pelayan menyerahkan es batu sambil menunjuk pipi Tian yang tergambar telapak tangan Dona


"Ah makasih mas.


Maaf membuat kegaduhan" ucap Tian merasa tak enak


"Gak masalah mas.


Mba itu memang sering begitu" ucap pelayan itu setengah berbisik


"Maksud mas???"


"Dia pernah nampar cowok juga tepatnya setengah tahun lalu" ucap Pria itu berbisik.


Tian menatap tak percaya. Namun pelayan itu mengangguk penuh keyakinan


"Dia pacar mas???"


"Bukan, dia...


"Oh fans mas??, wajar aja sih mas nya kaya foto model" ucap pelayan itu tersenyum


"Ah si mas bisa aja, ini buat mas dan teman-teman mas.


Minuman sama makanannya ambil aja belum ke jamah" ucap Tian menyodorkan uang sepuluh lembar berwarna merah


"Banyak amat mas???"


"Buat biaya bikin gaduh dan thanks ya ice batunya" ucap Tian menepuk bahu pelayan itu dan pergi dengan santai keluar dari cafe tersebut.


Tian bisa mendengar sorak bahagia para crew cafe karena mendapat tips dari Tian.


Suasana hati Tian saat ini sedang baik.


Dona sudah selesai di tangani.


"Aku hanya akan mencintai kamu selamanya my little angel" ucap Sebastian tersenyum sambil menatap wallpaper di ponsel Tian yang bergambar Davina.

__ADS_1


__ADS_2