Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Perasaan Daffa II


__ADS_3

Daffa keluar dari kamar Bert setelah mengucapkan selamat malam dan memberi Bert ciuman di kening mengakhiri ciuman panas mereka.


Daffa memegangi bibirnya yang terasa sedikit bengkak, namun ia masih bisa mengingat ciumannya dengan Bert beberapa menit lalu, begitu lembut menuntut, senyum tersungging di bibir Daffa


"Semoga permasalahan Bernard segera selesai dan aku bisa memulai hubungan dengan Bert tanpa kendala" gumam Daffa dalam hati


"Ehemmm... eheeemmm" suara Davina berdehem membuat Daffa terkejut, ia terlihat serba salah


"Kau belum tidur???"


"Terbangun, dan apa yang kau lakukan di kamar Bert???" tanya Davina menghampiri kakaknya dengan mata menyelidik, berjalan mengelilingi Daffa yang terlihat kikuk


"Aku hanya mengambil piring, kau terlalu banyak berfikir" ucap Daffa menuju dapur, saat melihat di ruang tengah, ia melihat Tian dan Daffi sudah tertidur, Davina ternyata mengikuti Daffa ke dapur


"Mau apa kau malam-malam begini???"tanya Daffa menaikan sebelah alisnya


"Minum, dan mengawasi mu"


"Dasar stress"gerutu Daffa langsung meninggalkan adiknya yang cekikikan


Davina mengambil air minum lalu menyusul Daffa ke beranda apartemen,


"Aku tak pernah melihat kau merokok" ucap Davina


"Ish sana, ibu hamil gak baik menghisap asap rokok"


"Cukup matikan rokoknya, aku belum bisa tidur" ucap Davina langsung duduk di sofa ayun membuat Daffa mendengus kesal.


"Kau menyebalkan"


"Tapi ngangenin kan???" ledek Davina


"Suamimu saja yang kangen kau.


Dengar Davina kau sedang hamil, istirahat sana.


tak baik begadang saat hamil"


"Apa kau menyukai Bert????" tanya Davina tiba-tiba membuat Daffa terbatuk tersendak air liurnya


"Nih minum,santai aja gak usah shock" goda Davina


"Anak kecil tahu apa?"


"Kira-kira mama sama papa bilang apa ya kalau liat kak Daffa keluar dari kamar gadis tengah malam???"


"Kau...., apa yang kau mau?" tanya Daffa kesal, ia apes kepergok Davina. Adiknya yang cerewet dan keras kepala


"Jangan teruskan jika kau tak yakin.


Bert sudah banyak mengalami kesulitan.


jika kau hanya memanfaatkannya jangan teruskan.


kak Daffa dan Bert memiliki banyak perbedaan, jadi pikirkan baik-baik sebelum menjalin hubungan.


aku mengatakan ini karena aku tak mau Bert terluka oleh sikap kak Daffa"


"Apa aku pernah tak serius dalam melakukan sesuatu???


Aku ke kamar Bert hanya mengambil mangkuk.


aku menyukai Bert, dia membuatku nyaman.


aku tak pernah merasa seperti itu dengan wanita manapun"


"Bert sudah dewasa, dia tak butuh pacar"ucap Davina dengan wajah serius


"Aku tahu, Aku juga tak butuh pacar," ucap Daffa meneguk air di gelas yang di berikan davina, sekedar membasahi tenggorokan nya,


"Kak apa kau serius dengan bert????

__ADS_1


kau tak pernah dekat dengan wanita manapun, jika alasannya nyaman, saat kau tak nyaman kau akan meninggalkan dia kan????"Daffa melirik menatap adiknya sekilas, lalu menatap lurus ke depan.


pemandangan kota ini sangat indah malam hari.


Daffa sangat mengerti kemana arah percakapan Davina.


"Aku tak bisa berkata apa-apa, saat ini aku ingin dekat dengan Bert dan kami akan belajar lebih mengenal satu sama lain. Aku mengerti jika kau keberatan Bert lebih tua dariku, tapi itu tak menghalangi niatku ingin mengenalnya lebih jauh"


"Aku tak pernah melihat seseorang dari fisik, maupun latar belakang. jika kau sudah putuskan itu maka aku orang pertama yang akan mendukungmu dengan Bert" ucap Davina serius


"Terima kasih, itu membuatku lega"


"Aku akan membantu agar keluarga kita bisa menerima Bert, tapi sisanya tergantung kau meyakinkan mereka"


"Itu lebih dari cukup, thanks sis"


"It's ok kita Saudara, aku mengantuk.


jangan begadang, kita masih punya misi besok" ucap Davina menepuk punggung saudaranya lalau berjalan ke dapur, mengambil segelas air minum lagi, membangunkan suaminya, mereka lalu masuk kamar.


Kini tinggal Daffa yang kembali menyulut rokoknya,


ia merenung kata-kata Davina.


dorongan untuk dekat dengan Bert begitu kuat, ia sudah meminta Bert menunggu dan Daffa tak akan mengecewakan Bert.


Ia tak perduli jarak usia mereka,...


pintu kamar Bert terbuka dan keluarlah Bert dengan tongkat nya


Daffa menoleh dan langsung bangkit menghampiri


"Mau kemana??"


"Aku haus" ucap Bert tersipu malu.


Daffa senang sekali melihat wajah malu-malu Bert


ia mengambilkan Bert minum


"Aku bisnberjalan dan bagaimana jika ada yang melihat"


"Kenapa???"


"Aku tak nyaman" ucap Bert menunduk


"Cepat atau lambat mereka juga akan tahu.


Davina sudah mendukung kita" ucap Daffa tersenyum


"A...apa Davina... kau.....


aku.... aku..."


"Tenang saja kau memiliki banyak kelebihan yang pasti akan membuat keluargaku menerimamu" ucap Daffa mengecup kening Bert lembut


"Apa kau serius menyukaiku???" tanya Bert memberanikan diri


"Apa aku terlihat main-main???


kau bisa tanyakan sadari dan saudaraku, apa aku pernah dekat dengan wanita???"


"Aku tak tahu, dan aku tak mau bertanya" ucap Bert merona merah


"Kau cantik sekali saat malu" ucap Daffa mengecup bibir Bert.


Bert mendorongnya, mereka di luar kamar dan di tempat tak jauh dari mereka Daffi saudara kembar Daffa sedang tertidur dan bisa saja terbangun


"Ayo kau kembali ke kamar, ini sudah malam" ucap Daffa membopong Bert menuju kamarnya, meletakkan Bert di kasur dan menutupinya dengan selimut


"Apa kau merokok?"

__ADS_1


"Euhmm sedikit jika kau tak suka aku tak akan merokok saat bersamamu" ucap Daffa membuat Bert malu


"Tidak, aku suka" ucap Bert menunduk makin dalam dengan wajah merona.


Bert ingin memukul mulutnya sendiri yang terlalu jujur.


ia menyukai aroma tembakau dan bibir Daffi yang terasa manis saat mereka berciuman tadi


"Mengapa menunduk??? tatap wajahku" ucap Daffa serak. pesona seorang Bert yang sederhana mempu membuat dinding pertahanan Daffa yang dingin runtuh


Daffa menengadahkan wajah Bert dan kembali menciumnya,


"Tidurlah aku akan menemanimu, aku tak akan macam-macam sampai kau resmi menjadi istriku"


Daffa memeluk Bert ia memejamkan matanya, sewmbatr Bert terus memandang Daffa tak percaya.


"Tidurlah atau aku berbuat yang aneh padamu" ucap Daffa tanpa membuka matanya, Bert langsung memejamkan matanya, membenamkan wajahnya di dada bidang Daffa. tak lama ia tertidur.


Daffa membuka matanya, mencium rambut Bert lalu perlahan bangkit dengan hati-hati menyelimuti tubuh mungil Bert, kemudian ia keluar dari kamar Bert.


Daffa berjalan ke arah sofa dan mulai memejamkan matanya dengan senyum bahagia


Keseokan paginya


Bert terbangun dan mendapati dirinya sendiri di kamarnya, ia mengambil tongkat penyangga tubuhnya dan berjalan keluar, terlihat Daffa tertidur di sofa, Bert Kembali mengambilkan selimut, menyelimuti tubuh pria yang ia cintai.


setelah itu ia berjalan menuju dapur, membuat sarapan pagi untuk semua orang


Aroma harum daging membuat Daffi terbangun, ia melihat Bert sedang di dapur


"Pagi kakak ipar" sapa Daffi cengengesan


"Pa...pagi" ucap Bert kikuk dengan panggilan Daffi


"Mau kopi??" tawar bert


"boleh, terima kasih" ucap Daffi langsung masuk ke toilet yang berada di luar


"Waaa baunya harum bikin laper" ucap Davina yang juga terbangun


"Ya tunggu sebentar lagi akan matang" sahut Bert tersenyum


"Apa yang perlu ku bantu??"


"Hancurkan kentangnya, kita akan makan dengan mashed potato" Davina segera memakai celemek, ia membantu Bert.


diatas meja Bert sudah menyiapkan minuman untuk semua orang


"Apa kau tidur nyenyak??" tanya Davina membuka percakapan


"Ah i..iya"


"Apa kau mencintai kakakku??" tanya Davina membuat gerakan tangan Bert berhenti. Davina menghampirinya dan menepuk punggung Bert


"Kak Daffa Tan pernah sekalipun dekat dengan wanita, banyak wanita yang ia tolak dan menangis histerisk Karena ulahnya, bahkan da yang di tolak sampai nekat bunuh diri" ucap Davina menghentikan ceritanya


"Aku baru pertama kali melihat kak Daffa perhatian pada wanita dan itu kau Bert.


aku menyukaimu sejak pertama kita bertemu, aku harap kau bisa banyak bersabar dengan sikap kakakku yang sedikit aneh. Dari matanya aku melihat ketulusan nya padamu" ucap Davina membuat Bert terdiam, bahunya terguncang, ia menangis tanpa suara


"Jangan menangis Bert, aku berkata itu bukan karena aku tak setuju, aku mendukung kalian" ucap Davina lembut memeluk Bert


"hapus air matamu atau kak Daffa mengir aku menindasmu, kakakku itu galak, dingin dan menyebalkan. Kau sial di sukai oleh dia" ucap Davina


"Aku beruntung di cintai dia, dia pria paling mengerti aku" ucap Bert lirih menatap Daffa yang masih tertidur.


Lahir dari keluarga miskin, dikirim ke panti asuhan dan di aniaya, saat menginjak usia sepuluh tahun di adopsi dan hampir di lecehkan oleh ayah adopsinya, Bert ke. kabur dan hidup terlunta-lunta di jalan.


dimasukkan ke dalam panti lagi dan saat usianya lima belas tahun ia memilih keluar panti dan bertemu dengan Maria yang kala itu sudah menikah dengan Bernard.


Maria mengadopsi Bert untuk menemani Lilly yang saat itu sudah berusia delapan tahun, keduanya tumbuh dan menjadi saudari sekaligus sahabat akrab

__ADS_1


__ADS_2