
"Percayalah mereka datang bukan dengan tangan kosong tanpa rencana, mereka bisa menemui papamu dengan mudah" ucap Gabriel tersenyum lebar
"Bagaimana bisa????????
jika mama tiriku sudah sampai bahkan....."
"Tenang saja, mama tiri mu tidak langsung pulang ke mansion papa mu, dia dan pria itu memilih bermalam di hotel" ucap Gabriel yang mendapat informasi dari anak buahnya yang sudah stand by di sana.
"Gab, kau membuatku merinding"
"Aku????, apa aku setan sehingga kau merinding" Dengus Gabriel kesal
"Bukan, bukan kau. tapi mama tiriku
Aku merinding mendengar wanita ****** itu dengan kelakuannya aku merinding sampai ingin mencekiknya sampai mati.
Om Denis adalah orang kepercayaan papaku, namun teganya ia......" Elliana meneteskan air mata dengan mata penuh dendam.
Hatinya di bakar amarah sampai ia menitikkan air mata. Sedih, kecewa, marah, benci jadi satu.
"Bersabarlah, mereka sebentar lagi akan mendapatkan balasannya"
"Dengan aku masih di sini??? aku tak akan bisa tenang sebelum melihat keluargaku baik-baik saja" ucap Elliana mulai menangis.
Gabby terpaku, ia bodoh dalam urusan Menenangkan wanita, ia tak punya pengalaman.
Beruntung ia teringat ocehan Oscar saat salah satu kekasihnya merajuk dan menangis.
Ah saat begini Gabbriel merasa beruntung memiliki sahabat seperti Oscar, walau biasnaya di saat normal ia akan muak dan membenci Oscar yang playboy.
Ternyata ada baiknya juga berteman dengan manusia super mesum Oscar.
Gabriel mendekati Elliana lalu memeluknya, awalnya Elliana yang terkejut mendorongnya, namun akhirnya ia menyerah, untuk pertama kalinya ia menangis dalam pelukan seorang pria selain papanya.
Nyaman itulah yang Elliana rasakan.
Gabriel reflek mengelus rambut Elliana berusaha memberikan ketenangan pada Elliana.
Jika ia di posisi Elliana saat ini, ia juga pasti akan merasa tertekan.
Walau sekedar apapun Gabriel, ia sangat mencintai keluarganya.
Gabriel membiarkan Elliana menumpahkan seluruh perasaan yang ia pendam, hingga tangis Elliana berhenti.
Gabriel menatap wajah Elliana dengan mata yang sembab, ia membantu Elliana menghapus air mata di wajah cantik wanita itu
"Kau jelek kalau menangis" ucap Gabriel dengan suara lirih. Matanya terpaku melihat bibir Elliana yang entah sejak kapan membaut Gabriel ingin **********.
Bibir itu terlihat kenyal dan menggoda.
Wajah Gabriel maju, mata mereka bertemu dan entah ap yang terjadi, bibir mereka bersentuhan, lalu Gabriel mencium lembut bibir elliana, terasa lembut, ia merasa dorongan untuk merasakan lebih, ia ******* bibir itu, Elliana terkejut sejenak namun beberapa saat kemudian keduanya hanyut dalam permainan lidah mereka, saling mengabsen
"Astaga apa yang kalian lakukan???" tanya seseorang membuat keduanya kembali kedua nyata, Elliana langsung mendorong Gabriel.
wajahnya merona merah karena malu.
"Pa... papa....., ma....."
Gabriel tersendak darahnya sendiri, ia tertangkap kedua orangtuanya sedang mencium seorang wanita, tepatnya mereka sedang berciuman panas.
"Sayang, sepertinya kita harus mempercepat pernikahan mereka sebelum ada Lungu junior hadir sebelum menikah" ucap Lungu langsung berjalan menuju kamarnya, ia shock sekaligus senang.
Senyum licik terpasang di wajah tampannya.
__ADS_1
Kali ini ia akan menjadikan kejadian tadi sebagai alasan mereka menikah.
walau ciuman menurut sebagian orang tak menjelaskan apapun, namun Gabriel pria tertutup, mungkin ini adalah ciuman pertamanya dengan seorang gadis, Lungu bahagia
"Anak nakal, keahlian ku mencium ternyata menurun padamu, hahaha aku cukup bangga." puji Lungu dalam hati dengan senyum mengembang.
Karena teriakan Lungu, Emilly mamanya sampai keluar kamar dan melihat Gabriel yang terlihat tak berdaya di bawah interogasi Sonia.
"Ma, ini tak seperti yang kalian lihat, aku hanya menghibur Elly"
"Dengan seperti itu???, bisa saja kalau kamu tak datang lebih. Mama setuju perkataan papamu sayang.
Persiapkan diri kalian
"Maaaa, mama aaaaa" Gabriel meremas rambutnya frustasi. Ia tadi entah mengapa tergoda mencium bibir Elliana dan rasanya....
Gabriel masih merasakan kelembutan bibir itu menempel di bibirnya
"Kau pengecut, aku malu memiliki cucu sepertimu,
Kau egois" ucap Emilly lalu berjalan kembali ke kamarnya
"Nek, nenek aku bisa jelaskan" ucap Gabriel menyusul neneknya.
Elliana merasa sangat malu.
malam hari malah membuat heboh seisi rumah.
Ia merutuki dirinya sendiri yang terbawa suasana dan menikmati keintiman dengan Gabriel.
Namun kini ia kecewa melihat reaksi Gabriel.
"Kau bodoh sekali elly, jika kau menikah dengan pria itu, dia tak akan pernah mencintaimu.
ia menangis, sesak rasanya , harga dirinya serasa di injak-injak.
Sementara di kamar Emilly.
" Nek, aku bisa jelaskan"
"Tak perlu.
Jika kau tak menciumnya aku percaya kau menolak di paksa menikah dengannya, tapi kau menciumnya"
"Nenek itu hanya ciuman" teriak Gabriel frustasi
"Apa hanya ciuman?? apa kau seorang playboy???
Apa itu ciuman mu dari kesekian wanita yang pernah kau cium???
Gabriel Mika Lungu, mungkin di matamu aku wanita tua yang tak tahu apa-apa, tapi aku pastikan bahwa aku seorang pengamat yang baik
Kau menciumnya dan itu pertama kali bagimu.
sebagai seorang pria keluarga Lungu apa kau anggap Elly murahan??? kau tak mau menikahinya tapi kau menyentuhnya, apa anaknya jika bukan egois???" tanya Emilly setengah berteriak
"Nenek aku..."
"Renungkan itu, jika kau tak ingin menikahinya, bawa ia keluar dan pastikan ia selamat sampai di negaranya." ucap Emilly membuang pandanganya ke arah lain, ia sangat kecewa dengan cucunya.
Gabriel hanya bisa pergi dengan langkah gontai, sebuah tangan tua menepuk bahunya lembut
"Dengan Tante Carmen bicara nak.
__ADS_1
Tante sudah mengenalmu lebih dari siapapun.
nikahi Elliana, dia wanita yang terbaik untukmu.
Tante yakinkan itu, walau Tante baru mengenalnya, tapi Tante sangat yakin dia cocok untuk mu.
Menciumnya tak mungkin tanpa ada perasaan apapun" ucap Carmen tersenyum penuh
"Temui Elly, dia pasti terluka karena tindakanmu.
Wanita itu rapuh dan sensitif, kau menolaknya di depan semua orang.
temui dia dan minta maaf padanya sebelum dia menutup hatinya untukmu" ucap Carmen memberi tanda dengan matanya.
Gabriel mengangguk lalu menuju kamar Elliana
Mengetuk pintu kamar Elly namun Elliana tak perduli, ia benci Gabriel.
"Elly, maafkan aku.
Aku sudah menjadi pria jahat. please maafkan aku" ucap Gabby. namun pintu tetap tertutup
berkali-kali Gabriel meminta maaf namun Elliana cuek, hingga ia tertidur pulas karena cape menangis.
Dini hari ia terbangun, tenggorokannya terasa kering, ia membuka pintu dan tiba-tiba sesosok tubuh ikut jatuh saat pintu terbuka
"Gabriel, apa yang kau lakukan???" pekik Elliana tertahan
"Akhirnya kau membuka pintunya, aku ingin meminta maaf dan menunggumu sampai kau membuka pintu
"Apa kau bodoh???" maki Elliana masih kesal
"Aku bodoh, egois dan jahat"
"Pergilah aku tak ingin melihatmu" ucap Elly emosi
"Aku tak akan pergi tapi jika kau tak mau melihatku..." Gabriel membuka bajunya dan menutupi wajahnya
"Apa kau gila???"
" bisa di katakan begitu. Apa ku masih marah padaku"
"Kau pikir saja sendiri" ucap Elly berjalan menuju dapur, Gabriel mengikutinya dengan wajah masih di tutup, ia harus mengandalkan tangan Daan kakinya, saat menuruti tangga i berhati-hati, namun saat tiga anak tangga lagu kakinya tersandung dan jatuh terguling hingga bawah
"Gabby....
Astaga apa kau mau mati???
apa kau terluka????" pekik Elliana panik, ia mendekati Gabriel, membuka penutup wajah pria itu, memeriksa dengan panik kondisi Gabriel.
Gabriel menatap dengan senyum
apa yang Carmen katakan benar.
Wanita di depannya mungkin jodoh yang memang di persiapkan tuhan untuknya, di pertemukan ECARA tak sengaja, di dekatkan karena keadaan.
Hati Gabriel berdetak kencang, terutama saat melihat wajah panik Elly, ia tak mendengar ucapan Elliana, yang ia lihat hanya wajah cantik itu
"Gabby apa kau tuli, apa kau gila???? sejak tadi aku bertanya kau hanya senyum,..." teriak Elliana memegang wajah Gabriel
Gabriel memegang tangan Elliana sambil menatap wajahnya lekat.
Cantik dan menggemaskan.
__ADS_1
"Will you Merry me Elly???" tanya Gabriel dengan senyum mengembang