
Daffi masih saja merenggut sambil menggerutu karena Rose mengatainya Cemen.
Selama ini tak ada wanita yang berani mengatai dirinya, dan Rose wanita pertama yang Daffi nilai menyebalkan level gila.
Walaupun ada yang berani mengatainya, itu adalah Davina, adiknya sendiri.
tapi itu sebuah pengecualian.
Daffi, rose dan team mereka yang tersisa menuju lantai bawah.
Sesampainya di lantai berikutnya, mereka masih terlibat pertempuran hebat.
Rose memasang head phone di telinganya yang berwarna pink, ia menyanyi sambil melempar jarum beracun nya.
Daffi melihat ngeri, wanita itu punya hobby yang aneh dan....
Apa dia normal????
bagaimana membantai orang bisa santai dan senangnya, seolah ia sedang bernyanyi di kamar mandi.
untungnya itu hanya jarum racun pelumpuh, jika peluru dan Rose menari diatas mayat, sudah pasti Daffi memilih menjauh dengan celana basah oleh air seninya karena takut
"Hei, mengapa kau melihat ku seperti itu?"
"Kau wanita aneh" ucap Daffi mencibir
"Apa itu pujian"
"Apa kau senang di bilang cewek aneh, dasar sinting"
"Aku tak aneh, tapi aku lebih senang di bilang unik hehehe" ucap Rose nyengir kuda dengan wajah polos
seorang penjaga menembakkan pelurunya ke arah Daffi yang berada di depan Rose dan Rose melihatnya, ia langsung menendang Daffi ke samping hingga Daffi jatuh tersungkur rose berusaha menghindar sambil melemparkan jarum beracun, sayang ia telat beberapa detik.
Sebuah peluru panas menembus lengannya
namun di pihak musuh jarum rose mengenai pria tersebut
Celb,
aaarggghhh
Sebuah jarum berhasil menancap di mata pria yang menembaknya. Rose berteriak kesakitan
"Awww ****," pekiknya menggigit bibirnya sendiri.
Ia segera mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya dengan tangan kirinya tapi sulit.
Daffa yang tersadar setelah terkejut langsung menghampiri Rose
"****, rose down, rose down" ucap Daffi menjelaskan situasi mereka sambil berjalan mendekati Rose
"Amankan Rose," perintah Davina langsung
"Cek kondisi" ucap Lilly khawatir
"Astaghfirullah kau kena tembak" pekik Daffi langsung memapah Rose ketempat yang aman takut penjaga ada yang datang ke lantai itu
"Rose tertembak di bahu" ulang Daffi mengabarkan pusat komando
"Aku hanya tertembak sedikit" ucap rose seolah ia teriris pisau bukan tertembak senjata api
"Clear wilayah, amankan Rose" perintah Shandy pada anak buahnya yang bernama rose.
"Bantu aku ambil obatku" ucap rose menunjuk kantong celana karena ia sulit menggapainya.
Daffi dengan ragu mendekati celana rose yang terdapat beberapa kantong. tapi belum sampai ia kembali menarik tangannya dengan wajah rumit
__ADS_1
"Apa ada racun di sana???" tanya Daffi ragu
"Ada racun tikus, sial aku kesakitan cepat ambilkan" ucap rose lagi, Daffi bergegas mengambilnya, sebuah botol bening yang terdapat cairan berwarna putih keruh
rose membukanya dengan giginya dan meminumnya, alis Rose bertaut, Daffi menelan salivanya seolah ia menelan pahit nya obat.
"Apa yang kau minum??" tanya Daffi penasaran, Rose hanya memandangnya sekilas tanpa menjawab
"Ambilkan, kasa dan alkohol di kantong sebelah kiri"
Daffi kembali mengambil apa yang rose seluruh.
kemudian Rose meminta Daffi membasuh tisu alkohol tersebut pada belatinya dan membantunya mengeluarkan peluru lengannya.
Awalnya Daffi menolak karena ngeri, tapi Rose meyakinkan jika ia sudah meminum obat bius, dan benar saja Rose tak terlihat kesakitan, wajahnya tetap tenang dengan bulir keringat sebesar jagung, pucat.
Rose sengaja menotok beberapa syaraf nya dan menghentikan pendarahan.
setelah selesai peluru terambil, Rose menaburkan sesuatu dari kantong rompinya. ia meringis.
sekalipun sudah meminum obat bius racikannya tapi sebenarnya ia masih merasa sakit, hanya saja sakitnya berkurang karena obat bius yang rose minum hanya sepersekian takarannya.
ia membantu mengurangi sakitnya dengan menotok beberapa urat di pergelangan tangannya.
setelah selesai Daffi membalut lengan Rose.
wanita itu memejamkan matanya kelelahan karena menahan sakit
Rose tak mau menunjukkan jika ia kesakitan karena pemuda di depannya sudah pasti belum pernah melihat orang terluka apalagi ada dalam sebuah pertempuran antara hidup dan mati.
Rose takut Daffi panik dan malah memperkeruh keadaan.
Ia butuh rehat sejenak untuk mengembalikan tenaganya yang terkuras
"Rose, rose apa kau masih hidup??" tanya Daffi takut karena rose tak bergerak.
Rose hanya diam, ia memakai betapa bodohnya pria itu.
"Rose jangan menakutiku, adikku akan membunuhku kalau kau mati.
sial, sial.
harusnya kau tak usah menyelamatkanku
dasar gadis bodoh dan aneh" gerutu Daffi sambil mondar mandir
"Dasar bodoh, apa kau berharap aku mati???
"Roseeeee" pekik Daffi reflek memeluk gadis itu.
tangan rose terasa sakit, ia menjerit kecil
"Jika kau seperti itu aku beneran mati" ucap Rose mengigit bibir bawahnya
"Hahaha maaf rose aku senang kau masih hidup.
lagi pula kau seperti kecoa susah mati " ucap Daffi asal.
ia kemudian menyesali perkataannya sendiri.
bagaimanapun keadaan rose karena menyelamatkannya
"Maaf rose aku hanya bercanda"
"Lebih baik tutup mulutmu, bantu aku bangun" ucap rose mengulurkan tangan sebelah kirinya
"Sebaiknya kau tetap di sini, aku akan mengurus sisanya.
__ADS_1
lagi pula Denis dan dona berada di lantai tiga, dan team kita sudah berhasil masuk di lantai satu"
"Tidak akan, aku masih sanggup"
"Rose please.
kau tanggung jawabku.
adikku akan membunuhku jika kau...."
"Aku devil angel, pantang menyerah" ucap Rose kembali bangkit dan meninggalkan Daffi
"Dasar keras kepala" gerutu Daffi mengikuti Rose dari belakang.
Sementara di lantai Satu
Daffa dan Berto berhasil masuk Dari arah belakang, kini mereka sudah memasuki lantai dua.
rupanya bangunan ini terbagi menjadi dua sayap kanan dan kiri gedung
Sementara Shandy dan Lilly sudah menguasai lantai satu dan menuju lantai dua.
tapi keberadaan mereka sudah di ketahui pihak musuh.
baku tembak di setiap lantai tak bisa di hindari.
Dona dan Denis yang berada di lantai tiga segera panik, mereka langsung mengerjakan pasukan penjaga menghadang penyusup.
"****, bagaimana bisa militer tahu keberadaan kita.
kau sungguh bodoh Denis.
Masalah apa yang kau bawa ke markas ku??" pekik pria tua yang tak lain adalah papa Denis.
"Semua pasti karena wanita sialan ini.
Sejak kau kenal dia, otakmu tumpuk" makinya sambil menuding wajah Dona
"Pa , Dona gak salah" bela Denis di depan papanya
"Dasar dungu.
dia kesini seperti menggiring militer kesini.
Dia pembawa petaka.
Serge bawa wanita itu, aku muak melihatnya" ucap papa Denis murka.
Pria bernama Serge kaki tangannya langsung menarik Dona.
"Kau ikut Serge, biar aku bereskan para penyusup itu.
jika aku mati disini, kau harus tetap hidup agar cita-citaku tercapai.
ingat boy, wanita itu petaka.
kau bunuh sekarang atau dia akan membunuhmu" ucap papanya penuh keyakinan
"Aku akan membunuhnya pa jika waktunya tepat"
"Tak ada waktu tepat, cepat lebih baik" ucap papa Denis memeluk anaknya lalu pergi bersama anak buahnya.
Denis menatap sedih kepergian papanya.ia masuk ke dalam terowongan rahasia menyusul Serge dan Dona serta beberapa anak buah nya.
setelah itu pintu kembali di tutup.
Tak akan datang tahu itu jalan rahasia.
__ADS_1
Sayangnya Denis....