
Angelo sedang menggerutu sendiri di kursi malasnya, semalaman penuh dia tak bisa tidur, itu karena istrinya memilih tidur di kamar Davina
Tepatnya di Taiwan oleh cucunya.
Pagi ini Angelo merasa kepalanya berat karena begadang semalaman, kini ia sedang menunggu Ernest kembali ke kamarnya dan ingin memarahinya.
Namun di tunggu sampai jam delapan Ernest tak kunjung datang membuat Angelo makin menggerutu kesal
Tiba-tiba pintu kamar diketuk, masuklah Ernest dengan membawa nampan berisi sarapan pagi dan segelas obat herbal
"Tahu pulang???"
"Berhenti mengomel dan cepat makan setelah itu minum obat nya"
"Aku tidak mau" ucap Angelo merajuk
Tanpa berkata apa-apa Ernest mengangkat nampan itu kembali dan berjalan menuju pintu keluar
"Kok di bawa lagi???" tanya Angelo kesal.
Bukanya di rayu, Ernest malah bersikap datar
"Yang bilang gak mau kamu, trus aku bawa lagi di tanya. Sudah tua malu sama uban ngambek di gedein" ucap Ernest melotot
Angelo melongo, bukankah seharusnya ia yang marah, mengapa jadinya Ernest yang marah.
Tapi di bandingkan dirinya, jika Ernest marah dunia kelam, Istrinya jika marah Angelo saja angkat tangan.
"Sudah lah, iya, iya maaf" ucap Angelo menunduk
"Anak manis begitu dong dari tadi" ucap Ernest dengan senyum penuh kemenangan.
Salah sendiri Angelo yang menyarankan obat itu, namun Ernest juga ikut membantu mencari ide, jadi ia merasa bersalah pada cicitnya.
"Cih aku bukan anak kecil, berhenti memperlakukan suami seperti anak kecil Ernest" protes Angelo memanyunkan bibirnya , namun ia langsung memakan sarapan paginya tanpa protes
Sementara Davina dan Sebastian sudah sarapan dengan keluarganya, tubuhnya sudah fit
Tepatnya semua karena obat yang ia racik sendiri.
Karena ia sering mondar mandir maka di rumah ini terdapat lap pribadi Davina.
Siang harinya ia dan Tian menuju destinasi wisata yang Davina pilih, mereka menghabiskan waktu berdua layaknya seorang pasangan yang sedang jatuh cinta.
Namun kebahagiaan mereka terganggu saat semua panggilan masuk di ponsel Tian membuat acara mereka berantakan.
Itu panggilan telepon dari mantan mertua Tian, orangtua dari mantan istrinya
__ADS_1
"Assalamu'alaikum ma"
"Tian cepat pulang, Cleo kecelakaan.
Dia kini sedang menjalani operasi" ucap wanita paruh baya tersebut menangis
"Apaaaaa??? , bagaimana mungkin???"
"Nanti mama akan jelaskan, maaf menggangu bulan madu mu bak, bisakah kau pulang segera???"
"Ba..baik ma" ucap Tian lalu mengakhiri panggilan teleponnya, matanya kosong, hingga ia jatuh terduduk
"Mas siapa???"
"Kita harus pulang sayang, Cleo kecelakaan"ucap Tian lirih
"Astaghfirullah, sabar sayang, kita pulang sekarang" ucap Davina membantu suaminya bangkit.
Davina mengambil alih kemudi, ia tak mau mereka kecelakaan karena Tian yang terlihat shock pastinya tak akan konsen berkendara
Sesampainya di rumah, Davina dan Sebastian langsung pamit, namun pada akhirnya seluruh keluarga memilih kembali ke Indonesia dengan jet pribadi milik Angelo.
Sementara Angelo dan Ernest tidak ikut karena mereka baru saja kembali.
Sementara di rumah sakit
"Bagaimana keadaanya???" tanya seorang wanita cantik ketika keluar dari sebuah ruangan setelah mendonorkan darahnya
Mama tahu kamu perduli padanya"Ucap seorang wanita paruh baya dengan mata berkaca-kaca menatap putri sulungnya
"Aku hanya menuruti permintaan mama sebagai permohonan maaf ku karena sudah membuat mama dan papa sedih dan malu akibat perbuatan ku" ucap wanita itu santai, membuka tas nya dan mengambil sebatang rokok
"Sayang, ini rumah sakit, di larang merokok" ucap wanita paruh baya itu
"Aku akan keluar dulu, nanti aku akan kembali" ucap wanita muda itu lalu berjalan meninggalkan wanita paruh baya itu dan suaminya sebelum keduanya menjawab.
"Ckckck sikapnya tak pernah berubah.
Jika bukan karena cucuku memerlukan darahnya, sudah ku pukul dia dengan tongkatku ini" ucap
Hendrawan penuh emosi
"Pa, anak itu sudah kembali, mungkin dia sudah menyadari kesalahannya" ucap Sulasmi mencoba merdeka emosi suaminya
"Sadar???? jangan membuat lelucon Lasmi.
Kau lihat sendiri sikapnya, dia kembali karena sudah di campakkan.
__ADS_1
Jika dia punya otak untuk berfikir, apa dia tega meninggalkan cucu kita yang masih merah demi lelaki itu????" pekik Hendrawan kesal
"Iya susah-sudah, sebagai orangtua kita hanya bisa mendokan nya, bagaimanapun dia putri satu-satunya keluarga kita"
"Aku lebih memilih tak memiliki anak perempuan jika aku tahu anak itu seperti iblis wanita
Dimana nalurinya sebagai seroang ibu, dia gak layak menyandang status sebagai wanita yang memiliki derajat mulia" desah Hendrawan memijit keningnya yang mulai berdenyut.
Dua hari lalu anak yang sudah membuat malu dan mencoreng wajah keluarga besar mereka kembali, Tak ada kebahagiaan sedikitpun dengan kembalinya putri mereka, yang ada hanya kesal dan kecewa yang sedang menumpuk selama delapan tahun lamanya
Bahkan Hendrawan mengacuhkan putrinya dan memilih masuk ke dalam kamarnya tak mau melihat wajah yang sudah menggoreskan luka yang paling dalam di hatinya.
Jika bukan karena mereka membutuhkan darah nya, Hendrawan tak Sudi melihat putrinya.
Seorang ayah akan sangat menyayangi dan melindungi putrinya, namun saat putrinya membuang kotoran ke wajahnya dan pergi begitu saja, maka batin seorang ayah akan lebih terluka.
"Redakan emosimu, kita sedang terkena musibah, jangan sampai jantungmu bermasalah pada saat begini. Cleo di titipkan besan pada kita untuk kita jaga, kini anak itu...." Lastri mengusap air matanya mengingat cucunya yang bersimbah darah akibat tertabrak motor
"Sudahlah, seperti ya kau yang harus beristirahat sekarang"
"Iya ma, mama harus istirahat.
Cleo sekarang sudah tidak kritis lagi" ucap Gibran pada mamanya.
Ia juga sebenarnya masih kesal pada kakak perempuannya, namun ia berusaha bersikap rasional
"Bawa mama mu pulang, biar papa dan abang mu yang berjaga disini" ucap Hendrawan pada putra bungsunya
"Baik pa, ayo ma"
"Mama mau disini, mama mau melihat Cleo" ucap Sulasmi bersikukuh
"Ma, besok mama bisa datang dengan membawa makanan untuk Cleo, dia pasti senang.Mama mau diantar Galang apa Gibran??" tanya Galang pada mamanya
"mama sama Gibran aja, kalau ada apa-apa kabari mama" ucap Lasmi lalu ia pamitan pada suaminya dan pulang.
Sepeninggalan Lasmi Galang terlihat sedang merenung membuat Hendrawan mengerutkan alisnya
"Apa ada yang mengganjal pikiranmu????" tanya Hendrawan pada putra sulungnya
"Itu....
Gak ada kok pa, papa mau minum sesuatu?? aku butuh kopi agar tetap waras" ucap Galang membuat Hendrawan terkekeh.
Putranya ini memiliki selera humor, membuat perasan Hendrawan yang tegang menjadi relax
"Belikan sesuatu yang bisa membuat mood Boster papa up" ucap Hendrawan yang di balas acungan jempol Galang.
__ADS_1
Galang berjalan meninggalkan papanya, pikirannya melayang mengingat beberapa saat lalu sebelum kecelakaan Cleo.
"Ah mungkin hanya perasaanku saj, aku tak akan melepaskannya jika itu memang dia" gumam Galang dalam hati