Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Keracunan


__ADS_3

"Selamat putriku, mama senang kau bisa mengikuti jejak papamu" ucap Dona memeluk Davina


"Terima kasih ma...ma" ucap Davina dengan senyum mengejek. Davina tahu Dona sedang berakting.


"Aku salut padamu, kau sangat pintar bersandiwara.


entah sampai kapan kau bisa mempertahankan topeng mu itu" ucap Davina berbisik di telinga Dona.


Dona melotot, ia tak percaya Elly bisa berbicara begitu.


"Aku berharap kalian ibu dan anak bisa bekerja sama demi kemajuan perusahaan, siapapun pemimpinnya.


Aku pamit terlebih dahulu, tulang tua ku tak mampu berdiri lama" ucap Alfredo


"Terima kasih sekali lagi uncle Al"


"Ingat aku mendukungmu, jangan kecewakan aku" ucap Alfredo serius.


"aku berjanji akan bekerja semaksimal mungkin"


"kau punya semangat papamu, kau pantas menjadi putri Bernard" ucap Alfredo menepuk bahu Davina lalu berjalan pergi.


Dona duduk sambil menikmati anggurnya, sementara di sekelilingnya beberapa dewan yang tadi memihak nya.


Davina hanya cuek seolah tak melihat.


Ia yakin mereka akan mencari-catu kesalahannya.


"Nona Elly, maafkan kami, bukan kami tidak ingin mendukungmu tadi, tapi tanggung jawab sebagai direktur utama itu ibarat ujung tombak perusahaan.


perlu tangan dingin dan pikiran tajam agar perusahaan bisa maju dan berkembang, tentunya semua itu didapat dari pengalaman, karena itu kami sangsi.."ucap salah pernah dari mereka


"Saya mengerti tuan dan nyonya, tap saya akan membuktikan jika saya bisa memimpin dengan baik.


walau pengalaman saya minim, saya yakin papa dan tuan serta nyonya bisa membantu mengarahkan dan membimbing saya"


"Kami pasti akan membantumu"


"Terima kasih" ucap Elly mengangguk sopan.


setelah percakapan singkat mereka lalu pamit.p


"Apa mereka mengatakan sesuatu??" tanya Albert khawatir


"Tidak mereka hanya mengatakan fakta, tak ada yang salah"ucap Davina tersenyum


"Kami mendukungmu nona Elly, sepenuhnya.


jika bukan karena papamu, kami mungkin hanya menjadi kelas menengah di kota ini.


utang jasa ini akan kami ingat selamanya" ucap beberapa dewan direksi yang pernah di bantu Bernard


"Tuan dan nyonya tak perlu sungkan dan terima kasih atas dukungannya" ucap Davina kembali mengangguk sopan, setelah itu mereka pergi


"Selamat kakak ipar"


"Sial kau Gabby, sikap apa tadi main peluk-peluk segala


"Hahahaha kakak ipar, kita sedang berakting, apa kau lupa kau adalah Elly" ucap Gabby memasang wajah penuh senyum


"Sial, Oh ya kenapa kau tak mengatakan rencana mu?? bagaimana kau mengenal Wanita misterius itu?"


"Kau tahu kakak ipar, Tuhan punya caranya.


nenek tua itu berteman dengan nenek ku.


jadi nenek-nenek berkumpul dalam satu group" ucap Gabby membuat Davina kesal


"bagaimana nenekmu mengenal dia??"


"Ya karena sama-sama nenek-nenek" goda Gabby


"Terserah kau, sampaikan salam ku pada nenek-nenek itu" ucap Davina melenggang pergi


"Ka... baby tunggu" teriak Gabby kelepasan ingin memanggil Davina kakak ipar


"Di luar ruangan acara beberapa orang anak buah Davina sudah berjaga.

__ADS_1


Davina menepuk keningnya, ini pasti perbuatan Jack


"Nona muda" sapa mereka sopan.


membuat beberapa dewan direksi yang melihat mengerutkan kening.


"Tuan muda" sapa pengawal Gabby"


"Mereka terlalu mencolok" gerutu Davina melihat kedua bodyguard dari kedua keluarga, anak buah Jack memakai jas hitam baju putih sementara anak buah keluarga Lungu memakai pakaian santai dengan jas, namun siapin tahu mereka adalah bodyguard


Davina dan Lungu segera masuk ke dalam lift mereka langsung menuju ke parkiran.


dia ana sudah menunggu Jack dengan mobilnya


"Siapa yang menyuruhmu kesini uncle Jack" tanya Davina kesal


"Inisiatif gadis kecil" ucap Jack nyengir kuda.


ia khawatir keselamatan Davina terlebih itu perintah Sebastian.


tapi Jack menutupinya, jika Davina tahu ini adalah ulah Sebastian sudah di pastikan Tian akan kena semprot Davina.


"Mengapa kau ikut mobilku??"


"Ingat kau Elly istriku" ucap Gabby santai langsung duduk di samping Davina


"Kau menyebalkan"


"Hahaha kita rekan kakak ipar" ucap Gabby menyeringai lebar.


"Tutup mulutmu selama perjalanan kau seperti ngengat" ucap Davina sewot.


Davina lalu berbicara dengan Shandy memulai rencana selanjutnya


"Shandy, lakukan rencana selanjutnya, pastikan semua berjalan lancar" ucap Davina singkat lalu mematikan panggilan telepon ya sebelum Shandy menjawab.


"Apa rencana selanjutnya??"


"Gabby, bukan aku tak mau kau terlibat, tapi


keselamatan Elly lebih utama" ucap Davina dingin


"Elly butuh kau di banding siapapun.


wanita mana yang tak akan terguncang dengan kondisinya saat ini???


Sebaiknya kau menemaninya melewati semua ini.


Kau mencintai Elly bukan???"


Gabby mengangguk


"By the way terima kasih atas bantuannya hari ini dan aku perlu bantuan mu menemani Elly dan membuatnya tenang sampai aku selesai menangani Dona dan Denis, apa aku bisa mengandalkan mu adik ipar???"


"Serahkan padaku" ucap Gabby tersenyum


"Kalau begitu enyah dari mobilnya.


Kita seperti pawai, empat mobil beriringan terlihat sangat mencolok sekali" gerutu Davina yang melirik dari kaca spion mobil


"Hahaha baik kakak ipar, jangan galak-galak atau anakmu mirip denganku"


"Enyaaaah" teriakan Davina yang di balas tawa senang Gabby.


seperti yang di harapkan dari Davina, galak dan mengintimidasi.


Gabby langsung menuju mobil nya lalu pergi.


Di tengah perjalanan mereka mendapati anak buah Dona membuntuti.


Gabby mengomandokan anak buahnya menghalangi mobil itu karena ia harus kembali ke rumah alit tanpa di ketahui oleh Dona maupun Denis.


Sementara di kediaman Bernard beberapa anggota polisi datang menangkap supir dan pelayan yang merupakan anak buah Denis.


mereka di temukan bekerja sama dalam mencuri.


barang bukti di temukan di kamar pelayan wanita itu.

__ADS_1


Davina yang mengetahui kelakuan supir dan pelayan itu langsung menaruh jebakan dan berhasil.


ini sangat mudah sekali seperti memberi makan kucing kelaparan, ya mereka kelaparan harta!!!!!


Keduanya di giring ke kantor polisi, dengan barang bukti perhiasan milik Elly.


Nicholas sangat marah, namun ia tak bisa berbuat apa-apa, Nicholas rasanya ingin membunuh keduanya, ia tahu kebiasaan buruk sang supir dan pelayan itu adalah kekasihnya.


jadi Nicholas menyimpulkan jika si supir terlibat hutang dan pelayan mencuri untuk si supir, sungguh cinta membutakan mata hati.


Nicholas langsung mengabarkan berita itu pada Dona membuat Dona murka dan langsung kembali ke mansion dengan tergesa-gesa.


Sesampainya di sana Dona langsung memanggil Nicholas dan memarahi nya habis-habisan.


Sementara Bernard dan Lilly tersenyum penuh arti di ruangan kerja Bernard


"Atu persatu sayap Dona akan kita patahkan sehingga ia tak bisa terbang dan melakukan kejahatan lagi" ucap Lilly


"Kau benar anakku.


kini kita mulai rencana kedua,"


"Apa papa siap??? tanya Lilly sedikit khawatir


"Tentu saja, papa sip kapanpun.


kau tahu papa ingin segera mengenyahkan wanita itu dan semua anteknya secepatnya.


mereka kesalahan fatal yang pernah papa perbuat"


ucap Bernard penuh penyesalan


"Kita akan membalas mereka sedikit demi sedikit sampai mereka berharap mati.


itu hukuman yang terbaik" ucap Lilly mengepalkan tangannya mengingat penderitaan Elly.


Saudarinya harus terbaring dengan cidera parah, di beberapa bagian tubuhnya dan yang paling mengerikan ia harus merelakan satu ovarium nya diangkat.


Bagi wanita itu momok yang sangat menakutkan.


"Bagaimana kabar saudarimu nak, papa ingin sekali menemuinya.


Dia pasti sedih sekali"


"Pa tolong bertahan sebentar saja, kita tak bisa keluar mansion demi keberhasilan rencana kita, papa masih harus berpura-pura sakit"


"Huh , Papua mengerti, papa hanya sangat khawatir dengan Elly" Dengus Bernard frustasi


"Kita akan menelponnya,.namun saat ini wanita ular itu di rumah.


kita harus kembali ke kamar sebelum ia melihat papa di ruang kerja, ini akan mengundang kecurigaannya" ucap Lilly mengingatkan


Keduanya langsung kembali ke kamar Bernard, memasangkan kembali alat bantu media di tubuh Bernard , tak la kemudian pintu di ketuk, seornag pelayan datang membawa anakan siang Bernard.


Lilly langsung menyuapi papanya namun baru dua suapan, Bernard langsung mengerang, dari mulutnya keluar busa


Lilly yang menyamar sebagai Patricia langsung berteriak histeris. ia berlari keluar memanggil pelayan.


Ia meminta pelayan memanggilkan ambulan. sementara ia memberikan pertolongan pertama pada Bernard.


Tak lama mobil ambulance datang, semua orang terlihat tegang, namun tidak dengan Dona.


Ia mengira rencana mereka berhasil lebih cepat.


Namun tepat saat ambulance akan pergi sebuah mobil polisi datang.


Dona menatap Nicholas antara bingung dan terkejut.


Lilly segera menyerahkan mangkuk makan siang Bernard untuk di jadikan barang bukti.


polisi segera meminta semua orang berkumpul pada satu tempat dan memasang garis polisi.


tak lama kemudian team forensik datang.


team forensi langsung melakukan olah TKP dan hasilnya dalam hitungan menit teridentifikasi bahwa ada racun dalam makanan tersebut.


Beberapa orang langsung di mintai keterangan.

__ADS_1


Sementara mobil ambulan membawa Bernard sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.


Dalam mobil itu ada anak buah Lilly.


__ADS_2