
Saat itu juga Oscar tiba-tiba Oscar yang ada dalam ruangan tersebut bersimpuh dan dengan tegas melamar Lilly pada orangtua Lilly membuat semua orang terkejut.
mereka memang tahu jika Oscar menyukai Lilly, namun mereka masih meragukan keseriusan Oscar
dan hari ini di depan semua orang, Oscar melamar Lilly di depan Bernard dan kawan-kawannya.
Lilly merona merah, ia ingin sekali menggetok kepala Oscar saking malunya, namun ia tak pernah menyangka jika Oscar sungguh-sungguh.
Bernard menghampiri Oscar dan menepuk bahunya.
Bernard merasakan kebahagian yang bertubi-tubi datangnya, jika ia di panggil saat ini, tak ada penyesalan lagi.
Ketiga putri nya sudah menemukan tambatan hatinya, dan Bernard bisa melihat kesungguhan di mata Daffa maupun Oscar.
"Papa merestui kalian anak-anakku" ucap Bernard meneteskan air mata, ia menatap foto mendiang istrinya yang tersenyum ke arah nya
"Maria, lihatlah dari sana, kami semua bahagia" gumam Bernard dalam hati.
Lilly merasa malu dan bahagia, ia mau tak mau harus mengakui Oscar sangat gentleman dan tak pantang menyerah walau selalu dapat perlakuan ketus dari Lilly, namun Oscar gigih terus mengejarnya.
Oscar mengeluarkan cincin dari dalam sakunya dan bersimpuh di depan Lilly, membuat semua orang bersorak bahagia, menyemangati mereka berdua.
Davina sampai menitikkan air mata, ia mengangguk tak kala Lilly menatapnya, seolah meminta pendapatnya.
"Kau berhak bahagia lebih dari apapun mas sister" gumam Davina menitikkan air mata bahagia.
Sebatsian mengerti istrinya terharu dan bahagia, ia mengelus pundak istrinya dan mengeratkan pegangan tangan mereka
"Percayalah, Oscar yang kita kenal dulu sudah berubah.
Ia sudah menemukan tambatan hatinya dan tak akan main-main lagi
Jika ia membuat saudarimu terluka, maka aku sendiri yang akan membuatnya babak belur" ucap Tian meyakinkan istrinya.
Davina tersenyum dan mengangguk
"Lilly, Will you marry me????" tanya Oscar dengan tatapan penuh cinta
"Hmmm" ucap Lilly malu-malu
"Will you marry me Lilly my princess jutek???" tanya Oscar membuat semua orang terkejut Lalau tertawa terbahak-bahak,, hanya Bernard dan kedua ornagtua Gabby serta Elly yang tak mengerti maksud ucapan Oscar.
Melihat semua tertawa, mereka hanya ikut tertawa.
Terlihat lilly mendengus kesal.
Momen romantisnya lenyap karena tingkah konyol Oscar
"Tentu saja, aku akan menghukum mu setiap hari saat kita menikah nanti" ucap Lilly membuat Oscar terlihat bahagia, sementara yang lain memasang wajah melongo.
Bagaimana pun ini bukan pernyataan setuju menikah, tapi sebuah ancaman terang-terangan.
Namun anehnya Oscar malah terlihat sangat bahagia.
Oscar menyematkan cincin polos dengan satu mata berlian kecil tertanam di dalamnya.
Terlihat sangat sederhana bagi semua orang, namun itu adalah kemauan Lilly.
Ia tak suka sesuatu yang terlalu mencolok..
__ADS_1
Setelah itu ia mencium tangan Lilly penuh perasaan
"Tentu saja aku rela kau siksa asal kau bersamaku" ucap Oscar membuat semua orang akting muntah
"Huek lebaaaayyy"
"Dasar playboy cap gelas pecah" maki rose
"Dasar gila" maki Davina tak kalah muak.
namun Lilly hanya cengar-cengir.
Ia menyukai pernyataan Oscar.
Setelah acara sesi foto, mereka melanjutkan makan malam khusus keluarga besar dan rekan-rekan.
Oscar juga langsung bergerak cepat, ia tak mau menjomblo sendiri sementara semua sahabatnya sudah menikah.
Ia segera mengutarakan maksudnya pada Bernard.
Oscar akan membawa Lilly menemui orangtuanya di Spanyol.
Davina yang mendengar kesungguhan Oscar ikut bahagia, besok malam, ia akan bertolak kembali ke tanah air.
Hari ini merupakan perpisahan mereka.
untuk nanti ketemu lagi di acara resepsi Oscar dan lilly.
Awalnya Lilly ragu dan khawatir ornagtua Oscar tak bisa menerimanya, namun Davina terus menasihati Lilly.
Ia tak mau Lilly menyesal karena menunda-nunda.
namun ada yang mengganjal, mereka beda agama.
Ia juga tak mau pindah agama hanya karena Bernard orangtuanya dan Elly berbeda dengan keyakinannya
"Dia sudah mualaf" ucap Sebatsian membuat Lilly terkejut.
pasalnya Lilly tahunya jika pria itu berbeda keyakinan dengannya.
Itu sudah beberapa bulan lalu.
dia mualaf sebelum mengenalmu. jadi kau tak perlu merasa terbebani" ucap Sebatsian yang menyaksikan sendiri sohibnya mualaf.
"Be... benarkan, kalian tak bohong???" tanya Lilly menitikkan air mata
"Tentu saja, Shandy juga hadir kok waktu itu.
jadi selama ini alsan kau menjauhinya salah satu karena???"
"Iya, tapi aku juga membencinya karena di Playboy" ucap Lilly membuat semua tertawa.
"Tapi sis, playboy itu bertekuk lutut padamu kini.
Playboy insyaf kejedot cinta cewek jutek judulnya" ucap Shandy lalu semua tertawa menertawakan Oscar yang malang
"Apa kalian menggunjing ku, apa yang kalian doktrin pada calon istriku???" tanya Oscar yang membawa dua buah ice koktail
"Yeee loe kepedean"
__ADS_1
"Haruslah, Lilly ia mine" ucap Oscar tiba-tiba memeluk Lilly
Lilly langsung spontan memiting tangan kekasihnya membuat Oscar meringis kesakitan
"Jaga tangan bengkel mu atau ku patahkan" ucap Lilly tak main-main.
Semua orang melihat ngeri.
Oscar mendapat pawang yang pas untuk mengurung kelakuan gilanya.
"Gue ucapin selamat dan juga kasian sama loe.
Ingat loe gak bisa nakal lagi atau Lilly ngeracunin loe pake racun yang membuat loe gila dan telanjang keluar rumah" ucapan Shandy menakuti Oscar.
bola mata Oscar membesar, ia melirik pada kekasihnya dan merinding.
Padahal Shandy hanya menakutinya.
mana mungkin Lilly punya racun semacam itu, tapi beneran gak punya?????
"Dia punya!!!!" ucap Davina tersenyum lebar membuat Shandy langsung pucat
"Serius???"
"Masa gue bohong???
Racun penghilang ingatan" ucap Davina santai. merebut gelas di tangan kiri Shandy dan menyeruputnya.
Niatnya ia ingin mengerjai Sebastian agar mereka tak kembali besok, namun sudah di minum oleh Davina.
Shandy pucat pasi.
"Guys gue balik duluan ya, ada info mendadak" ucap Shandy langsung cabut sebelum semua orang menyahut
"Sayang ayo kita pulang juga, badanku gak enak" ucap Davina yang langsung merasakan ada yang tak beres pada tubuhnya.
Sebastian langsung pamit pada semua orang, mereka kembali ke apartemen mereka sendiri.
Sesampainya di rumah Davina bertingkah aneh, ia langsung loncat ke tubuh suaminya dan menciumnya ganas
"Sayang kau sedang hamil, astaghfirullah" namun Davina terus ******* mulut Sebastian, tak memberi kesempatan suaminya berbicara
"Sayang aku kepanasan, tolong....
Shandy sialan, obat ahhhh"
Sebatsian menggerutu, ia bertekad akan membalas Shandy nanti. sekarang yang terpenting adalah ia harus menghilangkan efek obat yang Davina minum.
Mereka melakukan lagi dan lagi hingga menjelang pagi
Keduanya lalu tepar.
beruntung Sebatsian sudah mengabarkan membatalkan penerbangan mereka pada Jack sehingga Jack langsung mengabari yang lain.
Kini Sebastian memaki Shandy dan dendam pada calon adik iparnya itu.
"Tunggu saja kau adik ipar, akan ku buat kau menyesal mengerjai kami" seringai licik terlukis di wajah tampan Tian yang kelelahan.
Keesokan paginya Sebastian memanggil dokter, memeriksa kondisi kesehatan Davina.
__ADS_1
Ia di ceramahi habis-habisan oleh dokter wanita itu.
Lengkap sudah penderitaan Tian.