
"Apa kondisinya sudah baikan???" tanya Davina
"Lilly melaporkan Cleo udah siuman dan mencari kamu" Davina mengangguk tapi terlihat ia sedang memikirkan sesuatu
"Tolong pinta Lilly lakukan tes DNA untuk Cleo.
Kirim rambut Marsha yang ada di ruang interogasi dan rambut Liona" ucap Davina tiba-tiba.
"Apa maksudmu??? apa kau curiga..????"
"Aku hanya merasa semua nya janggal.
Benar kata Shandy.
Jika anak Liona mati karena Marsha, apa hubungannya dengan suamiku????
harusnya Liona mengejar Marsha saja.
Lalu Cleo, dia anak Masrha, bisa jadi menjadi sasaran Liona, tapi Marsha saja meninggalkan anak itu, kenapa harus menyakiti Cleo???
jika aku Liona aku tak akan mengejar Cleo karena aku tahu Marsha tidak menyayanginya" terang Davina mengeluarkan pemikirannya
"Aku juga sepemikiran denganmu,.kalu apa kita perlu memeriksa DNA Tian juga??? tanya Agatha merasa bulu kuduknya meremang.
Ia ikut merasakan perasaan yang tak enak.
Segala kemungkinan berseliweran di kepala Agatha.
"Ambil pencukur rambut di kamarku, jika aku meminta rambutnya langsung , aku takut dia curiga jika aku menyelidikinya dan itu akan membuat hubungan kami tegang"
"Baik, aku sendiri yang akan pergi" ucap Agatha
"Terima kasih" ucap Davina.
Shandy dan Agatha pergi melakukan tugas mereka masing-masing.
sementara ketiga sahabat itu sudah selesai berbincang serius.
"Kami akan mencari keberadaan Andy" ucap Oscar membuka suara
"Andy suami Marsha? ah maksudku calon mantan suami Marsha???" tanya Davina
"Apa maksudmu?" tanya Gabby bingung
"Marsha menikah dengan Andy, tapi dia ingin menceraikan Andy itulah mengapa dia kembali ke tanah air"
"Dasar wanita ******" maki Gabriel kesal
"Ternyata kau bisa amarah juga" ledek Davina membuat Gabby memutar bola matanya malas
"Aku punya alamatnya, nanti ku kirim padamu.
By the way kalian mungkin juga akan sedikit terkejut setelah melihat Andy" ucap Davina santai
"Maksud kamu apa sayang?" tanya Tian mewakili pertanyaan teman-temannya
"Andy yang kalian kenal berbeda dengan Andy sekarang.
__ADS_1
Pria itu kini lumpuh akibat tabrakan.
Setelah aku selidiki ternyata kecelakaan itu rekayasa Marsha karena sudah muak dengan Andy yang ringan tangan.
Ya Masrha mengalami kekerasan baik fisik maupun mental. menurut mata-mataku Andy memiliki orientasi *** yang menyimpang sehingga Marsha kerap kali mendapat siksaan sebelum mereka melakukan hubungan badan" terang Davina
Ketiga pria itu terkejut dalam diam, tak terkecuali Tian.
Ia mengenal Andy dengan baik di banding ke tiga kawannya.
Andy yang saat itu di buang oleh keluarganya karena narkoba, bertemu Tian dan sedikit demi sedikit menghilangkan kecanduannya, lalu mereka kuliah di tempat yang sama dan bertemu dengan Oscar dan Gabriel disana.
Persahabatan ke empat pria itu makin berwarna dengan adanya seorang wanita cantik bernama Alexandra Liona.
mereka mengingkari janji persaudaraan.
Hubungan ketiganya kian erat hingga mereka lulus kuliah dan bekerja.
Namun selama mereka berteman, tingkah Andy tak ada yang mencurigai.
"Apa ...." Tian kesulitan bertanya, lidahnya seakan kelu
"Ya, karena dokter yang merawat Marsha adalah salah satu temanku di kampus dulu" ucap Davina
"Aku akan membawa Andy sebagai saksi kesini"
"Tak perlu, anak buah kakek buyut ku sedang dalam perjalanan ke negara ini, dan Andy bersama mereka" ucap Davina santai.
Oscar mengangguk dan menatap Davina.
wanita ini sangat cerdik dan berkuasa, perpaduan yang mematikan.
"Apa semua sudah beres??" tanya Davina
"Hasilnya akan kita peroleh dua hari lagi"
"Dua hari?? apa mereka tidak bisa bekerja efesien???
Davina meraih ponselnya dan langsung menghubungi kepala laboratorium
"*Test itu harus ada di meja kerjaku pagi ini juga, jika kalian tak bisa maka tak perlu datang lagi bekerja di rumah sakit ku!!!!!" Davina langsung memutuskan panggilan teleponnya dengan ekspresi galak
"Astaga anak ini di pikir lab gak sibuk apa??
minta apa-apa kata minta kacang goreng, maunya cepat dan segera" gumam Agatha menepuk keningnya sendiri melihat kelakuan keponakannya sekaligus bosnya itu.
Untungnya semua anak buah Davina sudah tahu temperamen buruk Davina, walau begitu tetap saja semua anak buahnya patuh
Dia kejam dan baik di saat yang bersamaan*.
Keesokan paginya
Davina sudah terbangun dengan kepala pusing.
Semalaman ia terus memikirkan perkataan Liona.
Pagi ini hasil test DNA akan keluar, Davina di liputi kecemasan.
__ADS_1
Semakin dipikir, semakin Davina tak tenang
Agatha dan Shandy sudah duduk di sofa dengan segelas kopi di tangan mereka masing-masing
"Kalian sudah bangun?" sapa Davin sambil menguap
"Apa kami terlihat baru bangun tidur???"cibir Agatha sambil membunyikan tubuhnya yang serasa pegal semua
"Tenang Tante, selepas urusan ini selesai aku memberi kalian liburan seminggu plus akomodasi untuk kalian berlibur"
"Beneran ya???"
"Benar, kasih semua team yang terlibat bonus dan liburan juga" ucap Davina langsung menghempaskan bokongnya di sofa dan menyerobot kopi Agatha lalu meneguknya tanpa rasa bersalah.
"Kopi gue...."
"Pelit amat??? bikin lagi aja sih nanti gue batalin liburannya baru rasa
"Dasar kejam" cibir Agatha yang di balas tawa kecil Davina, dengan bersungut-sungut Agatha membuat kopi lagi untuk dirinya dan Sebastian
"Mana laki loe??" tanya Agatha menyadari Tian tak bersama Davina
"Sama konco-konco bule nya"
"Ah, gue bikinin kopi gak ada ya gue minum sendiri aja" ucap Agatha santai
"Hubungi Lilly minta hasil test kirim ke sini"
"Hello, ini masih jam tujuh pagi tuan putri.
Loe kira minta buat kacang goreng langsung bisa dadakan. Nih orang kadang rada-rada juga" ucap Agtha yang mengerti kesulitan orang-orang yang bekerja pada wanita aneh satu ini.
"Gue gak sabaran pengen tahu" ucap Davina kesal
"Loe pikir gue juga enggan apa???
Dengar Davina ponakan gue yang paling semok bin demplon, mending loe persiapkan hati loe menerima kemungkinan terpahit sepahit pare oseng emak loe"
"Kok loe bawa-bawa pare oseng mama ayu??" protes Davina tak terima
"Sumpah mama loe masak itu enggak pernah bisa enak, pahit kaya empedu" ejek Agatha yang di balas wajah masam Davina. memang ucapan agatha benar apa adanya, urusan masak bahan yang satu itu mamanya gagal total, walau untuk masakan yang lain Ayudia jago.
Sementara Shandy memilih menahan tawa dan memandang kearah lain daripada kena semprot Davina.
Tiga jam kemudian Lilly sendiri yang datang mengantarkan hasil test DNA yang di minta Davina, ia bisa meninggalkan Cleo karena Arjuna dan Ayudia datang menjenguk.
Davina membuka amplop berwarna putih tertera hasil test DNA Cleo, Liona, Marsha , dana Sebastian
Bola mata Davina melotot lebar membaca hasil test di tangannya, ia menutup mulutnya sendiri, air mata menetes membasahi pipinya
Agatha langsung mengambil kertas tersebut DNA ekspresinya sama dengan Davina
"Ba...bagaimana mungkin????" ucap Davina lirih
Agatha menyerahkan kertas hasil test DNA pada Shandy, pria itu terlihat lebih tenang walau tak bisa di pungkiri ia juga terkejut.
"Apa yang harus kita lakukan??" tanya Davina seolah bertanya pada dirinya sendiri
__ADS_1
"Kita harus mencari tahu lebih jauh, Tapi apa kau siap???"
"Tentu, aku makin gila jika tak segera tahu kebenarannya" gumam Davina yang masih shock