
Jendral Aaric yang mendengar istri tercintanya masih hidup sangat senang.
Apalagi setelah tahu putra mereka juga berhasil selamat dari penyekapan itu.
ia ingin segera bertemu keduanya, walau Aaric merasa sedih kehilangan putrinya, tapi setidaknya ia masih memiliki putra dan Istrinya.
keluarga yang ia doakan siang malam untuk keselamatan mereka.
jendral Aaric sampai menangis, tangis bahagia, tapi membuat Davina ikut juga menangis haru.
Ia bisa merasakan bagaimana kerinduan seornag ayah pada keluarganya.
Tiba-tiba Davina justru menangis keras, Davina teringat papa nya. Papa yang sangat menyayangi dan memanjakannya. Ia merindukan Arjuna.
Aaric yang tadinya menangis bahagia tertegun.
ia mendekati Davina , lalu Aaric menepuk bahu Davina, layaknya seorang ayah menepuk bahu putrinya, penuh kasih sayang.
"Maaf tuan Aaric, saya teringat papa saya"
"Kau anak yang hebat, papamu pasti bangga padamu nak" ucap Aaric
Davina tersenyum.
"Anda juga memiliki putra yang hebat, pria yang menciptakan alat dengan kakakku adalah putramu, aku berikan berkasnya untuk anda liat Tuan Aaric.
kalau begitu saya permisi.
Saya akan mengabarkan saat nyonya Alethea bersedia bertemu anda.
Tapi anda harus sabar, tak mudah baginya menerima semua ini"Ucap Davina lalu pamit pergi.
Namun di sisi lain Alethea Piere tidak mau menemui Aaric karena ia merasa bersalah sudah menodai cinta mereka. Apapun alasannya, namun Alethea Piere tidak pernah menyesal menikahi Thomas.
Pria sederhana yang baik hati.
bahkan Thomas rela tak memiliki anak dari Alethea Piere, asal mereka bisa bersama. Bagi Thomas Berto adalah putranya.
Hingga akhir hayat saat kanker paru-paru yang di deritanya merenggut nyawanya, pria itu masih bisa tersenyum menepuk tangan Alethea Piere, mengajaknya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Davina menjadi penengah keduanya.
Ia beri pengertian pada Jendral Aaric tentang keadaan psikologis Alethea, di lain sisi ia memberitahu perjuangan Aaric dalam mencari keberadaan istri dan anak-anaknya.
Betapa menderitanya sang jendral dan ia tak pernah menikah karena Alethea adalah wanita satu-satunya dalam hidupnya sampai ia menutup mata.
Mendengar itu Alethea Piere menangis sambil memukuli dadanya.
Sesak, sangat sesak rasanya melihat pria yang ia cintai menderita sendiri.
Selama ini ia berfikir jika ia paling menderita, ternyata Aaric lebih menderita tanpa seorang pun penghibur.
ia kuat karena percaya istri dan anaknya disana masih hidup.
Setelah berfikir lama akhirnya Alethea mau menemui Aaric.
__ADS_1
Davina sendiri yang mempertemukan mereka di cafenya dan membuat itu privat, hanya ada Alethea dan Aaric.
Terlihat keduanya gugup, namun mata mereka berdua tak bisa bohong, keduanya masih sangat mencintai.
Aaric yang bisanya tegas terlihat gugup, bahkan tak ada yang akan menyangka bahwa seorang jendral yang tegas dan pemberani bahkan terlihat lucu saat di depan wanita yang ia cintai.
mereka berbincang-bincang.
Terlihat Aaric terus menatap Alethea tanpa berkedip, binar bahagia terpancar di sana.
ia menggenggam tangan Alethea membuat tangan wanita itu gemetar, lalu ia menangis tersedu-sedu.
Alethea berkali-kali meminta maaf karena tak bisa melindungi putri mereka.
Aaric bangkit dan memeluk Alethea,.membuatkan wanita itu menangis sepuasnya di pelukannya.
Aaric hanya mengelus rambut Alethea yang sudah berubah warna, namun cintanya tak pernah berubah untuk wanitanya itu.
Setelah keduanya tenang, Davina masuk dan memperkenalkan Berto atau Alan Aaric.
Saat Davina memberitahu jika putranya masih hidup, semangat hidup sang jendral bangkit, ia ingin melihat dan memeluk putra yang tak pernah ia lihat.
Didepannya kini sudah berdiri seorang pria dengan wajah tampan, hidung mancung kecil Lilik Alethea dan juga bola mata hijau milik istrinya tersebut.
Dari awal melihat pemuda itu Aaric sudah menyukainya dan merasa sudah mengenal lama.
Apalagi dia kagum dengan penemuan pemuda itu dan juga Daffa.
Tak di sangka Berto adalah Alan, putranya
Alethea tahu jika Berto sangat mencintai Thomas, namun ia juga harus bisa menerima kenyataan jika Thomas bukan ayah kandungnya.
"Temui lah, beliau sudah banyak menderita.
jika kau belum bisa menerimanya, maka bersikaplah baik padanya, waktu yang akan meluluhkan hatimu" ucap Davina lirih menepuk bahu Berto.
Berto mendekati Aaric. sang jendral langsung memeluknya, mencium dan menangis.
Entah mengapa Berto merasa perasaan yang sulit ia ungkapkan.
Ia membalas pelukan Aaric.
walau belum bisa menerima kenyataan ini, bagaimanapun ia papa kandung nya dan darahnya mengalir dalam tubuh Berto.
Pertemuan keluarga yang sangat mengharukan membuat Davina menangis, begitu juga si ratu onar Rose, ia sampai menghabiskan tisu di meja
Sebastian memeluk istrinya menenangkan.
sementara Rose tiba-tiba menarik Daffi dan menangis di dada Daffi.
Daffi mendorong wanita itu awalnya, namun akhirnya ia pasrah dan hanya menepuk-nepuk kepala rose.
Seperti menepuk kepala puppies.
"Bocah kecil ini tisu" ucap Jack memberikan Tisu pada Davina, Davina yang sedang menangis menatap Jack dengan bingung
__ADS_1
"Buat apa uncle???"
"Lap ingus mu, baju suamimu kotor terkena ingus mu, jorok" ucap Jack membuat Davina tersedak salivanya dan hilang sedihnya berganti marah
"Uncle jaaaaaaacccckkkkkkkk" teriaknya kesal.
Jack merusak momen sedihnya
"Loh salahku apa??" tanya Jack mengangkat bahunya bingung lalu tanpa salah keluar dari ruangan tersebut
dengan santai, terlihat Davina yang dongkol setengah mati, sementara Tian hanya bisa tersenyum canggung.
para anggota nya yang lain tertawa mendengar perkataan Jack yang tak pada tempatnya dan langsung menutup mulut mereka saat tatapan membunuh Davina menatap mereka.
mereka buru-buru mengalihkan pandangan dan sibuk sendiri
Perkataan Jack membuat Daffi membeku, ia langsung mendorong Rose. Telat kemejanya sudah basah dan ada ingus rose juga
"Roseeeeee... kau wanita menyebalkan" ucap Daffi membuat Rose melongo
"Aku kan cuma butuh tempat nangis hik hik hik" ucap Rose meneruskan menangis nya memeluk tiang cafe membuat semua orang menggelengkan kepala
"Kasian yang nanti jadi suaminya , dia lebih dari stress" ucap salah pernah anak buah Davina.
Rose melirik sekilas, lalu...
gerakannya begitu cepat, hingga tak seorangpun dapat melihatnya.
tiba-tiba.....
Clebbbb,
Sebuah jarum beracun menancap di lengan pria itu, pria itu menangis tersedu-sedu,
Jarum kesedihan membuat pria itu terus menangis.
semua orang yang melihatnya merinding, mereka memilih menutup mulut mereka rapat-rapat daripada jadi korban Rose juga.
Davina hanya diam, ia tak mau mencampuri urusan Rose karena mood nya lagi buruk juga.
Shandy yang memilih duduk jauh dari Davina dan Tian mendekati Daffi, ia berbisik pada Daffi
"Siapapun yang jadi suami Rose nanti akan bernasib tragis, dia seperti landak yang berduri, perlu di jinakkan, tapi jika dia marah, habis kau, hahahaha" Shandy tertawa melihat wajah Daffi yang pucat.
Ia menelan salivanya dengan susah mendengar ucapan Shandy
"Shandy......
kau tertawa tidak pada tempatnya" teriak Sebastian dengan mata kesal.
Shandy merasa tengkuknya dingin,
"Sepertinya guru lupa matiin keran, gue cabut dulu bro" ucap Shandy langsung ngibrit
"Shandy......." teriak Tian makin kesal, ia belum membuat perhitungan pada Shandy, namun pria itu sudah pergi, Shandy langsung memakai jurus langkah seribu nya
__ADS_1