
"Hahaha sayang, aku gak lupa" ucap Panji menggaruk kepalanya yang tak gatal, sementara Sekar menaikan sebelah alisnya dengan pandangan mata menyelidik
"Sepertinya kau lupa sudah punya istri"
"Sayang beneran aku gak lupa, hanya saja tadi nyawaku belum kumpul.
Lihat aku ingat kamu istriku yang paling cantik" ucap Panji mencoba merayu istrinya
"kau tak tulus"
"Aku serius, sayang kau cantik sekali, aku tak rela pria lain melihatnya" ucap Panji menarik istrinya mendekat dan duduk di pangkuannya
"Mas kita masih di ruang keluarga, bagaimana..."
"Ckckck dasar pengantin baru gak bisa liat temapt" ucap Sigit yang melewati ruangan tersebut.
Sontak Panji berdiri karena terkejut dan lupa jika Sekar di pangkuannya. Akibatnya Sekar terjatuh dengan pantat mendarat lebih dahulu
"Awwww" pekik Sekar kesakitan
"Sayang, kamu jatuh ya??? apa sakit???" tanya Panji Panji
"Udah tahu jatuh sakit pake nanya lagi" Dengus Sekar yang menepis tangan suaminya, ia meringis kesakitan
"Apa kamu baik-baik saja sayang?" tanya Sigit menghampiri putri dan menantunya
"Gak baik-baik, pinggang Sekar rasanya patah.
Papa ngapain sih bikin kaget mas Panji aja?" gerutu Sekar
"Maaf sayang, papa kan gak sengaja lewat.
Lagian kalau mau begituan di kamar sana. Sudah sah"
"Papaaaaa"
"Iya, iya papa salah" ucap Sigit langsung pergi. Panji hanya menatap melongo Sigit yang mengalah pada putrinya, dimana pria yang garang itu?
"Mas laper atau mau kopi?" tanya Sekar lembut
",Apa bokongnya aman???" tanya Panji khawatir
"Aku haik-baik aja mas, hanya sedikit sakit"
"Untung bokongmu gede, coba....." belum selesai Panji berbicara, Sekar dengan gemas mencubit pinggang suaminya
"Sayang ampunnn, ampun sayang.
Gak kasian apa mas cuma punya kulit dan minus daging. Kalau di cubit terus bergelambir gimana?" ucap Panji tak masuk akal.
Namun Sekar tetap melepaskan cubitanya.
Ya suaminya sangat kurus, ia jadi tak tega.
"Tugas Sekar yang buat kamu gemuk dengan masakannya nanti, ya kan sayang?" tanya Laras tahu-tahu sudah muncul di hadapan mereka
"Mama" ucap Sekar malu
sementara Panji hanya nyengir
"Antar suamimu mandi dulu, mama sudah siapkan pakaian kakakmu untuk Panji ganti, pasti dia kegerahan karena belum ganti pakaian sejak tadi" ucap Laras pada putrinya
"Baik ma, ayo mas"
"Tan, aku ke kamar dulu ya" ucap Panji canggung
__ADS_1
"Kok Tante??? mama dong, kan sekarang kamu anak menantu mama" protes Laras tersenyum
"Eh iya ma" ucap Panji malu-malu, mereka segera berjalan menuju kamar Sekar
"Ngapain sih mama kasih baju aku ke pria ceking itu???" dengus Fatir terlihat tak suka
Ya, Fatir tidak pernah setuju adiknya bersama Panji, bahkan saat Sekar menyusul Panji ke Jakarta, Fatir orang yang pertama menentang keputusan adiknya tersebut
Saat ia menyusul Sekar dan mendapati adiknya menangis karena Panji, Fatir langsung naik pitam dan ingin mengejar Panji, jika bukan karena Sekar, sudah dipastikan Panji patah di beberapa bagian karena Fatir atlet taekwondo.
Ia juga orang yang pertama mendukung Sekar bersama Bayu sahabatnya. Ia percaya Bayu lebih baik seratus persen di banding Panji, namun pada akhirnya ia kecewa dengan keputusan Bayu yang menyerahkan Sekar pada Panji.
Dan kini Panji adalah adik iparnya, ia masih belum terima itu.
"Kamu kenapa sih perhitungan sekali??
dia adikmu juga Fatir, kmu harus bisa menerima itu.
Lagi pula pakaian itu sudah gak muat lagi, apa kau gak punya kaca, lihat badanmu sudah seperti Hulk" seloroh Laras tertawa kecil
"Mamaaaaa"
"Apa kamu iri Sekar menikah lebih dulu darimu???
Bukankah kau tak pernah keberatan selama ini???" tanya Sekar menatap anak sulungnya
"Bukan begitu ma, aku hanya...."
"Hanya tak suka Sekar menikah dengan Panji???" tanya Laras yang mengerti apa yang di pikirkan putra sulungnya
"Aku hanya belum bisa menerima perbuatanya"
"Nyatanya kini Sekar dan Panji sudah menikah nak, suka atau tidak dia ipar mu, belajarlah menerimanya.
Mama tahu kamu dewasa, jadi berpikirlah bijak" ucap Laras menepuk punggung Fatir lalu berjalan menuju dapur.
Tian dan Cokro sedang berbincang serius, mereka sedang membicarakan Panji, Cokro meminta Tian untuk menempatkan Panji di kota ini.
kebetulan Tian memiliki kantor cabang di kota ini.
namun masalahnya adalah Panji my tau tidak?
Tian sedang memikirkan alasan yang tepat.
"Setelah bulan madu mas langsung pindahkan saja Panji, biarkan dia belajar memimpin perusahaan cabang disini"
"Aku juga berpikiran yang sama, lebih cepat ia belajar lebih baik" ucap Tian menambahkan
"Om akan berinvestasi lagi di proyeknya yang baru"
"Serius om?" tanya Tian senang.
Ya Sebastian sedang merambah ke bidang perhotelan.
Tapi ia mengusung tema back to nature, jadi hotelnya di buat klasik dengan pemandangan alam nan asri.
lebih mirip vila pribadi.
Sepeti temanya mereka juga menyajikan makanan tradisional yang di kemas modern.
"Mana pernah om berbohong, apa perlu om transfer dananya sekarang???"
"Enggak om, kamu hanya sangat bahagia sampai kehilangan kata-kata" ucap Davina tersenyum bahagia
"Sudah ayo kita makan lalu istirahat.
__ADS_1
kita semua pasti lelah dan butuh istirahat" ucap Catherine, lalu mereka semua makan malam dan istirahat.
Sementara di kediaman Sigit.
Setelah makan malam semua orang pamit untuk istirahat, tak terkecuali Sekar dan Panji.
Sekar sedang membersihkan tubuhnya karena tadi membantu mamanya masak di dapur, sementra Panji sedang duduk di tepi tempat tidur.
Ia gelisah dan bingung harus bagaimana.
Walau ia pernah melakukannya dengan wanita, namun ini malam pertamanya. setelah menikah.
Aroma semerbak sabun mandi memenuhi kamar saat Sekar keluar dari kamar mandi.
rambutnya yang basah serta kulitnya yang sedikit terekspos membuat Panji berkali-kali menelan salivanya karena Sekar terlihat sangat sexy dan menantang.
"Mas gak mandi???" tanya Sekar sambil mengeringkan rambutnya
"Nanti saja" ucap Panji tanpa berkedip menatap Sekar dengan liur menetes
"*Setelah olah raga denganmu baru mas mandi sayang" gumam Panji mengkhayal bermain dengan Sekar.
Tanpa sadar ada sesuatu yang bergerak naik.
"Sial, cepet banget dia on, padahal biasanya susah banget kalau ga di rangsang, apa Sekar terllau sexy?? atau karena ini halal jadi dedek tahu?" gumam Panji mesam mesem sendiri membuat Sekar bingung*
"Mas kamu demam???? kamu gak sakit kan??
Senyam senyum sendiri akta wong edan"
"Mas cuma senang aja akhirnya kamu sah menjadi istri mas" ucap Panji memeluk Sekar dari belakang
"Mas ih geli, aku lagi mengeringkan rambutku, nanti kena hair dryer loh"
"Keringkan rambutnya nanti aj dong, mas kan mau mesra-mesraan sama kamu" ucap Panji manja dan mulai menciumi leher Sekar, keduanya hanyut dalam perasan mereka
Panji memutar kursi Sekar, kini mereka berhadapan.
Panji mengangkat tubuh Sekar dan mendudukkannya di pangkuannya, mereka kembali berciuman panas.
Leher Sekar tak luput dari tanda kepemilikan Panji, bahkan kimono Sekar sudah tanggal, Panji dengan gemas meremas dan memilih puncak gunung kembar Sekar hingga Sekar menggelinjang geli dan keenakan.
Keduanya berciuman lagi, saling mengabsen melilit, menghisap.
Panji mulai menghisap kedua bukit kembar Sekar seperti bayi yang rakus menghisap bergantian kanan dan kiri hingga Sekar terdengar melenguh panjang tanda ia mencapai pelepasan pertamanya.
Panji tersenyum puas, ia membiarkan Sekar menikmati sensasinya beberapa saat
"Sayang ada yang mengganjal di sana" ucap Sekar terengah-engah
"Di sedang mencari sangkarnya" bisik Panji parau
"Sayang maaf, aku...
Aku sedang halangan" ucap Sekar menundukkan kepalanya merasa bersalah
Panji terkejut, ia menatap Sekar seakan tak percaya
"Aku baru datang haid" ucap Sekar lirih membuat Panji seakan di guyur air es seember.
Dingin bahkan adiknya langsung terkulai lemas
"Maaf ya mas"
"Gak apa-apa sayang, kita bisa melakukan setelah kamu bersih, mas mandi dulu ya" ucap Panji lalu berjalan menuju kamar mandi dengan muka masam.
__ADS_1
"Sial terpaksa manual deh.
Maaf ya dek, kamu harus menunggu" ucap Panji lirih