Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Membalikkan Keadaan


__ADS_3

Tunggu" ucap Alfredo yang sejak tadi diam.


Alfredo memang tak sepenuhnya mendukung Elly juga tak sepenuhnya menentang Elly.


Ia hanya membantu dan sisanya itu keberuntungan Elly, namun melihat kegigihan Elly ia akhirnya angkat bicara.


Perusahaan akan hancur jika di berikan pada Dona.


Ia melihat wanita itu sangat ambisius dan licik. setidaknya suaranya bisa membuat mereka seri.


"Aku memberi suaraku untuk Elly" ucap Alfredo


"Tapi Tian Alfredo dia...."


"Tuan anda harus tahu konsekuensinya"


"Tolong anda pertimbangkan kembali ...."


"Aku percaya dia bisa memimpin perusahaan kita lebih baik kedepannya. Dengan kepandaian Elly, pengalaman nya dan dukungan keluarga Lungu, mungkin saja kita bisa masuk dalam jajaran perusahaan ternama di luar negeri" ucap Alfredo membuat Davina terharu.


walau ia bukan Elly, tapi dukungan dari Alfredo bak angin dingin di kena gurun.


"Terima kasih Tuan Alfredo"Davina menunduk sopan


"Kau keponakanku, jangan terllau kalau walau kita di depan umum" ucap Alfredo yang melihat bagaimana Elly tumbuh


"Terima kasih uncle Al" ucap Davina yang di balas anggukan Alfredo, Tak ada yang bisa membuat Alfredo berubah pikiran, kini Posisi imbang baik di pihak Don maupun Elly.


Dona mengepalkan tangannya kesal, jika bukan karena Alfredo ikut campur, ia sudah menang.


Ya walaupun hasilnya seri, itu tak akan merubah apapun.


posisi direktur utama jelas akan berada dalam genggaman tangan Dona.


"Baiklah para rekanku sekalian, kita memiliki hasil dimana pemungutan suara hasilnya seri, oleh karena itu seperti tradisi yang biasa kita lakukan ada dua option yang harus kita pilih.


Pertama pengambilan suara ulang atau kita akan melakukan option kedua


penilaian kinerja selama setengah tahun atas kedua kandidat dan akan memutuskan siapa yang terbaik diantara keduanya, bagaimana???"


Davina terlihat berfikir keras, jika option kedua maka bisa di pastikan tanpa menunggu enam bulan, perusahaan Bernard tinggal nama saja Karena Dona pasti akan mengakuisisi menjadi perusahaan miliknya dengan berbagai cara licik.


Tak ada yang tak bisa Dona lakukan, dia punya seribu satu cara licik untuk meluluskan rencanannya.


Davina tersenyum sinis, rupanya ia harus mengeluarkan rencana cadangannya.


Awalnya Davina percaya bahwa ia tak harus mengeluarkan amunisi terakhirnya, namun anggota dewan di perusahaan Bernard sulit untuk di yakinkan.


"Maaf Tian Albert, aku memiliki sesuatu yang ingin ku sampaikan" ucap Davina menyerahkan ponselnya pada Albert


"Apa ini nona???"


"Seseorang yang ingin bicara dengan anda" ucap Davina tersenyum.


Dona mengerutkan alisnya, ia merasakan senyuman Elly sangat aneh.


Merek seri, bukankah harusnya Elly khawatir, tapi senyuman itu, jangan-jangan...

__ADS_1


"DENIS MINTA ANAK BUAH KITA MELAPORKAN APA DAN DIMANA KENDRICK KINI!!!!" ketik Dona yang mengirimkan pesan singkat pada Denis.


Denis uang membaca langsung izin keluar dan langsung menelpon anak buahnya yang ia tempatkan di sisi Kendrick, namun ponsel nya tak aktif.


Denis merasa firasat yang tak baik


"Sial, apa orang ku sudah ketahuan Kendrick????


Kemana dia tak bisa di hubungi??" gerutu Denis yang terus mencoba menghubungi salah seorang anak buahnya yang menyelinap ke dalam kediaman Kendrick.


Dona melihat Albert mengangguk dengan suara pelan, dari bahasa tubuhnya Dona melihat pria itu sedang berbicara dengan seseorang yang ia hormati, apa itu Kendrick????


Tapi selama ini laporan anak buahnya aman saja, lalu kapan mereka menemui Kendrick????


Dona semakin yakin saat melihat senyum meremehkan yang Davina lontarkan, ia menikmati wajah tegang Dona.


ingin rasanya Davina tertawa


"Apa kau khawatir Dona??? ini hanya permulaan saja.


Aku akan mengembalikan semua penderitaan yang telah kau lakukan baik padaku maupun orang-orang sekelilingku, secara perlahan dan menyakitkan seribu kali menyakitkan dari yang kau pernah bayangkan!!!" gumam Davina sinis.


Denis kembali dengan wajah buruk, Dona makin khawatir,saat Denis membisikan sesuatu pada Dona, bola mata Dona membulat lebar


"Sial apa yang kau lakukan?? ku yakin kini yang berbicara dengan Albert adalah pria tua itu. Aku sudah memintamu membereskannya" maki Dona lirih


"Maaf menunggu, saya ingin menyampaikan sedikit perubahan" ucap Albert lalu menekan mode speaker pada ponsel Davina"


"Selamat siang semuanya.


Saya Kendrick Lee memberikan dukungan penuh pada Elly dalam pemilihan kali ini


lain kali saya akan menemui kalian dan menjamu kalian. Sekali lagi saya mohon maaf"


Albert kemudian memutuskan panggilan telepon kendrick. setelah berbicara sebentar


suasana ruang rapat kembali gaduh. Kendrick yang biasanya juga tak pernah ikut dalam keputusan perusahaan kini ikut berbicara atas nama Elly.


"Karena tuan Kendrick sudah memberikan suaranya pada nona Elly maka pemungutan suara ini di menangkan oleh nona Elly" ucap Albert mengetuk palu.


Suasana tambah gaduh, ada yang terlihat kecewa adapula yang senang akhirnya direktur utama tak berada di tangan Dona.


Di tempat duduk Dona terlihat sangat marah, ia mengepalkan tangannya dengan mata memerah lalu meninggalkan ruang rapat tanpa berkata apa-apa.


Rencana yang ia bangun berbulan-bulan hancur dengan kemunculan Elly.


bidak catur yang tak pernah ia perkirakan akan mengalahkan rencananya.


Sesampainya di ruangan, Dona melampiaskan kemarahannya, ia membanting semua barang di dalam kantornya.


Ia menyukai ruangan Bernard dan sudah menempatinya selama beberapa bulan dan ia sangat yakin hari ini Rungan dan kedudukan itu akan menjadi miliknya seutuhnya, tapi......


Denis masuk ke dalam ruang kerja Dona dan melihat sekeliling ruangan yang porak poranda oleh Dona.


"Sabar baby...."


"Kau masih punya muka bertemu denganku, dasar bajingan..." teriak Dona melempar vas bunga yang tersisa di meja kerjanya

__ADS_1


vas bunga berhasil Denis hindari dan menabrak tembok di belakangnya hingga hancur berkeping


"Aku katakan sabar, kita masih punya kesempatan"


"Kesempatan apa??? kau gila????


Ini semua karena anak buahnya yang bodoh!!!!"teriak Dona murka


"Kita masih punya planning B"


"Tapi aku ingin perusahaan ini Denis!!!" teriak Dona menangis


"Aku akan memberikannya padamu," ucap Denis memeluk Dona.


Kejadian hari ini memang diluar prediksi mereka.


"Aku akan janji akan memberikan apa yang kau mau, aku akan menyingkirkan Elly dengan tanganku sendiri.


Dengan Elly menghilang, kau pasti akan menjadi direktur utama perusahaan ini"


"Apa kita bisa?? Dia di dukung keluarga Lungu" tanya Dona sangsi


"Apa kau tidak percaya padaku lagi???


Apa kau lupa kita masih punya kakek tua itu.


mungkin dalam satu Minggu ini akan mati.


Jika keduanya mati, kau pemilik sah semua aset milik Bernard"


Senyum mengembang di bibir Dona.


ya jika Bernard dan putrinya meninggal, otomatis ia akan jadi pewaris seluruh kekayaan Bernard.


lagi pula ia tak haru mengotori tangannya sendiri.


Ia memiliki Denis dan Nick untuk melakukan itu.


"Lakukan secepatnya, tanpa ada kesalahan.


Aku sudah muak bersabar" ucap Dona melunak


"Tentu princess ku.


tenangkan dirimu dan temui anak tiri mu dan bersikaplah yang wajar seolah kau menerima dan mendukungnya.


Jika kau bersikap memusuhinya saat ia mati semua orang akan menuding mu. Dona yang aku kenal bukan wanita yang berpikiran sempit" ucap Denis membuat Dona senyum sinis


"Thank you baby, aku akan memperbaiki riasan ku" ucap Dona segera menuju kamar mandi dan mulai membersihkan dan memperbaiki riasannya yang luntur.


Sementara ruangan yang porak poranda segera di bereskan secara rahasia.


setelah itu mereka kembali ke ruang perjamuan yang sudah di siapkan oleh Albert.


Dona berjalan ke arah anak tirinya dengan senyum lebar membuat Davina menaikan sebelah alisnya.


Jelas sekali beberapa waktu lalu Dona pergi dengan marah dan kini kembali dengan senyum kepalsuan

__ADS_1


"Selamat putriku, mama senang kau bisa mengikuti jejak papamu" ucap Dona memeluk Davina


__ADS_2