Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Menyingkirkan Elly


__ADS_3

"Pa....." Panggil Elly mengode papanya, suara langkah kaki mendekat


"Tuan juice anda" ucap Patricia menatap penuh selidik pada orang di dalam ruangan tersebut.


Ia harus meninggalkan cukup lama, Patricia khawatir Elly melakukan sesuatu, nyatanya hanya kekhawatiran saja.


"Pat, apa kau ingin membunuhku?? Kau ingin aku kena diabetes???


Manis sekali!!!! Apa kau becus kerja???"ucap Bernard melempar gelas juice nya


Semua orang terkejut tak terkecuali Patricia, pria tua itu tak pernah marah, namun mengapa kini ia sangat marah


"Tu...Tuan maafkan saya, saya akan buatkan lagi" ucap Patricia ketakutan


"Enyah kau" ucap Bernard dengan wajah merah padam karena marah, sebabnya Bernard marah pada dirinya sendiri, namun Patricia datang saat ia masih ingin melihat wajah Lilly putri yang hilang.


"Pa apa harus semarah itu, ingat jantung papa" ucap Elly mengelus dada papanya


"Aku hanya berakting, kalian meremehkan oran33gtua ini.


Jika aku tak melempar gelas itu apa kalian pikir mata-mata itu akan pergi?" Tanya Bernard membuat Gabby tersenyum dan mengacungi jempol mertuanya


"Pa, anda aktor kawakan, aku salut akting anda luar biasa" puji Gabby membuat Elly memutar bola matanya malas. Sejak kapan suaminya pintar menjilat???


"Hahaha kau harus belajar banyak denganku anak muda.


Ah aku masih belum menerimamu.


Aku akan setuju jika kau memperlakukan putri ku dengan baik" ucap Bernard dengan wajah sombong


"Tentu papa mertua, aku akan menunjukan padamu jika aku mantu idaman" ucap Gabby membuat Elly tersendak


"Lilly apa wajahmu...."


"Pa, ini semua riasan, dua hari lalu akulah yang datang bukan Elly" ucap Lilly menjelaskan


"Astaga pantas saja aku tak mengenali putriku sendiri, ternyata putriku yang lain yang datang, aku papa yang buruk tidak bisa mengenali anak sendiri" ucap Bernard menghela.nafas menyalahkan dirinya sendiri.


"Itu karena wajah kami sama pa, lagi pula papa kan belum tahu keberadaan ku" ucap Lilly menepuk punggung tangan papanya lembut


"Iya papa gak usah merasa bersalah, kita terpisah karena orang-orang jahat itu" timpal Elly memeluk Lilly dari belakang.


"Yang terpenting kami disini untuk papa,, dan akan melindungi papa dari orang jahat"


"Putri-putriku yang berbakti" ucap Bernard bergetar haru


"Papa ingat warna mata mama??? Lilly mewarisi warna mata mama dan aku mewarisi mata papa" ucap Elly


"Ya itulah mengapa aku tak curiga dia putriku .


aku hanya berfikir Elly memakai soft lens karena ia gemar memakai itu dan bergonta ganti warna.


saudarimu itu anak nakal.


dikemudian hari kau harus banyak menasihatinya ya?"" ucap Bernard.


"Papa tenang saja, aku akan mendisiplinkan Elly dengan baik" ucap Gabby membuat Elly melotot


"Haha baik-baik aku lega ada orang yang membantu ku menghukum Elly saat nakal.


Anak muda, jika kau serius dengan anakku maka nikahi ia. Aku ingin melihat putriku menikah"

__ADS_1


"Papa mertua, aku mohon maaf sebelumnya, Kami sebenarnya sudah menikah" ucap Gabby lirih


"Gab!!!!" teriak Elliana


"Apa????" Bernard terkejut dan menatap tajam putrinya. anak nakal itu menikah tanpa memberitahunya. sungguh membuat kesal"


"Pa kami menikah karena urgent, aku tak ingin kehilangan wanita yang paling cantik ini" ucap Gabby karena melihat Bernard kesak


"aku melamar dan menikahinya tengah malam beberapa hari lalu sebelum kami kembali ke negara ini"


"Hahahhaa ternyata ada yang lebih gila dariku. tapi tetap saja papa kesal pada kalian.


setelah papa sembuh, kalian harus menikah kembali secara resmi disini" ucap Bernard mengangguk dan tersenyum


"Maafkan kami pa" ucap Elly melirik suaminya dengan pandangan membunuh


"Siap pa, Papa harus percaya padaku, dia wanita tergalak yang aku kenal, tapi juga wanita pertama yang membuatku bertekuk lutut" bisik Gabby lirih yang masih bisa didengar semua orang.


Elly dan Bernard tertawa lepas, sementara Elly merah padam karena malu


"Elly, papa menyukai suamimu ini" ucap Bernard terkekeh.


"Tinggal satu lagi putri papa yang belum menikah, papa harap dia tak bersembunyi seperti saudarinya" ucap Bernard membuat Lilly terbatuk-batuk


"Tenang pa, dia kesini dengan kekasihnya juga yang kebetulan adalah sahabat suamiku" kini gantian Elly yang tersenyum senang


"Itu, dia bukan kekasihku"


"Tapi pria yang tergila-gila padamu dan menempel seperti lintah" ucap Elly tertawa penuh kemenangan


"Hahaha, papa bahagia" ucap Bernard senang


Lalu percakapan mereka berganti topik karena lagi-lagi Patricia kembali.


Setelah Bercakap-cakap sebentar, Bernard meminta Lilly ikut sarapan dengan Elly dan Gabby.


tak terlukiskan betapa bahagianya ia melihat putrinya yang ia kira sudah tiada.


Bernard ingin secepatnya membuat perhitungan dengan Denis, anak angkat durhaka.


"Sayang, jika kau masih hidup kau pasti akan sangat bahagia.


Putri kita selamat, si sulung selamat karena Narsih asisten yang kau percayakan putri kita.


Dia memiliki wajah dan mata sepertimu.


aku seperti melihat kamu dalam dirinya" ucap Bernard menatap penuh kasih sayang pada Lilly.


ya Lilly seperti mendiang mamanya, memiliki mata dan kulit yang eksotis.


Sementara Gabby langsung menghubungi Shandy, meminta Shandy mengulik masa lalu Nicholas


Ia yakin sumber pengkhianatan Nicholas berasal dari masalah pribadi kepala pelayan tersebut.


Setelah sarapan, Gabby memilih berolah raga, ia langsung menuju tempat gym yang berada di mansion tersebut.


Elly bergantian menjaga Bernard sementara Lilly memilih kembali ke apartemen lalu kemudian membawa peralatannya menuju sebuah klinik kecil di pinggir kota, sebuah klinik milik sahabat Daffi.


ia harus segera secepatnya menemukan obat lainya untuk mengeluarkan semua racun di tubuh Bernard.


beruntung racun itu belum menyebar ke jantung dan hati pria malang itu.

__ADS_1


namun fungsi ginjal dan lambung sudah rusak.


Elly hanya bisa melakukan akupuntur untuk menekan racun keluar secara perlahan dan efeknya adalah Bernard akan merasakan kesakitan.


Dengan sedikit bantuan Davina saat menjelang sore Lilly berhasil membuat formula ramuan obatnya.


Sore itu Gabby dan Elly keluar rumah, Shandy sudah menghubungi Gabby dan kini mereka ingin bertemu dengan Shandy, namun sebelumnya Elly pamit pada Gabriel ingin membeli sesuatu di supermarket.


Walau khawatir namun Elly meyakinkan suaminya jika ia bisa menjaga diri.


Gabby meminta anak buahnya menjaga istrinya sementara ia bertemu dengan Shandy.


Kini Gabby sudah berada dia sebuah cafe kecil yang tak mencolok berada di pusat perkantoran.


pada jam sore begini, situasi masih sepi karena belum jam pulang kantor, sehingga mereka bebas berbicara.


"cepet bener loe dapat info bro" ucap Gabby membuka percakapan.


" kan orang gue harus kompeten kalau gak singa di sana ngamuk hahaha"


"Hahaha kakak ipar pasti tersedak karena sedang di bicarakan" ucap Gabby terkekeh


"Jadi apa yang loe dapat????" tanya Gabby kembali serius


"Jadi pria pelayan tua itu....."


"Bos gawat, nyonya muda kecelakaan.


Kini sudah di bawa ambulance ke rumah sakit" ucap seorang pria salah berlari tergopoh-gopoh dengan baju berlumuran darah


"Apaaaaaaa?????" teriak Gabby terkejut bukan main.


apa yang ia khawatirkan terbukti


"Kalian tidak berguna" teriak Gabby menendang anak buahnya hingga menabrak kursi di belakangnya


"Maafkan kami bos" ucap pria itu lirih.


"Gab, kendalikan emosi loe, lebih baik sekarang kita ke rumah sakit" ucap Shandy langsung meminta anak buahnya menuju rumah sakit.


Sepanjang jalan Gabby meneteskan air mata, ia sangat khawatir.


"Tenang bro, Lilly sudah gue minta ke lokasi"


"Lalu papa siapa yang jaga, jangan gegabah!!!" pekik Gabby mengingatkan, ia takut ini jebakan juga


"Orang ku di sana menyamar sebagai Lilly.


dan Daffa serta Daffi menghandle nya


mereka sudah masuk ke dalam mansion.


percayalah, mereka bisa mengamankan Bernard.


"Sial mengapa gua teledor" geram Gabby frustasi


"Sabar dan berdoa" ucap Shandy tak tahu apa yang harus ia katakan lagi.


Sementara di balik tembok rumah sakit seorang pria terlihat tersenyum lebar


"Lapor, Elly sudah di singkirkan!!!!"

__ADS_1


__ADS_2